
Senja telah menghilang berganti langit malam yang kelam tanpa sinar bulan yang hilang ditelan kegelapan. Sama seperti hati Zifran saat ini. Setelah senjanya pergi, hanya ada kehampaan yang terasa. Ternyata mengikhlaskan orang yang kita cintai berbahagia dengan orang lain itu susah-susah gampang. Susah untuk melepaskan, mudah untuk terlihat baik-baik saja.
Sambil memandangi kalung yang pernah ia berikan kepada Maisya, Zifran merenungi nasib cintanya yang harus berakhir dan benar-benar berakhir selamanya.
Karena terlalu fokus dalam lamunan, hingga Zifran tak menyadari kehadiran Mama Sarah yang baru datang, dan langsung duduk di samping Zifran, mengarahkan pandangannya menatap bintang di langit karena posisi mereka yang berada di balkon.
"Terkadang cinta itu membuat kita bahagia. Dan ada kalanya cinta juga bisa membuat kita terluka," ucap Mama Sarah. Zifran langsung menoleh dan tersenyum kecut mendengarnya.
Ia pun ikut menatap langit. "Mama benar. Cinta itu ibarat dua mata pisau yang berbeda. Terkadang membuat orang yang merasakannya bahagia dan terkadang akan menjadi luka bagi yang merasakannya. Tapi, kalau cinta itu nggak hadir, kita nggak pernah tau bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. "
"Sekarang tergantung kita, mana yang mau kita pakai. Yang tajam atau yang tumpul. Kalau mau memakai yang tajam, berarti kita siap untuk terluka karena suatu saat akan tergores olehnya. Dan apabila kita memilih yang tidak tajam, maka apa yang kita lakukan akan percuma, sia-sia tidak menemukan hasil."
"Dan akhirnya aku pun memilih pisau yang tajam." Zifran menghela nafasnya berat. " Aku tidak menyesali pertemuanku dengan Maisya. Bahkan aku nggak percaya kalau gadis SMA yang aku kenal memberiku rasa bahagia karena cintanya. Dan sekarang... akhirnya aku harus terluka waktu tau dia bakal nikah sama Leon karena kebodohan ku sendiri. Hem... itu nggak terlalu buruk. Tapi berkat dia juga aku jadi tau apa itu cinta, pengorbanan dan rasa saling percaya."
Mama Sarah menoleh ke arah Zifran. "Kamu mau tau cara agar lukamu lekas sembuh?"
Sebagai seorang Ibu, Mama Sarah paham betul apa yang dirasakan Zifran, terutama dalam masalah ini. Dalam kasus ini dirinya turut andil memberikan luka pada mereka berdua (Zifran dan Maisya) karena ketidakpercayaannya terhadap putranya sendiri. Dan rasa bersalah itu tetap ada sampai sekarang.
Zifran pun mengangguk.
"Satu-satunya cara supaya lukamu mengering, ikhlaskan Maisya bersama yang lain. Dengan cara itu, kau bisa memulai hidupmu yang baru sama seperti dirinya."
Zifran termenung mendengar penuturan Mamanya.
Sementara itu, malam ini Alya dan Andin menginap di rumah Maisya setelah kejadian tadi siang, keduanya sepakat untuk menghabiskan waktu mereka bersama si calon pengantin dikarenakan rencana mereka tadi gagal.
Maisya, Alya dan Andin, ketiganya duduk lesehan di lantai yang hanya beralaskan karpet berbulu. Terlihat ketiganya tertawa dengan candaan yang mereka lontarkan hingga tiba-tiba suasana berubah saat Andin mulai berbicara serius pada Maisya. Baik Alya, maupun mereka sama-sama menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya itu setelah pertemuan mereka dengan Zifran.
"Lo baik-baik aja 'kan, Sya?" tanya Andin yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya.
"Maksudnya?" jawab Maisya tampak bingung.
"Em... Lo yakin sama perasaan Lo yang sekarang? " tanya Andin sambil menatap mata Maisya.
"Maksud Lo apaan sih? Kalau ngomong yang jelas dong! Lo kira gue cenayang yang tau maksud lo, Din." Ia kembali mengikat rambut Alya yang sempat tertunda.
*
*
*
Hari ini adalah hari yang di nantikan oleh Leon dan Maisya. Di mana hari ini keduanya akan mengikat janji suci pernikahan di hadapan orang-orang yang hadir di hari bahagia mereka.
