
Di kamar sebuah apartemen mewah terdengar Suara des*ahan dan erangan dari sepasang manusia yang tengah larut dalam hasrat dan gairah mereka ketika melakukan suatu hubungan yang terlarang, siapa lagi jika bukan Zifran bersama wanitanya.
"Terus, yang agresif dong. Gue bayar lo kan mahal." Suara berat Zifran yang menahan hasratnya. Disaat seperti ini miliknya semakin meminta lebih untuk menuntaskan hasrat yang tak tertahankan.
Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin sesuai dengan arahan dari Zifran hingga membuat keduanya merasakan kenikmatan yang sulit diungkapkan.
Kini Zifran berada di atas tubuh wanita itu dan memimpin permainan mereka, dengan ritme permainan yang semakin cepat Zifran berusaha untuk mencapai puncaknya.
"Aahkh" Zifran menumpahkan benih miliknya di atas pa**dara wanita itu ketika sudah mencapai puncaknya.
Zifran langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bersama wanita yang ia sewa.
****
Keesokan paginya...
Pergulatan panas kembali terjadi di dalam apartemen Zifran. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya, hingga suara panggilan telepon menghentikan kegiatan mereka berdua.
Dengan deru nafas yang masih memburu Zifran menjawab panggilan teleponnya,
"Ada apa?" tanya Zifran.
"Lagi dimana lo? kok ngos-ngosan gitu?" tanya balik seseorang dari sebrang sana.
"Apartemen," jawab Zifran singkat.
"Jangan bilang lo sekarang lagi enak-enak. Wah, parah nih anak udah jam berapa nih woy! Masih aja celap-celup."
"Nggak usah banyak ba*ot! Ngapain Lo pagi-pagi udah gangguin gue?"
"Lo nggak lupa kan, sama meeting hari ini?" ucap seseorang dari sambungan telepon.
"Tapi meeting nya kan dimulai jam sembilan."
"Meeting di majuin, Lo nggak baca pesan yang gue kirim? Jam delapan meeting di mulai," ucap orang itu.
Zifran langsung melirik kearah nakasnya. "Shi***!" umpatnya saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07:13 wib. "Ya udah gue ke sana sekarang!" timpalnya lagi.
Tutt.
Suara sambungan terputus, dan pelakunya adalah Zifran.
Zifran langsung berlari ke arah kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupi bagian tubuhnya. Sementara itu, seorang wanita yang berada di kamar zifran sedang mengomel tidak jelas saat Zifran meninggalkannya begitu saja.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Zifran berjalan cepat menuju ruang gantinya.
"Bayaran lo udah gue transfer, sekarang lo boleh pergi!" ucap Zifran yang baru keluar dengan setelan jas rapih.
"Aku ikut sama kamu ya, pliss," ucap wanita itu menggoda dengan mengelus lembut dada bidang Zifran yang terlapisi oleh baju.
__ADS_1
"Tapi lo jangan macem-macem Ra, gue mau ke kantor." ucap Zifran kepada wanita bernama Rara. Ia takut jika Rara menggodanya seperti yang sudah-sudah dan berujung dengan keterlambatannya.
"Oke." balas Rara.
****
Jalanan ibukota pagi ini tidak terlalu padat seperti hari-hari biasanya, sehingga Zifran leluasa mengendarai mobilnya sedikit lebih kencang agar ia tidak telat untuk sampai ke kantor.
Ciiiittttt...
Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar begitu nyaring bagi siapa saja yang mendengarnya.
Zifran yang terlalu fokus pada jalanan tidak memperhatikan jika lampu lalulintas sudah berganti warna menjadi merah, dengan gerakan cepat Zifran mengerem mobilnya secara tiba-tiba untuk menghindari tabrakan dengan mobil yang ada di hadapannya.
"Sia*lan," umpat Zifran sambil memukul setir mobilnya.
"Dahi lo berdarah!" ucap Rara panik.
"Aauwsh...!"desis Zifran.
"Sakit ya?" ucap Rara sambil membersihkan luka Zifran.
"Lum-ma..." ucapan Zifran terhenti.
Tok tok tok!
Suara ketukan kaca pintu mobil di ketuk oleh seseorang, "Ada apa?" tanya Zifran yang baru menurunkan kaca jendela mobilnya.
Zifran yang mendapat teguran seperti itu masih mencerna kata 'Mesum' yang baru saja di tujukan kepadanya.
