
Tap tap tap.
Terdengar suara derap langkah seseorang yang berjalan sambil menyeret tas ransel yang ia pegang.
Lelah, letih, itulah yang ia rasakan saat ini setelah seharian beraktivitas disekolah. Menjalankan kewajibannya sebagai seorang pelajar.
Terlihat seorang gadis dengan penampilan cukup berantakan memasuki rumah mewah yang menjadi tempat bernaung. Menjalani masa kecil dan remajanya di rumah tersebut. Sebuah rumah yang penuh dengan kenangan bersama kedua orang tuanya.
Ia berjalan jalan kearah tangga. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
"Eh, Non Sasa kenapa? Kok mukanya kusam amat kayak pakaian yang belum disetrika!" tanya seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumahnya.
"Efek capek Bi Na." Jawabnya singkat.
"Mau makan atau mandi dulu Non? Kalau mau makan biar Bibi siapin sekarang!"
"Nanti aja Bi, Sasa mau mandi dulu soalnya udah bau asem."
"Eh, tunggu dulu Non!" cegah Bi Nana ketika Maisya menaiki tangga.
Maisya menghentikan langkahnya. "Ada apa Bi?"
"Ini ada kiriman bunga buat Non!" Bi Nana memberikan buket bunga mawar kepada Maisya.
"Dari siapa Bi?" ia menerima buket bunga itu.
"Nggak tau Non, nggak ada nama pengirimnya."
"Ya udah makasih ya Bi!" Maisya menaiki tangga. "Siapa sih hari gini masih main rahasia-rahasia'an." imbuhnya lagi.
Brukk!
Gadis itu melemparkan tasnya ke sembarang arah.
Bugh!
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur Queen Size miliknya sembari memandangi bunga mawar digenggaman tangannya. Namun yang menjadi perhatiannya adalah warna dari bunga tersebut.
"Gue baru tau, selama gue hidup baru kali ini gue dikirimi bunga mawar hitam. Kok perasaan gue horor banget ya!" gumamnya membolak-balikan bunga itu.
Ia tak habis pikir kepada sang pengirim. Bisa-bisa orang itu memberikannya bunga mawar hitam. "Siapa ya kira-kira orangnya? Aneh tau nggak sih!" ucapnya penasaran.
****
Seorang pria yang mengenakan kaos berwarna putih yang ia padu-padankan dengan Boomber berwarna navy, serta celana jeans hitam sobek di bagian lututnya yang membuatnya terlihat seperti ABG labil di luaran sana.
__ADS_1
Sambil merapikan penampilannya, pria tersebut bersiul guna meluapkan kebahagian dihatinya. Mengikuti irama dari lagu yang sempat ia dengar beberapa waktu lalu.
"Ahh, betapa tampan nya diri ini!" ucapnya begitu narsis sembari berkaca.
"Tentu. Cetakan siapa dulu dong!" saut Mama Sarah yang baru saja masuk.
Wanita itu berjalan menghampiri putranya. "Mau kemana kamu Nak, Kok tumben udah rapi banget?" tanya Mama sarah yang menyadari penampilan sang putra.
"Mau ketemu calon mantu. Mau ikutan?"
"Kamu mau ngelamar dia? Kok nggak bilang sama Mama sih!"
Mendengar ucapan putranya barusan membuat Mama sarah terkejut dengan rencana putranya yang ingin melamar tetapi tidak memberitahu dirinya.
"Apaan sih Ma. Siapa yang mau melamar, orang aku cuma pengen ketemu dia. Nggak lebih."
"Serius kamu. Jangan bohongi Mama!"
"Serius. Zifran pergi dulu, doain anakmu ini selamat. Muach!" pria itu mengecup pipi Mamanya sekilas, lalu pergi meninggalkan sang Mama yang berdiri terpaku melihat tingkah putra semata wayangnya itu.
"Ck. Dasar. Kayak orang mau perang aja pake minta doa segala." Ia menggelengkan kepalanya lirih.
****
Dimeja makan, seorang gadis yang mengenakan piyama bermotif Donald bebek celana pendek di atas lutut tengah menikmati makan malamnya bersama sang papa yang baru saja pulang dari kantornya.
