
"Dasar bodoh. Kenapa dia nekat lompat dari atas. Huh! Apa tubuhnya sudah kebal?" Bukannya prihatin, papa Bram justru malah mengomel kepada pria yang kini tengah dirawat dirumahnya. Akibat dari kebodohannya sendiri.
"Udah dong Pa, jangan di marahin terus. Kasian tau kak Zi," ucap Maisya yang membela kekasihnya.
Setelah kejadian beberapa waktu lalu, membuat Zifran tak sadarkan diri dan harus dirawat dikediamannya karena pria itu berhasil lompat dari atas balkon bukan atas kemauannya sendiri. Melainkan dorongan dari seekor semut angkrang yang kurang ajar tak tau sopan menggigit bagian selangkangannya. Yang menyebabkan tubuh Zifran bergoyang dan tak dapat menyeimbangkannya .
Entah dari mana semut itu datang dan menyelinap masuk ke area terlarang dan membuat Zifran harus terjun bebas dengan pendaratan yang tidak sempurna. Alhasil, ia pingsan dan membuat papa Bram mau tak mau menyeretnya dengan sekuat tenaga.
Bukan tanpa alasan, ia takut jika nanti penyakit encoknya tiba-tiba kumat. Maklum, kan sudah kepala 4. Ya, itung-itung juga sebagai latihan menganiaya calon menantunya. Mungkin jika pria itu tau apa yang sudah mereka lakukan, apakah ia masih mau membantunya? tentu saja ia akan menyuruh pria yang sedang ia tarik untuk lompat dari atas gedung Khalifah yang ada di Dubai.
Sungguh, calon mertua luknut.
Hampir dua jam Zifran memejamkan matanya. Entah karena pingsan, atau pria itu kebablasan tertidur pulas. Hanya ialah yang tau. Berada dalam pangkuan Maisya, mungkin itu yang membuatnya nyaman dan enggan untuk beranjak.
"Kak. Kak Zi," panggil Maisya sambil memberikan minyak kayu putih ke hidung mancung Zifran. Tetap sama, pria itu masih setia memejamkan kedua matanya.
"Saya hitung sampai tiga. Kalau kamu tidak bangun, saya tembak kaki kamu. Saya tau kamu sudah sadar. Jadi tinggal pilih, mau pulang secara baik-baik, atau saya laporkan kamu ke kantor polisi atas tuduhan mengganggu ketenangan saya."
Zifran yang sedari tadi memejamkan matanya sontak berdiri dengan wajah polosnya setelah mendengar nada ancaman yang dilayangkan oleh Papa Bram untuk dirinya. Maisya menatap cengoh melihat kelakuan ajaib kekasihnya itu. Bisa-bisanya pria itu membohongi dirinya dan juga Papanya.
Namun ada sedikit rasa tenang melihat bahwa pria itu baik-baik saja. Walaupun ada beberapa luka yang menghiasi wajah tampannya dan juga salah satu kakinya yang cidera akibat ia gagal mendarat.
Zifran merasa kesal menyadari tatapan tajam dari pria yang duduk berseberangan dengannya. "Santai dong Om, ini kaki gue masih sakit gimana gue mau pulang coba. Tanggung jawab dulu dong!"
"Masih untung kamu saya suruh pulang. Mau kamu saya lempar dari atap rumah saya. Huh!"
Terjadilah perdebatan antara kedua pria yang selalu menjadi musuh bebuyutan. Tak ada satupun yang mau mengalah diantara keduanya. Maisya yang melihat kejadian tersebut berteriak untuk melerainya.
"STOPPPP!" Keduanya kompak menatap horor Maisya. Maisya pun tak kalah horor menatap keduanya.
"Kalau kalian masih bertengkar, lebih baik aku pergi." Maisya melangkah.
"Kamu mau pergi kemana, Nak? ini sudah malam," tanya Papa Bram.
"Tetap ditempat mu, Sya!" sambung Zifran menghentikan langkah Maisya.
****
__ADS_1
Di sebuah apartemen yang tampak biasa, terdengar suara gelak tawa dari seseorang setelah melihat penampilan sahabatnya yang jauh dari kata normal. Bukannya empati, ia ia malah justru menertawakannya.
Bagaimana tidak, ketika sahabatnya itu baru saja tiba di apartemennya, Arlan merasa heran dengan penampilan fisik Zifran seperti habis dipukuli oleh pereman.
Dengan wajah yang penuh luka Zifran masuk ke dalam tanpa permisi dengan sang empunya apartemen.
"Lo ngapain malem-malem gini ke apartemaen gue. Tumben banget," ucap Arlan berjalan a belakang Zifran.
"Muka Lo kenapa pada baret gitu? Lo abis berantem sama siapa?" tanyanya lagi. Pria itu terus mengikuti Zifran hingga ke sofa yang berada di ruang tamu.
