Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
GeGaNa (gelisah, galau, merana.)


__ADS_3

Disekolah SMA Bunga Darma.


Tap tap tap tap.


Terdengar suara derap kaki yang beradu dengan dinginnya lantai tempat dimana Maisya sedang berlatih basket saat ini.


Di dalam lapangan basket yang berada di salah satu bangunan di SMA Bunga Darma.


Di saat jam kosong seperti ini, Maisya menyempatkan dirinya untuk melatih kembali fisiknya yang sudah beberapa waktu belakangan tak melakukannya. Berteman kan kedua sahabatnya dan beberapa siswi lainnya, Maisya terus berlari sambil meng-dribel bola yang berada di tangannya.


Dengan perhitungan yang akurat Maisya melompat dari jarak yang cukup terbilang jauh. Pandangannya menatap lurus ke depan memastikan bahwa tembakannya tidak meleset.


Dukh!


Dugaannya ternyata salah. Bola yang ia lempar yang seharusnya masuk kini malah menatap lingkaran ring dan berakhir bola itu terpental jauh.


Maisya menghentakkan kakinya ke lantai sambil mengumpat kasar pada bola yang tak berpihak padanya.


Dari pinggir lapangan, seorang pemuda yang memakai seragam putih abu-abu menghampiri dirinya.


"Kenapa? Kok kesel gitu," ucap pemuda yang berada di samping Maisya.


Maisya menoleh kesamping. "Nggak kenapa-napa. Lo ngapain disini, bukannya kelas lo lagi jam masuk ya?"


"Jam pelajaran baru aja selesai. Lo kenapa? Kok kaya lagi bete gitu. Ada masalah?" Maisya menggeleng. Kini keduanya duduk bersebelahan.


"Terus?" tanya leon.


"Gue eng-"


"Hayo! Ngobrolin apa?!!" ucapan Alya yang baru datang dari belakang membuat keduanya terkejut spontan. Melihat kedua temannya terkejut, Alya tertawa puas. Berbeda dengan Andin yang sedang membawa air mineral dsn beberapa camilan di tangannya. Ia tampak biasa saja dengan kedua. Hanya menampilkan senyum tipis yang tak terlihat.


"Ah, kampret lo, ngagetin aja!" decak Maisya.


***


"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya seseorang yang berbicara melalui sambungan telepon.


"Tenang aja, Pak boss. Semuanya mah aman terkendali," balas orang tersebut tersenyum simpul sambil memutar kunci mobilnya.


"Bagus. Terus awasi jangan sampai lengah, karena buaya itu lebih licik dari kancil."


"Siap Pak boss!" serunya.


Di ruang yang tampak luas dengan sofa, meja dan beberapa almari yang berbaris di dinding semuanya terbuat dari bahan jati. Sehingga ruangan itu begitu terasa suasana klasik yang dipadukan dengan modern.


Setelah menyelesaikan panggilannya. Seorang pria paruh baya menyandarkan tubuhnya di kursi kerja sambil menatap bingkai foto yang berada di atas meja kerjanya. Senyumnya tak pernah luntur saat menatap foto seorang gadis kecil dengan balutan gaun sederhana. Tak ada raut bahagia yang terpancar dari wajah bocah itu selain bibir yang ia majukan sembari menatap tajam ke arah kamera.

__ADS_1


Pria itu tersenyum mengingat momen yang telah berlalu beberapa tahun lalu. Momen dimana bocah berusia 8 tahun itu cemberut kepada papanya yang tak mau diajak foto bersama. Dan alhasil dengan segala rayuan bocah itu mau bersua foto meski hasilnya tak sesuai yang diharapkan oleh sang Papa.


Rindu. Ya, pria itu merindukan masa-masa yang telah hilang dan kini hanya menyisakan kenangan baginya. Ia meraih foto itu dan mengusap wajah mungil nan menggemaskan putrinya.


"Kau adalah putriku satu-satunya. Pilihan hidupmu harus yang terbaik, yang mencintaimu dengan tulus. Apapun akan papa lakukan itu."


***


"Udah jam istirahat. Ke kantin yuk!" seru Alya setelah mendengar suara bel istirahat berbunyi.


"Kuy lah! Yuk, Sya," sambung Andin.


"Yuk, Sya. Lo aja, hari ini gue yang bakal traktir kalian," ucap pemuda itu bangkit dari duduknya.


"Tumben amat lo Yon. Dapet angin darimana," cibir Andin.


"Nggak ah. Hari ini gue lagi badmood. Kalau kalian mau pergi, pergi aja. Gue mau balik ke kelas," tolak Maisya.


