
Maisya menghentikan tangan Zifran yang hendak meraih sesuatu yang berada dihadapannya. Seakan mengerti isi pikiran gadis itu Zifran menggelengkan kepalanya.
"Jangan khawatir kamar ini kedap suara," ia mencoba meyakinkan Maisya.
"Tapi kak-" ucapannya terhenti melihat Zifran bangkit dari tubuhnya, berjalan mengarah kearah pintu.
Ceklek!
Pria itu mengunci pintu kamarnya. Melangkah menuju ranjangnya.
Kemudian menyibak selimut yang Maisya gunakan untuk menutupi tubuhnya. Ia melepaskan kaos yang membalut tubuh atletisnya, mendekati gadis yang sudah melepaskan seragam yang kini tergeletak di lantai.
Zifran mulai mencumbui Maisya. Meraba setiap lekuk tubuh gadis remaja yang kini mampu mengalihkan dunianya. Mengalihkan segala atensi pemikirannya selama ini.
Suara desa*han dari bibir mungil gadis itu bagaikan alunan musik yang begitu menggairahkan nalurinya sebagai lelaki. Ia segera melepaskan pengait bra yang melekat di tubuh Maisya, melemparkannya ke sembarang arah.
Dengan rasa geli menikmati setiap rangsangan ketika pucuk kenyalnya di mainkan begitu lembut. Tanpa sadar Maisya membawa mengarahkan kepala Zifran agar mendekat kebagian dadanya.
"Nafsu amat neng!" goda Zifran tersenyum jail disela-sela kesibukannya.
7 tahun gyeeuur
"Iyalah, kan elo yang buat kak. Gimana sih!" kesalnya.
"Mulai sekarang ya? Kakak udah nggak tahan."
"Yau dah buruan!"
Zifran bangkit dari posisinya. Melepas celana pendek yang ia kenakan dan menyisakan tubuh tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya kini.
Setelah cukup lama melakukan pemanasan sebelumnya, kini mereka mulai melakukan permainan inti. Dimana permainan yang sejak tadi mereka tunggu.
Sempit, itulah yang si dedek rasakan ketika hendak memasuki rumahnya. Ia bingung, bukankah ini bukan yang pertama untuk mereka. Kenapa terasa sudah untuk memasukinya? Begitulah pemikiran Zifran saat ini.
Jleb!
Dengan usaha yang tidak sia-sia, akhirnya ia mampu bertamu dan berdiam diri sejenak didalam sana.
Maisya meremas seprei untuk mengurangi rasa perih namun nikmat hingga membuatnya ketagihan. Meski rasanya tak sesakit di awal tetapi tetap saja itu sangat perih untuknya.
Zifran mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan di atas tubuh Maisya yang mulai menikmati permainannya. Suara desa*han kenikmatan begitu menggema memenuhi ruang kamar hingga membuat Maisya yang mendengarnya merasa geli.
"Mmmpphh..." Maisya mengulum bibirnya agar tak menimbulkan suara.
"Jangan di tahan Sya! Keluarkan aja nggak akan ada yang denger."
"Kak, ah..."
"Teruslah mendesah Sya. Panggil nama kakak!"
__ADS_1
"Kak Zi, gu-gue udah ng-gak tahan lagi."
"Terus sayang, panggil nama kakak!"ucap Zifran di telinga Maisya. Sesekali ia mendaratkan kecupannya di leher gadis yang berada dalam kendalinya.
"Kak Zi..." Maisya menjambak rambut Zifran menyalurkan rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Zifran semakin mempercepat permainannya tak kala dirinya mulai di selimuti gairah yang begitu mendalam. Tak butuh waktu lama untuk ia mencapai puncak kenikmatannya. Begitupun dengan Maisya, gadis yang mengerang panjang saat seseorang semakin mempercepat ritme permainan mereka. Menghujam miliknya begitu dalam hingga membuat tubuhnya bergelinjang hebat.
Dengan cepat Zifran menarik miliknya dan menumpahkannya di luar. Sebab ia tak mau mengambil resiko jika ia ceroboh.
Setelah selesai melakukan kegiatan panas mereka, Maisya langsung bergegas bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Zifran, ia membereskan kekacauan yang telah ia ciptakan di kamarnya.
Di dapur Mama Sarah sedang sibuk-sibuknya menata beberapa menu makanan yang kini sudah berbaris rapi di atas meja makan. Setelah semua dirasa siap, Mama Sarah berjalan menghampiri suaminya yang berada di kamar mereka.