__ADS_1
Di dalam kamar hotel, Maisya duduk di depan cermin di mana saat ini dirinya tengah di rias oleh MUA. Dan kedua sahabatnya pun selalu berada di samping Maisya untuk menemani sekaligus meledeknya.
"Cieee... yang sebentar lagi bakal jadi istri orang. Deg-degan nggak tuh!" goda Alya yang sedari tadi terus meledek Maisya.
Tersipu malu, sebisa mungkin Maisya menutupi rona merah di wajahnya.
"Apaan sih lo, Al. Bikin gue nervous aja!" dengus Maisya.
"Ternyata Lo bisa nervous juga Mae? Gue pikir tampang Lo kayak gini nggak bisa nervous," ledek Andin yang dihadiahi kepalan tangan oleh Maisya membuat Andin langsung terdiam, dan Alya yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.
"Jangan cemberut gitu dong. Entar makeup Lo bakalan retak," ucap Alya di sela tertawanya.
Maisya semakin mengerucutkan bibirnya sambil mendengus kesal, memberikan tatapan tajam pada Alya.
"Dasar nggak berperipersahanatan. Sahabatnya lagi grogi, bukannya ditenangin ini malah di ledek. Setelah ini, gue harap Lo berdua cepetan nyusul, biar kalian ngerasain gimana jadi gue," gerutu Maisya. Bahkan MUA- yang tengah meng-staling rambutnya pun ikut tersenyum karena tingkah mereka.
Sementara itu di ballroom hotel, suasana tampak begitu ramai. Tamu-tamu undangan sudah berdatangan. Baik dari kalang pejabat, pengusaha, bahkan kalangan mahasiswa pun turut hadir untuk menyaksikan ikrar suci pernikahan antara Leon dan juga Maisya yang akan berlangsung beberapa saat lagi.
Di tengah-tengah para tamu undangan, tampak sosok pria tampan dengan tuxedo berwarna putih, berdiri membaur bersama beberapa teman dan sahabatnya sambil menunggu sang calon pengantin wanitanya.
Selain itu, tak jauh dari tempat Leon, Zifran berdiri menatap sendu pria itu. Ia hadir bukanlah menjadi mempelai pria, namun hanya menjadi tamu undangan di hari bahagia sang mantan kekasih.
Sungguh hari yang memilukan. Pikirnya.
Sambil menguatkan hati, Zifran hadir dengan untuk mengikhlaskan cintanya yang akan bersanding dengan pria pilihan hatinya. Suara tepukan tangan dari para tamu menyadarkan Zifran dari lamunan sesaat karena kehadiran seseorang yang begitu mereka nantikan kehadirannya.
Maisya berjalan anggun didampingi kedua sahabatnya yang berada di sisi kanan dan kiri, membuat pandangan tertuju pada mereka.
Alya menatap Maisya dengan tatapan penuh arti.
'Gue harap keputusan yang Lo ambil tepat, Sya. Gue tau berada di posisi Lo itu sulit. Tapi apapun keputusan yang Lo ambil, gue sama Andin bakal selalu ada untuk lo.' Alya terus berjalan tanpa melepaskan pegangannya. Dan sesekali ia pun tersenyum melirik Maisya yang tampak bahagia di hari bahagianya.
Leon yang melihat sang pujaan hatinya tampil begitu anggun dengan balutan gaun pengantin terus berjalan menghampirinya membuat jantung Leon berdebar lebih cepat dari biasanya. Apalagi tatapan dan senyum manis Maisya berhasil membuatnya salah tingkah.
'Melihat kamu cantik begini meleleh hati Abang dek!' pekik Leon kegirangan di dalam hatinya.
Berjalan menghampiri Maisya. Baru beberapa langkah, tiba-tiba langkah Leon terhenti saat Maisya menghentikan langkahnya. Leon memicingkan mata saat Zifran tiba-tiba berdiri di samping Maisya.
Di saat bersamaan, Papa Bram langsung menarik tangan Zifran untuk menjauh dari putrinya setelah ia tahu bahwa Zifran telah kembali mengingat masa lalu mereka.
Dengan tatapan tajam membunuh, Papa Bram memperingatkan Zifran untuk menjauh dari Maisya. Namun belum sempat melakukan keinginannya, Maisya pun mencegahnya.
"Mau apa kau ke sini, huh! Kau ingin mengacaukan hari pernikahan putriku? Sebaiknya kau enyah dari sini sebelum aku menghajar mu!" usir papa Bram. Zifran enggan menanggapi ucapan pria tersebut.
