Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kecemburuan Zifran


__ADS_3

Di ruang kerjanya Zifran duduk termenung menikmati sebatang rokok yang selalu menemani. Meskipun Maisya pernah melarang, namun saat ini benda itulah yang benar-benar ia butuhkan sebagai pelampiasan rasa sakitnya ini. Bukan karena Maisya, tetapi karena kebodohannya sendiri yang tak bisa meyakinkan kekasihnya saat itu.


Ternyata benar kata orang, cinta itu mampu menorehkan luka meski ia tak terlihat. Membuat orang bahagia, meskipun sederhana. Membuat orang tertawa, walau tanpa sebab. Mengalihkan dunia meski tak berpihak. Ya itulah cinta, sebuah rasa yang tercipta dalam diri. Terpatri indah dalam hati, terikat dalam janji sehidup semati.


Zifran mematikan sisa rokoknya ketika mendengar ketukan pintu. Pandangannya tertuju pada sosok pria tampan bermata sipit yang berjalan kearahnya.


Pria itu menyerahkan beberapa berkas laporan untuk meeting, kepada atasannya. "Lo sakit?" tanya pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Arlan, sekretaris CEO ZA group.


"Enggak. Kenapa emangnya?" Zifran membuka, membolak-balik mengamati isi laporan itu.


"Muka Lo pucet banget. Mending Lo pulang, biar kerjaan Lo, gue yang handle."


"Gue nggak pa-pa kok. Mungkin karena kecapean sama kurang tidur aja."


Bohong. Zifran berbohong mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Setelah kejadian itu, Zifran memaksakan diri untuk berkerja dan memforsir seluruh tenaganya untuk mengalihkan pikirannya. Selama itu juga tubuhnya bereaksi mengeluarkan peringatan dengan rasa sakit di bagian kepala dan juga lutut yang mengalami cidera.


"Jam berapa dimulai meeting-nya?" sambung Zifran bertanya.


"Jam empat sore."


"Oiya, Lo belum ngasih tau gue soal di kantor polisi. Gimana kasusnya? Apa bener orang itu mau nyelakain Maisya?"


"Dari hasil intro grasi terhadap mereka, ternyata mereka nggak sengaja buat nabrak Maisya karena keadaan waktu itu lagi panik-paniknya karena istri si pengemudi mau lahiran. Lo bayangin aja emak-emak kalau mau lahiran, hem ...., bawelnya minta ampun."


"Terus!" perintah Zifran menyuruh Arlan melanjutkan ceritanya.


"Untuk meyakinkan gue sama pak Andre, orang itu ngasih rekaman dari dashboard mobil yang waktu itu dia pake untuk nganter istrinya ke rumah sakit. Dan setelah di cek sama pak Andre beserta anak buahnya, bener itu rekaman tepat kejadian waktu Maisya hampir ditabrak dan elo yang ketabrak. Dan menurut gue, kita nggak perlu ngambil jalur hukum untuk kasus kayak gini karena orang yang nabrak lo waktu itu udah ngucapin permohonan maafnya sama gue buat lo. Jadi semua selesai dan nggak ada permasalahan lagi, kan? Kalau gitu gue pamit dulu pak bos!" Arlan meninggalkan ruangan zifran setelah menjabarkan panjang lebar tentang kasus yang beberapa hari menjadi tugasnya.


"Dasar sekretaris nggak ada adab lo emang!"


***


Keesokan harinya.


"Nanti pulang sekolah ke toko buku mau nggak?" tanya Leon kepada m


Maisya. Kini keduanya berada di kantin untuk mengisi perut dan mengistirahatkan otaknya sejenak dari soal-soal ujian yang beberapa saat lalu menghantui mereka.


"Boleh." Maisya menjawabnya singkat.


"Si Alya sama Andin kemana? Kok nggak nampak?"


"Masih ngerjain soal mereka," jawab Maisya sambil menyedot es Boba favoritnya.


Leon mengangguk paham, mengaduk minumannya, lalu melirik Maisya yang duduk di samping. "Mau makan bakso?" tawar Leon.

__ADS_1


"Makasih, gue udah kenyang!" tolak Maisya halus.


****


"Lo mau kemana Fran?" tanya Arlan melihat sahabatnya pergi meninggalkan ruang kerjanya.


"Gue mau beli sesuatu buat Maisya," jawabnya terus berjalan.


"Tunggu!" Arlan mengejar Zifran. "Lo udah baikan sama Maisya?"


Zifran menggeleng. "Tapi gue bakal terus berusaha," ucap Zifran meyakinkan dirinya sendiri agar tak mudah menyerah.


"Gue salut sama lo. Gue kira, lo yang nggak pernah jatuh cinta bakal nyerah gitu aja. Good luck!" ucap Arlan menyemangati bos sekaligus sahabatnya itu.


****


"Udah dapet semua buku yang lo cari, Sya?" Leon menyusuri tiap rak buku demi menemukan buku yang dicarinya.


"Udah. Lo sendiri?" tanya Maisya yang mengekor di belakang Leon.


"Ya udah, kalo gitu kita balik yuk! nanti keburu sore, nanti bokap lo marah lagi sama gue yang bawak anaknya nggak tepat waktu."


