Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kekesalan


__ADS_3

Di sebuah cafe, seorang pria dengan balutan kemeja berwarna hitam, memakai celana kain sertajam tangan berwarna hitam senada dengan kemeja yang ia kenakan seakan menambah kadar ketampanan seorang Arlan Ardeva yang tak kalah dengan pesona sang sahabat, yaitu Zifran.


Akan tetapi sikap yang arlan miliki sedikit berbeda dengan sahabatnya. Arlan itu tipe cowok yang yang tertutup dengan masalah percintaanya. Bahkan dengan zifran pun ia tak pernah mengumbar masalah cinta yang pernah ia lalui.


Dan Arlan juga merupakan tipe cowok yang susah untuk membuka hatinya kembali setelah kisah cintanya kandas beberapa tahun lalu


Namun, entah apa yang kini ada dalam hatinya sampai ia mau menuruti ajakan dari gadis remaja yang selalu membuat ya pusing dengan segala ocehannya.


Asal kalian tau, sebelumnya Arlan itu orangnya pendiam dan irit bicara. Namun setelah bertemu dengan Zifran, semua seolah berubah seratus delapan puluh derjat. Ia kini menjadi pria hangat dan banyak bicara, selalu menjadi incaran wanita yang ingin menjadi kekasihnya.


Sama seperti wanita yang tengah bersamanya saat ini. Sosok gadis SMA yang selalu mengganggu segala waktu luang yang ia miliki. Seorang gadis yang selalu menunggu cintanya selama dua tahun lamanya.


Terlihat begitu santai, pria yang bergelar sekretarisnya kesayangan Papa Arya kini duduk berhadapan dengan seorang gadis cantik yang selalu tersenyum kearahnya sembari mengaduk minuman yang ia pesan hingga membuat pria itu menautkan alisnya, menatap heran dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini.


"Hei! Sampai kapan kamu akan akan memandangi saya seperti terus seperti itu?" Pria ituengibaskan tangannya beberapa kali dihadapan gadis yang sedari tadi menatapnya.


Gadis itu terlonjak kaget "Ah iya maaf," ucapnya membenarkan posisi duduknya, namun pandangannya tak pernah teralihkan dengan sosok pria yang ia kagumi selama ini. Pria yang mampu mengalihkan dunianya, dan pria yang mampu membuatnya yakin untuk menunggu sang pemilik tahta tertinggi didalam hatinya.


"Jam berapa kaK Arlan balik ke Jakarta?" tanya Alya, gadis yang kini duduk berhadapan dengan Arlan.


"Baru aja. Kenapa?"


Alya menggeleng. "Nggak ada. Oiya, gimana? Apa kak Arlan udah inget siapa gue? Hem." Alya memandang wajah Arlan begitu lekat. Berharap pria itu memiliki jawaban yang selama ini mengusik hatinya. Karena semenjak kejadian beberapa tahun lalu, keduanya tidak pernah bertemu lagi sampai saat itu. Dan dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun lamanya, dengan penampilan gadis itu yang berubah dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kalau saya nggak inget siapa kamu gimana? Apa kamu akan pergi dari hidup saya?"


Deg.


Betapa sakitnya hati Alya mendengar ucapan Arlan barusan. Apakah kehadirannya begitu tak berarti untuk pria itu?


"Gue bakal tetep nunggu lo sampai lo inget siapa gue, dan gue bakal pergi sampai lo sendiri yang nyuruh gue buat pergi dari hidup lo."


"Apa segitu istimewanya saya di mata kamu?" Terkadang Arlan bingung dengan sikap Alya yang begitu berlebihan dengannya. Beberapa kali Arlan memencoba untuk mengingat kembali apa yang sudah ia lewatkan dalam hidupnya hingga kehadiran seorang gadis yang selalu berbicara 'Apakah ia masih mengingat gadis itu?'


Namun beberapa kali juga ia tak menemukam jawabannya.


Sementara di tempat lain.


