
"Mama jangan terlalu membela anak tidak tahu diri ini. Dia akan terus mempermalukan kita dengan sikapnya yang seperti binatang karena gara-gara dia, kamu seperti ini," ucapnya pada sang istri.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Pa. Kita bisa membicarakannya baik-baik."
Zifran yang mengerti kemana arah pembicara mereka hanya bisa menundukkan kepala tak berani menatap wajah Mamanya. Wanita itu terluka pasti karena kelakuan dirinya.
"Baik-baik seperti apa yang Mama inginkan? Semua ini karena Mama yang terlalu memanjakan dia sampai dia berbuat begini!"
Suara pertengkaran pun terjadi, suasana di kamar itu mendapat berubah panas akibat amarah dari Papa Arya yang tidak bisa terkontrol. Bahkan bujuk rayu sang istri pun tidak dapat meredamkan keadaan hingga pintu kamar mandi terbuka menampakkan seseorang dari balik pintu.
"Kau!" Tangan Zifran terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih terkena tancapan kuku Zifran yang mulai memanjang. Bahkan deru nafasnya terasa panas saat melihat wanita yang begitu ia kenal berjalan menghampiri mereka.
"Sudah pulang, Fran?" tanya Amel santai dengan nada lembut seolah tidak terjadi apa-apa pada mereka.
"Ngapain Lo di sini, huh!" tunjuk Zifran.
Tanpa memperdulikan Papa dan Mamanya berada di sana. Dengan wajah memerah, Zifran mendekati Amel yang berada di pertengahan jalan.
"Zifran berhenti!" Ucapan tegas Papa Arya memerintahkan Zifran tetap pada tempatnya. Namun semua itu tidak digubris oleh Zifran.
"Papa bilang berhenti Zifran!" teriaknya. Namun tetap sama, Zifran terus melangkah semakin mendekat membuat Amel kelimpungan.
"Gue kesini cuma mau hak gue, Fran. Hak anak gue," ucap Amel membalas.
"Lo nantangin gue, Mel? Lo pikir gue takut sama ancaman murahan Lo itu, hem?"
"Fran udah, Nak. Kamu jangan seperti itu, Amel sedang mengandung anak kamu sayang." Mama Sarah bangun dari ranjang, menghampiri Zifran yang berada beberapa langkah dari tempatnya berbaring.
"Fran, Lo nggak bisa gini'in gue. Gue lagi hamil," sambung Amel terus memundurkan tubuhnya saat menatap wajah tak bersahabat dari tiba-tiba, Zifran yang mencengkram kuat dagu Amel "Tangan Lo berdarah Fran," imbuhnya melihat darah mengering di tangan Zifran.
"Gue nggak perduli! Sekarang lo gugurin anak itu atau gue sendiri yang ngelakuin! Gue nggak sudi punya anak dari cewek kayak elo karena yang pantes itu cuma Maisya." Suara tegas nan dingin begitu kentara membuat bulu kuduk Amel meremang karenanya.
Bugh!
Tanpa belas kasih, Papa Arya memukul wajah Zifran yang seperti orang kesetanan. Tanpa basa-basi lagi, pria itu menghujamkan pukulan di tubuh sang anak hingga Zifran jatuh tersungkur tanpa perlawanan sekalipun.
"Dasar anak tidak tahu diri! Sudah berbuat tidak mau bertanggung-jawab?" Zifran mengusap kembali darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Tak hanya Papa Arya yang murka, tapi kali ini Mama Sarah pun tak tinggal diam melihat putranya berkelakuan buruk pada wanita yang tengah mengandung darah dagingnya sendiri.
Plak!
"Kau itu manusia tidak berhati, Zifran! Kami tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi pengecut seperti ini. Dan ternyata benar yang dikatakan oleh Amel. Awalnya Mama ragu dan tidak percaya jika kau menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan. Tapi apa? Ternyata Mama salah menilai putra Mama sendiri. Mama kecewa sama kamu!"
Zifran hanya tersenyum sini mendengar ucapan dari Mama Sarah. Sambil mengusap bibirnya yang terluka untuk ketiga kalinya. Dengan tegas Zifran berkata, "terserah kalian mau memaki atau membenciku sekalipun, aku tidak perduli."
"Tapi kau tidak bisa lari dari tanggung-jawab sebagai seorang ayah. Kami sudah sepakat untuk menikahkan kamu dengan Amel. Tidak atau tanpa persetujuan darimu, Papa tidak perduli. Semua keputusan sudah Papa putuskan bahwa Minggu depan kau akan menikahi Amel," sahut Papa Arya tegas tanpa bantahan. Semua yang ada di sana diam terpaku, termasuk Zifran.
Sore yang selalu membawa ketenangan dan kedamaian seketika berubah menjadi mencekam seiring dengan perkataan sang Papa yang hilang bersama hembusan angin yang berlalu.
Tiba-tiba tenggorokan Zifran terasa kering sekedar untuk menelan ludah pun susah, bahkan udara dingin karena AC, mendadak panas baginya saat ini. Zifran yang semula terdiam mendadak menertawakan dirinya sendiri.
"Hahahaha. Ini nggak lucu, Pa. Kalian tau sendiri kalau aku hanya mencintai, Maisya. Aku tidak akan menikah dengan wanita manapun apalagi dia!" tegas Zifran menolak.
"Keputusan Papa sudah bulat. Suka tidak suka kau kau harus melakukannya." Ucapan Papa Arya tak kalah tegas.
__ADS_1
*
*
*
"Si Mae, kenapa Al?" bisik Andin di tengah-tengah jam pelajaran MATEMATIKA.
