Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Acara pertunangan Zifran dan Amel


__ADS_3

Malam ini suasana begitu meriah di salah satu hotel mewah yang ada di Jakarta Selatan, milik salah satu perusahaan yang berada di bawah naungan ZA grup. Ballroom hotel disulap menjadi tempat yang begitu indah dan memukau dengan dekorasi bernuansa peach dan gold yang begitu mencolok serta bunga-bunga yang berjajar sepanjang jalan menuju pintu ballroom dan setiap sudut ruangan.


Di atas panggung yang begitu meriah dan mewah, MC berdiri di hadapan banyak iran yang menghadiri acara pertunangan dari sang pemilik hotel dengan anak dari pengusaha terkenal di kotanya. Dan dialah sang pewaris tunggal ZA grup.


Suara riuh tepuk tangan dari para tamu undangan menambah acara tersebut semakin meriah saat MC mulai membuka sesi pertama yaitu kata sambutan.


Berbeda dengan yang lain, beberapa orang sekitar tampak biasa saja dengan berlangsungnya acara yang terasa begitu memuakkan untuk mere lihat.


Leon. Pria yang berdiri di tengah-tengah lautan manusia merasa kesal dengan sang kakak yang mengajaknya dan membuatnya terjebak seperti anak ayam yang tidak bisa berbuat apa-apa saat berada di keramaian.


"Sebenernya Lo ngapain sih bawa gue ke sini? Nggak penting banget acara kayak gini. Buang-buang waktu gue aja Lo!" tukasnya melipat kedua tangan di atas dada.


"Kan sari tadi gue udah bilang sama Lo buat nemenin gue ke acara pertunangan orang yang gue suka. Lo pura-pura jadi pacar gue ya? Plisss...." Wanita itu menangkup kedua tangannya.


"Jadi maksudnya, gue berondong Lo?! Ah... gila lo, sia*lan. Tau gini mending gue ngajak main si Mae jalan-jalan yang udah pasti bermanfaat." Disaat hati gadis itu lerluka, ia ingin menjadi orang yang selalu aga untuknya tanpa sekalipun tidak diinginkan kehadirannya.


"Yaelah, Yon sekali-kali gue minta bantuan. Gue cuma mau manasin orang yang udah ninggalin gue. Gue pengen dia nyesel. Lagian, masa Lo tega mentingin orang lain daripada kakak Lo sendiri," lanjutnya.


"Bukan gue nggak mau bantuin Lo, tapi nggak nyuruh jadi pacar bohongan Lo. Malu gue sama dandanan elo yang begini," ucap Leon menunjuk dandanan kakaknya dari atas sampai bawah.


"Lepasin! Jangan mepet-mepet gue," sambung pria itu menjauh dari kakaknya yang terlihat kesal atas sikapnya yang menyebalkan.


Cukup lama mereka saling berdebat, acara demi acara terlewati hingga sampailah pada acara yang paling ditunggu-tunggu yaitu acara pertukaran cincin.


Semua tamu yang ada di dalam ruangan bersorak, bertepuk tangan . Terlihat seorang wanita menampilkan wajah bahagia saat apa yang ia tunggu akhirnya akan terwujud. Dengan kebaya indah berwarna biru muda dengan aksen brokat membuatnya terlihat cantik mempesona.


Begitupun dengan pria yang memakai baju batik berwarna hijau army, senada dengan kain yang dikenal pasangannya berjalan naik keatas panggung dengan wajah ditekuk masam tanpa ekspresi. Wajah datar, senyum pun enggan terbit dari bibir tipisnya.

__ADS_1


Sorot matanya terlihat begitu tajam, penuh kebencian terhadap wanita yang berdiri di hadapannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Tubuh Zifran terhenyak saat MC meminta ia memasangkan cincin Kejari wanita itu. Dengan gerakan malas sambil menghela napas berat, perlahan memasukkan cincin itu ke jari manis wanita yang tengah tersenyum menatapnya.


Setelah itu, MC meminta Amel untuk memasangkan cincin yang tersebut ke jari manis Zifran.


"Akhirnya Lo jadi milik gue seutuhnya, Fran," ucap Amel tersenyum bahagia.


"Jangan berharap Lo bisa dapetin apa yang Lo mau karena itu nggak akan pernah mungkin. Gue cuma cinta sama Maisya, ngerti Lo!" sahut Zifran ketus tanpa basa-basi.


Suara tepukan tangan kembali terdengar memenuhi ballroom hotel. Semua pasang mata memperhatikan Zifran turun dari panggung dengan tergesa-gesa. Rasanya ia enggan berlama-lama berada di sana saat hatinya tidak baik-baik saja.


"Selamat atas pertunangan anda, pak Zifran." Seorang pria yang merupakan relasi kerja memperkuat selamat kepada Zifran.


