
Di taman belakang kediaman keluarga Samudera kini Zifran dan Maisya tengah menikmati waktu bersama mereka meskipun hanya beberapa bulan.
"Kak Zi!" Panggil Maisya.
"Hem."
.
"Boleh gue nanya sesuatu?"
"Tentang?"
"Tentang Lo!"
"Kenapa sama gue?" tanya Zifran menautkan kedua alisnya.
Maisya memiringkan tubuhnya agar dapat menghadap kearah Zifran."Meskipun kita udah kenal kurang lebih sebulanan, gue nggak tau tentang kehidupan lo. Yang gue tau lo itu cuma Om-om mesum paling nyebelin yang perna gue temuin." terangnya panjang lebar.
"Hahaha, lo itu lucu tau nggak cil. Kenapa lo jadi penasaran sama hidup gue? Hidup gue normal-normal aja kok sama kayak yang lain!"
"Isshh... bukan itu kak!"
Plakk!
Maisya memukul lengan Zifran.
"Terus apa cil. Gila lo! Pedes banget pukulan lo." ucap Zifran seraya mengusap lengannya yang terkena jurus lima jari dari Maisya.
"Maksud gue tentang kisah percintaan lo!" terdengar kekesalan yang terucap dari bibir mungilnya.
"Gue nggak punya kisah percintaan yang bisa gue bagi sama Lo, karena gue nggak pernah ngerasain gimana rasanya jatuh cinta. Jadi percuma aja gue ceritain yang gue sendiri nggak tau rasanya. Aneh kan gue?"
"Terus, yang sering gue denger tentang lo itu semua bener?" tanya Maisya semakin penasaran.
"Yang mana?"
"Tentang lo sang penikmat surga dunia."
Zifran tertawa lepas setelah mendengar istilah yang di sematkan untuk dirinya.
Ia menganggukkan kepalanya, " Hem! Setelah lo tau, apa yang bakal lo lakuin? Lo mau nyobain?" Zifran tersenyum smirk.
"Nyobain apaan?"
"Nyobain punya gue!" celetuk Zifran dengan entengnya. Ia mendekatkan dirinya semakin dekat dengan Maisya.
__ADS_1
Maisya menggeser tubuhnya dari Zifran. "Jangan macem-macem lo kak! Maju sesenti gue tebas anakonda lo!" teriak Maisya.
Zifran mengambil ancang-ancang dan langsung melindungi si dedek miliknya dari Maisya. " Jangan gila Lo cil, ini aset berharga gue, tanpa ini gue nggak bisa kerja!" ucap Zifran refleks
"Bodo amat. Dasar om-om mesum."
"Jangan panggil gue om lagi dong cil, berasa tua banget gue," protes Zifran.
"Lah elo seenaknya manggil gue cal-cil, cal-cil," ucap Maisya membela diri.
"Itu panggilin sayang gue ke elo."
Blush!
Seketika pipinya merona dan tiba-tiba detak jantungnya berdegup tak normal setelah mendengar ucapan dari Zifran barusan. Ia memegangi kedua pipinya yang terasa memanas.
'Ah, sia*lan nih jantung. Untung gelap.' batinnya.
"Kenapa lo cil? Baperan?" tanya Zifran menyadari tingkah gadis itu.
Maisya menggeleng cepat untuk menutupi rasa malunya.
"Gue itu sayang sama Lo sebagai partner gue, cil. Nggak lebih." Zifran mengacak rambut panjang Maisya.
Dirasa cukup lama, Maisya mengambil ponselnya yang berada didalam tasnya untuk melihat jam berapakah saat ini, sebab udara mulai terasa dingin dan menyapa kulit.
"Nggak, lebaran monyet! Ya sekarang lah. Aneh tau nggak!"
"Yau udah yuk!" Zifran menarik tangan Maisya dan membawanya kedalam genggamannya.
****
Setelah kepergian Zifran, Maisya merebahkan tubuhnya di atas kasur Queen size kesayangannya tanpa mengganti pakaiannya dan juga membersihkan riasan wajahnya terlebih dahulu karena rasa lelah yang lebih dominan menguasai dirinya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Maisya segara menuju alam mimpi yang sejak tadi menantinya.
