
Zifran yang melihat pemandangan yang ada dihadapannya tanpa sadar ia menarik garis bibirnya membentuk lengkungan indah bagi siapa saja yang menatap.
"Udah ah, nggak usah melow-melowan gitu, kan aku jadi di cuekin?!"
"Kamu tuh ya jadi laki kok baperan."
"Ck, nyebelin banget sih Mama."
"Mau kemana kamu Fran?" tanya Mama Sarah yang melihat putranya hendak memegang gagang pintu kamarnya.
"Mau nyusul papa di ruangan kerjanya dari pada disini di cuekin terus."
Zifran menarik gagang pintunya dan keluar meninggalkan Mamanya bersama Maisya yang masih setia berada di samping sang mama.
"Tuh, kamu liat sendiri kan, gimana kelakuan pacar kamu itu? Dia itu orangnya manja dan selalu pengen di perhatikan. Jadi untuk kedepannya Tante minta sama kamu, kamu yang sabar ya dalam menghadapi sikap manjanya itu."
"I-iya Tan. Aku akan selalu sabar kok Tan, Tante tenang aja ya!" ucap Maisya sedikit gugup.
'Kudu kuat ati aing mah.' batinnya meringis.
Sang Surya mulai naik di atas cakrawala, pagi pun kini harus tersisih karena hari sudah menjelang siang. Begitupun dengan keluarga Samudera, kini mereka sudah berkumpul dimeja makan untuk menikmati makan siang mereka bersama.
Selama acara makan berlangsung sesekali mereka terlibat obrolan ringan disela-sela makan siang mereka hingga sebuah pertanyaan dari Papa Arya seketika menghentikan kegiatan mereka semua.
"Apa rencana kamu kedepannya Fran?" Papa Arya meletakkan sendoknya, beralih menatap wajah sang putra.
Zifran menautkan kedua alisnya. "Rencana apa maksud Papa?"
"Kapan kamu akan menikahi Maisya. Soalnya papa dan Mama ingin melihat kamu menikah dan kami juga ingin segera mengendong cucu seperti om dan Tante kamu."
"Ukhuk... ukhuk,. Apaan sih pa," ucap Zifran di sela-sela batuknya. pria itu tiba-tiba saja tersedak makanan yang masih ia kunyah setelah mendengar perkataan papanya barusan. Iapun meraih segelas air kemudian langsung meneguknya dengan kasar hingga kandas.
Begitupun dengan Maisya, ia merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh Zifran.
"Kamu nggak papa kan Sya?!" Mama Sarah terlihat begitu panik melihat batuk Maisya yang tak mau berhenti.
"Ukhuk, ukhuk! Nggak papa kok Tan, cuma terasa panas aja dadanya." Ucapnya sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Papa ini, ih, kalau ngomong tuh lihat-lihat situasi dong jangan asal ceplos, untung anak orang nggak kenapa-napa. Di minum dulu Sya," Mama Sarah memberikan air hangat kepada Maisya.
'Salah lagi, padahal dia loh yang nyuruh." batin papa Arya kesal.
"Makasih Tan." Maisya menerima air minum pemberian Mama Sarah.
***
Setelah insiden di meja makan Zifran pamit kepada orangtuanya untuk mengantarkan Maisya kembali kerumahnya.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya gadis itu mengomel kepada Zifran dan sesekali ia tak segan-segan untuk memukul lengan kekar dan berotot milik Zifran.
Plakk!
__ADS_1
"Auwwshh, sakit cil, kenapa dari tadi lo mukulin gue terus sih!?" Zifran mengusap lengannya yang terasa panas akibat pukulan dari Maisya.
"Abisnya gue sebel sama lo kak-, Om maksud gue. Kalau tau kejadiannya kayak gini gue ogah bantuin lo! Katanya aja cuma jadi pacar bo'ongan, masak ia gue harus jadi istri bo'ongan lo juga." Omel Maisya.
"Lo tenang aja, itu nggak akan terjadi, kasih gue waktu sampai gue nemuin cewek yang bisa bikin hati gue luluh, setelah itu semua ini bakal kita akhiri."
"Ya, ya, terserah lo aja lah. Pusing gue."
Maisya mengalihkan pandangannya menatap luar jendela. Zifran menggelengkan kepalanya lirih melihat tingkah wanita yang bersama.
"Mau gue ajak ke suatu tempat nggak?" pria itu memfokuskan pandangannya ke depan.
"Kemana?" tanya balik Maisya.
"Ada deh...!"
