
"Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin kok diem terus? Apa ada masalah, Hem?" tanya Leon sambil menyetir mobil.
"Aku nggak pa-pa kok. Aku masih nggak percaya aja kalau sebentar lagi kita bakal nikah. Kamu masih inget nggak waktu dulu kamu itu sering banget bantuin aku, Yon sampai-sampai anak SMA Bunga Darma pada ngiranya kita itu pacaran. Hmmm... kalau inget masa-masa itu rasanya aku pengen banget balik lagi di masa putih abu-abu sama kamu Yon, sama Alya dan juga Andin. Aku kayak nggak rela aja masa itu sekarang tinggal kenangan," ucap Maisya terus Mandang keluar jendela tanpa memperhatikan Leon yang kini tersenyum menatapnya.
"Sekarang masa itu jadi kenangan untuk kita dan akan kita cerita untuk anak-anak kita nanti, biar mereka tahu gimana perjuangan Papa mereka untuk dapetin cinta dari Mamanya."
"Apaan sih, bikin malu aja tau nggak. Yon," panggil Maisya. Leon langsung menoleh ke arah Maisya.
"Ada apa?" jawab Leon dengan pertanyaan.
"Setelah fitting baju nanti kita jalan dulu ya baru pulang. Soalnya udah lama banget kita nggak jalan berdua karena sibuk sama urusan ini dan itu menjelang hari pernikahan kita. Kamu mau 'kan?" tanya Maisya yang kini menatap Leon, berharap pria itu mau menuruti keinginannya.
"Hahahaha. Ya tentu dong. Apa sih yang buat kamu. Jangankan jalan-jalan, kamu minta ke hotel aja aku mau kok."
"Lama-lama kamu ngeselin juga ya. Pokoknya habis dari butik, aku mau kita jalan-jalan seharian. No penolakan, ngerti?!"
Maisya langsung mengerucutkan bibirnya, tangannya pun tak lupa mencubit gemas pinggang Leon hingga pria itu meringis kesakitan. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.
"Siap ibu boss. Muach...!"
Setelah mengatakan itu, tanpa permisi Leon mencium pipi Maisya membuat wanita itu terkejut dan langsung memegang pipinya yang terasa memanas karena perlakuan Leon barusan. Baginya ini adalah kedua kalian pria itu mencium pipinya tanpa permisi dan langsung bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa pada mereka.
"Awas kamu ya!"
Maisya mencebik kesal melihat Leon yang menertawakan ekspresi wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
Sementara itu di kantor ZA grup, Zifran bersiap untuk berangkat ke salah satu pusat perbelanjaan milik keluarganya yang ada di Jakarta pusat. Sesuai dengan jadwal yang telah diberikan oleh Arlan, pria itu bergegas keluar dari ruangannya diikuti Arlan yang berada di samping setia dengan tablet hitam ditangannya.
"Jam berapa rapat akan berlangsung?" tanya Zifran terus berjalan tanpa menoleh.
"Sekitar setengah jam lagi Pak." Arlan membukakan pintu mobil untuk Zifran.
*
*
*
Di dalam ruang meeting, Zifran duduk di kursi kebesarannya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi setelah selesai membahas tentang rencana penambahan bangunan pada mall tersebut.
__ADS_1
Saat ini, Zifran merasakan tubuhnya sedikit lebih lelah dan mudah capek dibandingkan beberapa saat sebelumnya hingga ia memilih untuk beristirahat sejenak di ruang meeting setelah para staf dan karyawannya keluar dari ruangan itu.
Setelah beberapa menit beristirahat, Zifran bergegas keluar dari ruang meeting dan memilih berkeliling mall sekedar untuk memastikan dan menyegarkan pikirannya yang belakangan ini membuatnya terlihat sedikit gelisah.
Sambil berjalan, Zifran memasukkan tangannya kedalam saku celana sambil melirik kesana-kemari setiap sudut mall. Entah apa yang ia cari saat ini hingga tiba-tiba langkahnya berhenti di salah satu toko perhiasan dan Zifran mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Memberikan benda yang selalu ia bawa itu kepada penjaga toko tersebut.
"Pak, saya mau tanya. Apa benar ini adalah perhiasan dari toko ini?" tanya Zifran memperlihatkan sebuah kalung berliontinkan sebuah huruf berinisial 'M' yang ia sendiri tidak tahu itu milik siapa.
Penjaga toko itu mengambil, lalu melihat untuk memastikan apakah itu benar dari toko itu atau bukan.
"Benar, Pak. Ini adalah perhiasan dari toko kami. Memangnya ada apa ya pak? Apa Bapak ingin menjualnya?"
"Tidak. Saya hanya-" Tiba-tiba ucapan Zifran terhenti saat ia tak sengaja mendengar suara yang begitu tidak asing di telinganya. Kemudian ia menoleh untuk melihat siapa pemilik suara yang begitu mengganggu pikirannya sejak kemarin.
"Kak Zifran? Kakak di sini, ngapain?" tanya Maisya terkejut melihat ternyata Zifran, pria yang berada di sampingnya.
