Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Berjuang bersama ( Zifran & Maisya )


__ADS_3

Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Maisya berangkat ke sekolah diantar oleh supir barunya. Ternyata, perkataan Papanya tadi malam itu tidak main-main.


Kesal. Tentu saja.


Namun apa boleh buat. Jika ia menolak pun percuma saja kalau ujung-ujungnya ancaman yang harus didapat.


Mengenai kisah hubungannya dengan sang kekasih, Maisya sudah memutuskan untuk tetap mempertahankan Zifran dan akan selalu mencintainya. Meskipun ia harus berhadapan dengan Papanya sekalipun.


Zifran pun sama. Setelah Maisya memberitahukan perihal itu, awalnya ia sangat marah. Namun ketika Maisya mengatakan tentang keputusannya, ada sedikit rasa tenang dan bahagia mengetahui bahwa gadisnya begitu mempercayai dirinya yang bertitle sebagai pria terbreng*sek. Hingga tak ada orang tua yang rela putrinya bersama dengan dirinya.


Sesampainya Maisya disekolah, ia langsung keluar dari dalam mobil yang terparkir di area parkir sekolah tanpa sepatah katapun, namun baru beberapa langkah gadis itu berhenti, lalu berbalik badan, menatap pria berusia 23 tahun. Pria yang bekerja sebagai supir, merangkap mengawasi putri dari majikannya.


"Nggak usah! Nunggu aja di Ragunan."


"Ya, kali aja nyuruh saya buat masuk. Kan lumayan, Ucup bisa cuci mata, Non."


"Kalau mau cuci mata, noh di kantin. Cuci pake air kobokan. Cerewet banget lo jadi orang." Maisya meninggalkan pria yang bernama Ucup itu sendirian.


"Yaelah, anak kota mah, beda jauh sama anak desa. Beda banget sama sih Elis," gumamnya yang bersandar di kap mobil sembari melihat Maisya.


Maisya, terus berjalan menuju koridor sekolah yang masih terlihat sepi dan senyap. Begitulah keadaan SMA Bunga Darma jika masih jam 7, pagi.


Sepanjang perjalanannya, sedari tadi pendangannya menyapu seluruh bangunan yang berlantai dua itu. Tak ada satupun orang yang berada di sana.


Sial. Jika tau begini, ogah dia berangkat pagi-pagi. Namun, balik lagi, ia masih dalam mode kesal kepada Papanya.


Sesampainya di kelas, Maisya melemparkan tasnya ke meja, lalu mendudukkan tubuhnya kasar. Ia membuka tas yang di atas meja untuk mengambil ponselnya yang berdering.


Melihat siapa yang meneleponnya. Seketika senyum tipis terukir indah di wajah gadis yang tengah bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki.


Dengan gerakan cepat, Maisya menyentuh ikon panggilan berwarna hijau.


"Halo," ucap Maisya Kepada seseorang dari seberang sana.

__ADS_1


"Kenapa? Kok jutek banget jawabannya," tanya Zifran yang merasa berbeda pada wanitanya.


"Gue lagi sebel sama Papa. Ternyata omongan Papa nggak main-main. Gue nggak suka, kak Zi." Gadis itu memainkan tasnya dan sesekali memukulnya.


"Karena?"


"Karena papa ngasih supir buat ngawasin gue. Gue nggak mau."


"Hei! Dengerin, kakak. Kamu jangan khawatir, kita anggap ini sebagai ujian cinta kita. Kamu maukan ngelewati ini semua bareng kakak? Kakak janji, keadaan ini nggak bakal lama buat kita. Kakak akan berjuang untuk meyakinkan Papa kamu, kalau kakak emang bener-bener cinta dan serius sama kamu, Sya."


Di seberang sana, Zifran berusaha untuk untuk meyakinkan Maisya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Tapi, kak-"


"Udah nggak usah dipikirin biar itu jadi urusan kakak," ucap Zifran yang memotong perkataan Maisya.


"Janji?" tanya Maisya.


Mendengar Zifran menyebutkan nama lengkapnya, membuat rasa gundah dalam hatinya perlahan menguap dengan sendirinya. Dirinya berharap, bahwa pria itu dapat memegang ucapannya.


"Kak Zi lagi dimana?" tanya Maisya sambil menatap beberapa siswi yang baru saja masuk ke dalam kelasnya.


"Di apartemen, Arlan. Kenapa?"


"Nggak ada. Emang kakak nggak ke kantor, kok hari gini belum berangkat?" Maisya meletakkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar teman sekelasnya berhenti menggoda dirinya.


Ada beberapa siswi yang yang dari tadi berkata 'Cie-cie' dengan suara yang terdengar pelan, namun begitu jelas bagi Maisya.


"Bentar lagi juga berangkat."


"Kak, udah dulu ya. Soalnya anak-anak udah pada datang, takutnya entar gue jadi bahan ghibah buat mereka. Kan nggak lucu kalau nama kita berdua jadi trending topik di sekolah terus. Kasian yang lain nggak dapat tempat," ucap Maisya.


Masih ingat jelas ketika dirinya yang yang baru saja tiba disekolah, langsung mendapatkan cecaran pertanyaan dari mereka, baik cowok maupun cewek yang begitu antusias meminta jawaban perihal tentang hubungannya dengan anak pemilik sekolah.

__ADS_1


Alhasil, setelah mengetahui, mereka menjadi heboh seketika. Dan satu hari itu juga, mereka habiskan untuk memperingati hari patah hati bagi mereka yang menginginkan mereka berdua.


"Kalau gitu kakak tutup dulu teleponnya. Yang fokus belajarnya. Jangan mikirin yang nggak-nggak, ngerti?"


"Siap boss!" ucap Maisya memberi hormat. Tentu saja itu tak akan terlihat oleh Zifran.


"Dasar!"


Maisya terkekeh melihat kelakuannya barusan. Tak lama kemudian, suara panggilan telepon pun terputus.


"Ngapain lo senyum-senyum sendirian. Kesambet Lo?" Gadis itu terpekik kaget mendengar suara yang tiba-tiba berada disampingnya.


Maisya mengelus dada, sambil menatap tajam ke sumber suara yang mengejutkannya. "Emang setan. Lo bikin gue kaget tau nggak, Al. Untung gue nggak punya penyakit jantung, bisa-bisa gue mati mendadak."


****


Di perusahaan ZA group.


Tepatnya di ruang meeting. Suasana dalam ruangan itu terasa lebih dingin. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suaranya saat CEO dari ZA group, sedang membahas tentang penanaman sahamnya di masing-masing perusahaan kecil yang berada dibawahnya.


Dalam pertemuan kali ini, bahwa Zifran selaku CEO ZA group, akan menjadi investor yang akan menanamkan modalnya dengan jumlah yang cukup fantastis. Dan tentu saja itu menjadi keuntungan bagi perusahaan mereka yang bernaung dibawahnya.


Seketika suasana menjadi riuh oleh suara tepuk tangan dari para peserta meeting. Namun, tidak untuk seseorang yang berada beberapa meter dengan Zifran, pria itu tampak biasa saja menanggapi hal tersebut.


Kemudian ia bangkit dari duduknya. "Maaf, Pak. Ada yang ingin saya sampaikam kepada Anda," ucap pria itu ditengah-tengah gemuruhnya suara tepuk tangan.


Zifran menoleh diikuti oleh mereka Suara riuh seketika menjadi senyap.


"Silahkan, Pak Bram."


"Langsung saja ke intinya." Jedanya. "Saya ingin anda menarik seluruh dana anda yang berada di perusahaan saya."


"Kenapa? apa ada masalah?"

__ADS_1


__ADS_2