"Terimakasih, Pak. Tapi sebaiknya anda simpan ucapan itu untuk orang lain," balas Zifran dengan wajah dingin tanpa menghiraukan panggilan Amel yang terus memanggilnya.


"Hei, bung ada apa dengan wajahmu? Apa kau tidak menikmati hari istimewa mu saat ini? Ngomong-ngomong, hebat juga Pak Zifran menghamili wanita cantik dia. Aku kira Pak Zifran selalu main aman dengan wanita manapun?" bisik pria diakhir kalimatnya. Setelah baru saja ikut bergabung.


Setelah kepergian Zifran, pria itu tersenyum sinis dengan tatapan mengejek seiring Zifran yang hilang ditengah kerumunan orang-orang.


Bugh


Bugh


Bugh.


Suara pukulan seseorang yang memukul lawannya begitu terdengar membuat suasana malam itu berubah seketika menjadi arena pertarungan.

__ADS_1


"Dasar pria baji*ngan kau! Kau apakan putriku, huh!"


Bugh!


Pukulan telak kembali mendarat di pipi Zifran tanpa sedikitpun dia membalasnya. Zifran membiarkan pria paruh baya itu terus melakukan apapun yang ia mau.


"Ayo lawan saya! Jangan menjadi pecundang seperti ini. Kau berani menyakiti putriku, hadapi aku! Aku tidak akan membiarkan pria breng*sek dan baji*ngan sepertimu hidup bahagia di atas kehancuran putriku!" maki Papa Bram dengan lantang.


Pria itu terus memukuli Zifran dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Pak, tolong hentikan semua ini. Tolong jangan mempermalukan keluarga saya di depan tamu kami, Pak. Semua ini bisa kita bicarakan baik-baik," ucap Papa Arya yang melerai perkelahian yang terjadi.


"Tolong maafkan segala kesalahan yang pernah Zifran lakukan terhadap putri Pak Bram. Saya tau kalau anak saya melukai hati Maisya, tapi semua itu ada sebabnya." Mama Sarah pun turut melerai keributan yang mengundang perhatian semua tamu undangan.


Mama Sarah membantu Zifran bangkit dari posisi tengkurap. Pria itu menghapus sudut bibirnya yang berdarah.


"Atas kejadian ini, aku merasa gagal menjadi seorang ayang yang menjaga putrinya dan memberinya kebebasan untuk menentukan kebahagiaannya setelah aku memberimu izin untuk membahagiakan karena aku sadar bahwa aku tidak bisa membahagiakan dia. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau malah menyakitinya dengan cara seperti ini?! Di mana semua ucapan yang pernah kau ucapkan, Zifran Alanta yang terhormat!" bentak Papa Bram menekan setiap kata diakhir kalimat.


Melupakan segala yang terucap dari kedua orang tua Zifran.


Hati seorang ayah akan hancur apabila putri yang ia sayangi menangis meratapi segala penyesalan yang ia perbuat. Semua itu ia ketahui setelah tak sengaja mendengarkan semua ungkapan isi hati Maisya tanpa peredam suara aktif di kamarnya. Dan disitulah kehancuran seorang Brama Kumbara.


"Dan kalian!" Papa Bram menunjuk ke arah orang tua Zifran, "seharusnya kalian bersyukur aku tidak memenjarakan putra kalian yang pecundang ini. Dia telah mengambil apa yang menjadi masa depan putriku dan dengan mudahnya dia berbahagia sementara Maisya harus terluka karena perbuatannya. Aku harap wanita itu korban terakhirnya dan jangan sampai wanita yang menjadi korban pemuas nafsu putramu!" tegas pria tersebut.


"Dan kamu! Setelah ini jangan harap kamu bisa bertemu dengan putri saya lagi. Sampai matipun saya tidak akan membiarkanmu menemui Maisya. Ingat itu!"


Zifran hanya terpaku mendengar semuanya. Lisannya tak mampu berucap sepatah katapun untuk membela diri di depan seluruh pasang mata yang tengah menatap mereka dan saling berbisik meski ia mendengarnya.

__ADS_1


"Dan gue nggak nggak bakal ngebiarin elo ketemu Maisya di manapun. Sesuai janji gue dulu, gue bakal bawa Maisya pergi jauh dari kehidupan Lo. Dan Lo nggak akan bisa ngerebut Maisya dari gue. Jadi... selamat Lo nikmati neraka yang Lo ciptain sendiri. Dan untuk Maisya, terimakasih Lo udah lepasin dia tanpa gue minta." Leon memberikan tatapan tajam, tersenyum menyeringai terhadap Zifran setelah memperingatkan pria itu tentang Ucapannya beberapa waktu lalu.


Dengan langkah pasti, Zifran mendekatkan tubuhnya ke samping Leon dan berbisik. "Sampai kapanpun gue nggak akan ngelepasin Maisya walaupun dia yang minta. Gue bakal ngerebut apa yang udah jadi milik gue, paham!"


__ADS_2