
Sementara di tempat lain. Lebih tepatnya di bandara internasional Soekarno-Hatta, karena di bandara inilah mereka pertama kali bertemu beberapa tahun lalu.
Namun siapa sangka jika mereka di pertemukan dalam situasi yang berbeda.
Papa Bram baru saja tiba di sana untuk menjemput wanita yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai Nyonya Brama Kumbara tersebut.
Di hadapannya sudah berdiri seorang wanita dengan senyum manis yang begitu menawan sambil melambaikan tangan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Papa Bram. Pria yang kini berusia 46 tahun tersebut. Namun masih terlihat tampan nan gagah di usia yang tak lagi muda.
Wanita dengan pakaian sopan itu menggeleng pelan.
"Bagaimana acara tadi malam? Apa Maisya menyetujuinya?"
"Seperti yang pernah aku katakan padamu. Meskipun putriku itu sedikit keras kepala dan kekanakan, jika itu berhubungan denganku, dengan dewasa dia akan menyikapinya."
Lalu, wanita itu manggut-manggut. "Syukurlah. Maaf, seharusnya tadi malam aku menemanimu untuk menemui Maisya. Tapi pekerjaan ku menuntut ku untuk menyelesaikannya. Kamu tidak marah 'kan?"
"Tunggu sebentar. Aku akan memberi tahu Maisya akan hal ini. Aku sudah berjanji padanya akan mempertemukan Kalian jika kau sudah kembali."
Pria itu menghubungi nomor ponsel Maisya.
*
*
*
"Siapa, Yang?" tanya Zifran kepo. Pria itu mengintip sekilas.
"Papa. Dasar kang kepo," cibirnya.
"Iya, Pa." Maisya sudah dalam mode panggilan.
"Sesuai janji Papa, Papa akan mempertemukan Kalian untuk membahas perihal tadi malam. Bagaimana? Kamu bisa kan?"
"Memangnya dia ada di sini? Bukannya tadi malam Papa bilang dia lagi di luar negeri ya?"
"Ini baru aja Papa jemput di bandara. Udah dulu ya, soalnya Papa mau antar dia kembali kerumahnya. Papa tunggu nanti malam di restoran biasa. Oke?"
Setelah sambungan telepon terputus, Maisya meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Papa ngomong apa, Yang? Kok wajah kamu serius banget?"
Pria itu mengambil kaleng biskuit milik Zean dan memakannya begitu saja.
Saat ini mereka hanya berdua di ruang keluarga karena kedua orang tua Zifran pergi berbelanja keperluan Zean. Dan bocah kecil itu di tinggalkan karena sedang tertidur pulas di kamarnya.
__ADS_1
"Calon istri Papa udah tiba di sini. Jadi, Papa minta kita untuk datang ke restoran yang biasa aku dan Papa kunjungi. Gimana? Kakak nggak keberatan 'kan?" tanya wanita yang baru saja merebut camilan yang di makan Zifran.
"Ya ayo! Lagian kakak udah penasaran banget calon nenek si cebong. Seperti apa sih orangnya sampai bisa bikin kakeknya jadi kesem-sem kayak ABG labil gitu."
Plak!
"Udah dibilang jangan manggil cebong terus, tapi nggak pernah denger! Sekarang dia itu bayi, bukan kecebong lagi, Kak!" sentak Maisya yang membuat Zifran gelagapan.
Ternyata bukan hanya mood-nya saja yang sering berubah-ubah. Tapi mod bumil satu itu juga sama. Sama parahnya seperti singa betina. Begitu pikirnya.
*
*
*
Sinar mentari yang berwarna jingga ke Kuningan, kini telah berganti menjadi gelap hitam dengan cahaya bulan yang menerangi. Setelah pulang dari kediaman keluarga Samudera, kedua orang tua dengan segala sikap absurd mereka, telah berdandan dan saling merapikan pakaian mereka masing-masing.
Zifran mengenakan kemeja navy, yang di gulung sampai ke siku. Di padukan dengan celana bahan berwarna hitam Tak lupa pria itu mengenakan jam tangan bermerek dan parfum khas bayi yang tak pernah ketinggalan yang membuatnya semakin terlihat tampan saja.
Entah sejak kapan Papa labil itu mengganti parfum mahal kesayangannya dengan parfum bayi yang satu paket dengan bedak dan printilan lainnya.
Sementara itu, Maisya tak kalah cantik dengan mengenakan dress sabrina berwarna pink yang memamerkan bagian bahunya. "Sudah siap, kak?" tanya Maisya sambil merapikan rambutnya yang di Cepol.
"Kamu mau pergi dengan baju kayak gitu? Apa-apaan, kamu!" sungut Zifran.
