Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Rencana dadakan


__ADS_3

Setelah mengantar Maisya pulang kerumahnya, Zifran memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menemui Mamanya.


Selama dalam perjalanan, Zifran tak henti-hentinya memikirkan cara agar rencananya dengan Maisya berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.


"Ah, bodo amatlah yang penting dia udah mau itu aja udah sukur gue," ujarnya menatap fokus kearah jalanan yang terlihat sedikit padat.


Setibanya Zifran di rumah sakit, ia memarkirkan mobilnya, setelah itu ia berjalan memasuki bangunan lantai tiga itu.


Banyak pasang mata yang menatapnya kagum dan terpesona oleh penampilan Zifran yang bertubuh tinggi atletis, dengan dada yang bidang, hidung mancung dan tak ketinggalan bibir tipis nan menggoda itu berjalan sambil menyeka rambutnya yang sedikit berantakan.


"Malam pak?" sapa seorang suster yang berjaga di meja resepsionis.


"Malam," jawab Zifran singkat tanpa memberhentikan langkahnya.


Sesampainya ia di depan pintu ruangan Mamanya, Zifran langsung membuka pintu ruangan itu.


Ceklek!


Pintu itu terbuka dan menampilkan wajah tampannya yang terkena cahaya lampu sekitarnya sehingga membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.


Dari dalam ruangan, Papa Arya dan Mama sarah yang tengah mengobrol mengalihkan pandangan mereka kearah pintu yang baru saja terbuka dan menampilkan wayah tampan putra mereka.


Zifran melihat Mama dan Papanya tengah berbincang pun menghampiri mereka. Ia melangkahkan kakinya menuju ranjang rawat di mana ada Mama dan juga Papanya. "Bagaimana keadaan Mama?" tanya Zifran basa-basi.


"Sudah agak mendingan. Kamu sudah makan Nak?" tanya Mama sarah.


Zifran mengangguk, "Papa istirahat aja sana, pasti papa capek kan seharian jagain Mama? Sekarang biar Zifran yang jagain Mama," Zifran beralih menatap Papanya.


papa Arya tersenyum menatap putra sematawayangnya itu, "Sudah seharusnya Papa jagain Mama kamu, karena dia istri Papa dan itu semua sudah menjadi kewajiban Papa."


Mendengar penuturan dari Papanya yang begitu sayang fan setia kepada Mamanya, Zifran merasa sedikit tersindir mendengarnya.


Apa kabar dirinya yang selalu memandang rendah wanita dan selalu mempermainkan mereka.


Zifran menggelengkan kepalanya lirih, 'Ah, masa bodo' batinnya.


"Kapan Mama bisa pulang?"


"Besok Mama sudah bisa pulang."


Bukan Mama sarah yang menjawab melainkan Papa Arya. Zifran hanya ber'oh'ria setelah mengetahuinya.


****


Maisya yang baru saja membuka matanya melirik kearah nakas melihat jam yang bertengger di sana, betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa ia lupa memasang alarm pada jamnya sehingga ia jadi terlambat bangun dan hampir saja kesiangan.


Maisya bergegas turun dari tempat tidurnya langsung menuju kamar mandi, 'Ah, sialan gara-gara film tadi malem gue jadi telat kan? Besok-besok gue males nonton lo lagi!" omel Maisya di sela-sela kegiatannya.


Setelah Zifran mengantarkannya pulang, Maisya langsung merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya dengan sebuah laptop dihadapannya. Kemudian ia membuka satu file tempat ia menyimpan film yang akan ia tonton.


Setelah menemukan yang ia cari, Maisya langsung mengeklik judul film 'My Dear Guardian' dan menontonnya hingga larut malam.


Maisya keluar dari kamar mandi berlarian kecil menuju ruang ganti miliknya. Tak butuh waktu lama untuk Maisya mengenakan seragam sekolahnya yang berwarna coklat, gadis remaja itu bergegas berlari menyambar tas sekolah yang berada di Atas meja belajar nya.


Dengan langkah tergesa-gesa Maisya menuruni anak tangga tanpa berhati-hati, untung saja ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. kalau tidak, sudah pasti ia akan jatuh tergelincir ke bawah.


"Nggak sarapan dulu Non?" tanya Bik Nana yang sedang membereskan ruang keluarga, ia melihat Maisya yang sedang terburu-buru.

__ADS_1


"Nggak Bik, Maisya buru-buru takut telat entar." ucapnya sambil mengobrak-abrik isi tasnya.


"Aishh, kunci mobil gue malah ketinggalan lagi!" gumam Maisya lirih.


Tanpa Maisya sadari ada sepasang mata yang tengah menatap Maisya dari jarak jang tak terlalu jauh dengannya.


Seorang pria yang umurnya sekitar 40 tahun, berjalan mendekati putrinya.


"Ada yang bisa Papa bantu Sya?" tanya pria itu yang ternya adalah Papa Maisya yang bernama Bram, lebih tepatnya Brama Kumbara.


Maisya menoleh kesamping mendapati sang Papa berdiri tidak jauh darinya.


"Papa!" Maisya terkejut melihat Papanya yang masih berada di rumah.


"Kok Papa belum pergi ke kantor?" tanya Maisya bingung. Pasalnya setiap Maisya bangun tidur tak jarang sang Papa sudah berangkat ke kantornya.


Papa Bram tersenyum menatap putri semata wayang nya itu, "Mau bareng?" ajak Papa Bram kepada Maisya.


