
Di sebuah restoran uang tidak jauh. dari cafe tempat mereka nongkrong, Maisya baru saja tiba diantarkan Leon yang selalu setia menemani gadis itu kemanapun. Karena tadi Mama Sarah menelepon dan keduanya sepakat untuk bertemu di sana.
Meninggalkan Leon sendirian, Maisya terus berjalan masuk ke dalam. Matanya Menelisik. setiap meja yang ada di sana mencari keberadaan Mama Sarah yang sudah menunggunya.
"Sya, sini!" teriak Mama Sarah melambaikan tangan ke arah gadis itu.
Maisya berjalan menghampiri Mama Sarah yang ternyata tidak jauh dari tempatnya berdiri dan terhalang oleh dua orang yang berdiri di depannya.
"Suah lama, Tan?" Maisya menarik kursi yang ada di samping Mama Sarah.
"Belum. Baru saha sampai. Oiya, dimana teman kamu? Nggak kamu ajak sekalian?"
"Dia di depan nunggu parkiran. Hehehe," tawa candaan Maisya. "Gimana kabar Tante, sehat 'kan?" tanya gadis itu basa-basi.
"Sehat. Maaf ya, tadi malam kamu nelpon nggak Tante angkat, soalnya di rumah lagi ada tamu. Maaf ya, kamu nggak marah 'kan?"
"Nggak pa-pa kok, Tan. Lagian aku cuma mau tanyak kabar kabar kak Zifran aja, soalnya dari kemaren dia nggak ada kabar. Terlebih lagi perasaanku nggak enak, aku takut dia kenapa-napa."
"Dia baik-baik aja kok." Wanita itu menggenggam tangan Maisya, berharap ini adalah keputusan yang tepat untuk mereka. "Oiya, Sya. Ada yang mau Tante omongin ke kamu, tapi Tante harap kamu jangan marah ya?"
"Memangnya Tante mau ngomong apa? Kok kayaknya serius banget?"
"Ada sesuatu yang penting yang mau Tante bilang ke kamu. Ini soal Zifran," jelasnya membuat Maisya tiba-tiba saja dilanda rasa gelisah jika berhubungan dengan pria itu.
Apakah kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja?
"Memangnya kenapa sama kak Zifran, Tan? Dia sakit?"
Mama Sarah menggeleng cepat, Lalu berkata, "apa kamu mau memenuhi keinginan Tante, Sya?" tanyanya.
"Tentu saja, jika aku mampu melakukannya, Tan," jawab Maisya sambil mengaduk minuman yang sudah dipesan.
"Bisakah kamu meninggalkan Zifran untuk menikahi wanita lain?"
Deg.
Jantung Maisya rasanya terhenti saat itu juga setelah mendengar penuturan yang di sampaikan oleh wanita berparas cantik meski di usia yang tak lagi muda.
"Ma-maksud Tan-Tante apa ya? Aku nggak ngerti," jawab Maisya yang terlihat bingung dengan situasi yang ada. Bahkan minimum yang sedari tadi di aduk ia abaikan begitu saja.
"Tante minta sama kamu, tolong jauhi Zifran sekarang. Biarkan dia hidup tanpa bayang-bayang kamu. Bisa 'kan kamu melakukan hal itu untuk, Tante, Sya? Tante mohon sama kamu untuk melepaskan Zifran agar dia bisa menikah dengan Amel."
"Sebenernya mak-maksud Tante gimana? Aku harus ninggalin kak Zifran untuk menikahi dengan wanita lain, begitu?"
__ADS_1
Mama Sarah mengangguk.
Maisya benar-benar tidak mengerti tentang semua ini. Bahkan nada bicaranya pun terlihat santai.
"Tapi Kenapa? Bukannya Tante setuju tentang hubungan kami. Tapi kenapa Tante minta aku jauhi kak Zifran? Apa aku ini nggak pantes buat kak Zi?"
Tenggorokan Mama Sarah terasa tercekat mendengar penuturan gadis di depannya. Rasanya ia tidak sanggup mengatakan hal sebenarnya kepada Maisya tentang keadaan Zifran saat ini. Ia tahu bahwa gadis itu sangat mencintai putranya, namun apa boleh buat jika putranya sendirilah yang melakukannya.
"Bukan kamu yang tidak pantas, tapi Zifran yang tidak pantas buat kamu, Sya. Kamu terlalu baik untuk anak, Tante. Di sini Tante tidak ingin kamu terluka karena perbuatan Zifran. Dan Amel, saat ini dia sedang mengandung anak Zifran. Jadi, Tante mohon agar kamu melepaskan Zifran yang sebentar lagi akan menjadi seorang Papa," ujar Mama Sarah yang tak kuat menahan sakit melihat Maisya hanya terdiam tanpa suara.
Tes...
Tes...
Tes...