"Nggak, nggak. Aku nggak mau liat kamu pake baju itu. Cepetan ganti. Atau kita nggak pergi sama sekaki nih," ucap Zifran dengan mode ancaman.
"Ya udah. Kalau gitu nanti malam kakak tidur di luar. Jangan sama aku dan juga baby."
"Ya udah ayo, ihhh!"
Zifran langsung menarik tangan Maisya sambil menghentakkan kakinya di lantai.
Begitulah sikap Zifran yang gampang berubah.
*
*
*
"Mereka jadi datang 'kan, Mas?" tanya wanita yang kini tampak gusar. Sesekali wanita itu melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Sabar. Mungkin mereka masih di jalan," sahut pria yang tengah menenangkan wanita tersebut.
"Kalau begitu aku ke toilet dulu ya? Udah nggak tahan, Soalnya." Wanita itu yang langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Sementara itu, mobil Zifran baru saja masuk area parkir.
"Ayo cepetan, kak. Ishh... lama banget sih jalannya. Padahal yang hamil itu aku loh!"
"Iya, iya. Dasar bumil bawel."
"Disir bimil biwil." Maisya menye-menye menirukan suaminya.
Sesampainya di dalam restauran, Zifran dan Maisya langsung menuju private room yang sudah di pesan Papa Bram. Pintu ruangan itupun terbuka. Maisya masuk terlebih dahulu kemudian disusul dengan suaminya.
Kemudian Zifran menarik kursi untuk istrinya. Maisya melirik kesana-kemari mencari seseorang yang menjadi tujuannya.
"Kemana calon istri Papa?" Maisya membuka percakapan mereka.
"Dia sedang ke toilet," jawab Papa Bram.
Sementara, Zifran kembali terdiam setelah waiters meletakkan pesanan yang sudah di pesan. Tak terlalu perduli dengan celotehan Maisya yang tampak antusias dengan rencana sang Papa. Setelah ngalor-ngidol bercerit panjang lebar seputar kehamilannya sampai ia merasa kehausan. Maisya mengambil gelas berisi jus, lalu menyedotnya kasar hingga perhatiannya teralihkan oleh pintu yang dibuka dari luar.
Byurrrr!!!
Maisya melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat sampai jus yang didalam mulutnya menyemprot wajah Zifran. Bersamaan dengan itu, Zifran yang terpaksa meneguk habis jus miliknya.
Ukhuk... ukhuk...
"Elo!!!" teriak keduanya kompak menunjuk ke arah wanita yang gugup melihat reaksi dari kedua calon anak tirinya. Ya... walaupun salah satu diantara mereka adalah menantu tiri baginya.
Suasana yang semula terasa begitu hangat, kini merubah mencekam. Apalagi dengan wajah Maisya yang tampak berubah, tidak seperti sebelum ia datang.
"Maaf," ucap wanita itu buru-buru kembali ke tempatnya semula.
"Kok Papa nggak bilang sih kalau kak Casandra yang bakal jadi Mama tiri aku? Seharusnya Papa itu kasih tau dari awal, nggak kayak gini!" dengus Maisya.
"Gila! Ini bener-bener gila. Kayaknya dunia begitu sempit untuk kita, Casa. Lo ngapain ngikutin gue mulu sih?!" Pria itu meraup kasar wajahnya yang biasa akibat semburan gunung dadakan.
Ia masih tak percaya jika takdir mempertemukan mereka dengan status yang berbeda. Walau tak dipungkiri jika Casandra yang sekarang begitu cantik dan anggun.
'Kayaknya gue harus extra waspada jagain suami omes gue. Nggak menutup kemungkinan kalau mereka bakal CLBK setelah ini,' batin Maisya menatap Zifran dan Casandra bergantian dengan tatapan membunuhnya.
Dengan susah payah Zifran menelan ludahnya yang tiba-tiba saja tersangkut di tenggorokannya. Ia pun membalas tatapan Maisya. 'Sumpah, kakak nggak bakal main gila di belakang kamu, sayang. Janji.'
Seolah tau apa yang dikatakan Maisya lewat tatapan mata itu.
"Ekhem! Bisa kita mulai sekaran" Suara pertanyaan dari Papa Bram memecah keheningan.
"Lalu bagaimana? Apa kalian setuju?" sambungnya lagi.
Sementara itu, Casandra harap-harap cemas dengan jawaban dari Maisya. Karena baginya semua keputusan ada di Dangan wanita yang pernah menjadi musuhnya dan sekaligus pernah berstatus sebagai calon adik iparnya itu.
__ADS_1
"Kalau aku sih... " Mata Maisya kembali menatap Casandra dengan tatapan penuh arti. Tak lupa pula senyum menyeringai di bibirnya.