Zifran menghela nafasnya kasar, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di ranjang rumah sakit sambil mengedarkan pandangannya menatap luar jendela. Suasana kota Bandung kini tampak mendung, awan hitam mulai menutupi sang mentari yang menari tinggi di atas cakrawala.


Namun sepertinya tidak berlaku bagi Zifran yang tengah menahan rindu kepada sang kekasih yang jauh dari pandangannya.


Semenjak sang Mama memberitahukan bahwa ia belum diperbolehkan pulang, rasa kesal seketika menghampiri dirinya. Mengingat akan hal itu, ingin rasanya Zifran kabur dari rumah sakit saat itu juga untuk menemui pujaan hatinya.


Akan tetapi, apalah daya jika keadaannya belum memungkinkan untuk ia melakukan semuanya.


Dengan kondisi luka di kepala yang masih butuh pengawasan yang ketat, serta luka ringan dibeberapa bagian tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih membuat Zifran harus menahan rindunya selama beberapa hari ke depan.

__ADS_1


Jika bertanya kenapa Zifran tidak dipindahkan ke rumah sakit milik keluarganya yang berada di kota Jakarta, maka jawabannya adalah rumah sakit tempat Zifran dirawat itu merupakan salah satu rumah sakit terbaik di kota Bandung. Dan merupakan milik teman dari Papa Arya.


Hujan perlahan mulai reda, menyisakan buliran halus yang jatuh menerpa membasahi bumi. Membiarkan sang mentari kembali menunjukkan sinarnya kepada dunia, memberikan kehangatan yang mereka butuhkan.


Cukup lama Zifran terpaku di tempatnya, hingga suara yang begitu ia kenal menyapa Indra pendengarannya. Zifran memutar tubuhnya, melihat siapa yang memanggilnya.


Seorang wanita paruh baya dengan senyuman yang mengembang berjalan mendekati dirinya sambil menunjukkan sebuah senyuman yang mengembangkan menghiasi wajah yang kini tampak tak muda lagi. Bukannya membalas, Zifran justru merasa kesal karena Mamanya begitu tega tidak mengizinkannya untuk kembali ke Jakarta.


Sedangkan sang Papa, hanya menurut saja kepada istrinya tanpa mengerti apa yang dibutuhkan oleh putranya itu. Demi menghindari persaingan diantara mereka, papa Arya memutuskan untuk menemui sahabatnya yang kebetulan sedang berada di rumah sakit yang sama dengannya.


Mama Sarah duduk di samping Zifran. Ia menelisik setiap lekuk wajahnya, menyadari tatapan berbeda dari putranya itu. "Apa kau sudah lebih baik saat ini? Sebentar lagi Dokter Baby akan memeriksa mu." Zifran hanya diam tak menyahut.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Atau ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Mama Sarah dengan pertanyaan beruntun yang membuat Zifran semakin kesal.


Apa Mamanya itu tidak mengerti dengan perlakuan tak adil terhadap dirinya. Ah, kalau saja Zifran bisa mengutuk Mama Sarah, mungkin ia akan mengutuk agar Mamanya itu bisa menuruti segala keinginannya untuk segera pulang ke Jakarta, tanpa harus ada perdebatan diantara mereka berdua.


"Kamu kenapa? Jangan diam saja, jangan bikin Mama khawatir Fran."


"Aku mau pulang sekarang!" tegas Zifran ketika membuka suaranya.


Kembali ke Arlan dan Alya.


"Kenapa nggak dijawab?" Arlan memandang wajah Alya yang tampak menahan sesuatu di sana. Namun ia tak tau apa yang sedang terjadi dengan gadis itu.

__ADS_1


Sedangkan Alya, ia berusaha menahan kekesalan pada pria yang yang tak mengingatnya setelah kejadian kecelakaan yang membuat Alya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.


Yang menumbuhkan rasa cinta pada pandangan pertama bagi seorang gadis bernama Alya Zealora.


__ADS_2