
Batin Karmila seperti terkoneksi dengan Karbala, dia merasakan ada sesuatu yang tengah dilanda kesusahan. Namun ia bingung harus melakukan apa sehingga membuat perasaannya was-was dan gundah sendiri. Ingin sekali rasanya kembali ke rumah yang dulu hanya untuk sekedar melihat keadaan disana akan tetapi ia tidak punya alasannya. Jika pun meminta Guntur untuk mengantarkannya, hanya akan menimbulkan prasangka yang nggak-nggak walau pun prasangka itu memang benar adanya.
Misteri yang akan terus menjadi rahasia sepanjang hidup Karmila akan tetap semampunya tidak terungkap untuk di ketahui Guntur. Meski pun peristiwa terkutuk itu menjadi hatu yang selalu membayangi di kehidupannya, Karmila tetap tak ingin putranya mengetahuinya.
Apabila Guntur sampai tahu mungkin dirinya akan di cap sebagai seorang ibu yang paling jahanam. Pastinya akan membuat Guntur kecwa, marah atau mungkin akan membencinya dan meninggalkannya.
Jauh di dasar sanubarinya yang terdalam, pada dasarnya sebagai insan normal rasanya Karmila ingin kembali menjalani hidup dengan selayaknya manusia normal tidak terbelenggu oleh ikatan sepihak yang hanya membuatnya tersiksa sendirian. Bahkan jika Guntur mengijinkan untuk menikah lagi dirinya pun mau menjalaninya akan tetapi Karmila tidak berdaya dan terlalu takut dengan akibat-akibat yang akan terjadi kedepannya.
Karmila duduk termenung sendirian di bangku taman samping rumah. Pandangannya menerawang menatap tanaman bunga bougenvil yang belum lama di tanamnya. Pikiriannya seakan-akan buntu tidak bisa memutuskan ikatan terkutuk yang pernah di jalaninya.
Karmila mengingat kembali sebuah momen skral yang tanpa ia sadari sepenuhnya terseret kedalam lingkaran ikatan yang tidak bisa ia tolak. Namun juga tidak sepenuhnya ia terima dengan segenap perasaa murninya. Ia merasa terjebak atau mungkin di jebak oleh kekuatan magis yang di ciptakan Karbala.
Tanpa sadar Karmila kembali masuk kedalam dua peristiwa yang salah satunya peristiwa malam sakral itu hingga membuatnya terikat oleh belenggu yang dibuat Karbala.
......................
Saat itu usia perkawinan Aryo dan Karmila baru menginjak satu bulan. Ya, masih pengantin baru sekaligus baru satu bulan juga menempati rumah itu. Meski sempat merasakan keanehan pada peristiwa pagi hari beberapa minggu yang lalu namun Karmila sama sekali tidak mengindahkannya dan tidak terlalu memikirkannya, bahkan dianggapnya suatu kewajaran.
"Mil, aku berangkat ke kantor ya," ucap Aryo usai menyantap sarapan sepotong roti bakar dan menikmatai teh hangat.
"Iya mas, hati-hati yah. Aku juga mau mandi," jawab Karmila dengan mengerlingkan matanya yang indah.
Aryo tersenyum mengerti dan menatap wajah cantik Karmila yang berbinar-binar penuh kepuasan. Kemudian Aryo mencium kening Karmila dengan lembut lalu melangkah keluar pintu diantar Karmila. Setelah memastikan Aryo sudah pergi meninggalkan rumah, Karmila pun bergegas untuk mandi besar.
Sebagai pengantin baru seakan tak mau melewati dinginnya malam kota Bandung begitu saja, setiap malam keduanya selalu menghabiskan malam bersama-sama bertempur bermandikan keringat seolah-olah tak pernah lelah bahkan terkadang tak terasa sampai menjelang subuh hari.
Beberapa saat lamanya Karmila keluar dari kamar mandi yang menyatu dengan tempat tidurnya. Karmila melangkah menuju depan violet dengan tubuh hanya berbalut handuk yang sangat mini hanya sebatas menutupi bagian sensitifitasnya. Kemolekan tubuhnya terlihat sangat sempurna dengan kulitnya yang kuning langsat nampak sekali terlihat begitu indah di pandang.
__ADS_1
Karmila memandangi dirinya di dalam cermin violet sambil senyum-senyum penuh kebahagiaan. Ia merasakan hidupnya sudah sempurna sekarang, memiliki suami yang mapan yang bukan hanya mencukupi kebutuhan materi saja namun juga kebutuhan batiniyahnya pun sangat memuaskannya.
Klekk!
Suara handel pintu tiba-tiba terdengar dibuka dari luar. Karmila spontan menoleh kearah pintu, seketika wajahnya keheranan melihat orang yang memasuki kamarnya.
"Mas, kok balik lagi?!" tanya Karmila mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Karmila yang melihat Aryo muncul di kamarnya langsung berdiri dari kursi violet dan menoleh penuh keheranan, dirinya melihat bukankah tadi Aryo jelas-jelas sudah berangkat ke kantor dengan menaiki mobil Fajero sport putihnya? batin Karmila.
