
Setibanya Maisya dirumahnya ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur Queen size di susul oleh Andin yang juga merebahkan tubuhnya di samping Maisya.
"Eh, si Alya kemana sih kok belum nyampe juga padahal ini udah hampir setengah jam loh?" Maisya memiringkan tubuhnya menghadap Andin.
Andin menyadari akan hal itu ikut memiringkan tubuhnya, "Coba lo telepon dia, gue takut dia kenapa-napa soalnya kalau bawa mobil tuh anak rada be*go!" celetuk Andin.
Maisya merogoh ponsel di saku celananya. Kemudian ia menghubungi sahabatnya itu.
"Lo dimana sih Al, dari tadi kok belum nyampe juga. Gue sama Andin udah nungguin lo dari tadi!" cerocos Maisya.
"Sorry, tadi mobil gue ada kendala sedikit, tapi gue udah dijalan kok! palingan entar lagi juga nyampe." balas Alya di seberang sana.
"Ya udah gue tunggu lo di rumah. Bye!" Maisya memutuskan sambungan teleponnya.
"Lagi di mana tuh anak?" ucap Andin ingin tau.
"Lagi di jalan katanya."
"Ooooh....." Andin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Gue mau mandi dulu udah gerah nih, lo baik-baik disini oke!" Maisya melangkahkan kakinya menuju kearah kamar mandinya.
"Emang dasar Maemunah. Lo kira gue anak kecil apa?! Huh!" Andin mendengus kesal.
Ceklek!
Andin menoleh kesamping menatap siapa yang baru saja membuka pintu kamar tersebut.
"Ck, ternyata elo, gue kira bokap nya si Mae yang buka pintu."ucap Andin kepada Alya yang berjalan kearahnya.
"Emang bokap nya Maisya udah pulang ya? Yah... nggak jadi nginep sini dong kita?!" Alya mendudukkan tubuhnya ditepian tempat tidur Maisya.
"Darimana aja lo jam segini baru nongol?!" tanya Andin ngegas.
Alya mendekatkan tubuhnya kearah Andin. "Sstttttt...! Gue ada berita penting. Dan lo tau apa?" ucapnya setengah berbisik.
Andin menggeleng, "Apa? Cepetan kasih tau gue!" desaknya.
"Gue udah dapet nomor ponsel sekretarisnya pak Zifran. Aaaaaaa, sumpah! Seneng banget gue!!" teriak alya yang begitu hebohnya.
Bertepatan dengan itu suara pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan gadis remaja dengan wajah natural yang hanya memakai bathrobe berjalan mendekati sahabatnya.
"Wah, jadi lo udah dapet nomernya kak Arlan! hebat lo Al, gercep juga lo ya. Jangan lupa sama janji lo!" ucapnya
"Iya-iya Mae, bawel amat sih lo!" balas Alya.
***
Di kamar sebuah apartemen mewah di ibukota.
Zifran yang bergulung dalam selimut seketika membuka matanya saat suara dering ponsel memekakkan telinganya.
__ADS_1
Diraihnya ponsel yang berada disampingnya, kemudian ia melihat siapa nama yang berani mengusik dirinya.
"Ck, si bocil ternyata!" decaknya.
"Hallo cil. Hem ngapa?" sambungnya ketika ia mengangkat telepon dari Maisya.
"Lo bangun tidur ya kak padahal ini masih jam delapan loh?" ucap Maisya dari seberang sana.
"Hem. Cepetan to the point aja langsung!" ucap Zifran dengan suara lirih.
"Gue-, eh tunggu-tunggu! Lo sakit ya kak? Kok suara Lo beda gitu?"
"Hem!" balas Zifran singkat.
"Sekarang lo dimana? Di apartemen atau di rumah lo kak?" tanya Maisya khawatir.
"Di apartemen."
"Ya udah gue bakal ke sana sekarang, lo share aja alamatnya dimana! Ya udah gue tutup dulu teleponnya."
Setelah itu Zifran meletakkan kembali ponsel miliknya.
Sementara di tempat lain,
"Lo mau kemana Sya kok buru-buru amat?" tanya Andin penasaran.
"Iya nih, udah malem juga!" sambung Alya.
"Perlu kita temenin?" tawar Alya.
"Nggak usah gue berani kok!"
