
Di kelas XII IPA-2.
Suasana di ruangan itu terasa begi sepi senyap, tak ada satupun suara yang terdengar seperti jam pelajaran sebelumnya.
Begitulah jika mereka sudah berhadapan dengan guru killer mereka yang tegas dan tidak main-main dalam memberikan hukuman kepada murid-muridnya. Siapa lagi jika bukan Pak Joe.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Pak Joe mengetuk meja menggunakan pulpen yang ia pegang.
"Lima menit lagi waktunya istirahat!" ucap guru itu ketika melihat jam yang berada di pergelangan tangan.
Sontak saja ucapan pak Joe membuat seluruh anak IPA-2 riuh seketika. Ruangan yang semulanya senyap kini berubah seperti suasana pasar.
Banyak dari mereka saling memberi dan meminta contekan satu sama lainnya. Seperti yang dilakukan oleh Andin kepada kedua sahabatnya.
"Sya, bagi contekannya dong, gue tiga lagi belum siap nih!" ucap Andin panik.
"Gila Lo! Dari lima soal cuma dua yang Lo kerjain?" ejek Zaki yang lewat disampingnya.
"Diem lo!" bentak Andin kepada Zaki.
"Sya, cepetan!" timpalnya.
"Diem lo, pusing gue anjir!" sentak Maisya. Dengan gerakan cepat tanpa berpikir Maisya terus menulis mengisi setiap soal yang ada di bukunya.
"Al, bantuin gue," kini Andin beralih ke Alya.
"Kerjain aja apa yang lo bisa jangan ganggu gue."
Tak lama kemudian terdengar suara bel berkumandang. "Kumpulkan buku kalian semua, sekarang!" suara pak Joe mengintruksikan mereka.
"Yah... pak dikit lagi," ucap Maisya dari tempatnya.
"Saya tidak mau tau!"
"Tapi pak-"
"Sekarang atau tidak sama sekali."
Dengan berat hati Maisya dan teman-temannya mau tidak mau harus mengumpulkan tugas mereka yang sebagian besar tentu belum siap semua.
Suasana riuh kini semakin riuh tak terkendali disaat pengumpulan tugas. "Mohon perhatian!!" ucap pak Joe begitu lantang.
"Bagi yang belum mengumpulkan tugasnya setelah ini saya tidak akan menerimanya, Mengerti!Jika sudah semuanya, saya permisi. Sya, tolong bawakan buku ini keruangan saya!" perintahnya.
"Baik pak."
Pak Joe berjalan meninggalkan ruangan itu di ikuti oleh Maisya yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan tugasnya Maisya berpamitan dengan gurunya. Ia berjalan meninggalkan tempat itu.
Namun baru beberapa langkah tali sepatunya terlepas dari ikatan membuat Maisya harus membenarkannya terlebih dahulu.
Gadis itu berjongkok untuk mengikat tali sepatunya. "Selesai!" Maisya bangun hendak melangkah.
Namun tiba-tiba...
Bugh!!
Tanpa sengaja ia menabrak dada bidang seorang pria yang mana membuat dahinya terasa panas. Maisya mendongakkan wajahnya menatap wajah seseorang yang ia tabrak barusan.
"Kak Zi," ucapnya lirih. Pria yang ia sebutkan namanya hanya tersenyum simpul sambil mengusap dahinya dengan lembut.
Yang mana perlakuan Zifran barusan mengundang perhatian para penghuni SMA Bunga Darma, terlebih lagi kamu wanita dan semua itu tidak terlepas dari pandangan seorang pemuda yang berdiri jauh dari mereka. Namun tidak dengan Arlan.
"Maaf, kakak buru-buru!" ucap Zifran mengacak rambut Maisya lalu pergi meninggalkannya.
Maisya menatap kepergian Zifran dengan banyak pertanyaan yang menghinggapi dirinya tentang pria yang sejak kemarin tidak memberi kabar kepadanya. Iapun kembali melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di kelas, Maisya mendudukkan tubuhnya di kursi. Kepala ia telungkupkan di atas meja dengan tangan sebagai alasnya.
Tentu saja itu mengundang tanya kedua sahabatnya. "Kenapa?" tanya Alya lirih kepada Andin.
"Hem!" balas Andin mengangkat kedua bahunya tak tau.
"Mungkin belum dapat kabar dari pak Zifran," imbuhnya berbisik. Alya yang mendengarnya manggut-manggut ber'oh'ria.
