
POV (Zifran)
"AWAASSSS!!!"
Aku berlari ke arah tepian jalan saat melihat wanita yang beberapa kali sempat menabrak aku hendak menyebrang dan aku melihat ada sebuah mobil sedan melaju kencang dari arah kanannya.
Bruk!!
Tanpa berpikir panjang aku langsung menarik tubuh gadis itu hingga terjerembab kebelakang bersama tubuhku yang menghantam pembatas jalan.
"Kak Zifran!!!" teriak gadis itu memanggil namaku.
Entah sudah berapa kali dia memanggil nam wwwaku dan aku sendiri masih belum bisa mengingat siapa gadis itu. Namun perasaanku mengatakan bahwa dia adalah wanita dari masa laluku.
Ah... entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku aja. Tapi, aku bisa melihat itu semua dari caranya memandangku.
"Kak Zi nggak pa-pa 'kan? Ada yang terluka?" panik gadis itu saat melihatku memegangi kepala yang tiba-tiba aja terasa berdenyut nyeri.
Semua kejadian ini seakan Dejavu untukku. Rasanya aku pernah mengalami peristiwa seperti ini, tapi kapan? Pemikiran itu terus berputar di otakku.
Di saat bersamaan, dengan cepat aku menepis tangannya yang berusaha membantuku.
"Jangan sentuh saya. Dasar ceroboh! Kalau mau nyebrang itu liat kanan-kiri dulu baru nyebrang, jangan asal nyelonong gitu aja. Kamu mau mati ya?!" Aku memarahinya tanpa perduli jika dia sakit hati, lalu segera bangkit.
Bodoh amat. Mau dia sakit hati atau nggak itu bukan urusanku. Gara-gara dia rasa sakit di kepalaku tidak mau berhenti. 'Sia*lan, kenapa semakin sakit begini?' makiku dalam hati.
"Ma-maaf. Tadi aku kira nggak ada-"
Dalam keadaan sempoyongan, aku masih bisa mendengar ia berkata dengan nada sendu seperti merasa bersalah. Namun, tiba-tiba saja ucapannya terpotong karena kehadiran pria yang aku yakini itu adalah kekasihnya.
"Kamu nggak pa-pa, Sya?"
Aku mendengar pria itu begitu khawatir padanya.
Setelah melihatnya baik-baik saja, aku bergegas pergi karena Arlan pasti mencari diriku yang tiba-tiba menghilang saat kami sedang mengontrol keadaan mall yang akan kami bangun nantinya.
Namun, baru beberapa langkah, aku semakin merasakan kepalaku seperti berdenging, nyeri sampai membuatku meringis kesakitan. Bahkan keringat dingin mulai membasahi kemeja yang aku kenakan.
Sayup-sayup aku mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahku. Aku pun berbalik untuk melihat siapa yang datang, mungkin aja itu Arlan dan aku bisa meminta bantuan padanya untuk membawaku pulang ke rumah karena aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini. Tapi sayang yang datang bukanlah Arlan, melainkan gadis itu.
"Kakak nggak pa-pa 'kan? Ayo aku antar ke rumah sakit untuk memeriksa luka kakak."
"Saya bilang jangan sentuh saya! Kamu nggak denger ya?!" Gadis itu mencoba meraih tanganku, namun segera aku tepis karena aku merasa tidak nyaman saat bersamanya, terlebih jantung yang selalu berdegup saat dia ada di sampingku.
Aku tidak tau perasaan apa yang aku rasakan saat ini.
Aku terus memegangi kepalaku yang rasanya seakan mau pecah saat sekilas ingatan yang aku yakini itu adalah masa laluku terus berputar bagai kaset yang berganti dari satu kejadian ke kejadian yang lain membentuk sebuah puzzle yang aku sendiri berusaha untuk untuk menyatukannya, namun semakin aku berusaha, rasa sakit itu semakin menghantam ku hingga membuatku jatuh berlutut.
__ADS_1
'Om, kalau mau berbuat mesum jangan di sini, Malu sama orang lewat.'
'Siapa yang lo bilang mesum?'
'Ya Om, siapa lagi?'
Suara itu... aku seperti mengenalnya. Hanya bayangan hitam putih yang terus terlintas.
'Om, ML bareng gue yuk?'
'Lo serius?'
Lagi-lagi, semua itu terus berganti begitu cepat.
'Kakak bisa jelasin semuanya sama kamu. Ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan, Sya.'
Plak!
Dalam bayangan itu, aku melihat seorang wanita yang begitu emosi hingga menampar pria yang ada di hadapannya.
'Jadi lo tau apa yang gue pikirin tentang elo, kak? Ternyata pemikiran gue tentang elo itu selama ini salah. Gue pikir Lo bisa berubah, ternyata gue salah. Salah karena punya pikiran kayak gitu.'
"Arrggghh!!!!" Aku berteriak sekuat tenaga demi meredam rasa sakit yang begitu menyiksa saat semua bayang perlahan mulai tersusun sedikit demi sedikit hingga membentuk gambaran utuh yang membuatku semakin tersiksa.
'MAISYA AWAASSSS!!!'
Brak!
'Kak Zifran, bangun kak. Jangan tinggalin aku kayak gini. Plisss, bangun kak. Hiks...hiks... hiks.'
