Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Menyelinap


__ADS_3

Waktu terus bergulir, tak terasa seminggu sudah Maisya mendiami Zifran. Seminggu sudah ia menutup akses agar pria itu tak bisa menemuinya ataupun menghubungi dirinya.


Sementara itu disisi lain. Selama seminggu Zifran selalu memikirkan cara agar ia bisa menemui gadisnya itu bagaimanapun caranya.


Di telepon selalu saja di tolak. Di chat, tidak pernah di balas. Jika menemuinya di sekolah? Jelas-jelas gadis itu selalu menghindarinya.


"Aaarrggh!" Zifran mengacak rambutnya frustasi.


"Kenapa lo! Kesurupan?" tanya Arlan terkejut.


"Diem. Banyak ba*cot lo!"


"Yeeee, di tanyak kok marah-marah, sensian amat lo!"


"Masalah kemaren belum kelar juga?" tanya Arlan.


Zifran menggeleng lirih, "belum!"


"Ya udah lo datengin aja rumahnya."


"Lo sarap ya. Ketemu kaga pincang iya!" pria itu masih mengingat betul bagaimana nekat nya seorang Brama Kumbara dalam bertindak.


Bertindak untuk menembak kakinya. Untung saja dengan cepat ia menggunakan jurus langkah seribu. Jika tidak, sudah dipastikan ia akan menggunakan tongkat untuk berjalan.


"Terus mau lo gimana? Kalau nggak gini aja, gue ada ide nih!" Arlan menarik Zifran untuk mendekat kepadanya.


****


Setelah jam pulang kantor telah usai, Zifran melajukan mobilnya ke suatu tempat. Sesuai rencananya hari ini, ia tidak ingin menunda untuk menemui seseorang yang harus bertanggung jawab atas rasa rindu yang ia pendam selama seminggu ini.


Sambil menjalankan mobilnya, dengan senyum yang merekah berharap rencananya kali ini akan membuahkan hasil. Jika tidak, ia akan melakukan rencana B yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Tak berselang lama, kini ia telah sampai di tempat yang ia tuju. Zifran mematikan mesin mobilnya. Berjalan menghampiri seseorang yang berjaga di balik gerbang.


"Pak, stttt, sini!" panggilnya pelan kepada satpam penjaga rumah.


"Den Zifran!" ucap satpam yang sudah mengenal Zifran.


"Pak, saya mau tanya, apa Maisya ada di dalam?"


"Ada Den, tapi maaf, Bapak tidak bisa membuka gerbang untuk Aden!"


"Plis pak, bentar aja!"


"Nggak bisa Den."


"Sepuluh juta. Kalau Bapak mau bukain gerbang buat saya, Akan saya kasih uang sepuluh juta buat Bapak, bagaimana?"


"Maaf Den, tetep nggak bisa!"


"Dua puluh?"


"Tetep tidak! Lagian ini sudah malam, sebaiknya Aden pulang aja saya takut entar Tuan tau dan saya bisa kena marah!" terang satpam itu.

__ADS_1


"Ayolah pak. Kalau enggak gini aja Pak, tolong panggilkan Maisya untuk kesini. Tapi jangan bilang kalau ini saya. Lima puluh juta deh buat bapak!" ucapnya sedikit memelas.


"Tetep eng-"


Ekhem!!


Suara dekheman seseorang menghentikan ucapan penjaga rumahnya.


Menyadari itu Zifran yang dalam mode memelas merubah raut wajahnya kembali.


'Sia*lan si Bram tiba-tiba muncul!'


"Maaf pak, i-ini den Zifran d-dari tadi ma-maksa terus buat masuk!" aduh satpam itu kepada majikannya.


"Masih berani kamu kesini!" ucap papa Bram dengan wajah dinginnya.


"Plisss, Om, tolong izinin saya masuk sebentar aja!"


"Pergi atau saya tembak kaki kamu!" tegasnya.


Apa ia menyerah? Tentu tidak!


"Oke, gue bakalan pergi. Tapi gue bakal balik lagi. Jangan panggil gue Zifran kalau gue nggak bisa masuk ke rumah lo!"


"Sak karep mu!"


Selesai perdebatan sengit itu, Zifran pergi meninggalkan rivalnya di sana menuju sebuah rumah yang menjadi targetnya.