"Sya, lo kenapa, sakit?" tanya Andin memastikan.
"Ke kantin yuk, gue laper banget nih!"
"Kalian aja gue nunggu disini."
"Mau nitip apa?" tanya Alya.
"Terserah lo aja yang penting lo yang bayar."
"Oh, oke!"
***
"Kak, ngapain lo bawa gue kesini. Gue lagi masuk jam pelajaran kak. Dan lo apa-apaan si pake nyulik gue segala, untung nggak gue bogem lo!" Maisya tak habis pikir, bisa-bisanya pria itu berbuat demikian.
Ya, setelah pelajaran di mulai, Maisya meminta izin untuk pergi ke toilet. Namun dipertengahan jalan tanpa diduga seseorang membekap mulutnya dan membawanya menuju kearah rooftop sekolah.
Dan disinilah mereka saat ini. Di atas rooftop yang sepi Zifran menyandarkan tubuh maisya ke dinding agar berhadapan dengan dirinya.
Dibelainya wajah cantik wanita yang kini berada dalam kungkungannya. "Kakak kangen sama kamu Sya dan maaf, bisik Zifran di telinga Maisya.
"Maaf untuk apa?"
"Maaf, karena kemarin gak ada kabar."
__ADS_1
"Kemarin kakak kemana aja! Di telepon nggak diangkat, di chat nggak di bales. Mau kakak apa sih?" Maisya menepis kedua tangan Zifran karena merasa kesal dengan pria yang ada dihadapannya.
Namun dengan sigap Zifran meraih kembali tangan gadisnya. "Kakak minta maaf, kemarin kakak sibuk." Zifran meletakkan kedua tangan Maisya ke dinding.
"Apa sesibuk itu kakak sampai nggak sempet angkat telepon gue? Gue kangen sama lo kak," ucap Maisya lirih. Namun pandangannya tak terlepas dari Zifran. Entah mengapa, beberapa hari tidak bertemu dengan pria itu membuat hatinya serasa sepi bagai tak berpenghuni.
Zifran menatap mata Maisya begitu lekat, "Kakak juga kangen sama kamu," kini pandangannya beralih menatap kearah bibir Maisya yang tampak merah alami namun begitu menggoda baginya.
Perlahan Zifran mendekatkan wajahnya ke arah Maisya, "kak," Panggil gadis itu.
Seketika Zifran mengentikan aksinya dan menatap gadis dihadapannya, Kenapa? Hem!"
"Ini di sekolah, entar kalau ada yang liat gimana?"
"Nggak akan ada yang liat ini kan roof top, jadi nggak ada yang kemari."
Zifran membungkukkam tubuhnya. Ia kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Maisya hingga tak berjarak.
Deru nafas Maisya begitu terasa menyapu seluruh wajahnya membuat hasrat dalam dirinya semakin mencuat.
Maisya memejamkan mata saat benda basah dan kenyal melu*mat lembut bibirnya. Tak hanya diam, perlahan dirinya membalas setiap sapuan yang di berikan oleh Zifran.
Hingga tiba-tiba Maisya memukul dada pria itu dan melepaskan pagutannya mereka saat ia merasakan pasokan oksigen mulai menipis.
"Kak Zi mau bunuh gue ya?" ucapnya kesal.
"Ya nggak lah. Kamu aja kalau lagi begituan itu nafas," balas Zifran.
Zifran menarik tengkuk Maisya dan memeluk erat tubuh gadis yang menjadi candunya. Tanpa basa-basi ia langsung melu*mat bibir Maisya penuh nafsu. Memainkan lidahnya didalam, menyapu setiap deretan gigi putih yang tertata apik milik gadisnya.
Tak sampai disitu, Zifran menggerakkan kedua tangannya menelusup kedalam baju seragam yang Maisya kenakan menelusuri mencari sesuatu yang sejak tadi menjadi fokusnya.
...******...
...Hai semua sahabat readers TERJRBAK CINTA SANG CASANOVA. Author ucapkan selamat Tahun Baru untuk kita semua....
...Sebelum menjelang pergantian tahun, apa aja yang mau kalian sampaikan buat mereka di tahun ini....
...Zifran...
...Maisya...
...Arlan...
...Leon...
...Casandra...
...Alya...
...Andin...
...Jangan lupa, komentar kalian Author tunggu!...
__ADS_1
...Lope-lope deh buat kalian semua 🥰🥰...
...Happy New Year...