
Suara alunan musik DJ mengalun sentak membuat siapapun yang mendengarnya akan terbuai dalam setiap hentakan musik yang dimainkan oleh sang DJ.
Begitupun dengan Zifran yang berada di sana. Dengan kesadaran yang minim pria itu duduk di meja bar sambil bergumam menyuarakan isi hatinya, meneguk wine yang ada di tangannya.
Sedih, kecewa, itu yang Zifran rasakan setelah penolak dari kekasihnya. Hingga ia memutuskan untuk menghibur diri sejenak.
"Ck." Zifran berdecak kesal saat mengetahui wine miliknya habis. "Mas, tambah lagi!" seru Zifran menyodorkan gelasnya.
"Maaf, pak, tapi Bapak sepertinya sudah mabuk berat." Pria yang bekerja sebagai bartender itu memperingatkan Zifran.
Zifran masa bodoh dengan itu semua, baginya saat ini adalah ketenangan. Jika ia mabuk, itu urusan belakangan.
"Aishh. Lo itu bawel banget tau nggak. Lo itu kayak Maisya, bawel, cerewet, tapi gue sayang banget sama dia." Dari nada bicaranya, Zifran mulai ngelantur. Tanpa sadar ia kembali menyebut nama kekasihnya untuk yang kesekian kali.
Bartender itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tersenyum, mendengar celotehan Zifran yang terdengar lucu dan menggelikan karena terdapat kata-kaya frontal yang keluar dari bibir Zifran yang ia yakini ditujukan untuk kekasih pria yang sedang mabuk itu.
Mau tak mau ia menuangkan kembali minuman itu kedalam gelas yang berdiri tegak dihadapannya.
Glek!
Sekali teguk, minuman itu tandas tak tersisa. Hanya menyisakan gelas kosong dalam genggaman Zifran. Menundukkan kepalanya, menikmati rasa pusing yang semakin mendera. "Tuang lagi," pinta Zifran menyodorkan kembali gelasnya.
"Cepetan!" bentak Zifran yang tak terkendali. Bartender itu menyodorkan gelas minuman kepada Zifran. Zifran langsung meneguknya dengan kasar, menenggelamkan wajah diantara lipatan kedua tangannya.
Zifran merasakan sentuhan lembut di area bahu, lalu turun ke dada membuat Zifran mendongak, menatap samar wanita yang ada di sampingnya.
Wanita itu tersenyum simpul melihat keadaan pria yang sedang dalam pengaruh alkohol.
__ADS_1
"Hai. Apa kabar?" tanya wanita itu tersenyum menatap Zifran penuh arti. Tangannya tak henti-henti memberi rangsangan kepada Zifran.
Zifran memicingkan mata, berusaha memperjelas pandangannya. "Lepasin!" Zifran menepis tangan wanita yang berusaha menggodanya. "Ngapain lo di sini?!" tegasnya.
Zifran menggeser tubuhnya agar menjauh dari wanita yang pernah berhubungan dengannya. Untuk sesaat Zifran terdiam terpaku merasakan sesuatu yang menelusup ke dalam kemeja yang ia kenakan.
"Lo kenapa sadis banget sama gue? Lo tau, setelah ini lo bakal bertekuk lutut dihadapan gue."
"Itu nggak akan terjadi. Minggir lo!" Zifran menggeser tubuh wanita itu dari hadapannya.
Di saat bersama, tiba-tiba saja Zifran merasakan panas di sekujur tubuhnya. Udara di dalam ruangan yang semula dingin tergantikan dengan rasa gerah akan sesuatu yang tak tertahankan membuat Zifran membuka beberapa kancing kemeja.
'Sia*lan, gue salah minum!' batin Zifran terus mengibaskan tangannya ke wajah. Berharap rasa itu dapat berkurang. Namun, nihil. Bukannya berkurang malah semakin jadi.
Zifran berjalan, menghubungi Arlan untuk menjemputnya. Ia tidak mungkin menyetir dalam keadaan seperti ini. Ponsel Zifran terjatuh membentur lantai club, setelah tangannya digapai oleh wanita yang kini tersenyum melihat reaksi tubuhnya. Wanita yang amat sangat dikenal oleh Zifran terus melancarkan aksinya agar Zifran semakin terangsang olehnya.
Dengan tak tau malunya wanita itu mencium bibir Zifran di area umum. Tak ada rasa malu yang ia perlihatkan. Justru rasa ingin memiliki begitu membuncah dan mengalahkan akal sehatnya.
