Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kehidupan baru Maisya


__ADS_3

"Selamat pagi, sayang," sapa seseorang memeluk wanita yang selama 1,5 tahun menjalin hubungan dengannya.


"Ih... kamu itu hobinya ngagetin terus ya! Untung nggak aku getok pake ini," dengus wanita itu seraya mengangkat pisau yang digunakan untuk memotong tomat ke arah sang kekasih.


"Maaf," balas pria tersebut.


Pria itu terkekeh melihat sikap bar-bar kekasihnya yang tidak berubah meskipun mereka sudah berstatus menjadi mahasiswa di salah satu universitas ternama di kota Bern.


"Lepasin, Yon, aku nggak bisa bergerak tau!" pinta wanita yang kini berusia 20 tahun.


"Nggak mau. Aku maunya kayak gini dulu," ucapnya semakin mengeratkan pelukannya. "Perlu bantuan?" tawar Leon meletakkan dagu di ceruk leher Maisya yang tengah menyiapkan sarapan pagi mereka berdua. Meskipun tinggal di apartemen yang berbeda, namun untuk masalah perut, Leon selalu bertamu dan itu atas permintaan Maisya sendiri.


Maisya menggeleng. "Kamu duduk aja sebentar lagi makanannya udah Mateng kok.


"Kamu udah pesan tiketnya 'kan?" Jam berapa kita berangkat?" Mencium pipi Maisya, lalu berjalan kemeja makan yang tak jauh dari tempat Maisya memasak.


"Sekitar dua jam lagi. Oiya, tadi Papa sama Mama nelepon aku, mereka nanyain kamu yang ditelepon tapi nggak angkat. Emangnya kamu kemana?" tanya Maisya meminta jawaban.


"Oh, itu... tadi ponsel aku, aku silent gara-gara Casandra nelpon terus yang ujung-ujungnya bikin kepalaku mau pecah kalau denger suara dia."


"Memangnya kenapa kalau kakak kamu hubungi kamu? Mungkin aja dia rindu sama adiknya yang sok kegantengan ini," ledek Maisya. Sementara Leon mengedikkan bahunya tak memberi jawaban.


Sebenarnya Maisya masih tak percaya jika Leon adalah adik dari musuh bebuyutannya, Casandra. Bahkan sampai saat ini pun dirinya masih susah untuk berdamai dengan wanita itu membuat khayalannya kembali mengingat kejadian malam itu.


'Dia siapa, Yon?' tanya Maisya pada wanita yang ikut berkumpul di acara makan malam dua keluarga yang diadakan di tempat tinggal mereka.


'Kenalin, dia Maisya calon tunangan ku. Dan Maisya, kenalin dia kakak aku yang pernah aku ceritain ke kamu.'


'What!!' seru keduanya bersamaan


'Jadi ini calon tunangan kamu yang selalu kamu ceritain ke Kakak?' tanya Casandra tak percaya plus terkejut sama halnya dengan Maisya.


'Kamu jangan bercanda, Yon. Masak calon kakak ipar aku Tante lohan sih!" gerutunya yang dihadiahi tatapan bingung dari kekasihnya, bahkan kedua orang tua Leon dan juga Papanya sendiri.


Dan masih banyak ucapan yang terlontar dari bibir keduanya nyaris membuat Leon pusing berada diantara mereka yang membuat Maisya dan Casandra menjadi tontonan keluarga masing-masing.


Setelah kejadian itu, sebisa mungkin Maisya bersikap baik dengan Casandra dan berdamai dengan situasi yang ada.


Leon bangkit dari duduknya membantu merapikan meja makan setelah selesai menyantap sarapan pagi mereka. Dan langsung membantu Maisya menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa ketika pulang ke tanah air.


"Udah selesai nggak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Leon melihat Maisya menenteng Sling bag berwarna hitam.

__ADS_1


"Kayaknya sih udah. Ayo buruan nanti kita terlambat." Maisya berjalan santai tanpa beban. Sementara, Leon yang menggeret dua koper sekaligus. Miliknya sendiri dan juga sang kekasih.


Selama di perjalanan, Maisya terus memandang keluar jendela memperhatikan gedung-gedung bertingkat dan beberapa tempat yang sering ia kunjungi bersama Leon sekedar untuk menghabiskan waktu bersama.


"Lagi mikirin apa? Kayaknya serius banget?" tanya Leon yabg sejak tadi menyandarkan kepalanya di bahu Maisya.


"Aku lagi mikirin tempat yang selalu kita kunjungi di kota ini. Kayaknya aku bakal kangen deh sama kota ini," jawab Maisya yang tak melepaskan pandangannya.


"Apa perlu kita tunda kepulangan kita sampai kamu puas memandangnya?" tanya Leon sedikit mendongak menatap wajah sendu Maisya ketika gadis itu menggeleng.


"Apa kamu belum siap untuk kembali ke Jakarta karena suatu hal? Em... mungkin belum siap kalau bertemu dengan Zifran?"


"Nggak ada kepikiran tentang itu, Yon. Bagi aku semuanya udah berakhir saat itu juga. Jadi kalau seandainya pun aku ketemu, mungkin rasa itu udah berubah. Apalagi sekarang aku udah ada kamu jadi nggak ada alasan aku untuk takut balik ke Jakarta lagi," jelasnya menegaskan bahwa dirinya benar-benar sudah move on dengan masa lalunya.


"Ah... syukurlah kalau kamu kayak gitu." Leon bernapas lega jika apa yang ia takutkan tidak akan pernah terjadi.