"Tapi ini udah malem Sya, gue takut entar lo diapa-apain gimana?" terlihat jelas raut ke khawatiran di wajah Alya.
"Lo tenang aja gue bisa jaga diri kok," ucap Maisya menenangkan.
"Lo kayak nggak tau si Mae aja sih Al, mana ada yang berani deketin si Mae." jelas Andin seraya memainkan ponselnya.
"Udah ah, gue berangkat dulu. Jangan lupa kunci semua jendela dan jangan lupa kasih tau Bi Na kalau dia nyariin gue!" terang Maisya menatap kearah Alya dan Andin. Keduanya kompak menganggukkan kepalanya.
Maisya bergegas keluar dari kamarnya menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Sesampainya ia di garasi, Maisya mengeluarkan motornya yang berada diantara dua mobil milik sahabatnya. Setelah berada di atas motornya ia segera menyalakan mesinnya dan tak lupa ia mengenakan helm full face miliknya.
Tak ingin berlama-lama ia segera menancapkan gasnya meninggalkan kediamannya.
Dengan kecepatan tinggi Maisya membelah jalanan ibukota yang terlihat cukup senggang. Tak butuh waktu lama untuknya sampai di sebuah apartemen mewah yang sudah diberitahukan sebelumnya.
Gadis itu memarkirkan motornya. Ia bergegas masuk kedalam bangunan berlantai tiga puluh dengan berjalan cepat.
Setelah pintu lift terbuka Maisya berjalan disepanjang lorong apartemen untuk mencari nomor yang sesuai dengan yang ada di ponselnya.
__ADS_1
"Nah, ketemu!" serunya saat menemukan yang ia cari.
Ting-tong... Ting-tong...
Maisya memencet bel apartemen Zifran.
Ceklek!
Pintu apartemen Zifran terbuka menampilkan wajah sang pemilik dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Masuk cil." Zifran mempersilahkan Maisya masuk.
Sebelum Maisya melangkahkan kakinya, tangannya terulur menyentuh dahi Zifran."Badan lo panas banget kak!" pekiknya saat merasakan suhu badan Zifran.
Gadis itu menarik tangan Zifran tanpa permisi. "Dimana kamar lo kak?" tanyanya sambil berjalan.
"Mau ngapain ke kamar gue?"
"Ck, lo itu harus banyak istirahat. Gue heran, dalam keadaan begini otak lo masih bisa mesum juga. Cepetan yang mana kamar lo!"
"Yang itu!" tunjuk nya kearah pintu kamar yang terbuka."
Disinilah mereka berdua sekarang. Disebuah kamar yang tertata rapih dengan berbagai barang yang terletak pada tempatnya tidak seperti kamar pria kebanyakan.
Maisya membaringkan Zifran di atas tempat tidurnya. "Lo udah makan kak?"
"Belum."
"Tunggu disini, gue bakal buatin lo makan malam!"
"Emang lo bisa masak?" tanya Zifran meragukan.
"Kan ada mbak gogel,"
Setelah itu Maisya meninggalkan Zifran dilamarnya seorang diri.
Di dapur Maisya hanya clingak-clinguk mencari bahan makan yang biasa ia olah untuk ia masak. Namun nihil, dapur itu seperti dak ada tanda-tanda kehidupan bagi sayuran dan bumbu-bumbu lainnya.
Ia beralih membuka pintu kulkas bagian bawahnya. "Yah... cuma ada telur doang. Di goreng aja kali ya!" ucapnya sambil membolak-balik telur yang ia pegang.
Langkah awal yang ia lakukan adalah menyalakan kompor, setelah itu ia taruh wajan berisikan minyak goreng.
Setelah minyak panas baru ia pecahkan telurnya kedalam wadah kemudian ia aduk hingga rata, lalu ia tuangkan kedalam wajan yang berisi minyak panas.
"Aishhh. Gue lupa belum di kasih garam tuh telur!" Maisya a menepuk jidatnya merutuki kebodohannya.
"Aissshh, yang mana ya bentukan garam. Yang ini kali ya?" monolognya sendiri. Ia mengambil asal tanpa melihatnya.
Setelah selesai Maisya langsung menghidangkannya kedalam piring bersama nasi putih hangat.
"Akhirnya selesai juga." Maisya berjalan kembali ke kamar Zifran.
__ADS_1