Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Bertemu karena bertamu


__ADS_3

Zifran membanting tubuhnya di kasur king size sambil menelisik setiap sisi yang berada didalam kamar yang belakangan ini jarang ia tempati. pandangannya menelisik setiap sisi ruangan yang tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.


Sampai pandangannya menatap sosok wanita paruh baya yang berjalan begitu anggun menghampiri dirinya.


"Anak Mama capek banget ya sampai wajahnya di tekuk begitu," wanita yang masih tampak cantik dan awet muda duduk ditepian tempat tidur sang putra.


"Banget!" Zifran dengan posisinya memeluk pinggang Mamanya dan tidur di paha sang Mama sebagai bantalnya.


"Mau makan di bawah atau Mama bawa kesini makanannya?" tanya wanita itu sambil mengelus rambut sang putra yang masih bersikap manja kepadanya. "Oiya, kapan-kapan ajak Maisya maen ke rumah ya, soalnya Mama kangen banget sama dia, kamu mau kan?" timpalnya.


"Kalau besok aja gimana, mumpung besok aku nggak berangkat ke kantor."


****


Sedari tadi Maisya Tek henti-hentinya memandang boneka pemberian dari Zifran, bermonolog sendirian membuatnya seakan ada seperti orang yang tidak waras.


Ia memeluk boneka itu, menghirup aroma parfum yang biasa di pakai oleh pria itu merasakan bahwa ia ada bersama saat ini.


'Aaiiish, kayaknya otak gue udah nggak beres.' batinnya.


Maisya menatap boneka beruang yang berada dihadapannya dan mengajaknya berbicara, "kenapa lo selalu buat gue baper sih kak. Semua perlakuan lo ke gue bikin gue nyaman dan lo mampu nyiptain ilusi dalam diri gue, ngebuat gue ngerasa nyaman sama semuanya." Ia memeluknya kembali.


****


Kantin SMA Bunga Darma.


"Hai Yon!" sapa gadis dengan rambut kuncir kuda.


"Hai juga Sya!" balasnya.


"Mau gabung?" tawar Maisya.


"Sorry, lain kali aja ya, soalnya gue buru-buru."


Leon berjalan menjauhi meja tempat Maisya dan sahabatnya. Ia berjalan menuju stand makanan bersama teman-temannya.


"Gue perhatiin tuh anak kayaknya ngehindar terus deh dari gue, emang gue ada salah ya sama tuh bocah?" Maisya menatap kepergian Leon yang meninggalkan sejuta tanya tentang perubahan sikap pria itu kepadanya.


'Apa Lo jauhin gue gara-gara malem itu Yon?' tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Eh, Sya, ponsel lo bunyi tuh!" Alya menyenggol lengan Maisya. Menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Eh', iya-iya." Maisya segara mengambil ponselnya.


Melihat nama pemanggil ia buru-buru mengangkatnya.


****


"Dah! Gue duluan ya!" teriak Maisya dari atas kuda besinya yang sedang melaju pelan.


"Hati-hati awas meleng!" balas sahabatnya yang hendak masuk kedalam mobil.


Maisya melajukan motornya dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan sekolah menuju suatu tempat.


Suasana jalanan ibukota yang terlihat lengang membuat Maisya menambahkan kecepatan laju motor yang ia kendarai. Tak membutuhkan waktu lama untuk ia menaklukkan jalanan, hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk ia sampai di rumah mewah nan megah milik keluarga Samudera.


"Akhirnya kamu main juga kerumahnya Tante. Tante kira kamu nggak mau loh."


Baru saja memarkirkan motornya Maisya sudah di sambut dengan suara cempreng sang nyonya pemilik rumah. Maisya yang akan membuka helmnya seketika terhenti dan menatap wajah sumringah wanita paruh baya yang kini mengambil dirinya.


Maisya melepaskan helmnya, "Maaf ya Tan belakang ini Maisya sibuk. Sekali lagi maaf ya Tan."


"Kok sepi banget Tan, Om Arya sama kak Zi pada kemana?" Maisya memindai pandangannya menatap seisi ruangan.


"Om Arya lagi di kantor, mungkin sebentar lagi pulang. Kalau kak Zi yang kamu cari tuh" tunjuk Mama Sarah kearah lantai atas. "Palingan dia masih molor. Mending kamu bangunin gih!"


"Emang boleh?"


"Boleh dong! Kalau gitu Tante ke dapur dulu ya, mau masak buat makan siang kita. kamu pasti belum makan kan?" ucap Mama Sarah.


"udah kok Tan tadi di sekolah."


"Itukan di sekolah. Udah sana buruan naik keatas," serunya lagi.


Maisya pun bergegas menaiki undakan tangga menuju kamar Zifran yang berada di atas.


Ceklek.


Maisya membuka pintu kamar Zifran dan mendorongnya secara perlahan dan menutup pintu itu kembali dengan begitu pelan agar tak membangunkan sang pemiliknya.

__ADS_1


Dengan langkah mengendap-endap ia berjalan berjinjit mendekati ranjang yang di tempati oleh Zifran. Pandangannya tak terlepas menatap wajah damai dari seorang Zifran Alanta.


Grepp!


Bugh!


Seketika Zifran memeluk tubuh Maisya dan membantingnya ke tempat tidur tepat disisi pria itu. Maisya yang terkejut tak sengaja berteriak karena pergerakan Zifran yang tiba-tiba.


Namun semua itu tak berlangsung lama sebab Zifran dengan cepat dapat membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. Entah sejak kapan pria itu terbangun dari tidurnya.


Maisya memukul-mukul dada bidang Zifran saat ia mulai merasa kehabisan oksigen karena ulah pria yang Kini memeluknya. Zifran yang menyadari itu langsung melepaskan pagutannya.


"Apaan sih kak main nyosor aja kayak soang. Kira-kira dong, kan gue belum ada persiapan udah nyium aja."


"Abisnya kamu gemesin tau nggak. Ngapain kamu masuk kamar kakak kayak maling gitu," ucapnya sambil mencium puncak kepala Maisya dan memeluknya kembali.


"Takut kakak kebangun. Eh, tunggu dulu, bukannya tadi kakak lagi tidur ya? Kok tau gue masuk ke kamar lo sih kak!"


"Siapa bilang kakak tidur, orang kakak udah dari tadi bangunnya."


"Lah terus-" ucapannya terpotong oleh Zifran.


"Kakak cuma pura-pura aja. Awwsshh, sakit Sya!" pekik Zifran saat Maisya mencubit pinggangnya.


"Emang enak! wlekk."


Cup!


Zifran kembali menempelkan bibirnya ketika melihat Maisya menjulurkan lidahnya. Melu*mat bibir ranum itu seakan menjadi candu baginya. Manis itulah yang ia rasakan.


Melepaskan pagutan bukan berarti Zifran menyudahinya. Justru ia semakin memperdalam cumbu'an yang ia berikan kepada Maisya.


Ciumannya kini perlahan turun ke leher jenjang gadis yang kini sudah berada di bawah kungkunganyanya. Melu*mat dan mengecupnya hingga membuat tanda kepemilikan yang menghiasi kulit putihnya.


"Engh!" lenguhan dari bibir Maisya memenuhi ruang kamar yang terasa mulai memanas.


Tak tinggal diam tangan Zifran mulai membuka satu persatu kancing seragam yang dikenakan Maisya hingga terpampang jelas dua gundukan kenyal yang terbungkus oleh bra berwarna hitam.


Maisya menghentikan tangan Zifran yang hendak meraih sesuatu yang berada dihadapannya. Seakan mengerti isi pikiran gadis itu Zifran menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2