Bertahun-tahun lamanya dia menantikan momen seperti ini di saat Maisya menerima cintanya. Rasanya masih seperti mimpi kalau dirinya dan Maisya sudah menjadi sepasang kekasih, bahkan telah bertunangan beberapa waktu lalu. Meskipun ada sedikit keraguan dalam hati Leon tentang perasaan Maisya yang sebenarnya, namun semua itu segera ia tepis dan tak ingin merusak apa yang sudah menjadi mimpinya selama ini.


Keesokan harinya.


Sekitar jam 10:32 wib, pesawat yang ditumpangi Maisya dan Leon baru saja landing di bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Setelah beberapa jam terjebak transit di bandara internasional Changi Singapura, akhirnya mereka sampai di tanah air.


Berjalan menggeret koper dengan tangan yang digenggam oleh tunangannya, Maisya semakin mempercepat langkah mereka.


"Papa," tangis Maisya pecah ketika memeluk tubuh rentan yang beberapa hari menyuruhnya pulang ke Indonesia itu.


"Papa sehat 'kan?" sambungannya tanpa melepaskan pelukan.


"Mendengar kau memenuhi permintaan Papa, sejak saat itu tubuh Papa mendadak pulih dan sehat seketika," gurau Papa Bram terkekeh bagaimana dia membujuk Maisya untuk pulang menemui dirinya sayang sedang kurang sehat.


Maisya menghela napas lega plus kesal di saat bersamaan. Bagaimana tidak, di saat tugas kuliah menumpuk, tiba-tiba dirinya harus di kejutkan dengan rencana mereka pulang demi mempercepat tanggal pernikahan yang telah disepakati sebelumnya.


Ketiganya berjalan keluar bandara menuju mobil yang telah terparkir di depan pintu masuk.


"Bagaimana persiapan kamu, Yon?" tanya Papa Bram kepada Leon yang fokus menyetir mobil.


Leon melirik kebelakang melalui kaca spion. "Persiapan yang bagaimana, Om?"


"Ya... kamu sudah membeli cincin pernikahan kalian atau belum? Ingat, pernikahan kalian satu Minggu lagi. Jadi, kamu tidak bisa mengulur-ulur waktu begitu saja karena semakin hari waktu itu semakin dekat."


Maisya melirik sekilas kearah Leon yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Oh... itu. Belum sih, Om. Rencananya setelah kami pulang, aku akan membawa Maisya untuk memilih cincin itu sesuai keinginannya. Iya 'kan sayang?"


Maisya tersenyum mengangguk mengiyakan ucapan Leon. Dari kursi belakang, Papa Bram tersenyum melihat kebahagiaan putrinya yang sebentar lagi akan resmi menjadi milik pria yang telah menemani sekaligus memberi warna baru dalam kehidupan Maisya.


Pria yang begitu dipercayakan untuk menjaga Maisya selama di negeri orang.


Pandangan Maisya terus menatap Leon lekat seakan menunjukkan dua perasa yang masih tersimpan rapi dalam benaknya di saat pertama kali pria itu meminang dirinya.


'Bagaimana? Apa kamu mau menjadi milikku seutuhnya? Aku mencintaimu dan ingin menjadikanmu sebagai labuhan terakhir cintaku,' ucap Leon sehari sebelum acara pertunangan.


'Apa kamu serius memilihku untuk jadi cinta terakhirmu, Yon? Aku ini nggak seperti apa yang kamu liat. Aku penuh kekurangan yang nggak kamu tahu,' sahut Maisya memberi tahu agar Leon bisa berpikir dua kali.


'Soal apa? Soal kamu udah pernah nggak virgin lagi? Aku udah tau semuanya dan aku nggak perduli, Sya.' Leon menggenggam erat kedua tangan Maisya. Berharap Maisya melihat kesungguhan hatinya.


'Aku terima kamu apa adanya. Bagi ku semua itu nggak penting untuk dipermasalahkan. Dan aku menghargai sikap kamu selama kita pacaran itu membuat kamu menjadi wanita berharga untuk aku. Jadi aku mohon, terima niat baik aku untuk melamar kamu. Dan satu lagi, kamu nggak perlu khawatir tentang semuanya. Aku akan bersikap seperti sebelumnya meski kita udah resmi bertunangan.'


Maisya terpaku mendengarkan penuturan Leon barusan. Ia tak percaya mendengarkan semua perkataan itu dari mulut orang yang telah membantunya keluar dari belenggu cinta masa lalu. Malu bercampur haru tak dapat Maisya pungkiri jika Leon telah mengetahui semua.


Tapi kini ia harus bagaimana, di sisi lain dirinya benar-benar telah membuka hatinya untuk Leon dan di sisi lain dia tidak ingin membuat pria itu kecewa dengan apa yang telah terjadi pada dirinya.


Cukup lama saat itu Maisya termenung dalam lamunannya hingga suara Leon yang menunggu jawaban darinya.


'Bagaimana? Apa kamu mau melanjutkan hubungan serius denganku?'


Setelah lama memilah-milah, akhirnya Maisya mengangguk dan tersenyum mengiyakan niat baik Leon untuknya.


*


*


*


Nah, bagaimana menurut kalian di part ini. Setuju nggak kalau Maisya memilih kehidupan barunya bersama orang yang selalu mencintainya dengan tulus?


Zifran ♥️ Maisya


Leon ♥️ Maisya


Mana yang akan menjadi cinta Maisya selanjutnya?


Aku tunggu komentar dari kalian dan aku tunggu kalian di FB aku ya. Imer Merlin.

__ADS_1


__ADS_2