
Kediaman keluarga Samudera.
Zifran baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi dengan wajah setengah menahan kantuk akibat semalaman ia begadang bersama Arlan, demi menyelesaikan pekerjaan mereka berdua.
Tangannya meraih sepotong roti yang berada di atas meja, lalu ia masukkan kedalam mulutnya meski matanya terpejam ia tetap memakannya.
Sejak kedatangannya putranya, Mama Sarah dan juga Papa Arya sedari tadi tak henti-hentinya menahan tawa mereka saat melihat kelakuan ganjil dari anak semata wayangnya itu.
Entah apa yang terjadi kepada putranya itu hingga ia berpenampilan seperti saat ini.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Zifran bergegas berangkat ke kantor. Namun baru beberapa langkah panggilan sang Mama membuat Zifran menghentikan langkahnya.
Ia memutar tubuhnya. "Ada apa sih Ma, aku udah telat nanti ada meeting, aku berangkat dulu."
Zifran yang masih terlalu mengantuk tidak menyadari dengan kode yang diberikan sang mama kepadanya. Ia melangkah kembali meninggalkan sepasang suami-istri yang melongo tak percaya melihat melihat penampilan putranya dari kata wajar.
"Ck ck ck ck! Ngidam apa dulu Mama ya Pa, punya anak aneh gitu." Mama Sarah menggeleng tak percaya.
"Kayaknya waktu proses pembuatan Zifran dulu kita salah mantra deh Ma, makanya hasilnya begitu."
Keduanya terus memandang ke arah Zifran hingga ia hilang dibalik dinding pembatas .
Di depan mobilnya Zifran memberikan kunci mobil kepada sopir pribadi papanya itu. "Mamang hari ini jadi supir ku, anterkan aku ke kantor. Aku mau tidur, ngantuk!" ucap Zifran kepada pria yang hampir setara dengan usia papanya.
Benar saja, baru beberapa menit mamang itu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Samudera, pria yang berada di belakang bangku kemudi itu langsung tepar dengan deru nafas yang mulai teratur.
****
Pagi ini Maisya memutuskan untuk berangkat ke sekolah karena ia terlalu bosan dan terlalu merindukan suasana kelas yang begitu ramai dan berisik, katanya.
Awalnya Papa Bram tidak mengizinkannya putrinya itu, tetapi ia tak tega bila harus membiarkan Maisya terus merengek kepadanya. Alhasil iapun mengizinkannya dengan satu syarat, Maisya tidak boleh banyak bergerak.
Tentu saja? dengan senang hati Maisya mengabulkannya.
"Perlu Papa antar sampai ke kelas?" tanya Papa Bram menawarkan diri.
Maisya menghentikan langkahnya, menatap sang Papa. "Nggak usah, Maisya nggak papa kok. Muach! Dah Papa!" Maisya mencium pipi Papanya, melambaikan tangan dan berlalu pergi.
Meski ia jalan dengan tertatih.
Pria paruh baya itu melihat kelakuan putrinya menggelengkan kepalanya lirih. "Kamu tetap menjadi putri kecil papa Sya."
Papa Bram melajukan mobilnya setelah melihat putrinya sudah memasuki gerbang sekolahnya.
__ADS_1
****
Mobil yang di tumpangi oleh Zifran telah sampai di depan pintu masuk bangunan berlantai tiga puluh yang bertuliskan ZA group di atasnya.
Melihat putra dari majikannya belum terbangun supir yang bernama mang Asip memberanikan diri untuk membangunkannya.
"Den, Den Zifran bangun atuh, ini sudah sampai," Mang Asip menggoyangkan tubuh Zifran, berusaha membangunkan pria itu.
Merasa terusik Zifran membuka matanya perlahan. "Udah sampai Mang?" tanyanya seraya mengucek kedua matanya.
"Udah atuh Den Eh, tunggu dulu Den...!" Mang Asip melihat Zifran yang hendak ke luar dari mobilnya.
"Itu Den, mmm...itu,"
"Apa sih Mang, ngomong itu yang jelas, ita-itu, ita-itu!" Zifran melangkah keluar dari mobilnya.
"Den!, tunggu atuh, Den!" Mang Asip terus memanggil Zifran namun tak dihiraukannya.
"Ah, ya sudahlah, toh nanti si Aden juga yang malu." monolognya sendiri.
Sementara Zifran, pria itu terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Mang Asip yang terus memanggilnya. Sambil berjalan tak lupa ia memakai kacamata hitam untuk menutupi lingkaran hitam di matanya.