"Nih bawak," Maisya memberikan beberapa buku kepada Leon. "sekalian lo bayarin ya, kan elo yang ngajak gue."


"Iya-iya. Apa sih yang nggak buat lo Sya."


Setelah selesai membayar, Maisya dsn leon keluar dari toko buku menuju area parkir dimana kendaraan Leon diparkirkan.


Sesekali Leon melemparkan candaan kepada Maisya. Iya tau jika saat ini gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Ternyata benar yang dikatakan Onad, jika terjadi sesuatu dengan hubungan mereka.


"Nih, pakai helmnya." Leon memberikan helm full face kepada Maisys. "Mau makan atau langsung pulang?"


"Pulang aja lah."


****


"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya penjaga toko bunga.


Ya. Saat ini Zifran sedang berada di toko bunga yang terletak tak jauh dari kantornya. Bukan toko bunga khusus pemakaman ya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, sesuai rencana ia akan membelikan Maisya buket bunga sebagai permintaan maaf dirinya atas kesalahannya beberapa waktu lalu.


Zifran memilah-milah bunga yang akan ia berikan untuk kekasihnya. Pandangan Zifran tertuju pada bunga mawar putih yang berada tepat di sisi kanan Zifran.


"Mbak, saya mau yang ini!" tunjuk Zifran kearah samping. "tolong dibungkus semuanya, biar keliatan gede."

__ADS_1


"Baik pak. Ada yang lain lagi?" Zifran tersenyum menggeleng.


'Ah, sial. Kenapa senyumnya manis banget. Meleleh hati saya pak!' batin wanita yang tengah sibuk merangkai bunga pesanan Zifran.


Tak butuh waktu lama bagi Zifran untuk menunggu pesanannya. Setelah membayar, Zifran pergi meninggalkan toko, melakukan mobilnya di jalan raya.


Di dalam perjalanan, tak henti-hentinya Zifran tersenyum kala memandang foto gadis yang ia jadikan wallpaper di layar ponsel miliknya. Entah sejak kapan Zifran menjadikan foto Maisya sebagai layar utama.


Namun, seketika senyumnya memudar saat melihat panggilan masuk dari seseorang yang belakangan ini ia hindari. Tanpa perasaan dan belas kasih, Zifran menekan tombol ikon berwarna merah dan menonaktifkan ponsel agar wanita itu tidak lagi menghubunginya.


Sementara di tempat lain, Casandra tengah mengumpat pria yang selalu mengabaikan dirinya. Bukan hanya sekali, tapi sudah berulang kali Zifran seperti ini dan terus mengacuhkannya tanpa alasan.


Di depan pagar menjulang tinggi Zifran menghentikan mobilnya sesat, lalu memanggil satpam yang berjaga di sana agar membukakan gerbang untuknya.


Di saat bersamaan, pandangan Zifran tak sengaja menangkap sosok pria yang ia kenal sedang bercanda bersama kekasihnya. Raut wajah Zifran memerah seperti menahan amarah. Tangannya terkepal kuat hingga bubu-buku jari memutih akibat terlalu kuat Zifran meremas tangannya sendiri.


Bukan candaan dari pria itu yang membuat Zifran seperti ini. Tapi perlakuan pemuda itu yang memegang kedua pipi Maisya yang tak bisa ia terima. Terlebih lagi di saat situasi dirinya yang menahan rindu membuat darah Zifran seakan mendidih tanpa sebab.


Bugh!


Tanpa ba bi bu Zifran langsung memberikan bogem mentah ke arah pipi Leon. Dan itu sukses membuat leon sedikit limbung karena serangan dadakan dari Zifran.


Maisya yang melihatnya langsung membantu Leon untuk kembali menegakkan tubuhnya. Leon meringis menyentuh


"Jangan sentuh pacar gue!" tegas Zifran memberi peringatan. Kemudian Zifran membenarkan posisi jasnya.


"Lo apa-apaan sih kak. Lo gila ya!" bentak Maisya tak terima Zifran memukul sahabatnya.


"Kakak nggak suka kamu deket sama dia."


"Tapi nggak gini juga caranya, dia itu temen gue."


"Tetep aja kakak nggak suka." Mata Zifran menyorot tajam ke arah Leon. Katakanlah saat ini Zifran sedang cemburu.


"Lo egois!" saut Maisya.


"Sya, gue pulang ya, nggak enak gue, gara-gue kalian jadi kayak gini," ucap Leon.


"Bagus kalau lo sadar diri!" cibir Zifran.


Leon memakai helm, menjalankan motor sportnya meninggalkan rumah Maisya. Setelah kepergian Leon, tatapan nyelang Maisya tertuju pada Zifran.


"Mending lo pulang kak. Badmood gue liat lo." Maisya melangkahkan kakinya menjauh dari Zifran yang mengejarnya.


"Sya, tunggu. Kakak belum selesai ngomong!"

__ADS_1


Seakan menutup telinga, Maisya mengabaikan teriakan Zifran yang memanggil namanya dan terus melangkah masuk ke dalam rumah.


__ADS_2