
Zifran menepikan mobilnya.
Maisya sontak memundurkan tubuhnya saat tubuh Zifran perlahan mengarah kearahnya dengan tangan yang terulur kearah dashboard mobil sambil menekan sesuatu di sana.
"Mau ngapain lo kak? Jangan aneh-aneh lo ya!" ucap Maisya menuduh.
"Apaan sih lo Sya, gue cuma mau matiin musik. Lo pikir gue mau ngapain?"
"Ia kah?" Maisya terlihat salah tingkah karena sempat berpikiran yang tidak-tidak.
****
Di dalam sebuah mall terbesar di kota Jakarta, kini Zifran dan Maisya sedang berjalan berdampingan menuju sebuah toko perhiasan.
"Selamat sore Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pegawai toko ketika melihat Zifran yang sedang mencari sesuatu.
"Saya mau satu set perhiasan keluaran terbaru, apa ada?" tanya Zifran kembali.
"Oh, tentu saja ada Tuan. Kebetulan sekali ini merupakan salah satu koleksi terbaik dari toko kami dan ini hanya ada satu model yang kami keluarkan dalam satu set nya." Papar pegawai tersebut sambil menunjukkan satu persatu koleksi perhiasannya.
"Baiklah saya ambil yang ini," tunjuk Zifran kearah satu set perhiasan yang bertahtakan berlian sebagai hadiah ulang tahun sang Mama.
Kemudian ia melirik kearah Maisya yang masih setia berdiri disampingnya. "Dan tolong ambilkan saya kalung yang berinisial 'M' yang ada di sana."
Zifran kembali menunjuk sebuah kalung yang terkesan simple namun terlihat mewah, karena dihiasi dengan beberapa berlian berukuran kecil membentuk huruf 'M' pada liontin nya.
Setelah mendapatkan yang ia inginkan, kemudian Zifran mengeluarkan kartu sakitnya yang berwarna hitam dan langsung ia berikan kepada pegawai itu sebagai alat pembayaran.
Sedangkan Maisya, gadis itu terus memandang kearah sebuah kartu yang berwarna hitam dan orang-orang sering menyebutnya Black card ataupun kartu sakti.
Sungguh jiwa matre dalam diri Maisya sedang meronta ingin memilikinya.
'Sial, ternyata Om-Om satu ini punya kartu ajaib yang gue pengen dari dulu.' batinnya tak terima dengan yang ia lihat.
"Terimakasih Tuan atan kunjungannya." ucso pegawai itu. Zifran hanya menganggukkan kepalanya.
"Yuk cil!" ajak Zifran berbalik menatao Maista.
"Ha! Kemana!" ucap Maisya yang terkejut saat Zifran memanggilnya. Ia baru saja tersadar dari lamunan sesaat.
"Lo ngapain bengong aja dari tadi? Kesambet lo?"
"Enak aja! Mana ada hantu di dalam mall. Ngada-ngada aja lo kak."
Setelah semuanya selesai, Zifran dan maisya pergi meninggalkan toko tersebut dan beralih ke toko yang lainnya.
"Kita mau kemana lagi kak?" Maisya sambil menatap sekelilingnya.
__ADS_1
"Entar lo juga tau, udah ah, nggak usah bawel."
Zifran terus berjalan tanpa menghiraukan Maisya yang berjalan dibelakangnya sambil mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa senti.
Sesampainya mereka di tempat yang mereka tuju, Zifran langsung memanggil salah satu pegawai toko tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pegawai itu.
"Tolong carikan baju yang cocok untuk dia!" Ia menunjuk kearah Maisya.
"Baik Tuan."
"Kok gue sih kak?"
"Udah ikut aja enggak usah protes!"
"Tapi kak-"
"Nggak ada tapi-tapian. Udah buruan waktu kita udah mepet nih?!"
Tanpa berpikir lagi Maisya memilih beberapa pakaian yang sudah di pilih kan oleh beberapa pegawai toko tersebut.
****
Tepat jam tujuh malam mobil Zifran sudah terparkir didepan rumah Maisya yang mana membuat Maista yang melihatnya langsung berlari menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Mau ke rumah temen. Dah papa!" Maisya melambaikan tangannya keatas papa Bram.
"Mau ke rumah temen kok pakaiannya cantik banget." gumam papa Bram membalas melambaikan tangannya menatap sang putri menghilang dari balik pintu.
"Sorry ya kak agak lama nungguin nya, soalnya tadi gue harus pamitan dulu sama papa," Maisya berjalan menghampiri Zifran.
Zifran ysedang sibuk dengan ponselnya seketika mengalihkan perhatiannya kepada seseorang yang berada dihadapannya.
