Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Menjadi bahan ghibah.


__ADS_3

"Kak, cepetan, ih. Si Alya mana lagi nggak nongol-nongol. Udah siang juga!" seru Maisya yang sedari tadi menunggu sahabatnya satu itu. Entah kemana. Katanya jam 7 udah standby, tapi ini hampir jam delapan Alya belum juga menampakkan batang hidungnya.


Sementara Zifran, pria berlari kecil dari dalam rumah Maisya karena pria itu sebelumnya berada di toilet untuk menuntaskan hajatnya. Di sana ternyata sudah ada Arlan dan juga Andin yang menatap jengah kelakuan gadis yang selalu mengomel tak jelas.


"Lo kenapa Fran? Kok jalannya ngangkang gitu?" selidik Arlan keheranan.


"Anjir. Adek gue ke jepit resleting!" bisik Zifran pada sang sahabat yang tertawa setelahnya.


"Ha ha ha ha. Untung tuh adek nggak ke penggal," ucapnya di tawa.


"Sia*lan Lo. Seneng banget liat orang menderita." Sedari tadi pria itu terus memegangi celana yang menempel pada selang*kangan.


Setelah selesai, Zifran terburu-buru karena suara ponsel yang terus berdering. Ia tahu itu panggilan dari siapa. Ya siapa lagi jika bukan pacar kesayangannya. Akibat terburu-buru Zifran tanpa melihat langsung menarik resletingnya ke atas. Alhasil seperti sekarang ini.


Semua itu tak luput dari pandangan Maisya dan juga Andin. Keduanya saling melirik satu sama lain seakan bertanya 'ada apa'.


Zifran menghampiri Maisya yang berada di samping mobil miliknya yang sudah terparkir sejak satu jam yang lalu.


"Lo kenapa?" tanya Maisya penasaran.


"Ah, biasa, namanya juga laki-laki," balas Zifran menutupi rasa malunya.


"Udah ada kabar dari si Alya?" tanya Zifran menatap Maisya.


"Katanya sebentar lagi Pak. Soalnya dia ada urusan dadakan." Bukan Maisya yang menjawab, melainkan Andin yang berdiri di depan Maisya, tetap di mobil Arlan.


"Mau jam berapa lagi kita berangkat. Entar kesiangan pasti jalanan macet!," timpal Arlan sudah ikut bergabung.


"Bentar lagi bisa, kak. Kemungkinan seben-"


Tinnnnn!


Brum!


Suara klakson motor sport menggema di pekarangan rumah Maisya. Motor yang dikendarai oleh sepasang muda-mudi yang salah satunya sudah dinantikan kehadirannya sedari tadi.


"Dari mana aja Lo. Kita-kita nungguin Lo udah kayak cumi asin. Eh, tunggu dulu! Kok Lo bisa bareng nih anak?" tanya Maisya bingung setelah mengomel sepanjang jalan kenangan.

__ADS_1


"Sorry. Tadi gue mampir dulu ke rumah Leon buat ngajak dia barengan. Nggak papa 'kan?" Mata Alya memindai seluruh manusia yang ada dihadapannya, seakan meminta persetujuan dari mereka.


"Gue ikut nggak papa 'kan? Ya itung-itung buat nemenin Andin biar nggak jadi obat nyamuk. Iya nggak Din?"


"Ya udah yuk berangkat. Udah kesiangan kita." Arlan terlebih dahulu masuk ke dalam mobilnya, di ikuti Zifran yang masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Di dalam mobil yang di kemudi Arlan berisikan Alya, Andin dan Leon. Tentu saja mobil Zifran hanya diisi oleh mereka berdua.


Cari enak aja terus tuh dua bocah. Heran kadang author-nya sama mereka. Susah di atur.


Tujuan mereka saat ini adalah berlibur ke kota Bandung. Kota yang menjadi pilihan Maisya. Awalnya Zifran tidak setuju, namun kembali lagi keputusan mutlak ada di tangan sang pacar yang berdalih bahwa dirinya ingin menikmati suasana sejuk seperti beberapa waktu lalu ketika mereka berdua menghabiskan waktu bersama.


Kali ini mereka tujuan mereka bukanlah ke villa, melainkan sebuah desa yang berada dipinggiran kota Bandung.


Ciwidey. Nama sebuah desa yang terletak di kecamatan Ciwidey kabupaten Bandung, Jawa Barat. Desa yang begitu asri dengan pemandangan khas pedesaan dan juga tempat yang banyak dikunjungi bagi wisatawan lokal karena tempatnya yang begitu asri dan sejuk.


