Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Tak Terduga 3


__ADS_3

"Hai Sya!" sapa pria itu kepada Maisya.


Maisya menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya.


Deg!


Degup jantung Maisya seakan terhenti ketika wajahnya menatap wajah seseorang yang belakangan ini amat sangat ia hindari. "Kak Dion?" ucap Maisya lirih.


"Hai Sya, apa kabar?" Dion mengulurkan tangannya.


"Baik!" Maisya tidak membalas uluran tangan pria itu, kini pandangannya teralih menatap jari manis Dion yang terdapat sebuah cincin yang melingkar di sana.


Kemudian pandangan Maisya beralih menatap seorang wanita yang berada tepat di samping Dion. Matanya menelisik kearah jari manis wanita itu. Dan benar saja, sebuah cincin yang sama terpatri indah di jarinya.


"Selamat ya, akhirnya kalian nikah juga!" Maisya mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Dion dan Tari.


"Makasih ya, Sya, karena lo udah lepasin Dion buat nikah sama gue," Tari tersenyum simpul.


"Dasar pelakor nggak tau malu. Sempet-sempetnya dia masih bisa senyum, heran gue, dimana urat malunya." gerutu Alya. Ia tampak tak terima dengan apa yang ia lihat.


Tanpa mereka sadari dari sudut cafe, dua pasang mata saat ini tengah memperhatikan mereka berlima.


Andin menyenggol lengan Alya, "Mulut lo kalau ngomong di pelanin pe'a!"


Terkadang Andin heran dengan sahabatnya yang satu ini, kalau ngomong nggak tau tempat dan asal mangap.


"Oiya, Sya, berhubung kita ketemu disini nih, datang ya ke resepsi pernikahan gue. Lo tamu VIP di pernikahan kita!" Tari memberikan sebuah undangan pernikahan kepada Maisya. Dion yang berada di samping istrinya hanya terdiam tanpa suara.


"Terimakasih atas undangannya." Maisya tersenyum menerima pemberian Tari.


"Kalau gitu kita balik dulu ya? sampai ketemu di resepsi kita."


Setelah kepergian Tari dan Dion, Maisya dan kedua sahabatnya duduk di kursi yang sempat mereka acuhkan sebelumnya.


"Ah, elo gila tau nggak! Kalau gue jadi elo udah gue bejek tuh pelakor. Dan apa-apaan ini-" Alya mengambil undangan yang berada di tangan Maisya, "Dengan nggak tau malunya dia ngasih undangan ke elo, emang nggak ada otak tuh orang!" emosi Alya menggebu-gebu.


"Tuh lagi lakiknya, emang nggak punya ot-"


Drap drap drap


Ucapan Alya tiba-tiba saja terhenti ketika suara derap langkah berhenti tepat di samping Maisya. Kemudian ia menoleh kesamping kanannya.


Deg deg deg.


Degup jantung Alya berdetak begitu cepat saat ia melihat siapa pria yang kini disampingnya. Rasa kesal yang tadi sempat menderanya sekejap saat matanya menatap wajah teduh pria yang ada dihadapannya.


Sedangkan pria itu menatap Alya dengar wajah yang terlihat bingung dengan suasana hati wanita itu yang berubah secepat kilat.


"Boleh kita gabung?" tanya Zifran mencairkan suasana.


"Silahkan p-pak!" ucap Alya gugup.

__ADS_1


Zifran dan Arlan menarik kursi yang berada di meja sebelahnya. "Tadi itu siapa cil, mantan lo?" Ia meletakkan kursi disebelah Maisya.


"Nggak usah bahas mantan bisa nggak sih kak. Sebel gue tau nggak!" sungut Maisya.


"Nggak usah Sensian gitu kenapa sih." Zifran melirik Maisya yang mengerucutkan bibirnya.


"Tuh bibir minta gue cium ya?" bisik Zifran kepada Maisya.


Reflek Maisya memasukkan bibirnya kedalam, yang mana membuat kedua sahabatnya dan juga Arlan menahan tawa mereka. Begitupun dengan Zifran, pria itu sukses membuat suasana menjadi hangat kembali.


"Oiya, diantara kalian siapa yang minta nomor ponsel sekretaris gue?" tanya Zifran menatap Alya dan Andin secara bergantian.


"Ukhuk...ukhuk..." Tiba-tiba saja Alya tersedak salivanya sendiri.


Sumpah! Ini hal termalu yang pernah ia rasakan.


"Mas!" panggil Arlan kepada waiters.


Waiters itu datang menghampirinya. "Saya boleh minta tolong bawakan air mineral kesini nggak Mas, soalnya temen saya sedang tersedak." ucap Arlan kepada waiters.


