Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Karma


__ADS_3

Zifran baru saja terbangun dari tidurnya. Mata yang belum terbuka sempurna menelisik kesana-kemari seperti mencari sesuatu hingga pandangan jatuh menatap seseorang yang tengah tertidur pulas dengan berbantalkan lengan sebagai pengganti bantal tidurnya.


Ia melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Maisya yang berada di sofa kamarnya. Tangannya terulur menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan menyelipkan dibelakang telinga gadis itu.


Disentuhnya wajah Maisya yang terlelap. "Enghhhh....!" lenguhan Maisya saat merasakan usapan lembut diwajahnya.


"Cil, bangun lo nggak ke sekolah?" Zifran semakin gencar melakukannya.


"Lima menit lagi kak."


"Tapi ini udah jam setengah tujuh cil."


Perlahan Maisya membuka matanya. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya di sofa yang sama. "Lo udah sembuh kak?" tanya Maisya menyentuh dahi Zifran.


"Hem. Berkat lo gue cepetan sembuh. Makasih ya Lo dah jagain gue semalaman dan untuk yang tadi malam...... sorry, gue khilap!" Zifran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berharap wanita yang dihadapannya tidak akan marah.


"Lo nggak masuk sekolah?" pandangannya tak lepas dari gadis itu.


Maisya menggeleng. "Gue udah kasih tau ke Alya dan Andin kalau gue izin hari ini. Kak, makasih ya buat yang kemaren. Gue berterimakasih banget sama lo yang udah ngabulin permintaan gue."


"Iya-iya. Kalau bukan karena lo ngancem bakal bongkar semuanya sama nyokap gue, gue ogah cil!"


"Ck! Kak Zi jahat tau nggak!" Maisya menekuk wajahnya cemberut dengan kedua tangan ia lipat di atas dada.


"Dah ah, nggak usah ngambek gitu lo jelek tau nggak kalau lagi ngambek." Maisya semakin kesal dibuatnya. "


"Mau sarapan di luar atau pesan makanan?" tanya Zifran.


"Terserah kak Zi aja. Oiya, kak Zi nggak ke kantor?"


"Nggak, badan gue masih lemes."


Zifran melangkah kearah tempat tidurnya untuk mengambil ponsel miliknya. Setelah itu ia memesan beberapa menu sarapan untuk mereka berdua.


Ceklek!


Suara pintu yang di buka oleh seseorang. Zifran dan Maisya menoleh bersamaan.


"Mama!" panggil Zifran terkejut.


"Halo Tante, selamat pagi," Maisya tersenyum menyapa.


"Pagi sayang. Dasar anak nakal, kenapa nggak kasih tau Mama kalau kamu sakit dan bukannya pulang ke rumah, untung ada maisya yang kabarin Mama." omel Mama sarah kepada Zifran.


"Makasih ya sayang sudah mau jagain anak Tante. Pasti kamu kerepotan ya jagainnnya? Nih Tante bawain makanan buat kalian," Mama sarah menghampiri Maisya.


"Makasih Tan, tau aja kalau Maisya laper." Tanpa tahu malu gadis itu membuka paper bag yang ada dihadapannya.


"Terus makanan yang gue pesan gimana?" Zifran menatap Maisya dengan lahapnya.


"Twerswerah kwak Zwi mwau dihwabiswin jugwa bwuleh!" jawab Maisya dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


Mama Sarah mengulum senyum saat melihat interaksi antara keduanya.


****


setelah kepergian Mama Sarah, Kedua manusia berbeda gender itu tengah menikmati waktu mereka sambil bermain game bersama.


Tringgg!

__ADS_1


Sebuah notifikasi pesan dari ponsel Maisya. Maisya mengambil ponselnya yang tergeletak disampingnya.


"Dari siapa Sya?" tanya Zifran.


"Dari Leon, temen gue kak." Maisya meletakkan stik-nya dan membuka pesan tersebut.


"Ooooh." Zifran melanjutkan permainannya yang sempat tertunda.


Maisya membalas pesan Leon.


Leon


Lo sakit Sya?


^^^Me^^^


^^^Nggak. kenapa, lo nyariin gue?^^^


Leon


Hari ni kita ada latihan, lo biasakan datang?


^^^Me^^^


^^^Basket?^^^


Leon


Bukan!!


"Sya, buruan!" seru Zifran merasa di acuhkan.


"Kak, balikin nggak!!" teriak Maisya saat ponselnya di rebut Zifran.


Zifran bangun dari duduknya hendak melangkahkan kakinya, menggenggam ponsel Maisya ditangannya. Namun tiba-tiba.....