"Maaf, Pak, lain kali saya balik lagi ke sini." Tidak perduli, Zifran langsung mengambil kembali kalung miliknya dan berlalu begitu saja tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Maisya.
"Udah, nggak usah diliatin terus kayak gitu, aku cemburu loh," goda Leon menyenggol lengan Maisya.
"Apaan sih. Aku tuh cuma nggak nyangka aja kalau kak Zifran sekarang nggak kenal kita kayak tadi. Kamu nggak usah berpikiran yang nggak-nggak ya, aku tuh udah berusaha buat lupain dia, jadi nggak usah kamu inget-ingetin gitu lah," sangkal Maisya. Sebenernya ada sedikit rasa yang dulu masih tersisa, namun sebisa mungkin ia tepis karena tak ingin menyakiti hati Leon yang begitu tulus mencintainya.
"Iya-iya, gitu aja ngambek. Maafin aku ya?"
Maisya menunjukkan cinta yang simpel dan elegan terpasang di jari manisnya pada Leon. Leon mengangguk tersenyum melihat Maisya memutar-mutar kan telapak tangannya berulang kali.
Selepas dari butik, ternyata Maisya memilih mall untuk menghabiskan waktu mereka bersama-sama seraya mencari cincin pernikahan yang menang sama sekali belum mereka persiapkan. Dan kaki ini adalah waktu yang tepat pikirnya untuk mereka mencari benda tersebut.
"Udah semua 'kan? Nggak ada yang mau kamu beli lagi?"
"Kayaknya nggak ada lagi deh. Nih aja udah kebanyakan kasian aku liat kamu bawa itu semua udah susah payah gitu," jawab Maisya.
"Ya nggak pa-pa, Sya selagi aku masih mampu kamu nggak perlu khawatir. Oiya, kata Onad semua undangan untuk anak-anak udah bisa di ambil sekarang. Setelah dari sini nanti kita mampir dulu ya ke studio-nya si Onad, kamu mau 'kan?"
"Boleh. Lagian udah lama juga kita nggak ngobrol banyak sama dia. Ya... itung-itung buat kamu lah biar kumpul bareng temen lagi. Aku nggak mau nanti di kira aku-nya yang ngelarang kamu."
"Hehehehe... kamu emang calon istri yang pengertian banget sih, Yang...," ucap Leon yang terus menggoda Maisya sampai wanita itu risih sendiri dengan tingkah laku calon suaminya.
Sesampainya di parkiran, Leon memasukkan semua barang-barang belanjaan Maisya kedalam mobil. Setelah semua beres, mereka masuk dan Leon mulai menjalankan mobil meninggalkan area mall. Namu, baru beberapa meter mobil keluar dari sana, tiba-tiba Maisya meminta Leon untuk memberhentikan mobilnya.
__ADS_1
"Yon, stop, stop!" sentak Maisya terlihat panik.
"Ada apa?"
"Kayaknya paper bag aku yang putih ketinggalan di etalase tempat kita milih cincin tadi deh," ucap Maisya membongkar mencari sesuatu yang tidak ada.
"Kok bisa? Bukannya tadi kamu bawa ya?"
"Enggak, nggak. Aku inget kayaknya ketinggalan di sana
Kamu tunggu di sini ya, aku mau ambil dulu. Nggak pa-pa 'kan?"
"Tapi jangan lama-lama ya?"
"Iya-iya. Dasar bawel."
Maisya langsung keluar dari mobil, lalu menyebrang kembali kedalam mall untuk mengambil paper bag yang menurutnya tertinggal di tempat ia memilih cincin.
Setelah mendapat apa yang ia cari dan benar ternyata dugaannya, Maisya buru-buru keluar dari mall karena waktu menunjukkan pukul 15:22 wib.
Bruk!
Tiba-tiba saja tanpa sengaja Maisya menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Ma-maaf kak, aku nggak sengaja," ucap Maisya terbata-bata mengetahui siapa yang ia tabrak.
"Kamu! Lagi-lagi kamu yang nabrak saya. Lagian, sejak kapan saya nikah sama kakak kamu? Huh!" ketus Zifran merapikan kembali jasnya.
Mata Maisya mulai berkaca-kaca saat Zifran menaikan suaranya, karena baru ini Zifran begitu padanya.
"Dasar cewek aneh! Hobi kok nabrakin orang," gerutu Zifran langsung meninggalkan Maisya begitu saja.
Dengan cepat Maisya menghapus air matanya agar tak ada yang menyadari rasa sakit yang ia rasakan setelah pertemuannya kembali dengan Zifran.
"Makin kesini, Lo kok makin nyebelin sih, kak. Gue kangen sama sikap konyol Lo." Tanpa sadar Maisya bergumam seperti itu.
Kenapa takdir kembali mempertemukan mereka di saat semua sedang tidak baik-baik saja.
Maisya berdiri di pinggir jalan sambil memperlihatkan paper bag yang ia bawa pada Leon, buru-buru Maisya menyebrang hingga tak menyadari jika ada mobil yang melaju kencang dari arah kanannya.
__ADS_1
"Awaassss!!!!" teriak Leon dan seseorang bersamaan.
Bruk!!