Setelah mendapat izin dari sang pemilik rumah, Zifran mulai melakukan strateginya untuk menjalankan rencana B selanjutnya.


"Ini langkah terakhir, kalau gagal juga bakal gue bom perusahaan lo!" gerutunya sambil meletakkan tangga ke dinding pagar yang tingginya 2 meter.


Zifran menaiki tangga itu secara perlahan. Walau ada sedikit rasa keraguan dihatinya namun jika di bandingkan dengan rasa rindunya, itu sama sekali bukanlah hambatan untuknya.


"Ah, selamat." ucapnya yang sudah berada di seberang. "Satu langkah lagi kita ketemu baby," timpalnya sambil berjalan menuju tempat yang menjadi targetnya secara mengendap-ngenendap.


Zifran kembali menaiki tangga yang sudah ia sandarkan ke balkon kamar. Perlahan ia menaikinya dengan begitu hati-hati.


"Hu' masih hidup!" pria itu menghela nafasnya lega.


Tok tok tok!


Zifran mengetuk jendela kamar seseorang.


"Kemana nih sih bocil!"


Tok tok tok.


Sementara di dalam. "Kok perasaan ada yang ketuk-ketuk jendela ya!" ucapnya khawatir. Namun ia abaikan.


"Tuh kan ada lagi suaranya! Apa jangan-ada maling yang masuk rumah gue!" seketika ia langsung bangkit dari kursi belajarnya.


Dengan kewaspadaan dan rasa penasaran Msisya perlahan-lahan menghampiri ke sumber suara itu berasal.

__ADS_1


Ceklek!


Kriett!


Maisya membuka jendela kamarnya dan mendorongnya perlahan. Merasa semakin penasaran gadis itu berjalan kearah keluar menuju balkon.


Namun tiba-tiba...


Sleppp!!


"Mmpphh!" tubuhnya memberontak saat seseorang menyekap mulutnya.


Bugh!


Seseorang jatuh terlentang dihadapannya saat ia membanting tubuh orang tersebut secara refleks.


"Aawwssh!" Zifran memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.


"Kak Zi!" pekik Maisya saat mengetahui siapa yang baru saja terkena jurusnya.


"Sorry, kak, gue nggak sengaja! Lagian ngapain lo malem-malem namu ke rumah orang kayak maling!"


"Kakak kangen sama kamu!" Zifran bangkit dari rebahan nya di bantu oleh Maisya.


"Eh, eh, eh. Lo mau Kemana!" tanya Maisya panik melihat pria itu nyelonong masuk ke kamarnya.


"Kakak numpang rebahan bentar pinggang kakak encok."


"Kak Zi pulang sana! Entar kalau bokap gue tau bisa abis gue malem-malem."


"Makanya, biar nggak ketauan jangan berisik! Kamu nggak kangen Sya sama kakak?" tanya Zifran duduk di tepi ranjang.


"Nggak!"


"Kok gitu!"


"Untuk apa gue kangen sama orang yang udah di kangenin sama orang lain. Percuma tau nggak. Ujung-ujungnya yang gue kangenin lagi enak-enakan sama dia!"


"Kamu cerita cemburu Sya?" ia menghampiri maisya di meja belajarnya.


"Gue nggak cemburu kok. Cuma gue nggak suka aja."


"Kamu tau Sya, walau pun kakak ini bere*ngsek dan baji*ngan, tapi dalam hati kakak untuk ninggalin kamu itu nggak ada. Casandra, kakak nggak pernah lagi berhubungan sama dia, sama perempuan mana pun selain kamu! Semenjak kejadian waktu itu dimana kakak udah ngambil hal kamu jaga, kakak janji bakal terus sama kamu."


"Lo nggak usah bikin gue baper kak," ucap maisya.


"Jadi kamu nggak percaya sama kakak!"


"Nggak!" ucapannya santai.


"Oke kalau kamu nggak percaya," Zifran membuka kancing kemeja yang ia pakai satu persatu.


"Lo jangan gila kak, bokap gue ada di bawah!"

__ADS_1


"Biarin. Biar dia tau apa yang bakal gue lakuin sama anaknya.


__ADS_2