Secara kasar Zifran mendorong tubuh, melepaskan pagutan mereka. Di dalam lubuk hati Zifran yang terdalam, ia tak ingin mengecewakan kekasihnya, meski rasa itu sungguh teramat menyiksa.
Zifran bergegas meninggalkan tempat itu dengan langkah sempoyongan. Tubuhnya sesekali menabrak beberapa pengunjung club. Merasakan area bawah tampak menegang, seakan ingin tenggelam di bawah nikmatnya surga dunia, membuat Zifran kehilangan akal.
Wajahnya tampak memerah, deru nafas terasa begitu cepat membuat Zifran membuka kemeja yang melekat menutupi tubuh atletisnya. Hingga tanpa sadar ia menjadi pusat perhatian sekitar, khususnya mereka kaum wanita yang menatap tajam Zifran seakan ingin memangsa pria itu di atas ranjang.
Di tempat lain, di bawah naungan langit malam berhiaskan beribu bintang yang bertabur di angkasa, Maisya duduk termenung di taman yang terletak di belakang rumahnya sambil termenung. Sejak kepergian Zifran dari rumahnya, tiba-tiba rasa bersalah hinggap dalam hatinya.
Apakah sikapnya terlalu berlebihan, hingga tak ingin mendengarkan penjelasan dari kekasihnya. Mungkin saja semua yang dikatakannya itu adalah benar. Dan hanya kesalahpahaman semata.
__ADS_1
Akan tetapi, jika mengingat kembali, ia adalah wanita yang selalu ingin di mengerti. Bukan wanita yang tak memiliki arti.
Ah, entahlah. Mungkin saat ini ia butuh menenangkan diri sementara waktu. Membiarkan rasa sepi menemaninya saat ini. Meski rasa rindu kepada pria itu lebih menguasai, anggap saja ia kembali egois dan tak berhati.
Seiring berjalannya waktu. Tanpa terasa langit malam mulai menghitam, menutupi sang rembulan yang bersinar dibalik awan kelam. Perlahan hujan mulai turun rintik-rintik membuat udara malam itu terasa dingin, menusuk hingga ke kulit terdalam.
Maisya meninggalkan tempat itu, masuk ke dalam rumahnya dengan kedua tangan menutupi kepala.
Sementara tak jauh dari tempat Maisya, Papa Bram sedari tadi memperhatikan semua gerak-gerik Maisya. Merasakan sedih melihat putrinya seperti ini. Namun, besar harapannya kepada pria yang telah mampu meluluhkan hatinya agar mau memberikan senyuman untuk putri semata wayangnya itu lagi.
Melihat putrinya mendekat, Papa Bram merentangkan kedua tangannya, agar Maisya masuk dalam dekapan hangat seorang Ayah.
"Butuh pelukan?" tanya pria itu.
"Tentu aja." Maisya tersenyum, lalu mendekap Papanya erat. Papa Bram membawa putrinya masuk kedalam rumah karena cuaca semakin.
Sementara di club, seorang wanita berjalan, bergegas menyusul pria yang menjadi incarannya. "Fran, tunggu!" teriak wanita itu. Namun yang dipanggil tak sedikitpun menoleh padanya.
"Gue nggak akan biarin lo jadi milik siapapun!" gerutunya semakin dekat dengan Zifran.
Di waktu yang sama, tiba-tiba Zifran berhenti tepat di samping mobilnya. Terdiam saat tubuhnya semakin terbakar gairah. Apalagi si dedek semakin menunjukkan dirinya di bawah sana membuat hasratnya semakin memuncak.
Apakah ia sanggup untuk menahan demi kesetiannya kepada Maisya? Tapi sungguh, Zifran begitu tersiksa. Hingga tubuhnya berkeringat, berharap ada seseorang yang menolongnya.
"Tolong! Tolongin gue," lirih Zifran menahan hasratnya menatap seseorang yang mendekati dirinya.
Seorang wanita tersenyum simpul melihat keadaan Zifran seperti ini. Perlahan tangannya terulur menyentuh tubuh Zifran. Menatap iba pria itu. "Gue bakal bantuin lo." Seringai tipis tercetak di bibirnya.
__ADS_1
Zifran tak mampu berkata disaat tubuhnya terangsang menerima sentuhan dari wanita yang kini membawanya entak kemana.