Dalam sadar, aku berulang kali menyebut nama Maisya, gadis yang aku sendiri tidak tahu dia siapa saat bayangan itu terlihat samar-samar dalam ingatanku sampai gadis yang aku tolong tadi ikut berlutut di sampingku dengan tatapan kekhawatiran yang terpancar dari matanya.
Aku merasa bingung sambil menahan rasa sakit karena gadis itu menangis memeluk tubuhku yang terasa semakin melemah.
"Kak Zi, kakak kenapa? Hiks... hiks..."
Panggil itu... sama seperti gadis yang...
"Arrggghh!!!" teriakku menahan kepalaku yang seperti di hantam oleh bogem yang terbuat dari besi hingga aku meringis kesakitan.
"Sa-sakit...," lirihku yang mengabaikan orang-orang yang berkerumun. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Perlahan tubuhku melemah dan mataku mulai terpejam seiring dengan rasa sakit yang begitu menyiksa sampai aku dengar samar-samar suara Arlan yang terus memanggil namaku.
*
*
*
__ADS_1
POV (Maisya)
Melihat keadaan kak Zifran yang sudah tak sadarkan diri, aku dan kak Arlan langsung membawanya kedalam masuk mobil milik kak Zifran di bantu orang-orang yang tadi mengerubunginya. Membawanya ke rumah sakit.
Aku nggak tau apa yang terjadi padanya sampai dia seperti ini. Saat melihatnya kesakitan, hatiku terasa bagai ditusuk ribuan duri sampai aku tidak memperdulikan sekitarku termasuk ada Leon di sana dan langsung memeluk kak Zifran yang sedang kesakitan.
Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat itu. Tentu saja bercampur aduk antara rindu dan kekecewaan terhadap masalah kami beberapa tahun lalu yang sampai sekarang masih membelenggu hariku.
Sesampainya di rumah sakit, kami membawa kak Zifran ke IGD untuk mendapatkan perawatan intensif melihat kondisinya yang tidak sadarkan diri.
Setelah selesai di tangani Dokter dan kak Zifran pun sudah di pindahkan ke ruangan rawat, aku dan kak Arlan duduk bersebelahan di samping ranjang kak Zifran. Aku pun sempat bertanya pada Dokter mengenai kondisinya saat ini dan katanya rasa sakit yang dirasakan kak Zifran itu akibat usahanya yang berusaha untuk mengingat kembali masa lalunya dan akibat benturan yang keras yang mengenai tengkorak belakang, karena sebelumnya kak Zifran pernah mengalami hal tersebut.
Aku baru ingat, jika dulu kak Zi pernah menolongku saat aku hampir tertabrak oleh orang tak dikenal dan setelah itu, mungkin saja benturan saat kak Zifran kecelakaan dulu. Ah... aku jadi merasa bersalah. Sudah dua kali dia menyelamatkan aku dari tragedi tabrakan.
Sambil menunggu kak Zi siuman, aku memulai percakapan terlebih dahulu dengan kak Arlan. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin mengetahui banyak informasi tentang keadaan kak Zifran selama kami tidak bersama. Tolong, kalian jangan menghujat aku saat aku bertanya tentang keadaan kak Zifran pada kak Arlan ya?
"Apa kak Zifran selalu kayak gini, kak? Em... maksud aku, apa kak Zifran sering ngerasain sakit kayak tadi? Aku nggak tega liat dia kesakitan kayak gitu," ucapku memulai percakapan.
Sambil menatap, kak Arlan senyum-senyum nggak jelas. Apa ada yang salah sama ucapan ku?
"Kok kayaknya kamu khawatir banget sama Zifran? Belum bisa move on ya?"
Aish! Pertanyaan macam apa sih yang di tanyain kak Arlan. Aku tanya lain kok malah malah dia jawabnya sama pertanyaan juga. Dasar kak Arlan, dari dulu emang nggak pernah berubah. Aku menggeleng beberapa kali Sambil mengerucutkan bibirku.
"Apaan sih kak. Kalau aku belum move on ngapain aku nikah sama Leon! Aneh-aneh aja jadi orang!" gerutuku.
"Ya mana tau, Sya. Tapi dari sikapmu, kakak bisa tau kalau kamu masih mengkhawatirkan Zifran. Ya nggak?" Kak Arlan menaik-turunkan alisnya.
Aku memutar bola mataku jengah. "Lama-lama omongan kakak ngawur. Bagaimanapun sikapku ke Kak Zifran itu cuma sebagai tanda terimakasih karena dia udah nolongin aku, nggak lebih," kilahku.
"Masa. Kakak nggak percaya," ledek kak Arlan.
"Ya udah kalau nggak percaya." Aku langsung bangkit dan melengos pergi. Sial! Niat awal mau tanya keadaan kak Zifran malah dapat ledekan. Emang kak Arlan nyebelin.
Aku membuka pintu kamar rawat kak Zifran dan berniat untuk menyusul Leon yang sempat meminta izin untuk menerima telepon dari Onad, sahabat kami. Namun, saat aku ingin membuka pintu, bersamaan dengan itu pintu ruang rawat kak Zifran terlebih dahulu dibuka dari luar dan membuat aku terkejut saat mengetahui siapa yang membukanya.
"Maisya?!"
****
Ini si Zifran yang lagi amnesia 🤣🤣
__ADS_1