Di meja makan suasana terasa begitu hangat ketika mereka saling melemparkan canda tawa yang membuat suasana semakin hidup karenanya.
Hingga perkataan serius dari sang Papa menghentikan tawa Maisya.
"Selesai makan terus belajar, jangan main ponsel terus. Ingat, tidak lama lagi kamu akan memasuki ujian semester. Papa harap nilai kamu ada peningkatan setiap tahunnya. Jangan seperti tahun kemarin yang merosot jauh entah kemana!" ucap papa Bram disela-sela makannya.
"Ok Pa.! Pokoknya kalau semester ini nilai maisya bagus, apa papa janji bakal nurutin permintaan maisya?"
"Tentu Nak. Apa yang tidak buat putri kecil Papa."
Papa Bram tersenyum memandang putrinya yang kini beranjak dewasa. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga ia tak menyadari bahwa putri kecilnya kini telah menjadi sosok gadis yang cantik dan juga tangguh.
Tak selang berapa lama, setelah selesai makan Maisya berpamitan kepada sang Papa untuk naik keatas menuju kamarnya. Papa Bram menganggukkan kepalanya sebagai pertanda mengiyakan ucapan putrinya.
Ceklek!
Tap tap tap tap.
Maisya berjalan menuju meja belajarnya. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi dan mengambil buku cetak untuk memulai pembelajarannya.
__ADS_1
Sambil belajar, Maisya mendengarkan musik menggunakan **head**set untuk merileksasikan pikirannya agar tidak buntu.
Sementara di tempat lain.
Terlihat seorang pria dengan pakaian rapi tampak begitu lihai dalam aksi panjat memanjat. Apalagi jika soal memanjat tubuh lawannya. Tentu saja ia sangat ahli, karena itu adalah bidangnya. Entah apa yang sedang merasukinya hingga ia berbuat hal senekat itu.
Dengan wajah memerah menahan lelah, pria itu terus menaiki tangga satu persatu untuk kesekian kalinya.
"Aishhh. Gini amat perjuangan hidup gue. Ya Tuhan, sampai kapan gue kudu manjat nih balkon. Mana tinggi banget lagi!" gerutu pria itu.
Setelah mendapat pencerahan dari Suhu, sepulang dari kantor ia langsung bergegas untuk menemui sang pujaan hati dan ia tidak ingin menundanya.
Dengan segala usaha dan perjuangan. Susah payah ia menaiki tangga, tak butuh waktu lama akhirnya ia sampai juga di atas pembatas balkon.
Happ!
Ia meloncat dari tempatnya kelantai balkon. Ia mengambil buket bunga yang ia letakkan di balik punggungnya.
Pria itu berjalan kearah jendela. Kemudian mengetuknya perlahan.
Tok tok tok.
Tidak ada tanda-tanda seseorang membukakan jendela yang merangkap sebagai pintu, untuknya.
Sekali. Tidak di respon.
Tok tok tok.
Dua kali, sama saja.
Ketiga kalinya, ketika ia hendak menggedor pintu jendela, tanpa sengaja pria itu memegang handel pintu yang ternyata tidak di kunci.
Ternyata Dewi Fortuna kini berpihak kepadanya.
Dengan langkah pasti ia mendekati seseorang yang tengah duduk di depan meja belajarnya dengan sangat serius hingga tak menyadari kehadiran dirinya.
Slep!
Pria itu menutup mata seorang gadis yang membelakanginya.
Gadis itu memberontak meminta untuk di lepaskan. "Aduh siapa ini! Pa, ayo dong lepasin nggak lucu tau mainan kayak anak kecil. Ih, papa!" namun sayang, usaha untuk melepaskan ternyata sia-sia.
"Maisya hitungan ya. Kalau nggak di luar jangan salahkan Maisya kalau pinggang Papa encok."
Sementara orang yang di panggil Papa terdiam tanpa suara. Membiarkan gadisnya terus menganggap ia sebagai Papa.
__ADS_1
"Ok, kalau itu yang Papa mau! Satu... dua.. " Maisya mulai menghitung. "Ti--" ucap Maisya terhenti kala pria itu melepaskan tangan yang menutup matanya.
Ia berbalik badan menatap orang yang telah menutup matanya, "kak Zi!" kagetnya.