Kini mobil yang di tumpangi Arlan terlihat memasuki sebuah bangunan yang terlihat sederhana dan cukup bagus diantara bangunan yang mengapit di sisi kanan dan kiri bangunan tersebut.


Disusul pula dengan mobil Zifran yang terparkir di samping mobil Arlan. Banyak warga yang yang menatap kedatangan mereka berenam. Tak lupa decak kagum dari para warga yang melintas saat mereka melihat siapa yang datang ke desa mereka.


Yang mereka tahu hanyalah pria yang mengenakan kaos berwarna hitam dengan celana pendek yang tak lain adalah Arlan. Pria matang dan mapan yang menjadi primadoni bagi anak gadis desa Ciwidey.


Banyak dari warga yang memandang takjub dengan mereka (Zifran, Maisya, Alya, Andin dan juga Leon) yang mau jauh-jauh berkunjung dari kota ke desa.


"Eh, itu si akang, ganteng-ganteng kok jalannya begitu ya?" bisik ibu-ibu yang sedang memperhatikan Zifran dari kejauhan.


"Ngangkang maksudnya?" tanya ibu yang baru dibisiki.


"Iya."


"Waktu bayi kurang bedongan mungkin Bu," Keduanya tertawa cekikikan.


Tiba-tiba datang pemuda yang baru saja pulang dari sawah melihat wanita yang yang tengah bergosip ria. "Itu, si Eneng yang yang pake tas berbulu cantik ya , Ambu?" Seorang pria remaja ikut bergabung bersama group rumpi ibu-ibu. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada gadis berambut cokelat, yaitu Alya.


"Hussst, jangan ngaco kamu Jang. Mereka itu orang kota," ucap seorang ibu yang di panggil Ambu memperingati anaknya.


Di depan rumah berpagar bambu, beratap genteng, berdinding beton dan berlantai semen, Arlan dkk sudah disambut hangat oleh kedua orang tua yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Arlan memberi salam kepada ibunya, kemudian beralih memeluk Bapaknya.


"Gimana kabar Ambu, sehat 'kan?" tanya Arlan.


"Sehat, Nak. Ini siapa?" Tunjuk ibu Arlan ke arah Zifran dkk.


"Ini anak boss Arlan Mbu, namanya Zifran. Yang ini, namanya Maisya, ini Alya, Andin dan yang terakhir namanya Leon." Arlan memberitahu dan menjelaskan satu persatu kepada Ambu-nya.


"Jadi ini anaknya pak Arya?" tanya pria paruh baya itu ingin memastikan.


"Bener pak. Saya Zifran anaknya pak Arya," Tangannya terulur memberi salam. Di ikuti oleh Maisya dkk.


"Aduh... panggil Abah saja atuh Nak. Biar sama kayak si Arlan," pinta pria itu dengan nada Sunda yang kental.


"Ayo masuk! Anggap saja rumah sendiri, jangan sungkan. Tapi maaf, kalau rumah kami seperti ini," sambung wanita paruh baya dengan kata-kata merendah.


"Terimakasih Bu," ucap Zifran sopan.


*


*


*


Zifran dan yang lainya mengistirahatkan tubuhnya di sebuah kamar Arlan yang ukurannya tidak terlalu besar dan hanya dihuni satu tempat tidur berukuran sedang. Satu lemari dengan lebar satu meter setengah dengan tinggi dua meter. Dan tak lupa meja belajar Arlan masih tertata rapi di sana.


Zifran, Arlan dan Leon merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama kemudian Zifran bangkit dan menoleh sekilas ke Arlan. "Pinjem sarung Lo dong, Ar. Nggak betah gue kayak gini. Nyiksa banget."


Arlan bangkit dan duduk di tepian ranjang. "Lo ambil aja di lemari paling atas." kemudian rebahan lagi.


Zifran berjalan sesuai petunjuk dari Arlan.


"Dia kenapa Om?" Pandangan Leon menatap aneh Zifran. Kemudian beralih ke Arlan.


"Tau tuh! Katanya kejepit resleting," paparnya dengan mata terpejam.


"Buahahaha. Ngilu nya kayak gimana ya?" Membayangkan membuat Leon bergidik ngilu di sela tawanya yang menggelegar.

__ADS_1


Sementara yang sedang di tertawaan menatap adiknya yang mengenaskan di dalam kamar mandi.


"Sungguh malang nasibmu, Nak." Zifran menatap nanar sang adik.


__ADS_2