'Cantik juga nih bocil kalau udah dandan!' batinnya memandang Maisya dalam balutan dress sabrina berwarna peach dengan aksen brokat di bagian dada sampai di kedua lengannya dan tak lupa Sling bag berwarna hitam dengan lambang double 'G' melengkapi penampilannya kali ini.
"Nggak papa kok baru lima menit. Ya udah yuk, entar keburu malam!" Zifran membukakan pintunya untuk maisya.
ketika sudah di depan pintuKemudian Maisya masuk kedalam mobil dan tak lama disusul dengan Zifran yang duduk di kursi kemudinya.
Selama didalam perjalanan keduanya saling bercanda satu sama lainnya untuk mencairkan suasana. Hingga tak terasa kini mereka sudah memasuki kediaman keluarga Samudera.
"Kak, berat nih, bantuin dong!" ucap gadis yang membawa kue ulang tahun.
"Dasar bocil manja."
Zifran kemudian mengambil alih kue yang di bawa oleh Maisya. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang keluarga tempat Mama Sarah berada.
__ADS_1
"Happy birthday Mama, happy birthday Mama. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you." Zifran berjalan mendekati sang Mama.
Sementara disisi lain, Mama Sarah yang tengah berbincang dengan sang suami merasa terharu ketika melihat sang putra datang menghampirinya dengan membawa kue yang terdapat lilin yang menyala dengan angka lima puluh dua diatasnya.
Kini Zifran dan Maisya berdiri di hadapan Mama Sarah dan juga papa Arya. "Selamat ulang tahun Ma," Zifran mencium pipi sang Mama.
"Selamat ulang tahun Tante Sarah!" timpal Maisya. Iapun menyerahkan paper bag yang sejak tadi ia pegang.
"Terimakasih Sya!" Mama Sarah merasa bahagia saat di pertambahan usianya ada sosok wanita yang mendampingi putranya.
"Ternyata istri papa semakin tua ya! Selamat ulang tahun sayang!" ucap papa Arya yang masih setia memeluk istrinya, kemudian ia mendaratkan kecu*pan hangat di kening sang istri.
"Make wish dulu dong!" Zifran mendekatkan kue kearah sang Mama.
Perlahan Mama Sarah menutup matanya dan memanjatkan doa dengan begitu banyak harapan yang ia ingin kan di pertambahan usianya kali ini. Setelah selesai Mama Sarah membuka kembali matanya. "Sudah."
"Lama amat Ma doanya?" celetuk Zifran dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari sang papa.
"Emang apa sih yang Mama minta?" tanya papa Arya.
"Ada deh! Yang pasti Mama pengen Zifran segera menikah." Mama Sarah menatap Zifran dan Maisya bergantian.
Sementara yang di tatap hanya menampilkan senyum kecut mendengan permintaan konyol wanita paruh baya yang ada di hadapan mereka.
Di meja makan kini mereka berada dan tengah menikmati hidangan yang sudah sejak tadi disiapkan, Maisya yang dalam keadaan lapar tanpa tahu malu ia melahap makanan yang ada di piringnya hingga lenyap tak tersisa.
"Laper banget ya cil? Sampai segitunya lo makan!" Zifran menggelengkan kepalanya menatap Maisya.
"Mau nambah lagi?" tanya Mama Sarah.
"Nggak usah Tan, Maisya udah kenyang kok."
Maisya beralih menatap Zifran. "Ini semua karena ulah lo kak Zi, yang bikin gue badmood." Sungguh kesal rasanya jika ia kembali mengingat kejadian tadi siang.
"Kok gue!?"
"Apa perlu gue kasih tau ke Om dan Tante tentang kelakuan lo yang di cafe tadi?" ucap Maisya lirih sambil berbisik.
Zifran langsung menggeleng, " Jangan macem-macem lo cil, bisa kelar hidup gue sama si Arya!" balas Zifran berbisik.
"Kalian kenapa kok pada bisik-bisik segala? Ada sesuatu yang ingin disampaikan?" suara bariton menghentikan aksi bisik-bisik tetangga yang tengah berlangsung.
"Hehehe... enggak ada kok Om. Pa!" ucap Zifran dan Maisya bersamaan.
Setelah acara makan malam, Maisya duduk bersama keluarga Samudera. Kehadirannya mampu membuat suasana malam Minggu yang biasanya sepi kini tampak berbeda dengan segala celotehan dari Maisya yang mampu membuat sepasang suami-istri itu tampak tertawa bahagia. Begitupun dengan Zifran, pria itu merasa bahagia melihat kedua orang tuanya mampu menerima Maisya dengan begitu mudah.
'Maafin Zifran yang belum bisa ngasih kebahagiaan yang sesungguhnya buat kalian.'
__ADS_1