Air mata Maisya menetes begitu saja setelah Mama Sarah menyelesaikan ucapannya. "Tan-Tante bohong 'kan sama aku? Tante sama kak Zi pasti lagi ngeprank, aku 'kan? Tapi ini nggak lucu Tan. Aku lagi nggak ulang tahun loh." Maisya berusaha tetap bersikap positif thinking.
"Mama Sarah pun menggeleng cepat. "Tidak, Nak. Tapi ini benar-benar ter-"
"MAMA!!"
Prang!
Zifran yang hanya mengenakan celana training dan kaos menjadi pusat perhatian pengunjung restoran tengah kenapa meja yang ada di sudut ruangan.
Dengan lembut, Zifran menyentuh bahu Maisya, namun dengan cepat segera ditepis olehnya.
"Jangan sentuh gue!" tegas gadis itu tanpa melihat ke arah Zifran sedikitpun.
"Fran-" panggil Mama Sarah yang di potong langsung oleh Zifran.
"Kakak bisa jelasin semuanya sama kamu. Ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan, Sya." Tanpa memperdulikan panggilan sang Mama.
Lagi-lagi tangan Zifran ditepis kasar. Saat ini dirinya tidak perduli jika menjadi pusat perhatian orang sekitar. Uang terpenting adalah berusaha meyakinkan kembali cintanya.
Plak!
Satu tamparan keras dari Maisya berhasil mendarat di pipi Zifran. Tanpa sedikit berniat mengusap, Zifran justru membiarkannya.
"Jadi lo tau apa yang gue pikirin tentang elo, kak? Ternyata pemikiran gue tentang elo itu selama ini salah. Gue pikir Lo bisa berubah, ternyata gue salah. Salah karena punya pikiran kayak gitu."
Maisya yang berdiri mencengkram erat pinggiran meja sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya terhadap seseorang yang ia cintai setulus hati, namun harus kembali merasakan sakit dari cinta yang berbeda.
__ADS_1
Kini Maisya menatap Zifran dengan tatap nanar. Matanya pun mulai berkaca-kaca menghalau air yang mendesak untuk mengalir dari pelupuk matanya.
Sedangkan, Mama sarah yang berada di situ terdiam tidak berdaya tanpa bisa melakukan apapun saat ini. Menangis tanpa suara, itulah yang ia lakukan.
"Plisss, tolong kasih kakak kesempatan buat ngejelasin semuanya, Sya." Zifran pun menatap Maisya dengan tatapan mengiba.
"Apa yang mau lo jelasin ke gue?! Tentang sikap Lo yang nggak jauh beda sama Dion, iya?! Lo nggak punya hati banget jadi orang!
Gue udah tulus cinta sama elo, bahkan apa yang gue punya gue kasih ke lo dan ini balesan elo sama gue?! Lo lebih baji*ngan dari si Dion tau nggak!"
"Tapi dengerin kakak dulu!" sanggah Zifran mencekal tangan Maisya.
"Gue bilang lepasin! Jang pernah temui gue lagi." Maisya menarik tangannya kembali dan melangkah pergi meninggalkan Zifran dan Mamanya.
"Asal lo tau gue dijebak, Sya! Lo harus denger itu! Lo nggak bisa gini'in gue, Maisya!"
Zifran berteriak mengeluarkan segala emosinya. Bahkan kursi dan meja di sana di banting olehnya.
Prang!
Gelas berisi minuman milik Mama Sarah dan Maisya jatuh berhamburan di lantai.
Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis bersamaan dengan rasa kecewa dari sang Mama yang mengambil tindakan tidak tampan sepengetahuannya.
Zifran yang sedang berada di rumah menenangkan pikiran tiba-tiba di beri tahu Leon tentang Maisya yang menemui Mamanya dan tentu ia tahu apa tujuan sang Mama untuk menemui Maisya.
"Aaarrrrggghhh... ini semua salah Mama! Kalau bukan karena Mama, Maisya nggak bakal gini. Ada waktunya buat aku ngejelasin semuanya sama dia, tapi nggak sekarang."
Setelah itu mengejar Maisya yang berlalu.
Sementara di depan restoran.
"Ayo pulang," ajak Maisya menggandeng tangan Leon menuju arah parkiran motor. Ternyata pria itu masih setia untuk menunggunya.
"Lo kenapa, Mae?" tanya Leon pura-pura tidak tahu setelah melihat apa yang terjadi pada gadis yang amat ia cintai barusan. Terlebih lagi tercetak jelas matanya yang sebab.
"Udah yuk buruan." Maisya mengambil dan memakai langsung helm tanpa menunggu lama.
"Sebenarnya Lo itu kenapa? Hem?"
"Udah nggak usah banyak bacot Lo. Anterin gue balik."
"Tunggu!" seru Zifran berlari mengejar Maisya tanpa henti.
__ADS_1
Bugh!....