"Gue lagi kesel. Lo liat nih muka gue, jadi begini gara-gara tuh semut sia*lan."
"Kok bisa?"
"Ya bisa, jadi gini nih ceritanya..." Zifran mulai menceritakan awal mula kenapa ia bisa terjun payung dari balkon kamar Maisya. Sampai ketika ia sadar saat mendengar suara isak tangis dari bibir Maisya. Dan setelah itu ia ketahuan jika dirinya sedang pura-pura pingsan hingga berakhir dengan sebuah ancaman yang mematikan dari sang empunya anak.
"Ah, sial banget gue. Baru juga enak-enak sama Maisya, ud-"
Pfffftttt
Byurrr!!
Sementara Arlan, pria itu panik setengah hidup saat menyadari apa yang ia lakukan kepada sahabatnya barusan. Sumpah! ia tidak sengaja melakukannya.
Mendengar kata 'Enak-enak' membuat dirinya tersedak. Bukan tanpa alasan, sebuah Arlan tau 'enak' yang di maksud Zifran itu seperti apa.
"Lo serius?" ucap Arlan.
"Apa?!" tanya Zifran sewot.
"Serius lo udah ML sama tuh bocah?" tanyanya meyakinkan.
"Menurut lo?"
Plak!
Dengan sadar dan beraninya Arlan memukul kepala bagian belakang Zifran, agar pria itu sadar apa yang dilakukannya.
__ADS_1
"Sakit kepala gue anjir. Setan emang lo!" maki Zifran kesal.
"Gila lo Fran. Tuh bocah masih SMA, gila nih anak."
"Mau gimana lagi. Bener kata lo, Ar, ternyata tuh bocil bisa bikin gue jatuh cinta dan mampu ngebalikin dunia gue. Buat gue nyaman sama dia. Selain itu, meskipun body-nya nggak sebagus Casandra, tapi itu yang selalu buat gue nggak bisa berpaling dari dia, Ar." Zifran menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Lo harus tau Ar, ternya gue orang yang pertama yang merawanin dia. Bangga banget gue," ucapnya panjang lebar.
Pluk!
"Dasar sarap." Arlan melemparkan bantal ke wajah Zifran. Dan itu berhasil memancing keributan diantara keduanya.
****
"Sudah berapa kali papa katakan pada Sya, jangan berhubungan dengan pria breng*sek itu. Kenapa kau tidak menggubris omongan papa mu ini."
Setelah kepergian Zifran, Maisya masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Namun tak lama kemudian sang papa masuk dan menasehati putrinya yang keras kepala ini.
"Tapi Maisya cinta sama kak Zi, Pa."
"Kamu tau. Cinta mu itu suatu saat akan membuatmu terluka. Kau tau, banyak wanita di luaran sana yang sudah ia tiduri."
'Termasuk aku, Pa.' Batin Maisya.
"Dia itu pria baji*ngan Sya, nggak cocok untuk kaamu. Sekarang fokuslah dalam menuntut ilmu. Jika kau pacaran dengannya, putuskan lah segera. Dan mulai besok, kau tidak boleh membawa motor ataupun mobil sendiri. Papa sudah menyiapkan supir untuk mengantarmu ke sekolah. Tanpa terkecuali."
"Nggak bisa gi-" ucapnya terpotong.
"Tidak ada bantahan."
"Tapi ini nggak adil, pa?"
"Ikutin kemauan papa, atau papa kirim kamu keluar negri. Pilih yang mana?"
Maisya beringsut kesal mendengar ucapan papanya yang tak adil untuknya. Gadis itu menelungkup kan tubuhnya, lalu menutupi kepalanya dengan bantal agar tak mendengar lagi ocehan dari sang papa yang menurutnya mulai overprotektif kepadanya.
Papa Bram menggelengkan kepalanya melihat dirinya di cuekin oleh putrinya sendiri. Setelah itu ia berjalan keluar dari kamar Maisya, membiarkan putrinya untuk mengambil pilihan yang ia berikan. Syukur-syukur Maisya mau mendengarkan ucapannya dan menjauh dari pria yang sudah terkenal akan ke breng*sekannya.
...*****...
__ADS_1
Hai! untuk para readers semua. Disini othor cuma mau nyampe'in sesuatu. Disini othor minta dukungan dari kalian berupa like dan coment dari kalian semua. Semakin banyak kalian komen, semakin semangat othor nulisnya dan semakin cepat untuk update. Kecuali kata 'Next' ya. 🙏🙏
Dan bagi yang belum mampir ke cerita Author 'PERNIKAHAN BERDARAH' yuk buruan mampir. Dijamin mewek plus ngilu.🥰