Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Yang sebenarnya terjadi


__ADS_3

"Maafin, kakak ya, Sya." Zifran membelai rambut panjang gadis itu.


Setelah beberapa jam dalam pengaruh obat, akhirnya Zifran siuman. Saat ia membuka mata, seseorang yang pertama kali dilihatnya adalah Maisya. Gadis yang masih lengkap mengenakan seragam sekolah. Entah sudah berapa jam gadis itu setia menunggu kekasihnya hingga rasa kantuk perlahan menyerang.


"Maafin kakak udah ngecewain kamu. Kakak sayang kamu, Sya. Cuman kamu."


"Kak," lirih Maisya sambil mengucek mata. "kakak udah bangun." Maisya menatap lekat wajah kekasihnya.


"Maafin kakak. Jangan tinggalin kakak ya? Kakak cuma cinta dan sayang sama Kamu, Sya."


Tak bisa menahan diri lagi, Zifran memeluk tubuh Maisya. Rasanya permintaan maaf saja tak cukup untuk perbuatan yang ia lakukan.


"Gue yang seharusnya minta maaf sama elo, kak. Gara-gara gue, Lo jadi kayak gini. elo nggak salah, gue yang salah. Maaf."


Ucapan Maisya barusan seakan menampar dirinya. Zifran menggeleng beberapa kali, memberitahukan bahwa dirinyalah yang bersalah.


Maisya melepaskan pelukan Zifran. Ditatapnya wajah pria yang entah sejak kapan sudah di banjiri air mata yang jatuh ke pipinya.


"Elo nangis, kak?"


"Hem. Maaf." kata itu kembali Zifran ucapkan.


Maisya menghapus air mata Zifran. "Dah ya, jangan nangis dan minta maaf sama gue. Di sini kita yang salah. Dan kita bakal memperbaiki semuanya. Gue baru sadar, kalau di dalam suatu hubungan harus saling percaya, kan? Gue percaya kok sama Lo. Gue yakin Lo nggak bakal khianati gue, apalagi ngecewain gue. Gue minta maaf karena waktu itu nggak mau dengerin penjelasan lo. Jadi... nggak ada alasan buat Lo nyalahin diri sendiri. Dah lah, gue nggak mau acara nangis-nangis kayak gini. Cengeng banget tau nggak." Maisya menjeda ucapannya. "Oiya, Lo paper nggak? Mau gue siuapin?"


Zifran menggeleng, lalu memperbaiki posisinya agar dapat bersandar dengan nyaman. "Kakak nggak laper."


"Makan sedikit ya


Gue suapin deh," bujuk Maisya sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi dan beberapa lauk di atasnya.


"Nggak, Sya. Kakak udah kenyang."

__ADS_1


"Kenyang darimana, perasaan dari tadi kakak tidur terus. Ya udah kalau kak Zi nggak mau makan, makanannya aku makan aja. Laper tau!" Dengan lahapnya Maisya menyendok makanan yang ada di piring.


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Tak ada rasa malu bagi Maisya saat menyantap makanan yang ada di pangkuannya. Zifran tersenyum melihat cara makan Maisya.


Begitu lahap dan tak menjaga image. Biasanya kebanyakan wanita akan bersikap malu-malu kucing di depan pacarnya. Tapi lihatlah kekasihnya ini, bahkan tak segan-segan Maisya bersendawa di depan Zifran.


"Eeeeegghh. Ah, kenyangnya," ucap Maisya sambil meletakkan piring tersebut kembali ke nakas.


"Enak banget ya, Sya?" tanya Zifran memberikan segelas air minum kepada Maisya.


"Enak karena laper kak. Dari pada kebuang mubazhir , mending gue yang ngabisin."


"Kak, gue boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Sejak kapan?" Zifran menyerngitkan dahi. Dia merasa bingung dengan pertanyaan Maisya.