'Emang gue ngelakuin apa?' batin Zifran.
"Siapa yang lo bilang mesum?"
"Ya Om, siapa lagi?"
"Kamu--" Zifran menghentikan ucapannya.
"Buruan jalan Om, tuh lampunya udah hijau!" tunjuk wanita itu kearah lampu lalulintas yang ada di seberang jalan. "Hati-hati awas keciduk lagi Om," timpalnya lagi.
Sementara Zifran yang mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan wanita itu merasa kesal dan hendak turun dari mobil miliknya. Namun Zifran kalah cepat karena wanita itu sudah melajukan motornya di jalan raya.
"Turun!" perintah Zifran kepada Rara.
"Tapi--."
"Gue bilang turun SEKARANG!" bentak Zifran.
Mau tidak mau akhirnya Rara turun dari mobil Zifran sambil menghentak-hentakan kakinya dengan rasa kesal. Segala umpatan kasar ia tujukan untuk Zifran yang sudah berani menurunkannya di jalan.
__ADS_1
Demi cepat sampai di kantornya, Zifran mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat pengguna jalan lainnya mengumpat kasar kepada Zifran yang seenaknya saja melajukan mobilnya di jalan raya.
***
Di sisi lain.
Seorang gadis dengan seragam SMA'nya baru saja memarkirkan motor sport nya di parkiran sekolah khusus untuk para siswa dan siswi SMA Bunga Darma.
Gadis itu turun dari motornya setelah melepaskan helm yang ia gunakan dan kemudian di letakkan di atas jok motor miliknya.
"Maisya, tunggu!" teriak seseorang dari arah gerbang sekolah. Gadis yang bernama Maisya itu menoleh kearahnya.
"Kok naik motor, mobil Lo kemana?" timpalnya lagi ketika sudah berada di samping Maisya.
"Mobil gue kemaren masuk bengkel gara-gara gue lupa buat ganti oli."
"Ah, elo mah kebiasaan. Nggak heran gue,"
"Isshhh. Lo mah nggak asik." ucap Maisya yang mengerucutkan bibirnya.
"Bibir Lo itu minta gue ci*ok ya?"
"Ih najis. Amit-amit gue masih normal kali Alya!" ucap Maisya sambil mengetuk kepalanya kemudian beralih ke lutut secara bergantian beberapa kali.
"Hahaha becanda Sya, gue juga masih normal kali?!"
"Kok lo nggak bareng sama Andin? Kemana tuh anak." Alya mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Tak tau!" timpalnya lagi.
Ya begitulah, jika mereka sudah bersama sikap absurd keduanya akan terlihat nyata bagi siapa yang memandang, dan jika mereka sudah bertiga maka seluruh sekolah akan heboh karenanya.
Maisya dan Alya berjalan beriringan, sesekali keduanya saling melemparkan celotehan yang membuat suasana pagi itu menjadi riuh sejak Maisya tiba di sekolah.
Di kelas XII IPA-2.
Suasana di dalam ruangan terlihat begitu ramai dengan beberapa siswa dan siswi yang sedang santai di kursi mereka masing-masing dan ada juga yang sedang sibuk dengan urusannya. Maisya, dan Alya yang baru datang langsung menghampiri tempat duduk mereka. Namun tiba-tiba...
"Eh, eh. Kalian udah pada tau belum kalau hari ini sekolah kita bakal kedatangan pemilik dari SMA Bunga Darma?" ucap seorang siswi perempuan yang baru masuk dengan nafas terengah-engah.
"Alah, paling juga pak Arya, itu mah udah biasa." sambung Alya cepat.
"Bukan! Kali ini kalian tau siapa?" tanya siswi itu kepada teman-teman nya, tapi tidak ada satupun dari temannya yang menjawab malah gelengan kepala yang mereka berikan kompak.
"Anaknya pa--"
Kringggg..kringggg.. kringggg
Ucapan siswi itu terpotong saat suara bel masuk sudah berkumandang di seluruh penjuru sekolah. Seluruh siswa dan siswi berkumpul di lapangan untuk melakukan rutinitas nya setiap hari Senin, ya itu upacara bendera.
" Isshh. Padahalkan gue belum selesai ngomongnya," ucap gadis itu berjalan menyusul teman-temannya. "WOY, tungguin gue!!" teriaknya.
__ADS_1
Sementara yang di panggil masa bodo sama suara teriakannya.