__ADS_1
"Papa, plisss. Sekali ini aja," sahut Maisya dengan tatapan memohon.
Kemudian kembali menatap Zifran dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kak Zi ada di sini?" tanya Maisya. Pasalnya Zifran datang tanpa undangan. Sementara Papa Bram, pria itu akhirnya menuruti keinginan putrinya.
"Kakak sengaja datang buat kamu Sya. Di hari bahagia kamu, Kakak pengen liat kalau kamu benar-benar bahagia sama orang yang bener bisa jagain kamu."
"Boleh kakak anterin kamu ketempat Leon?" tanya Zifran yang menunggu jawaban dari Maisya.
Maisya pun mengangguk menyetujui permintaan Zifran. "Terimakasih," ucap Zifran.
Zifran menyodorkan lengannya untuk Maisya pegang. Seperti gayung bersambut, wanita itu tanpa ragu memeluk lengan Zifran seraya mengusap air mata di sudut matanya.
Bahkan suara tepuk tangan yang sempat terhenti kini kembali menggema. Banyak dari tamu undangan yang memuji ketangguhan hati Zifran dalam menghadapi semua. Dan kisah cinta mereka bukan lagi rahasia umum yang harus disembunyikan dari khalayak ramai.
Sesampainya di hadapannya Leon, Zifran menyerahkan Maisya dengan hati yang teramat pilu. Tangannya terasa berat sekedar untuk bergerak.
Zifran menggenggam tangan Maisya, membawanya kepada Leon.
"Sekarang aku ikhlas kalau kisah cinta kita berakhir sampai di sini. Aku harap, setelah ini kamu benar-benar menemukan cintamu, Sya. Maaf aku yang pernah menyakiti hatimu," ucap Zifran pada Maisya.
"Dan lo," kini beralih pada Leon. "Gue serahkan orang yang paling gue cintai untuk bahagia sama Lo karena gue yakin Lo punya cinta yang tulus untuk Maisya. Dan satu permintaan gue, jangan Lo sakiti orang yang paling gue sayang. Karena gue nggak bakal sanggup liat dia terluka lagi. Dan satu lagi... gue ikhlas ngelepasin Maisya buat Lo, apapun yang bikin dia bahagia, gue bakal lakuin." Zifran menarik nafas sejenak. "Selamat, gue ucapin buat kalian berdua. Semoga kalian bahagia," lanjutnya sebelum pergi.
Leon hanya diam tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Hanya bisa menyaksikan drama yang terjadi di antara mereka bertiga.
Tanpa ragu, Maisya langsung menangis mendengar penuturan Zifran. Dan tanpa sadar Maisya langsung memeluk Zifran sambil berkata, "terimakasih untuk semua, kak. Dan terimakasih karena kakak udah ikhlaskan aku sama Leon."
"Udah ah nggak usah sedih gitu. 'Kan nggak lucu masa pengantin nangis di hari bahagianya. Senyum dong," bujuk Zifran yang tersenyum menyembunyikan luka di hatinya.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu juga turut merasakan apa yang Zifran rasakan. Bahkan, Arlan pun turut meneteskan air mata melihat kisah cinta dari sahabatnya itu.
"Gue bangga punya sahabat kaya Lo, Fran. Walaupun Lo begi, bin cabull, tapi Lo punya hati yang tulus dan cinta yang setia," gumam Arlan lirih.
Setelah dirasa cukup, Zifran segera melepaskan pelukannya, sekaligus menghapus air mata Maisya. Setelah itu berjalan menjauhi mereka berdua. Berusaha tegar membawa rasa cinta yang tak mungkin bisa kembali.
"Tunggu!" teriak Leon menghentikan langkah Zifran yang menjauh.
Berhenti, kemudian berbalik.
"Gue ada satu permintaan. Apa Lo mau nuruti permintaan gue?" tanya Leon.
Zifran terlihat bingung, namun kembali mengangguk. "Apapun. Apapun akan gue lakuin asal Maisya bahagia. Asal jangan Lo suruh gue bunuh diri aja karena gue masih pengen hidup dan nikmatin hidup gue," jawab Zifran.
Leon dan yang ada di sana melotot dengan ucapan Zifran barusan.
__ADS_1
"Cepetan, apa permintaan Lo? Lo pikir gue nggak capek berdiri di sini udah kayak Om jin yang nunggu tuannya ngajuin permintaan!" dengus Zifran kesal. Dan itu mengundang kekehan orang sekitar.
"Gue mau..." ucap Leon menggantung.