Bugh!


Pria itu jatuh tersungkur ketika Maisya menjegal kakinya.


"Shitt!" umpatnya saat ia merasakan sakit di dahinya yang menyentuh lantai.


"Mampus Lo, cium tuh lantai. Gue pergi dulu bye!"


Maisya memungut ponselnya, kemudian ia mengambil jaket dan kunci motornya pergi meninggalkan Zifran yang terduduk dilantai.


"Dasar bocil luknat!!" teriaknya setelah kepergian Maisya.


****


"Sorry gue telat soalnya tadi ada tugas yang harus gue siapin buat acara Minggu depan?" tanya Leon baru saja memarkirkan motornya.


"Pantesan, gue sampek jamuran nungguin Yon! Yuk masuk yang lain udah pada nunggu!" Maisya menarik tangan pria itu bersamanya.


***


Maisya dan Leon baru saja menyelesaikan latihan mereka dan saat ini keduanya sedangkan berada di salah satu ruang kesehatan yang ada di tempat latihan itu.


"Awwwssh, sakit Yon. Jangan Lo pegang dodol, lo pikir nggak sakit!" pekik gadis itu saat Leon menyentuh sesuatu yang membuat nya meringis.

__ADS_1


"Tahan bentar Sya, entar lagi siap kok."


"Tapi sakit Yon, gue nggak tahan." Maisya mencengkeram lengan Leon.


"Awssh, kuku lo panjang amat sih Sya."


"Bodo amat!" sentak Maisya. "Ahh, sa-sakit Yon."


'Lo jangan de*sah Sya, iman gue lemah.' Leon merutuki pikiran mesumnya.


"Mas, mbak, tolong jangan berisik saya jadi tidak fokus memijatnya" tegur seorang pria yang sedang memijat kaki Maisya yang keseleo saat di pertengahan latihan mereka tadi.


Bukan tanpa alasan pria itu bersuara, sebab ia tak tahan dengan ucapan ambigu yang selalu terlontar dari bibir gadis yang ia tangani saat ini.


Krett!


"Aaaaaaaaa..." Teriakan Maisya menggelegar memenuhi ruangan itu.


Ingin rasanya gadis itu memukul dan menendang orang yang saat ini berada dihadapannya yang seenaknya memutar kakinya yang telah cidera.


"Selesai! Coba di gerakkan kakinya?!" perintah pria yang kira-kira seumuran dengan papanya. Maisya mengikuti apa yang diperintahkan oleh pria tersebut.


Ia menggerakkan kakinya secara perlahan. "Lumayan pak, tapi masih sakit," ucap Maisya sesekali meringis menahan sakit.


***


Di parkiran.


"Lo bareng sama gue aja, motor lo nanti biar Onad yang bawa."


Terserah lo yang penting gue nyampe rumah."


"Ya udah nih!" Leon memberikan helm kepada Maisya. Maisya menerima helm itu.


Setelah memasang helm-nya terpakai sempurna gadis itu segera menaiki motor sport milik Leon. Leon melajukan motornya membelah jalan raya yang terlihat ramai.


Dengan kecepatan tinggi Leon mengendarai motornya, tak butuh waktu lama untuk ia sampai di rumah Maisya.


Di depan pintu rumah Maisya sudah berdiri dua makhluk bernama Alya dan Andin yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Melihat sang sahabat sudah tiba, Alya dan Andin bergegas menghampiri mereka berdua. Dengan hati-hati mereka memapah Maisya untuk masuk kedalam rumahnya.


Sedangkan Leon, pria itu langsung berpamitan pulang karena sudah sore.


Di kamar.


Alya dan Andin meletakkan Maisya diatasi tempat tidurnya dengan posisi setengah duduk dan menyandarkan tubuhnya kesadaran kepala ranjang.


"Kok bisa kayak gini sih Sya, gimana ceritanya. Lo nggak hati-hati banget sih!" Alya merasa iba melihat pergelangan kaki sahabatnya terlihat biru dan membengkak.


"Lagi apes gue mungkin."


'Atau mungkin ini karma gue kali ya' batinnya.


"Sakit banget ya Sya?" tanya Andin polos.


Antara polos atau be*go itu beda tipis.


"Ya sakit lah! Nggak Lo liat kaki gue bengkak Din." Maisya menatap wajah sahabatnya yang satu itu. Terlihat pintar namun sedikit tidak peka.

__ADS_1


"Hehehe, canda Sya!" Andin mengangkat tangannya membentuk 'V'.


__ADS_2