"Mana gue tau. Dari tadi tuh bocah diem terus kayaknya sih, dia lagi galau," balas Alya yang menoleh kebelakang dan berbisik.
"Masih soal kemaren?"
"Mungkin."
"Lah terus?" tanya Andin penasaran. Gadis itu semakin memajukan tubuhnya.
"Mana gue tau, Din. 'kan lo-"
"Pak," panggil Maisya mengangkat tangan.
Pak Jo yang semula memeriksa buku tugas pun mendongak, melihat ke arah Maisya. "Ada apa, Maisya?" tanya guru tersebut.
"Saya izin keluar sebentar," jawab Maisya.
"Silahkan." Pak Joe memberi izin kepada Maisya.
"Lo mau kemana, Sya? tanya Andin.
"Ke toilet." Bangkit dati duduknya, keluar dari barisan meja dengan wajah murung. Bahkan sekedar untuk tersenyum saja rasanya sulit.
"Nggak usah." Setelah itu Maisya berjalan meninggalkan ruang kelasnya yang terlihat senyap di jam tersebut.
Berjalan menyusuri koridor menuju lantai bawah, Maisya mengeluarkan ponsel dari saku baju putih, terus mencari kontak yang sejak semalam tidak bisa ia hubungi sama sekali. Bahkan sahabatnya sendiri pun turut menghubungi dirinya untuk menanyakan hal yang sama.
Tutttt.....
Satu kali panggilan tidak terjawab.
Tutttt.....
Dua kali tidak di angkat.
Maisya berjalan menuruni tangga sambil menghentakkan kakinya di lantai entah sudah berapa kali dirinya menghubungi Zifran.
"Lo aneh tau nggak. Kemaren ngajak pulang dadakan. Gue hubungi nggak Lo angkat. Sebenarnya ada apa yang Lo sembunyiin dari gue sih, kak sampai Lo nggak ada kabar. Perasaan gue nggak enak tau nggak."
Gadis itu duduk di tangga keempat dari bawah sambil menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangan.
"Lo ngapain nangis di sini, Mae?"
Maisya langsung mengangkat kembali wajahnya saat suara seseorang menyapa dirinya.
"Lo ngikutin gue, Yon?"
Leon ikut duduk di samping Maisya.
__ADS_1
"Kenapa Lo di sini? Bukannya kelas Lo masih jam pelajaran pak Joe ya?" Pria itu menyandarkan tubuhnya di dinding dan berhadapan dengan Maisya berada di sebelah pegangan besi pembatas.
"Gue lagi cari angin. Lah, elo sendiri ngapain di sini?" Gerakan tangan Maisya mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Gue ngikutin Lo. Gue tau Lo lagi nggak baik-baik aja, benerkan?"
Di saat dirinya sedang mendengarkan materi, tiba-tiba saja tak sengaja melihat Maisya melintas di depan kelasnya dengan langkah gontai. Karena penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti kemana gadis itu pergi.
"Feeling Lo bener, Yon. Sekarang gue lagi nungguin kabar kak Zifran yang gue sendiri nggak tau kenapa tiba-tiba dia ngilang gitu aja tanpa ngasuh gue kabar. Gue takut dia kenapa-napa," jelas Maisya yang diangguki, Leon sebagai pendengar.
"Lo nggak coba tanya ke Om Arlan soal cowok Lo?"
Maisya membuang napas berat. "Bahkan kak Arlan aja nelpon gue buat nyari tahu soal kak Zifran. Lah gue mau tanya siapa? Nomor bokapnya gue nggak punya. Nomor nyokapnya udah gue coba juga, tapi nggak di angkat. Itu yang bikin gue khawatir sama dia."
"Sekarang lo berpikir positif aja, Mae. Siapa tau dia lagi sibuk. Bener nggak?"
"Tapi-"
"Udah nggak usah terlalu dipikirin, mending ikut gue. Mau nggak?"
"Kemana?"
"Bolos. Ayo!"
Tanpa permisi dan persetujuan dari sang empu, Leon langsung menarik tangan Maisya dan menuruni tangga bersama.
"Tapi ini pelajaran pak Joe, Yon." Tapi dirinya terus mengikuti kemana Leon membawanya.
"Udah Lo tenang aja. Gue nanti yang tanggung-jawab."
Sesampainya di parkiran, Leon memberikan helm yang selalu tersedia di motornya karena ulah Onad yang selama minta ditebengin olehnya.
"Udah," tanya Leon memastikan jika Maisya sudah benar-benar naik di atas motor.
"Sebenarnya Lo mau ngajak gue kemana sih?"
"Udah nggak usah bawel, yang penting Lo nggak galau lagi. Buruan pegangan, entar kalau jatuh, bisa diamuk gue sama pacar Lo yang super nyebelin itu."
"Iya, dasar bawel. Lo nyari kesempatan banget jadi orang," gerutu Maisya hanya menegang jaket Leon."
*
*
*
"Kok Lo ngajak gue ke kafe sih. Emang nggak ada tempat lain?"
"Ini tempat paling asik buat nongkrong, Sya. Lo mah kudet banget," cela Leon dengan segelas minuman penyegar dahaga.
"Iya jug-" Tiba-tiba menahan ucapannya saat getaran ponsel di atas meja. "Tunggu dulu, gue mau angkat telepon dari nyokapnya kak Zifran. Jangan berisik," tegas Maisya memberi peringatan kepada sahabatnya.
"Ya udah angkat terus."
"Halo, Tan," sapa Maisya.
__ADS_1