Blush!


Seketika semburat merah merekah di pipi Alya saat mendengar penuturan dari Arlan yang terlihat peduli dengannya.


"Lo nggak papa kan Al?" terlihat wajah panik Maisya.


Begitupun dengan Andin. "Al, serius kan lo nggak papa? Muka lo sampai merah gitu."


Tak berselang lama waiters itu datang membawa segelas air putih di atas nampan yang ia bawa.


"Makasih Mas!" Arlan menerima gelas itu, kemudian ia berikan kepada Alya. "Nih, di minum dulu biar enakan." Alya langsung meminumnya hingga tandas


"Makasih!" ucap Alya kearah Arlan. Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk.


" kalian mau pesan apa?" tanya Arlan


"Boba satu, lemon tea dua," ucap Andin mewakili keduanya.


"Lo berdua pesan nggak pesan kak?" tanya Maisya menatap Zifran dan Arlan bergantian.


"Kita udah kok!" balas Arlan. "Ya udah Mas itu aja pesanannya." Timpalnya.


Setelah mencatat semua pesanan waiters itu berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Jadi gimana, mau minta langsung sama orangnya, atau melalui saya?" goda Zifran menaik-turunkan alisnya saat menatap Alya.


***


Di parkiran cafe.


Kini Maisya dan kedua sahabatnya menuju kearah kendaraan mereka masing-masing.

__ADS_1


Kedua sahabat sudah meninggalkan cafe, tiba-tiba saja mobil yang ia kendarai tidak bisa menyala, alhasil ia hanya mondar-mandir di depan mobilnya.


Seseorang yang tak jauh dari parkiran melihat Alya yang sedang berdiri di depan mobil segera menghampiri gadis itu. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kepada Alya.


Alya mendongakkan wajahnya melihat siapa yang berbicara kepada dirinya. "Enghh, kok kamu masih ada disini? Bukannya tadi kamu sudah pergi ya bersama pak Zifran?" tanya Alya formal.


"Dia udah balik duluan. Kenapa mobilnya?" tanya balik Arlan.


"Nggak tau nih tiba-tiba aja mogok, padahal oli baru aja di ganti, bensinnya pun baru aja gue isi tapi kok tiba-tiba mogok."


Arlan mengangguk, ia tahu apa penyebabnya kenapa mobil itu bisa mogok. Perlahan Arlan melangkah kebagian depan mobil Alya, ia membuka kap bagian depan dan menyanggahnya dengan alat penyanggah.


Kemudian ia memeriksa satu demi satu komponen yang ada di bagian mesinnya. Tak butuh waktu lama untuk Arlan mencarinya.


Dengan cekatan ia membersihkan bagian yang menjadi penyebabnya. Setelah dirasa sudah cukup, ia kemudian memasangnya kembali pada tempatnya.


"Mobil lo kayaknya jarang diservis ya? Selesai!" ucapnya seraya mengelap keringat dengan menggunakan punggung tangannya yang terkena bercak oli.


"Coba hidupkan mobilnya!" perintah Arlan. kepada Alya.


Iapun segera menghidupkan mesin mobilnya. "Yeay! Mobilnya hidup!" Alya sorak gembira.


Alya berjalan menghampiri Arlan yang masih setia berdiri pada posisinya "Makasih atas bantuannya."


"Sama-sama, kalau begitu gue permisi dulu."


Arlan langkahkan kakinya, namun sebelum itu suara Alya menghentikan dirinya. "Nih, muka lo kena oli." Alya memberikan saputangan kepada Arlan.


Arlan mengulurkan tangannya menerima saputangan pemberian dari Alya. "Terimakasih, nanti bakal gue balikin kalau udah gue cuci."


Alya tersenyum menatap meratap Arlan yang tengah membersihkan wajahnya. 'Nggak usah dibalikin juga nggak papa kok gue ikhlas.' batinnya.


Arlan mengulurkan tangannya kembali kearah Alya. "Mana ponsel lo?"


"Untuk apa?" tanya Alya bingung.


"Buruan!" Arlan menggerakkan tangannya.


"Nih!"


Arlan menerima ponsel Alya. "Password nya?"


"Angka ganjil ditambah nol," ucap Alya.


Setelah selesai membuka password, Arlan mengetik sesuatu dilayar ponsel milik Alya, entah apa yang ia lakukan di sana.


"Nih ponsel Lo gue balikin!" Arlan mengembalikan ponsel Alya.


"Ini nomor siapa yang lo kasih kepada gue?"


"Itu nomor gue." Arlan melangkahkan kakinya meninggalkan Alya.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa, sumpah, demi apa coba gue dapet nomor dia!" teriak Alya histeris.


__ADS_2