Tak lupa pula ia akan memanggil kedua bocah yang tak berakhlak yang baru saja selesai dengan olahraga panasnya tanpa sepengetahuan mereka.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki seseorang sedang menuruni anak tangga, membuat perhatian Mama Sarah terarah kepada mereka.
Ia menghentikan langkahnya, menatap kearah sumber suara, "Cerah banget wajah anak Mama!"
Mama Sarah meneliti penampilan putranya dengan rambut basah, "Keliatan seger. Tumben jam segini udah mandi?"
"Ooohh, tadi abis olahraga, makanya aku langsung mandi." Jawab Zifran santai. "Mama mau kemana?" tanyanya menimpali.
"Tadinya Mama mau panggil kalian, tapi kalian udah turun duluan. Ya udah sana, Mama mau panggil Papamu dulu!"
"Iya Tan," jawab Maisya tersenyum malu.
Zifran dan Maisya berjalan menuju meja makan setelah kepergian Mama Sarah.
Kini suasana di meja makan terasa lebih hangat dengan obrolan santai yang mereka lakukan. setelah menyelesaikan acara makan bersama tak ada satupun yang beranjak dari tempat mereka duduknya
"Jadi bagaimana, kapan kalian akan menikah? Jangan terlalu lama kami ini sudah tua, dan kami ingin segera memiliki cucu," ucap Papa Arya.
"Pa," istrinya memberi kode.
"Bener kan apa kata Papa, kita ini sudah layak untuk memiliki cucu. Jadi kapan rencana kamu untuk menikahi Maisya?"
"Belum tau, lagian aku belum ada rencana buat cepet-cepet nikah. Nikah itu butuh persiapan yang matang pa. Persiapan mental dan materi itu juga penting. Bukan asal main nikah-nikah aja."
Maisya hanya diam menyaksikan adu argumen antara Papa dan anak.
"Kalau kamu bagaimana Nak?" tanya pria yang kini menatap wajah Maisya.
__ADS_1
Gadis itu menoleh "Kalau sa-ya..." ia bingung mau jawab apa jika sudah begini.
Duk!
Maisya menendang kaki Zifran yang duduk bersisian dengannya. pria dengan rambut basahnya menatap bingung seakan bertanya 'Ada apa'.
Mengetahui kebingungan Zifran, Maisya memberi kode kepada pria itu lewat raut wajahnya dengan mulut yang sedang berkomat-kamit 'Tolongin gue'. Begitulah kira-kira.
"Kami udah sepakat setelah Maisya menyelesaikan pendidikan sampai kuliah, setelah itu kami akan menikah. Iya sayang!"
Maisya hanya membalasnya dengan senyuman karena ia sudah tak mampu untuk berbicara disaat Zifran memanggilnya 'Sayang', ini sudah ketiga kalinya ia mendengar panggilan itu. Seakan kupu-kupu tengah menari di dalam perutnya membuat rona merah terlihat diwajahnya.
***
"Kalau begitu Maisya pamit pulang ya Tan. Makasih udah diajak makan siang bareng,"
"Besok-besok main kesini ya, soalnya Tante sering kesepian. Kalau ada kamu kan Tante ada temennya," Mama Sarah mengelus rambut Maisya yang tergerai bebas.
"Kalau gitu Maisya pamit Om, Tan."
"Iya, hati-hati. Fran, kamu anterin Maisya gih udah sore kasian anak perempuan bawa motor sendiri. Mana motornya gede!" ucap Papa Arya.
"Ini mau di anterin."
"Tapi mot-"
"Udah gampang itu urusan besok pagi. Ya udah yuk, entar keburu sore!"
Selesai berpamitan Zifran membawa Maisya kearah mobil yang sudah terparkir apik di halaman depan rumah mereka.
Tak lupa Maisya melambaikan tangannya kearah sepasang suami-istri yang tersenyum hangat kearahnya.
"Cepetan masuk Sya, entar kakak tinggal nih!" ucap Zifran dari dalam mobil.
"Iya-iya, nggak sabaran banget. Niat nganterin Nggak sih!"
"Ya niat lah."
Brakk!
Gebrakan pintu mobil saat Maisya menutupnya dengan kasar.
"Kayaknya umur mobil gue nggak bakal panjang," gumamnya.
Namun masih dapat didengar oleh Maisya, "bodo amat. Kan bisa beli baru!"
"Tapi ini baru beli Sya, mana masih nyicil." Zifran melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Samudera.
"Gila Lo kak, orang kaya macam apa lo, hari gini mobil masih nyicil. Nggak sepadan tau nggak sama tampang lo!"
__ADS_1