Seluruh karyawan yang berada di dalam gedung tengah mati-matian menahan tawa mereka saat melihat penampilan CEO nya yang jauh dari kata normal di mata mereka.
"Atau mungkin salah minum obat kali dia," balas temannya.
Zifran yang menyadari situasi menatap para karyawannya yang tengah berbisik satu sama lain. Terkhusus bagi yang wanita tentunya.
Serasa menjadi pusat perhatian pagi itu Zifran menelisik penampilannya, ia takut kejadian waktu lalu terulang kembali.
Dari rambut, oke! Kacamata keren. Kemudian ia mengambil ponselnya didalam saku jas dan ia hadapkan di depan wajahnya.
"Gue tampan!" gumamnya lirih. Ia kembali memasukkan ponselnya ketempat semula.
Ketika ia hendak melangkah perasaan aneh tiba-tiba saja menghampiri dirinya.
Langkah kaki yang biasanya terasa berat dengan sepatu pantofel miliknya kini seakan terasa ringan, bahkan sangat ringan.
Zifran yang penasaran melirik kebawah dan melihat apakah yang terjadi di bawah sana. Dalam hitungan detik ia melihat penampilannya yang terpampang di dinding kaca dengan mengenakan kemeja putih tanpa dasi dan jas berwarna biru dengan setelan celana pendek bermotif Shaun the sheep dan sandal berbulu dengan motif yang sama.
Menyadari penampilannya saat ini, ingin rasanya ia menangis meraung saat ini juga namun apalah daya ia tak mampu. Dengan menahan rasa malu yang teramat mendalam ingin rasanya ia mengubur dirinya sendiri saat ini juga.
Ia berusaha bersikap setenang mungkin untuk menyamarkan rasa malu yang kini menderanya.
__ADS_1
"Ekhem! Apa kalian lihat-lihat. Nggak pernah liat cowok ganteng kayak saya ya!" ucap Zifran tersenyum seraya menyugar rambutnya kebelakang.
"Sekarang semua bubar kembali ketempat kalian masing-masing."
Mendengar perintah dari CEO nya mereka pergi meninggalkan Zifran yang masih berada ditempatnya.
Serasa situasi membaik pria itu berjalan santai dan sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang tidak pada tempatnya menuju kearah lift khusus untuk dirinya.
Ketika Zifran hendak melangkah masuk kedalam lift, terdengar suara seseorang yang ia kenal membuat ia menghentikan pergerakannya.
"Ngapain lo ke kantor pake pakaian kayak gini. Mau cosplay jadi orang gila lo ya?" ceplos Arlan yang baru saja tiba.
"Nggak usah banyak ba*cot lo. Sekretaris macam apa lo yang nggak ada di tempat disaat boss nya lagi butuh. Gue potong gaji Lo tiga puluh persen mau lo!"
"Eeitsss! Sabar pak boss nggak usah marah-marah gitu dong. Sorry gue telat soalnya tadi jalanan Agak macet." sambung Arlan cepat.
"Nggak usah ngeles gue hapal sama sifat lo!"
Zifran meninggalkan Arlan dan masuk kedalam lift.
****
Di SMA Bunga Darma.
Maisya dan kedua sahabatnya menghabiskan waktu istirahat mereka hanya duduk didalam kelas sambil bertukar cerita tentang satu hari mereka tak bersama.
"Gimana, ada cerita apa Lo sama kak Arlan?" tanya Maisya to the point.
"Nggak ada, biasa aja," ucap Alya santai.
"Lah, kok bisa? Apa Lo belum pernah nelepon dia?" balas Andin menimpali.
"Pernah sih, tapi orangnya agak dingin gitu. Gue jadi takut."
"Ah, masak sih Al! Tapi dia kalau sama gue biasa aja tuh. Malah dia yang paling heboh diantara kami bertiga.".
Bukan Maisya tak percaya, tapi setahunya Arlan itu merupakan sosok pria yang humoris Tan selalu bisa mencairkan suasana diantara mereka bertiga. Maisya, Zifran dan juga Arlan.
"Ah, entahlah, gue juga bingung. Tapi yang pasti gue nggak bakal nyerah buat dapetin dia. Itu tekat gue!" ucap Alya penuh semangat.
"Wah parah nih anak. Sekalinya jatuh cinta ogah berpaling dia," celetuk Andin tersenyum melihat ekspresi Alya yang memanyunkan bibirnya.
"Maju terus pantang mundur Al! Semangattt !!" teriak Maisya begitu heboh hingga beberapa siswi lain menatap Meraka horor.
__ADS_1