"Mas, kok balik lagi?!" tanya Karmila lagi.
Belum sempat keheranannya terjawab sosok yang di lihatnya Aryo itu melangkah mendekati Karmila lalu mendekapnya mesra dari belakang. Dengus nafas Aryo yang memburu terdengar jelas di telinga Karmila.
"Mas, nanti telat nyampe kantornya loh!" seru Karmila tertahan.
Aryo tidak sepatah kata pun menjawab pertanyaan- pertanyaan Karmila. Tingkahnya malah semakin agresif mencumbui Karmila yang berbalut handuk. Tanpa di sadari lama kelamaan Karmila pun ikut larut oleh sensasi sentuhan-sentuhan yang di lakukan Aryo.
Gejolak hasrat pengantin barunya kembali berkobar menguasai Karmila. Padahal sebelumnya Karmila merasa badannya lelah dan lemas akibat tenaganya terkuras pergulatan semalam dan setelah mandi itu berniat untuk tidur lagi. Akan tetapi rasa lelah itu seakan-akan hilang berganti dengan tenaga baru.
"Maaah... Maaah...!"
Suara penggilan Guntur dari depan rumah membuyarkan lamunan Karmila. Ia nampak gelegapan dan buru-buru mengusap majahnya yang dirasakannya kusut.
"Mamah disamping Gun...!" sahut mamah Karmila.
Tak berselang lama Guntur terlihat berjalan dari halaman depan menuju mamah Karmila duduk. Mamah Karmila memandangi langkah Guntur yang sedikit tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ada apa Gun?!" tanya mamah Karmila pada Guntur yang sedang menuju ke tempatnya duduk.
"Jadi nggak? Katanya mau belanja kebutuhan sehari-hari?" tanya Guntur kemudian duduk di samping mamah Karmila.
"Ya jadi dong, Kunto mana?" mamah Karmila melongokkan kepalanya melihat kebelakang Guntur.
"Dia lagi mandi kayaknya mah. Ya udah aku juga mau mandi dulu mah," ucap Guntur, kemudian berlalu dari tempat mamah Karmila.
Mamah Karmila hanya mengangguk sambil tersenyum. Entah kenapa hatinya merasa begitu takut melihat putranya itu lebih tepatnya ada sesuatu yang sangat di takutkannya.
Pikirannya kembali hanyut kedalam peristiwa terkutuk setiap kali timbul rasa was-was dan rasa ketakutan yang muncul terhadap Guntur.
......................
Malam itu tepat malam Jumat Kliwon, selesai mengerjakan rutinitasnya di dapur usai makan malam, Karmila masuk ke dalam kamarnya. Di dalam rumah hanya ada Karmila seorang diri karena Aryo baru siang tadi berpamitan. Suaminya sedang berada di luar kota mengerjakan proyek besar dan baru pulang pada hari Minggu.
Udara malam kota Bandung terasa begitu dingin menghinggapi tubuh Karmila. Ac di kamar pun sudah ia matikan namun tetap saja masih terasa dingin. Ia lekas-lekas naik keatas pembaringannya dan menyelimuti rapat-rapat tubuhnya.
Baru saja Karmila masuk kedalam selimut tebalnya, tiba-tiba terdengar suara siuran angin masuk dari arah jendela. Karmila mengira suara angin masuk itu akibat jendela yang belum tertutup, ia pun segera terduduk dan melihat kearah jendela.
Mata Karmila mendadak terbelalak lebar, pandangannya bukan melihat jendela yang terbuka atau tertutup melainkan melihat sebuah lorong berwarna kuning terang. Karmila memperhatikan dengan seksama, pada bagian depan lorong itu banyak terdapat hiasan-hiasan janur kuning yang melengkung hingga membuat atap lorong sepanjang jalannya.
Belum juga hilang keheranannya, Karmila melihat seorang pemuda gagah berpakaian pengantin berjalan keluar dari dalam lorong itu. Wajahnya sangat tampan sekali melebihi ketampanan suaminya. Karmila tertegun diatas tempat tidurnya sambil memandang tak berkedip pemuda yang tengah berjalan kearahnya.
Kharisma pemuda itu begitu kuat seolah-olah membuat Karmila melupakan semua tentang dirinya, melupakan statusnya yang sudah menikah. Karmila benar-benar dibuat lupa daratan.
Pemuda itu berhenti di tepi tempat tidur, menatap Karmila dengan senyuman merekah di bibirnya. Karmila semakin dibuat terlena dan mabuk kepayang, ia perlahan mulai bergerak beranjak dari atas pembaringannya ketika pemuda itu mengulurkan tangannya, ia seperti terhipnotis lalu menyambut uluran tangan pemuda itu.
__ADS_1
Terasa hangat di rasakan Karmila ketika tangannya bersentuhan dengan pemuda itu. Karmila tak henti-hentinya menatap ketampanan pemuda itu tak berkedip. Sampai akhirnya pemuda itu membimbingnya berjalan memasuki lorong yang dipenuhi dengan janur-janur kuning disisi kanan kirinya.
......................