
Tap tap tap tap.
Terdengar suara langkah kaki yang menapaki tangga dengan tergesa-gesa. Leon yang masih mengenakan seragam basket berjalan cepat menyusul wanita yang kini telah menjadi sahabatnya itu.
Sambil berlari ia memanggil nama seseorang. "Sya, tunggu!" teriaknya melambaikan tangan.
Mendengar seseorang memanggil namanya, wanita yang tidak lain adalah Maisya langsung berhenti, berbalik ke arah orang itu. Begitupun dengan kedua sahabatnya.
"Ada apa?" tanya Maisya langsung.
"Hosh, hosh, hosh." Leon membungkuk, memegangi kedua lututnya seraya mengatur nafas Karena lelah. "Gila. Cepet banget kalian jalannya!" serunya yang masih ngos-ngosan.
Andin bersedakep, memandang Leon dengan wajah datarnya. "Lagian Lo ngapain lari-lari, huh! Kurang kerjaan."
"Gue mau ngomong sama Lo, Lo pada." Leon menunjuk mereka bertiga. "Sorry, kayaknya hari ini kita nggak bisa belajar bareng soalnya gue disuruh jemput kakak gue di bandara. Kalian nggak marah, kan?" jelas Leon.
"Ya nggak apa-apa kali. Mungkin lain waktu kita bakal belajar bareng, gue sama mereka nggak kenapa-napa kok." Kini Maisya yang angkat bicara.
"Thanks ya," ucap Leon.
"Yuk, ah, mau sampai kapan kita disini?" sambung Alya.
"Ya udah ayo!" __ Andin.
"Dasar bawel!" ucap Maisya dan Leon berbarengan. Hal tersebut sontak mengundang perhatian sekitarnya. Menyadari akan hal itu, keduanya terkekeh melihat kekompakan mereka.
"Oiya, gimana keadaannya si Bambang?" Maisya menautkan alisnya mendengar ucapan Leon barusan.
Bambang? Siapa yang dia maksud coba. Sementara Leon dengan santainya ia berjalan tanpa beban.
"Maksud Lo?" tanya Maisya dengan wajah bingung.
"Sorry, sorry, maksud gue pak Zifran."
"Wah, sekate-kate Lo kalau ngomong. Denger orangnya habis Lo!" geram Alya yang mengetahui panggilan itu.
"Tau nih, anak, punya mulut nggak ada filternya." Andin memberikan tatapan tajam untuk Leon.
Untuk sesaat Leon tak ambil pusing dengan perkataan keduanya, namun di saat ia melihat Maisya yang terdiam membuatnya gelagapan dan kalang kabut. Takut-takut jika cewek itu marah padanya.
Wajahnya tegang, sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maafin gue ya Sya, plisss!" pinta nya memohon sambil menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hayo Lo, si Mae ngambek," ucap Alya menakut-nakuti.
"Ho'o. Lo tau, kan kalau si Maisya marah, wah, mampus Lo!" timpal Andin.
Di sisi sebelahnya, Maisya mati-matian menahan tawanya agar tidak pecah. Melihat wajah kepanikan Leon sungguh merupakan hiburan baginya.
"Hahaha!" Karena tak tahan, akhirnyaMaisya melepaskan tawanya begitu lantang hingga membuat Leon menatapnya was-was. "Gue suka suka panggilan baru Lo!" Spontan Maisya menepuk bahu cowok itu sekuat tenaga.
Entah apa yang merasukinya, hingga ia seperti itu.
"Dasar pacar nggak ada akhlak!" seru Alya dan Andin.
Sementara di sisi lain, sebuah mobil sedan mewah terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Seorang pria yang mengenakan pakaian formal sedang duduk santai di bangku kemudinya. Sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu di dalam mobil. Jika bukan karena perintah, mungkin ia ogah dalam situasi seperti ini.
Sesampainya di parkiran, Maisya dan yang lain langsung menuju ke arah mobil mereka masing-masing. Begitupun dengan Leon, ia bergegas menaiki kuda besinya, dan tak lupa juga ia memakai helm full face miliknya.
Namun sebelum pergi meninggalkan parkiran, tak lupa ia menyapa Maisya terlebih dahulu. Maisya pun membalas sapaan dari Leon dan kedua sahabatnya yang sudah melajukan mobil mereka. Ketika ia hendak masuk kedalam mobil, seseorang menghentikan aksinya sesaat.
"Sya, tunggu!" panggil orang itu.
Maisya berbalik badan, menyadari siapa yang memanggilnya. "Kak Arlan! Kok Lo ada disini?" tanyanya.
