Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Berdua Bersama (mu)


__ADS_3

Suara debur ombak dilautan yang saling bersahutan membuat suasana begitu menenangkan bagi siapa saja yang berada didekatnya. Begitupun yang saat ini sedang dirasakan oleh Maisya dan Zifran.


Setelah kepergian mereka dari pesta, Zifran membawa Maisya menikmati indahnya pantai Ancol di malam hari.


Dibawah indahnya langit malam, kini keduanya duduk bersebelahan beralaskan pasir pantai yang dingin sambil menyandarkan tubuh mereka dengan kedua tangan di belakang sebagai tumpuannya. Pandangan mereka menatap hamparan bintang yang bertaburan di langit di atas luasnya lautan yang membentang hingga tak berbatas.


Maisya menoleh Zifran sekilas. "Kak Zi, makasih ya udah bawa gue ketempat ini lagi, gue seneng banget tau nggak, kak! Dan makasih juga karena kakak udah mau bantuin aku tadi," ucap Maisya. Zifran mengalihkan pandangannya kearah gadis yang berada disampingnya.


"Sama-sama Sya." Zifran tersenyum tulus kepada Maisya. "Oiya Sya, kakak punya sesuatu buat kamu," Zifran merogoh sesuatu didalam saku jas yang ia kenakan.


Ia membuka benda itu dan memperlihatkannya kepada Maisya. "Apa kamu menyukainya Sya?"


Gadis itu melihat sebuah kotak berukuran kecil dan betapa terkejutnya ia saat melihat isi dari kotak perhiasan itu.


Maisya membelalakkan matanya tak percaya setelah mengetahui apa yang dihadapannya saat ini. Sebuah kalung dengan liontin berinisial 'M' bertahtakan berlian yang membentuk huruf tersebut.


"Kak, lo nggak salah ngasih ini ke gue?" ucapnya masih tidak percaya.


Zifran menggeleng, "Kenapa? Kamu nggak suka ya sama kalungnya."


"Bukan gitu. Tapi buat apa kakak ngasih kalung mahal ini ke gue, ini terlalu berlebihan kak!" Dalam hatinya ia bertanya-tanya untuk apa pria itu memberikan kalung sebagus dan semahal itu untuk dirinya.


"Pertama kali kakak liat kalung itu kakak langsung inget nama kamu, makanya kakak beliin buat kamu. Kakak harap kamu suka sama kalungnya, ya..... itung-itung sebagai hadiah buat kamu karena udah mau bantuin kakak. Kamu terima ya?" Zifran memberikan kotak itu kepada Maisya.


Maisya menerima pemberian Zifran walaupun ada sedikit keraguan dihatinya. "Mau kakak pakaikan?" tanya Zifran menawarkan diri.


Zifran mengambil kalung itu dari tempatnya. "Balik badan!" perintahnya. Maisya pun membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


Pria itu menyibakkan rambut panjang Maisya yang tergerai bebas menampilkan leher jenjang nan putih mulus miliknya. Lalu ia membuka pengait kalung itu dan memasangnya di leher Maisya.


"Cantik!" Satu kata yang keluar dari bibirnya setelah berbalik menghadapnya. Ia melihat kalung itu kini menghiasi leher Maisya.


Maisya menundukkan kepalanya mendengar sekilas ucapan yang terlontar dari mulut pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Makasih ya kak!" ucap Maisya melihat kalung yang kini mengikat dilehernya.


Sementara di sisi lain. Seorang pria paruh baya sedang mondar-mandir dikediamannya tengah mengumpat kasar seorang pria yang berani-beraninya membawa putrinya pergi dari pesta itu. Terlebih lagi rasa khawatir yang ia rasakan setah berusaha untuk menghubungi nomor putra namun yang menjawab panggilannya bukanlah sang putri, melainkan suara operator yang menjawabnya.


***


Suasana malam itu terlihat begitu ramai oleh pasangan muda-mudi yang menikmati waktu mereka bersama dengan orang terkasihnya.


Begitupun dengan Zifran dan Maisya, meski tak ada ikatan dalam hubungan mereka, namun kedekatan yang mereka jalin membuat keduanya begitu nyaman dengan status kepura-puraan mereka.


Zifran menarik Maisya dalam dekapannya. wangi aroma rambut Maisya begitu ia sukai hingga tak henti-hentinya ia menghirup rambut panjang Maisya yang berterbangan kesana-kemari diwajahnya.


Berbeda dengan Maisya, gadis cantik bermata sipit itu menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Zifran dengan menekuk kedua lututnya.


" kak, lo nggak ngasih kabar sama kak Arlan? Gue yakin pasti dia lagi nyariin elo kak!"


"Biarin aja. sekali-kali kakak ngerjain dia nggak papa kan?" balas Zifran.


'Itung-itung ngasih pelajaran buat orang yang tadi pagi iseng sama gue!' batin Zifran yang mengingat perlakuan sekretaris sekaligus sahabatnya itu.


Dan benar saja sudah sejam Arlan menunggu boss nya yang tak tahu dimana rimbanya. Apakah ia sedang mencari rimba yang lain? Itulah pemikiran Arlan saat ini.

__ADS_1


"Issshh, jahat banget sih kak Zifran!"


Maisya hendak memukul dada Zifran namun sayangnya tangan pria itu terlebih dahulu mencekal tangganya di udara. Tentu saja itu membuat Maisya bangun dari posisinya.


"Jangan pukul-pukul Sya, sakit! Kalau kayak gini kakak mau!"


Entah setan apa yang sedang merasuki Zifran hingga ia meraih tengkuk Maisya dan melu*mat bibir gadis itu dengan lembut.


Deg deg deg.


Seketika detak jantung Maisya berdetak cepat saat Zifran mendaratkan bibirnya di bibir Maisya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul dalam benaknya yang membuatnya terhanyut dalam luma*tan yang Zifran berikan.


Perlahan Maisya memejamkan matanya membalas setiap luma*tan dan menikmati setiap sentuhan yang ia rasakan.


Zifran yang mendapatkan balasan dari Maisya semakin memperdalam aksinya. Dari luma*tan bibir turun menyusuri leher jenjang Maisya. Melu*matnya dengan begitu lembut hingga meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya di sana.


"Mmmpphh" suara lenguhan dari bibir Maisya.


Zifran melepaskan cumbu'an nya dari leher Maisya. "Suka?" tanya dalam mode bertanduk. Tanpa sadar Maisya mengangguk mengiyakan ucapan Zifran.


Dibawah langit malam yang bersinar temaram Zifran dan Maisya melanjutkan kembali kegiatan mereka. Deru nafas Zifran begitu terasa menyapu seluruh wajah Maisya. Gadis itu semakin terbuai dalam permainan yang di mainkan oleh Zifran.


Tak hanya sampai di situ saja, kini permainan Zifran semakin menggila. Dengan rakusnya ia meraup bibir tipis wanita yang kini ada dihadapannya. Maisya berusaha mengimbangi permainan dari Zifran. Meskipun ia tidak begitu mahir setidaknya ia pernah melakukannya.


Saat mereka larut dalam permainan mereka tiba-tiba...


Drettt drettt drettt.

__ADS_1


__ADS_2