Di tempat lain.
Zifran baru saja memasuki apartemen miliknya dengan memegang ponsel di tangan kanannya. Terlihat seperti ia sedang menghubungi seseorang melalui sambungan teleponnya.
"Buruan Dateng ke apartemen gue, gue butuh lo!" titah Zifran terhadap seseorang diseberang sana.
Tut!
Zifran mematikan sambungan teleponnya setelah mendengar jawaban dari orang yang ia hubungi barusan.
__ADS_1
Setibanya orang itu di apartemen Zifran, seorang wanita dengan pakaian yang terbilang cukup minim hingga belahan dadanya terlihat.
Dengan kemudahan akses yang ia peroleh dari sang pemilik, wanita itu masuk tanpa adanya hambatan.
Disebuah kamar yang cukup luas kini Zifran telah berbaring di tempat tidurnya seraya memainkan benda pipih kesayangannya hingga suara derap langkah menghentikan aktivitas nya. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas tepat di samping tempat tidurnya ketika ia menyadari seseorang memasuki kamarnya.
Wanita itu berjalan mendekati Zifran, ia melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan dan hanya menyisakan penutup di bagian dadanya.
Diraihnya tubuh kekar itu agar ia bangkit dari tempatnya. Aroma maskulin yang selalu ia rindukan begitu menyapa Indra penciumannya.
Casandra. Wanita yang saat ini tengah bercumbu dengan Zifran sedang menikmati sensasi hangat yang mengalir dalam tubuhnya saat Zifran dengan rakusnya menyesap salah satu gundukan kenyal padat berisi miliknya.
Merasa sudah diubun-ubun Zifran segera melakukan penyatuan mereka. Suara desa*han kenikmatan kini lebih mendominasi ruangan tersebut akibat dari ulah keduanya.
"Ssshhhhh," Zifran mendesis kenikmatan dibawah sana ketika wanita itu mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuhnya.
Merasa tak kuat dengan permainan Casandra yang membuat miliknya semakin berkedut ingin memuntahkan laharnya, Zifran semakin memperdalam permainan mereka hingga tak lama kemudian ia mencapai puncak kenikmatan yang ia inginkan.
Casandra meraih tissue yang ada di nakas dan segera membersihkan sisa-sisa kenikmatan yang Zifran berikan kepada.
"Kamu puas?" tanya Casandra kepada Zifran.
"Tentu! Lo emang yang terbaik dalam hal ini." Zifran kembali memagut bibir tebal milik Casandra.
wanita itu tersenyum menatap Zifran. "Gue mandi dulu, abis ini gue mau balik ke apartemen.
"Kok cepet banget? Biasanya aja lo nginep disini!"
"Besok gue harus kembali ke Paris, di sana gue ada pemotretan dan lusa gue bakal balik lagi."
"Ooooh" ucap Zifran sambil manggut-manggut.
"Kalau lo kangen sama gue, lo bisa telepon gue," ucap Casandra.
"Tentu, Casa, karena lo ahli dalam hal ini." Zifran mengecup bibir Casandra singkat.
"Dah, ah gue mau mandi dulu."
Casandra berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan kan dirinya. Sementara Zifran, pria itu mengenakan kembali celana pendek yang ia ambil dari lemari nya. Ia berjalan kearah balkon apartemennya.
kemudian Zifran mendudukkan tubuhnya di kursi sambil menyesap sebatang rokok yang baru saja ia bakar.
Setelah menghabiskan dua batang rokok Zifran kembali masuk. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yng tadi bersamanya namun nihil, wanita itu tidak ada.
"Cepet banget ngilang nya tuh orang."
__ADS_1
Zifran yang merasa kelelahan setelah olahraga malam kini membaringkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya. Tak butuh waktu lama kini perlahan matanya mulai terpejam dan suara dengkuran halus terdengar yang menandakan kini dirinya sudah menuju ke alam mimpi yang damai.