Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Menikatinya


__ADS_3

Zifran membuka matanya mendengar seseorang meletakkan nampan berisi makan malam di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya.


"Kak Zi, makan malamnya udah siap, maaf cuma ini yang ada di dapur lo?" Maisya menunjukkan sepiring nasi dengan telur diatasnya.


"Thanks banget lo udah perhatian sama gue." Zifran menatap Maisya.


"Sama-sama. Lo mau makan sendiri atau mau gue suapi?" tawar Maisya.


"Suapi lah, ya kali orang sakit suruh makan sendiri. Mana ada sejarahnya!" Zifran mengerucutkan bibirnya hingga beberapa senti.


Maisya yang melihatnya memutar bola matanya jengah seraya menghela nafas dalam.


'Ada ya orang modelan begini.' batinnya


Maisya mengambil nampan di atas nakas, kemudian ia letakkan di kedua pahanya. "Gue baru tau, seorang Zifran Alanta kalau lagi sakit ternyata manja juga ya!" ucapnya sambil memasukan makanan kedalam mulut Zifran.


"Masak-, ukhuk...!"


'Gila nih anak ngasih micin nggak kira-kira!' batinnya Sambil tersenyum meringis menatap wajah Maisya.


"Lo kenapa kak? Nggak enak ya masakan gue?" Maisya meletakkan sendoknya, kemudian ia memberikan Zifran segelas air putih. "Nih kak di minum dulu!" Maisya terlihat begitu panik saat Zifran tiba-tiba saja batuk setelah memakan makanan yang ia buat.


"Makasih!" Zifran memberikan gelas itu kembali kepada Maisya.


"Masakan gue nggak enak ya kak? Maaf ya gue nggak bisa masak!"


"Masakan lo enak kok! Nih gue habisin!" Zifran mengambil alih piring yang berada dipangkuan Maisya.


"Kak Zi, kalau nggak enak mendingan lo muntahin deh, muka lo pucet banget."


Zifran tidak menghiraukan ucapan Maisya, ia terus memasukkan sesendok demi sesendok makanan yang dibuat Maisya untuk dirinya.


Ia tak ingin Maisya merasakan kecewa dengan segala usaha yang sudah dilakukanya akan terlihat sia-sia. Dengan segala keterpaksaan Zifran menguny makanan itu hingga habis dan tak tersisa lagi di piringnya.


"Cwil, mwinum dwong, gwe hous!" ucap Zifran dengan keadaan mulut penuh seraya mengunyah.


Maisya terlihat kebingungan dengan perkataan Zifran barusan. "Lo ngomong apa sih kak? Ngomong itu yang jelas. Itu nasi ditelan dulu jorok banget sih lo!"


"Ambilin gue minum Sya! Lo mau bunuh gue," ucap Zifran setelah perjuangan panjang dengan susah payahnya ia menelannya.

__ADS_1


Maisya memberikan segelas air putih kepada Zifran. Ia meletakkan kembali piring itu ke nampan .


"Lo udah minum obat kak?" tanya Maisya.


"Gue nggak bisa minum obat Sya, susah buat nelen nya pasti ujung-ujungnya bakal muntah."


"Lah, terus kalau lo sakit nggak minum obat bakal lama sembuhnya! Di gerus mau?" Maisya memandang wah pria yang terlihat pucat.


"Nggak mau! Pasti pait kan? Ogah gue!"


Sungguh menyusahkan pikirnya. Sambil termenung ia memikirkan bagaimana caranya agar pria yang ada dihadapannya itu mau meminum obatnya tanpa adanya drama setelahnya.


Cukup lama ia berkutat dengan pikirannya, hanya satu cara yang terlintas dalam otaknya.


"Kak!" panggil Maisya.


"Apa?"


"Dimana kotak obat Lo?"


"Tuh di laci paling bawah!" tunjuk Zifran kearah nakasnya.


"Mau ngapain lo cil?"


"Udah cepetan buka bawel!" gadis itu terlihat kesal.


Tak mau berdebat, akhirnya Zifran menuruti perintah Maisya. Dengan sangat terpaksa ia membuka mulutnya.


Setelah mulut Zifran terbuka Maisya segera memasukan beberapa butir obat dan tak lupa ia berikan sedikit air minum agar Zifran tidak sulit untuk menelannya.