"Sejak kapan kakak minum obat itu. Kakak nggak pernah ngasih tau gue, apalagi cerita sama gue. Gue mau liat Lo kayak tadi. Gue nggak takut Lo bakal ninggalin gue." Itu adalah ungkapan hati Maisya beberapa waktu lalu. Ketakutannya akan hal terburuk yang akan membahayakan kesehatan Zifran.


"Kakak takut kehilangan kamu, Sya. Kakak nggak bisa tidur mikirin kamu."


"Gue nggak akan ninggalin Lo. Gue cinta sama Lo, kak." Maisya kembali memeluk tubuh Zifran.


"Kakak juga."


"Untuk Casandra?" Maisya ingin mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Zifran jika menyangkut wanita itu.


"Selesai. Kakak nggak ada hubungan apapun sama dia. Dan untuk yang kemaren itu, kakak nggak sengaja ketemu sama dia dan dia nawarin kakak buat balik bareng." Zifran menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


"Untuk yang di mobil itu?" Maisya duduk di pangkuan Zifran karena Zifran yang meminta. Di ruangan itu hanya mereka berdua. Arlan? Pria itu kembali kekantor mengerjakan pekerjaannya yang terkendala karena peristiwa yang menimpa Zifran tadi.

__ADS_1


Sedangkan kedua orang tua Zifran baru saja keluar membeli makan untuk mereka.


"Itu nggak seperti yang ada di otak kamu Sya. Kamu salah paham. Kakak cuma mau bilang ke dia untuk menjauh, udah itu aja." Zifran berusaha meluruskan kesalahpahaman yang pernah terjadi diantara mereka.


Flashback.


Setelah kepergian Maisya, Zifran berjongkok karena kelelahan mengejar kekasihnya itu. Tak berselang lama sebuah tepukan di bahu membuat Zifran menoleh ke arah seseorang yang berdiri di belakangnya. Seorang wanita dengan tubuh tinggi memakai pakaian casual dengan aroma parfum yang begitu Zifran hafal siapa pemiliknya.


Benar. wanita itu adalah Casandra. Setelah menyelesaikan pekerjaan yang berada di daerah itu, Casandra memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang dekat dengan Danau Situ Lembang. Pandangannya tak sengaja melihat Zifran yang tengah mengatur nafas karena lelah.


Mengetahui Zifran tidak membawa mobil, Casandra pun membujuk Zifran untuk pulang bersamanya. Namun beberapa kali Zifran menolak dan Casandra tetap berusaha.


Setelah berkutat dengan pikirannya, akhirnya Zifran menyetujui ajakan Casandra. Mereka berjalan berdampingan, beberapa kali Zifran melepaskan pegangan tangan Casandra dari lengannya. Namun tetap saja, namanya Casandra tidak pernah menyerah.


Karena merasa terabaikan, tindakan konyol di lakukan oleh Casandra dengan mencium bibir Zifran di tempat umum. Bahkan tak tau malunya Casandra mengarahkan tangan Zifran ke area terlarang. Spontan Zifran langsung melepaskan lumayan Casandra dan menarik tangannya. Tak hanya itu, ia juga mendorong tubuh wanita itu hingga membentur body samping mobil milik Casandra.


Zifran mendekatkan wajahnya ke wajah Casandra. Tepat di samping telinga wanita itu Zifran membisikan sesuatu. Dan di saat bersamaan Maisya muncul dan mengagetkan mereka.


flashback off


Keesokan harinya.


"Kamu mau kemana Nak?" tanya Papa Bram yang baru saja keluar dari kamar melihat Maisya sudah berpakaian rapi tanpa seragam yang melekat ditubuhnya.


"Ke rumah sakit, Pa. Hari ini kak Zifran udah boleh pulang. Papa mau ikut?"


"Boleh. Sekarang?" tanya Papa Bram.


"Nanti, tahun depan. Ya, sekarang lah. Papa gimana sih!" omel Maisya mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah nggak usah ngambek gitu dong. Masa anak gadis Papa baperan."

__ADS_1


__ADS_2