
Di sebuah apartemen mewah yang dihuni oleh makhluk tuhan paling tampan dan mahir dalam urusan ranjang. Zifran dan Maisya baru saja tiba.
Ceklek!
Zifran membuka pintu apartemennya.
"Ayo masuk!" ajak Zifran menggandeng tangan gadis itu.
"Kok apartemen lo selalu tapi sih kak, elo yang bersihin ya?" mata gadis itu menelisik ruangan itu.
"Si Bibi yang selalu beresin apartemen ini, kalau kakak mana sempet."
Maisya mengalihkan perhatian kearah Zifran. "Kak, wajah lo kok merah, lo sakit ya?" tanya Maisya panik.
Zifran menggeleng. "Sya, tolongin kakak!" terdengar suara Zifran yang begitu berat.
"Lo kenapa kak!"
"Kamu mau kan bantuin kakak, ini juga karena kamu Sya."
"Kok gue?!"
"Masih inget yang di bioskop tadi? Kamu udah bangunin adek kakak."
Maisya menaikkan sebelah alisnya menatap pria itu bingung. "Adik, adik yang mana sih kak. Perasaan kakak nggak bawa adik!"
"Ck, adik yang ini!" Zifran melirik bagian bawahnya yang sejak tadi menggembung.
Maisya mengikuti arah pandangan Zifran. Ia semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Maksudnya?"
"Bantuin kakak buat nidurin dia."
"Ha! Caranya?" otak Maisya ngeblenk seketika.
"Kayak gini."
Zifran mendekatkan tubuhnya kearah Maisya. Ia meraih tengkuk gadis itu lalu mendaratkan bibirnya di bibir Maisya. Posisi duduk memudahkan Zifran untuk menjangkau tubuh gadis itu. Maisya memejamkan mata saat merasakan benda kenyal itu mendarat di bibirnya.
Zifran ******* bibir Maisya dengan begitu lembut hingga membuat Maisya begitu terbuai karenanya. "Buka mulutnya," Ucapkan Zifran disela-sela ciumannya.
Perlahan Maisya membuka mulutnya mempersilahkan lidah Zifran untuk masuk kedalamnya. Zifran semakin memperdalam cumbuannya terhadap maisya.
__ADS_1
Tangannya pun tak tinggal diam, ia menelusup masuk kedalam kemeja yang Maisya gunakan, meraba dan mengelus perut Maisya yang tampak rata.
"Kak!" Maisya melepaskan pagutannya. Ia menggeleng kearah Zifran.
Jujur, sentuhan ini merupakan yang pertama kali baginya. Saat ia pacaran dengan Dion, ia hanya melakukannya sebatas ciuman bibir saja tidak lebih.
"sebentar, hem." Zifran kembali meraup bibir mungil milik maisya.
Zifran semakin melancarkan aksinya. Ia membelai rambut panjang gadis itu hingga turun kebawah. Tangannya ia masukkan kembali ke dalam baju maisya. Tak sampai disitu saja, kini tangan Zifran bergerilya mencari sesuatu yang selalu menjadi favorit-nya.
Benda kenyal dan padat yang kini ada di genggaman tangan Zifran membuat tubuh maisya meremang.
"Ahhh," suara desa*han dari bibir Maisya saat Zifran mulai mere*mas buah dadanya.
"K-kak. Mmmpphh," Panggilnya yang tengah menahan gejolak dalam dirinya.
"Jangan ditahan, lepasin aja." ucap Zifran. Kini ruangan itu dipenuhi oleh suara desa*han yang keluar dari bibir mungil Maisya.
Tanpa bertanya Zifran langsung menggendong Maisya ala bridal style menuju kamarnya.
Disebuah kamar yang begitu luas dengan kasur king size menjadi dominannya Zifran meletakkan tubuh Maisya di tempat tidurnya.
Zifran mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan. Setelah semuanya terlepas ia membuang bajunya ke sembarang arah.
"Ssssttttt!" Zifran meletakkan telunjuknya di bibir msisya. Pria itu kini sudah dibutakan oleh hasrat yang sejak tadi membelenggunya.