"Kenapa?" tanya Leon.


"Sebentar lagi kita mau ujian semester. Jadi gue mau belajar supaya nilai gue bagus," ucap Maisya. yang mana membuat kedua sahabatnya menatap Maisya cengoh.


'Kesambet apa coba nih bocah. Apa geger otak kali ya? Tapi, perasaan yang kena pentok bola tuh ring basket. Kenapa malah otak dia yang geser." Alya membatin.


***


Duduk, berdiri, kesana-kemari. Hanya itulah yang dilakukan oleh Zifran setelah keluar dari ruang meeting. Sebenarnya ingin sekali Arlan menanyakan tentang apa yang terjadi. Namun sayang, pria itu enggan untuk berbicara.


Dan perihal tentang Arlan yang tak tau? Salahkan saja atasannya yang menyuruh Arlan untuk keluar.


Setelah lama Zifran mondar-mandir, akhirnya ia duduk di sofa yang tak jauh dari tempat sekretarisnya duduk.


"Capek? Dapat berapa banyak?" tanya Arlan melihat Zifran duduk.


"Apanya?" tanya balik Zifran.


"Dapet berapa hektar lo garap sawah?"


"Mata lo buta ya, dari tadi gue disini. Dari pada gue garap sawah, mending gue garap si bocil. Enak!" sungut Zifran.


"Ya abisnya dari tadi lo mondar-mandir kayak kebo yang ada di kampung gue kalau lagi musim tanam padi."


"Bang*sat emang lo. Atasan sendiri di sama-samain sama kebo." Zifran melempar kotak rokok yang ada di atas meja ke arah Arlan. Dengan gerakan cepat Arlan langsung menghindar.


"Ar, lo hubungi kantor polisi terdekat!" perintahnya pada Arlan.


"Untuk apa? Masa gara-gara lo nggak dapet restu lo mau nyerahin diri ke kantor polisi buat nyerahin diri karena abis memperawani anak orang. Kan nggak lucu," ucap Arlan yang tak tau maksud pria itu.

__ADS_1


Pletak!


Zifran melempar korek dan berhasil mendarat di jidat Arlan.


"Emang mulut lo minta di sianida."


"Ya terus buat apa lo nyuruh gue nelepon polisi, huh!" Arlan yang mulai terbawa emosi.


"Bilang ke mereka, suruh datang kesini bawa pasukan tim Gegana."


"Emang disini ada bom?" Arlan mendekat, duduk tepat di samping Zifran dengan raut wajah ketakutan.


Zifran menggeleng. "Nggak."


"Terus. Apa ada salah satu tero*ris yang menyamar jadi karyawan di perusahaan kita?" Zifran menggeleng lagi. Arlan memeluk lengan Zifran begitu erat sambil melirik kesana-kemari.


"Lepasin ih. Nggak usah pegang-pegang, gue masih normal. Gue nggak doyan main pedang-pedangan.


Arlan mencebik kesal kepada atasannya itu. Dia pikir cuma dia yang normal. Hello, ini gue Arlan juga normal kali, ah.


"Lah terus untuk apa lo nyuruh mereka kemari?"


"Gue mau belajar-"


"Ngerakit bom?" tanyanya memotong ucapan Zifran.


"Nggak."


"Lo mau nyuruh mereka ngebom rumah atau perusahaan Brama Kumbara?"


"Ya kali, gue gila."


Ya terus apa? Lama-lama gue nih yang gila."


"Gue cuma mau belajar gimana caranya buat jinakin Bapak Maisya."


Dengan santai nya pria itu menjelaskan keinginannya. Sementara yang mendengarkannya sudah mengeluarkan bendera perang sambil mengumpat kasar.


Arlan menepuk jidat nya sambil berkata, "ya Tuhan. Kenapa kau kirimkan hamba-Mu ini CEO yang otaknya dangkal." Kemudian Arlan menengadahkan tangannya. " wahai petir. Bisakah kau turun dan kau sambar otak sahabatku ini. Biar sekalian aku ganti dengan otak-otak."


Tak lama berselang,


Pranggg!


Ini bukan suara petir yang menyambar, melainkan pecahan kaca akibat tangan Zifran yang tak bisa diam. Akibat ulahnya pecah sudah meja di hadapan mereka yang terbuat dari kaca termahal yang di datangkan langsung dari luar negeri.


"An*jing lo. Yang ada otak lo duluan yang bakal gue bom!" Zifran yang sudah pusing di tambah kesal, membuat pria itu jadi emosi.

__ADS_1


__ADS_2