Namun gerakan mendadak Maisya secara tiba-tiba membuat mata Zifran melotot tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Butir obat yang semula hendak ia muntahkan kini mendadak masuk kembali dan langsung tertelan begitu saja disaat bibir Maisya membungkam bibirnya dengan lembut.


Zifran yang mendapat perlakuan tersebut menerimanya dengan senang hati dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang tak mungkin datang dua kali. Ia menatap wajah Maisya yang begitu dekat dengan dirinya hingga nafas Maisya terasa menerpa wajahnya.


Perlahan Zifran memejamkan matanya menikmati benda kenyal dan lembab yang kini membungkam bibir sexy nya. Zifran yang terangsang perlahan membuka mulutnya , meraup bibir mungil Maisya dan memberi sedikit luma*tan di sana. Menyadari tak ada penolakan dari Maisya, Zifran semakin memperdalam aksinya. Ia menarik tengkuk Maisya, Sambil melu*mat bibir itu dengan penuh kelembutan.


Di posisi berbeda. Dengan mata terpejam penuh penyesalan, Maisya kini tengah merutuki kegilaannya yang berani-beraninya mencium bibir Zifran secara tiba-tiba. Namun, ketika ia hendak menjauhkan wajahnya dari pria itu sesaat dirinya terdiam terpaku.


Deg deg deg

__ADS_1


Suara detak jantung Maisya berdetak lebih cepat dari biasanya saat ia merasakan sebuah luma*tan pada bibirnya. Hatinya berdesir saat merasakan sensasi sentuhan yang diberikan Zifran kepada dirinya.


Ingin rasanya ia membalas ciuman itu, namun apalah daya tubuhnya seolah terpaku menikmati luma*tan demi luma*tan yang Zifran berikan.


Sebagai wanita normal yang memiliki hasrat, Maisya sebisa mungkin menahan dirinya saat sebuah tangan kekar meraih tengkuknya. Namun sayang, ia tak mampu menahannya.


Hingga tanpa sadar Masya mengalungkan tangannya di leher Zifran dan sesekali ia juga membalas dengan ******* bibir pria itu tak kalah lembutnya.


Merasa perbuatannya mendapatkan balasan, Zifran semakin gencar melakukan kegiatannya itu hingga sebuah tepukan di dadanya menghentikan aktivitasnya.


Zifran melepaskan pagutannya dan menjadikan tubuhnya. "Ada apa?" tanya Zifran menyerngitkan kebingungan.


"Gue nggak bisa nafas kak!" balas Maisya polos dengan nafas terengah-engah.


"Ck, gitu aja nggak nafas. Mau lagi?" Zifran menangkup wajah Maisya. Maisya tersenyum menggeleng.


Terlihat jelas rona merah di wajah gadis itu hingga ia tak mampu menatap lawan bicaranya. Zifran mendaratkan kecupan singkat dibibir Maisya. "Gue suka, rasanya manis." ucap Zifran sambil mengusap bibir Msisya untuk menghapus jejaknya.


Sungguh perkataan Zifran barusan membuat jantungnya kembali tidak normal.


Maisya mengambil nampan yang ia letakkan. "Lo istirahat kak, gue mau balik udah udah malem. Nanti gue telepon kak Arlan buat nemenin lo, nggak papa kak?" Maisya berdiri dari tempatnya.


Sungguh. Berada berdekatan dengan pria itu membuatnya akan cepat meninggalkan dunia di usia mudanya.


"Lo nginep disini aja temenin gue. Lo tenang di kamar sebelah kosong kok, dan tempatnya juga bersih, jadi lo bisa tempati."


***


Dini hari Maisya terbangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum tak sengaja pandangannya tertuju kearah pintu kamar yang terbuka, iapun mengurungkan niatnya dan melangkah kan kakinya kearah pintu kamar Zifran.


Didalam kamar ia melihat Zifran yang tertidur pulas dengan kain kompres berada di dahinya.


Maisya menyentuh dahi Zifran kembali. "Ya ampun! Kok demamnya nggak turun sih? Padahal kan udah minum obat!" gumamnya.


Maisya mengambil baskom berisikan air yang sudah dingin kemudian ia bawa ke dapur untuk menggantinya dengan yang hangat.


Maisya mencelupkan kain tersebut kemudian meletakkannya di dahi Zifran dengan sangat hati-hati agar tak membangunkan pria itu.


Setelah selesai Maisya membaringkan tubuhnya di sofa yang letaknya tidak terlalu jauh. Dengan rasa kantuk yang menderanya ia langsung memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2