Perlahan tangannya terukur meraih tubuh maisya, membuka kancing kemeja yang maisya kenakan. Kini tubuh maisya yang putih dengan benda padat kenyal sudah terpampang jelas dihadapannya.
Dengan gerakan lembut Zifran menyesap benda itu, yang mana membuat sang pemilik merasakan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Kedua tangan maisya meremas seprai saat lidah Zifran mulai aktif menari lincah di atas puncaknya dengan tangannya yang satu membelai sesuatu yang masih terlindungi oleh celana jeans yang ia kenakan.
"Lepasin aja jangan ditahan," ucap Zifran berhenti dari aktivitasnya.
"Kita mulai sekarang ya!" Maisya mengangguk mengedipkan matanya sebagai tanda 'Iya'.
Zifran mulai melepaskan seluruh pakaiannya, begitupun dengan maisya.
Entah mengapa, disaat ia ingin menolak namun hati dan tubuhnya seakan tidak sinkron. Hatinya ini perbuatan salah, namun tubuhnya justru meminta lebih dari pria itu.
"Kak. takut,"
__ADS_1
"Kamu tenang aja kakak bakal pelan-pelan, yang penting kamu rileks. Oke!" Maisya mengangguk.
Kini pandangan Zifran jatuh kearah bibir Maisya yang tampak merah merekah. Ia mencium bibir maisya memberinya sedikit luma*tan, lalu turun ke leher gadis itu dan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.
Kemudian ia mengarahkan si dedek kearah yang semestinya. Dengan gerakan lambat Zifran mulai melakukan penyatuan mereka.
"Aakkh!" pekik Maisya saat merasakan sesuatu yang menghujam miliknya.
"Awwwssh," desis Zifran yang merasakan sakit di bagian punggungnya akibat tancapkan kuku panjang Maisya.
Kemudian ia melepaskan penyatuannya. Tubuhnya terpaku melihat noda merah terdapat di seprai dan di alat tempurnya.
Setetes air mata Maisya jatuh membasahi pipinya. Zifran menyentuh pipi gadis cantik itu dan menghapus air matanya. "Maaf." ucapnya.
"Udahan aja ya, pasti kamu kesakitan."
Maisya menggeleng. "Jangan kak. Lanjutin aja gue nggak papa kok!" Maisya tersenyum menatap Zifran berharap pria itu mau melanjutkan kegiatan mereka.
Mendengar ucapan dari Maisya, Zifran kembali melakukannya lagi. Kali ini ia cukup pelan dan sangat hati-hati, ia tak ingin Maisya merasakan sakit untuk kedua kalinya.
Cukup lama mereka bergelut dengan hasratnya dan Maisya kini mampu mengimbangi permainan Zifran hingga sampailah mereka kedalam puncak kenikmatan yang mereka inginkan.
"Aakhh!" Zifran menumpahkan laharnya di atas tubuh Maisya.
Dengan nafas yang masih memburu, Zifran menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Maisya yang sudah terkulai lemas akibat pergulatan panas yang mereka lakukan.
Zifran mengecup kening Maisya begitu hangat. "Makasih Sya," ucap Zifran.
"Untuk?" tanya Maisya bingung.
"Untuk semuanya. Untuk malam ini." Zifran merebahkan tubuhnya di samping Maisya.
"Mau lagi?" timpal Zifran yang baru saja melepas miliknya.
"He'em" jawab Maisya singkat.
"Hahahaha. kita istirahat dulu, ya." ucap Zifran sambil memeluk Maisya dan tak lupa ia mendaratkan satu kecupan dibibir tipis wanita yang ada dalam dekapannya.
Sementara itu di tempat lain sepasang anak manusia tengah berkeliling mall selama hampir tiga jam lamanya demi menunggu seseorang yang tadi katanya pergi cuma sebentar, tetapi ternyata kata 'Sebentar' itu membuat mereka seperti ayam kehilangan induknya.
Setelah film yang mereka tonton telah usai namun Zifran dan Maisya belum juga menampakkan dirinya, Arlan dan Alya memutuskan untuk berkeliling mall.
__ADS_1
Entah sudah beberapa kali mereka menelepon namun tetap saja tidak ada jawaban yang mereka dapatkan, kecuali suara operator. Dengan perasaan dongkol akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan mall tersebut.