"Gue ada perlu sama Lo. Lo mau kan ikut gue?" Ya begitulah Arlan, jika bersama seseorang yang terbilang dekat dengannya, ia akan mengunakan kata 'lo, gue' tapi jika bersama mereka yang baru, maka Arlan lebih terbiasa menggunakan bahasa yang terdengar baku.
"Nanti Lo juga bakal tau!"
"Oke!" saut Maisya semangat.
"Tapi maaf, Non Maisya tidak bisa pergi." Suara pria yang berada dibalik mobil yang akan ditumpangi Maisya.
Maisya menatap pria itu penuh permohonan, berharap agar ia diizinkan oleh supir pilihan Papanya. Cukup lama Maisya dan pria itu berdebat, tapi tetap saja pria itu kekeh dengan keputusan.
"Ayolah Cup, plissss! Ya, ya, " ucap Maisya.
"Maaf, Non, ini sudah tugas saya dari bos besar." Arlan menghela nafasnya. Ternyata benar yang dikatakan Zifran tempo hari, ia harus mengatur strategi jika berhadapan dengan supir yang satu itu.
"Tapi gue, kan perginya sama kak Arlan Cup!" sanggah Maisya.
"Tetep aj-"
"Kalau nggak gini aja, kamu telfon pak Bram, bilang sama dia kalau Maisya pergi sama saya."
__ADS_1
***
"Sebenarnya kita mau kemana sih kak? Bukannya ini jalan mau ke rumah kak Zifran ya?" Setelah mendapat izin, Arlan membawa Maisya tanpa memberitahukan kemana mereka akan pergi.
Selama dalam perjalanan, tak henti-hentinya Maisya selalu menanyakan hal itu kepada Arlan. Tanpa banyak bicara, Arlan hanya terdiam memfokuskan pandangannya ke arah jalanan yang kini dipadati oleh pengguna jalan.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di bangunan tinggi menjulang dengan kemegahan yang ia berikan. Maisya melangkah menuju rumah tersebut diikuti oleh Arlan yang berjalan di belakangnya.
Gadis itu masih belum faham tentang tujuannya yang datang ke kediaman keluarga Samudera. Karena setahunya mereka kini masih berada di Bandung, dan akan pulang beberapa hari lagi.
"Kok Lo ngajak gue kesini sih kak. Lo nggak lagi ngeprank gue kan?" Maisya menatap Arlan penuh selidik.
"Entar juga Lo bakal tau."
"Isshhh, Lo nyebelin banget sih kak!" Arlan terus berjalan meninggalkan Maisya yang berdiri di tempatnya.
'Nggak kak Zi, nggak kak Arlan sama-sama nyebelin!' batinnya. Mau tak mau Maisya menyusul Arlan.
Tap tap tap.
Dari arah berlawanan seorang wanita paruh baya mengenakan daster berjalan menghampiri gadis yang kini berada di kediamannya. Senyumnya mengembang tatkala melihat gadis itu berjalan semakin cepat sembari merentangkan kedua tangannya.
"Apa kabar sayang?" Maisya memeluk Mama Sarah begitu erat. Begitupun Mama Sarah, ia tak kalah eratnya memeluk Maisya.
"Kangen," ucap Maisya dengan suara manjanya. "apa kak Zi ikut pulang, Tan?"
Mama Sarah melepaskan pelukannya, lalu berkata, "apa kamu merindukannya?" Seketika rona merah di wajah Maisya menyembul keluar karena pertanyaan wanita itu barusan. Dengan rasa malu Maisya mengangguk lirih.
"Ayo Tante anterin ke kamar Zifran!" Mama Sarah menggandeng tangan Maisya.
Gadis itu menoleh kesana-kemari mencari seseorang. "Kak Arlan kemana ya?"
"Dia sudah naik ke atas," tutur Mama Sarah. Maisya mengangguk, ber'oh'ria. Kini keduanya menaiki tangga menuju lantai atas dimana kamar Zifran berada.
Senyumnya mengembang, menandakan bahwa dirinya begitu bahagia setelah beberapa hari memendam rindu, akhirnya ia bisa melihat kekasihnya kembali. Maisya tak menyangka, jika Zifran diperbolehkan pulang secepat ini.
Ceklek!
Mama Sarah memutar handle pintu kamar Zifran dan membukanya. Maisya yang berdiri di samping Mama Sarah, pandangannya menatap ke arah seseorang yang bersandar di kasur king size dengan santainya.
Lalu berjalan menghampiri pria itu. "Kak Zi." Kini Maisya berdiri di samping Zifran.
__ADS_1
Zifran terkejut langsung membuang benda yang ada ditangannya ke sembarang arah. Ia tidak menyadari kehadiran Maisya karena terlalu fokus membicarakan tentang pekerjaan bersama Arlan. Alhasil, beginilah jadinya.
"Sya," panggil Zifran menyadari kesalahannya.