Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Cinta Arlan pada Alya


__ADS_3

"Udah dong, Al, jangan nangis terus. Kita jadi ikut sedih nih. Gue tau ini menyakitkan, tapi setelah denger dari cerita lo, lo nggak bisa ngehakimin kak Arlan gitu aja. Mungkin dia punya alesan lain dan yang gue sayangkan, kenapa Lo nggak dengerin dulu penjelasan dia, bukan pergi gitu aja."


Maisya memeluk sahabatnya itu, memberi usapan lembut di punggungnya. Bukan hanya Alya saja yang merasakan sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi Maisya dan Andin pun ikut merasakannya.


Sejak di dalam mobil, Alya terus menangis di pelukan, Maisya tanpa sepatah katapun hingga sampai di tempat tujuan tak perduli bila ada Zifran di sana. Baginya rasa itu telah mengalahkan rasa malunya terhadap orang sekitar.


Alya mengurai pelukan mereka, mengusap ingus yang selalu keluar masuk dari hidungnya. "Tapi, kalau semua bener tentang cewek itu, gue nggak mau di bilang perusak hubungan orang, Sya. Lo liat sendiri 'kan waktu kak Arlan narik tangan gue, kayaknya tuh cewek marah atau apapun itu, tapi itu yang gue rasain. Saat ini hati gue hancur waktu kak Arlan bilang dia itu tunangannya. Sekarang gue harus gimana? Di sisi lain, gue nggak mau jadi orang ketiga. Tapi di sisi lain juga, gue nggak bisa nyakitin hati gue sendiri. Lo tau itu 'kan?"


"Kita ngerti kok Al. Tapi nggak gini juga. Lo nggak perlu nangisi hal yang belum Lo ketahui kebenarannya. Dan gue yakin pasti kak Arlan punya penjelasan lain buat lo,"sahut Andin yang sedari tadi menjadi pendengar setia mereka.


"Gue nggak mau ketemu dia." Sambil mengusap air matanya dengan tissue yang disediakan Maisya.


"Ah... elo mah aneh. Baru nemu gue yang model elo. Di kasih penjelasan malah kabur, nggak tau apa-apa mewek. Dasar aneh," cibir Andin beranjak dari posisinya.


"Sekarang gini aja, lebih baik lo tenangin pikiran lo dulu di sini, mandi-mandi dulu supaya pikiran lo nggak butek kayak ketek Andin. Abis itu baru gue anter lo balik. Nggak mungkin gue bawa anak orang kayak gini modelnya mau jawab apa gue waktu diintrogasi sama nyokap, Lo? Udah mandi sana!" Mendorong Alya untuk menjauh darinya.


"Lagi badmood gue," balas Alya dengan wajah masam, tertunduk lesu.


"Sakit hati ya sakit hati. Tapi mandi tetep berjalan. Udah sana mandi," desak Maisya terus mendorong tubuh Alya hingga ke tepi ranjang.


"Iya, iya. Dasar bawel," cibir Alya terus bangkit dan melenggang pergi menuju kamar mandi.


Setelah lebih tenang, mungkin ini saatnya dia memulangkan Alya ke habitatnya.


"Gila tuh anak kasian banget nasibnya. Sekalinya jatuh cinta patah hati langsung. Untung gue kagak," celetuk Andin


"Hussst. Lo punya mulut nggak ada rem-nya sedikitpun. Nanti kalau denger dia bisa mewek lagi, capek gue yang diemin tuh anak." Sambil ngedumel, Maisya bangkit dari ranjang sambil menenteng tas yang teronggok di sana, membawanya ke arah pakaian kotor yang ada di sebelah lemari pakaiannya. Walaupun lelah setelah perjalanan, dirinya harus mengantarkan Alya dan juga Andin kembali ke rumah mereka masing-masing.


*

__ADS_1


*


*


Ting tong.


Ting tong.


"Tunggu sebentar! teriak seseorang dari dalam rumah.


Ting tong.


"Ishhh. Nggak sabar banget sih jadi tamu udah malam juga," gerutunya sambil berjalan membuka pintu dengan bibir mengerucut beberapa senti.


Ceklek.


"Nggak sabar banget sih jadi or.....ang. Ngapain ke sini!" ketus si pemilik rumah melihat pria yang ada di depan pintu.


"Bukan siapa-siapa, Ma. Orang cari alamat rumah!" sahutnya berteriak.


"Kok malam-malam?!"


"Nggak tau!"


"Ya sudah, kalau sudah pergi jangan lupa di kunci lagi, soalnya Papa nggak ada di rumah Mama takut," kata Mama Alya yang tak terdengar lagi suaranya.


"Ngapain kakak ke sini? Mending pulang gih udah malem." Alya mengusir Arlan secara halus.