"Emang Papa nggak takut telat, ini udah siang lo?"


"Mana mungkin telat, tuh, kamu liat jam berapa sekarang?!" tunjuk Papa kearah jam yang terpatri di dinding.


Sontak mata Maisya membulat penuh menyadari jam masih menunjukkan pukul 06:47 wib.


'Kok bisa sih' batinnya heran.


"Tapi jam-" ucapan Maisya terpotong.


"Jam di kamar kamu Papa cepetin biar Papa bisa anter kamu ke sekolah, nggak papa kan?" sambung Papa Bram.


Maisya hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kearah sang Papa tercinta.


"Ya udah, yuk berangkat!" Papa Bram mengacak surai panjang milik Maisya, putrinya.


****


Maisya baru saja tiba di kelasnya, ia menatap ruangan itu masih terlihat sepi hanya ada beberapa teman sekelasnya yang sudah tiba sebelum ia datang.


Maisya meletakkan tasnya di dalam laci lalu mendudukkan tubuhnya di kursi seraya melipat tangannya di atas meja, sebagai tumpuan kepalanya. Perlahan Maisya memejamkan untuk melanjutkan kembali tidurnya karena ulah sang Papa.


Baru beberapa menit Maisya memejamkan matanya, terdengar suara nyaring meneriaki namanya.


"OMG MAISYA!!!" teriak Andin berada di samping sahabatnya itu


Maisya menutup telinganya rapat-rapat, "Berisik!" sentaknya.


"Kesambet setan apa lo pagi-pagi udah sampai sini, sehat kan lo?" cecar Alya duduk di samping Maisya dengan tangannya menyentuh dahi sahabatnya itu.


Maisya menepis tangan Alya kasar, kemudian menatap tajam kedua makhluk tak berakhlak itu, "Si*alan lo berdua, ganggu gue aja."


Terjadilah perdebatan kecil diantara ketiganya, mereka tak menghiraukan jika mereka menjadi pusat perhatian bagi teman sekelas mereka, hingga suara bel masuk terdengar membuat mereka berhenti seketika.


****


Di kantin sekolah.


"Sebenernya lo kemaren tuh ketemu sama siapa sih Sya, penasaran tau nggak?" tanya Andin.

__ADS_1


Saat ini mereka tengah menikmati jam kosong dan memanfaatkannya untuk mengisi perut mereka yang sudah demo sejak tadi.


"Kasih tau dong, atau jangan-jangan gebetan baru lo ya? Ngaku aja deh lo, ya kan?" sambung Alya yang menaik-turunkan kedua alisnya.


"Bukan! Enak aja lo." Tolak Maisya.


'Idihhh, amit-amit gue punya cowok kayak dia.' batin Maisya.


"Terus?" ucap kompak dua makhluk di hadapannya itu


"Lo masih inget sama orang yang gue tabrak mobilnya? Nah itu dia orangnya."


Alya dan Andin mendengarnya hanya ber'Oh' ria. Sementara Maisya, gadis itu menghela nafasnya panjang, ia sengaja tidak memberi tahu jika orang yang ia tabrak waktu itu adalah Zifran. Jika mereka tau tentu saja bisa heboh seluruh penghuni SMA Bunga Darma.


"Dia minta bantuan gue buat jadi pacar bo'ongan dia, gila nggak tuh orang!" sambungnya.


"What!!" mereka berdua terkejut.


Maisya hanya mengangguk membenarkan keterkejutan dua sahabatnya itu.


"Terus lo mau?!" tanya Andin antusias.


"Gue nggak mungkin nolak, dia udah baik banget sama gue. Waktu gue patah hati dia orang pertama yang nenangin gue, ya itung-itung sebagai rasa terimakasih gue ke dia."


Derttt Derttt Derttt.


"Bentar-bentar, ponsel gue bunyi!"


Maisya merogoh saku bajunya, melihat siapa yang mengganggu waktunya bersama sang sahabat. Ia menyerngitkan dahinya melihat siapa yang menelponnya.


"Kayaknya hidup gue nggak bakalan tenang," gumamnya. Ia lalu menggeser ikon berwarna hijau.


"Ada apa Om?" tanya Maisya kepada Zifran.


"Cil, pulang sekolah gue jemput lo, hari ini lo bakal ketemu sama nyokap gue," ucap Zifran dari sambungan telepon.


"Sekarang?!" jawab Maisya spontan.


"Apanya?" tanya Zifran bingung.


"Ketemu nyokab lo lah. Aishh! Bisa-bisanya gue dapet partner kayak lo, Om." Maisya tepuk jidat.


Sementara Alya dan Andin terkekeh geli melihat celotehan Maisya yang sedang merasa kesal.


"Ooooh ngomong dong, gue kirain apaan. Oiya, kalau udah pulang jangan lupa kabarin gue, cil!"


"Hem. Dah lah, gue lagi sibuk, bye!"


Maisya langsung mematikan panggilannya secara sepihak.


Sementara Zifran yang sedang berada di kantornya mengumpati Maisya dengan umpatan andalannya.


"Sia*lan emang nih bocah, main matiin gitu aja!" umpatnya kesal.


Pria itu merebahkan tubuhnya di kasur yang tersedia di kamar yang berada di dalam ruangan kerja miliknya. Ia kembali memikirkan bagaimana meyakinkan kedua orang tuanya.


Semoga saja rencana dadakannya ini tidak akan mengecewakannya sama seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


__ADS_2