"Tapi lo nggak bakal macem-macem sama gue kan?" Maisya memberi tatapan tajam bak elang kearah Zifran. pria itu terkekeh melihat ekspresi wajah Maisya.
Zifran memelankan laju mobilnya dan menepi ke tepian jalan. "Kenapa? Lo pengen ya gue macem-macemin! Hem?"
"Ya, e-nggak sih!"
"Ah masa sih!" Zifran mendekatkan wajahnya kearah Maisya.
Maisya langsung memundurkan tubuhnya, "Mau ngapain lo?!"
"Menurut lo," Zifran semakin mendekatkan tubuhnya sampai tubuh Maisya mentok di sandaran kursi.
Deg deg deg.
Maisya perlahan memejamkan matanya saat deru nafas Zifran begitu terasa menyapa wajahnya.
'Anjir, mau ngapain nih orang.' batinnya
Zifran yang menyadari itupun tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia semakin mendekatkan wajahnya hingga nyaris tak berjarak, senyuman penuh arti pun terbit diwajahnya tampannya.
Dan tiba-tiba saja....
Pletak!
Tanpa perasaan Zifran mendaratkan sentilan mautnya ke dahi Maisya.
Maisya sontak membuka matanya, "Sia*lan lo Om!" pekik Maisya Sambil mengusap dahinya yang tampak memerah.
Zifran tertawa puas, "Hahaha, ngapain Lo merem cil, pasti Lo pengen banget ya gue cium? Ngaku nggak lo," Zifran membenarkan posisinya. kemudian ia menjalankan mobilnya.
"Isshh, nyebelin banget sih lo Om!"
Bugh!
Maisya memukul Zifran menggunakan Sling bag miliknya.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka pun sampai ditempat yang mereka tuju.
Maisya mengedarkan pandangannya menatap pantai yang kini ada dihadapannya.
"Kok kita ke pantai?" tanyanya bingung.
"Ya emang tadi kita rencananya mau ke pantai. Kenapa, lo nggak suka?"
"Bukan gitu, soalnya gue udah sering kesini."
Zifran mengangguk sambil ber'oh'ria.
Dibawah pohon Cemara Zifran dan Maisya duduk bersebelahan Sambil memandang hamparan pasir putih dibibir pantai.
"Mau lihat sunset?" tanya Zifran melirik Maisya yang berada disini.
Maisya mengangkat wajahnya menatap Zifran, "Boleh, gue suka banget sama sunset!" balas Maisya dengan mata yang berbinar.
"Dasar bocil!" ucap Zifran Sambil mengacak rambut Maisya.
"Ck, jangan di acak-acak dong om, elo mah!!" Maisya kembali merapikan rambutnya yang di acak oleh Zifran.
"Jangan panggil gue om dong cil, berasa tua banget gue tau nggak sih."
"Ya elo jangan panggil gue cal-cil, cal-cil dong om, emang gue kancil." Maisya mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya jangan di majuin gitu Sya, minta gue cium ya? Kalau iya sini gue cium!" ucap Zifran yang mendapat tatapan mematikan dari Maisya.
Maisya berjalan menjauhi Zifran, "Dasar om-om mesum."
"SYA, LO MAU KEMANA? GUE IKUT!" teriak Zifran manggil Maisya yang sudah jauh dari pandangannya.
"Gila tuh bocah jalannya cepetan amat," gumam Zifran. Akhirnya mau tak mau iapun menyusul Maisya ke tepi pantai.
Kini waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Maisya dan Zifran duduk bersebelahan di atas pasir sambil menatap kearah matahari yang perlahan mulai tenggelam hilang di peraduan. dan menyisakan kegelapan malam.
"Lo suka?" tanya Zifran menolehkan wajahnya kesamping menatap wajah Maisya.
"Hem."
Tak terasa waktu cepat berlalu, sang mentari kini telah berganti sang rembulan yang menampakkan cahaya menerangi malam. Kini Zifran mengantarkan Maisya kembali ke kediamannya. Tak terasa sudah seharian penuh mereka menghabiskan waktu bersama.
"Dah sana masuk udah malem."
"Makasih om, udah mau ajak gue jalan-jalan seharian,"
"Iya, iya. Dah sana masuk."
Setelah mendengar ucapan dari Zifran Maisya berjalan menjauhi mobil Zifran yang berhenti di halaman rumahnya.
Zifran yang melihat Maisya sudah masuk kedalam rumahnya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali ke apartemennya. Sungguh ini merupakan hari yang melelahkan baginya.
__ADS_1