Arlan menatap gadis yang ada di ambang pintu dengan tatapan nanar yang terpancar dari matanya. "Ada yang mau saya omongin ke kamu."

__ADS_1


"Apalagi? Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang, kak. Maaf, aku mau masuk." Alya hendak menutup pintu, namun tangan di cekal Arlan. Dan pria itu menarik Alya keluar.


"Kasih, saya waktu untuk menjelaskan semuanya. Semua itu nggak seperti apa yang kamu pikirkan, Al. Saya sama Elis dulu memang bertunangan, tapi itu lima tahun yang lalu. Dan sekarang nggak ada hubungan apapun diantara kami, tolong percaya, Al, pemikiran kamu salah tentang semuanya. Sekarang, Elis bukan siapa-siapa saya."


"Gue nggak percaya sama omongan bulshit, elo. Jadi nggak usah buang-buang waktu untuk jelasin apapun ke gue karena kita nggak ada hub.... Emmmpph."


Dengan nada emosi, Alya mengeluarkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya selama beberapa waktu lalu, namun belum sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja bibir gadis itu dibungkam oleh seseorang yang ada di hadapannya.


Bukan dengan tangan, melainkan dengan bibir tipisnya yang membuat Alya kesulitan bernafas. Udara yang dingin berubah menjadi hangat saat tubuh mungilnya didekap secara bersamaan. Seakan pasokan udara yang ia punya lenyap seketika saat ciuman pria itu begitu lembut terasa. Tak hanya udara yang menyesakkan, tapi degup jantung Alya seolah tak mampu terkendali manakala pria tersebut semakin mempererat pelukannya.


Dengan sisa napas dan tenaga yang Alya punya, memukul dada Arlan berulang kali agar mau melepaskan pelukan dan ciuman mereka yang terjadi di depan rumah .


Semakin Alya bergerak, semakin erat Arlan memeluk dan semakin pula pria itu memperdalam ciumannya. Meskipun tak terlalu lihai, namun Arlan berusaha untuk tetap menikmati aksi nekatnya kali ini.


"Lepasin, kak!" Alya mendorong tubuh Arlan sekuat tenaga, "lo apa-apaan sih, datang malam-malam, maen nyium-nyium sembarangan. Lo udah ngambil first kiss gue tau nggak!" amuk Alya sambil mengusap sisa-sisa cium mereka.


Wajahnya tampak memerah menahan rasa marah dan malu sekaligus bersamaan atas perbuatan Arlan padanya. Sementara Arlan, pria itu tampak biasa saja terhadap situasi saat ini.


"Saya cinta sama kamu. Makanya saya jelasin semua biar kamu nggak salah paham. Saya jadi merasa bersalah dengan sikap kamu yang tiba-tiba keluar dari mobil menyuruh Leon untuk semobil dengan saya. Dan perkataan, Maisya membuat saya semakin sakit, sakit melihatmu menangis. Jadi tolong jangan salah paham sama Elis karena hubungan kami udah berakhir lama," sanggah Arlan menjelaskan isi hatinya pada Alya yang berjongkok menutupi wajahnya sambil menangis.


Menangis dengan rasa yang bercampur aduk antara bahagia dan marah .


Bukankah pernyataan itu yang ia tunggu selama beberapa bulan ini? Lalu mengapa dirinya seakan terluka. Dan bukankah ini sudah lebih dari cukup?


Arlan bersimpuh di depan Alya untuk menyamakan tinggi mereka. Diraihnya tangan Alya yang menutupi wajah, kemudian menarik gadis itu masuk kedalam pelukannya.


"Maafkan saya, Al. Saya tau kalau tadi perbuatan saya lancang, tapi hanya itu yang bisa saya lakukan untuk membuat kamu percaya kalau semua itu nggak bener. Kamu hanya salah paham," ucap Arlan lirih di telinga Alya yang sesenggukan. Arlan berusaha membuat Alya percaya padanya. Tentang perasaannya? Itu memang benar jika seorang Arlan Ardeva telah jatuh cinta pada gadis SMA, yang terlebih dahulu menaruh hati padanya.


Jika ditanya sejak kapan? Arlan pun tidak tahu sejak kapan dirinya jatuh cinta pada pesona gadis berambut panjang tersebut. Namu yang pasti, Arlan begitu mencintai Alya hingga berusaha untuk memantaskan diri.

__ADS_1


"Lo jahat, Kak. Lo udah ambil first kiss gue. Lo udah bikin gue sakit hati karena pengakuan Lo di mobil. Lo jahat tau nggak!" Alya kembali memukul dada berulang kali hingga tangganya di tahan oleh Arlan.


"Dengerin saya, Al. Saya minta maaf . Saya tau saya salah. Tapi tolong, izinkan saya untuk membalas perasaan kamu ke saya. Plisss, tolong," pinta Arlan seraya mengusap kedua pipi Alya.


__ADS_2