
Pukul 9.15 wib, para ustad dan ustazah pembimbing santri rumah tahfiz satu persatu mulai berdatangan berkumpul di ruang tamu rumah induk tahfiz.
Setelah menyalami haji Abas dan ustad Jalal, mereka menempati kursi ruang tamu yang besarnya muat untuk menampung hingga 15 orang.
Sebelumnya ruang tamu itu lumayan besar, namun haji Abas berinisiatif di bagi menjadi dua sehingga besar hanya separuhnya.
Sementara sebagian ruang tamu di sekat itu untuk difungsikan sebagai ruang administrasi Tata Usaha pesantren.
“Ustad Ikhwan kemana?” tanya haji Abas setelah memperhatikan para guru pembimbingnya.
“Kang Ikhwan katanya menyusul pak haji, dia sedang mengarahkan anak- anak melakukan kegiatan bersih- bersih.” Jawab salah seorang ustad bernama Amran.
“Oh, ya sudah kita dimulai saja,” ucap haji Abas.
“Muhun, mangga...” jawab Mereka semua sambil mengangguk.
“Terima kasih semuanya sudah datang, ada hal yang sangat mendesak untuk dibicarakan terkait kejadian yang dialami ustad Jalal,” kata Haji Abas berhenti sejenak menarik nafas.
Beberapa ustad dan ustazah yang tidak mengetahui kejadian malam lalu itu nampak terlihat bingung. Mereka saling memandang satu sama lain yang sama- sama tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Walau pun ada beberapa yang mengetahui peristiwa itu langsung namun saat itu mereka hanya mengetahui dan melihat langsung ketika ustad Jalal tergeletak tak sadarkan diri di lantai masjid sisi kiri.
Mereka semua yang ada di lokasi saat itu tidak mengetahui penyebabnya sama sekali.
“Mungkin ustad dan ustazah ada sebagian diantara kalian yang tidak mengetahui langsung kejadian tadi malam yang menimpa ustad Jalal. Kenapa ustad Jalal hingga pinsan, iya kan..?” ungkap haji Abas.
“Muhun pak haji,” sahut mereka antusias.
Kemudian Haji Abas pun meminta ustad Jalal untuk menceritakan kejadian yang dialaminya. Baru kepada haji Abas dan ustad Sofyan saja ia menceritakan penyebab dirinya pinsan.
Ustad Jalal kemudian mulai menceritakan kejadian tadi malam secara detil sama persis seperti yang diceritakannya pada haji Abas dan ustad Sofyan.
Dalam suasana ketegangan mendengarkan cerita ustad Jalal itu, tiba- tiba terdengar suara kaca pecah sangat nyaring dari arah luar. Sontak saja suara itu membuat para ustad dan ustazah terlonjak kaget di tempat duduknya.
Praaang...!
“Aaaaaakkkhhh...!” jerit para ustazah terlonjak.
“Astagfirullah!” pekik para ustad serempak terkejut bukan main.
__ADS_1
“Ustad Ikbal, coba lihat apa itu yang pecah,” kata haji Abas.
Haji Abas serta yang lainnya menatap ustad Ikbal yang bergegas melangkah keluar. Semuanya dibuat penasaran oleh suara kaca pecah dari luar itu. Mereka hanya melongok- longokkan kepala di tempat duduknya mencari- cari sumber suara. Namun tak melihat apa pun sejauh mata memandang.
“Sudah, sudah... lanjutkan ustad,” pinta haji Abas kepada ustad Jalal.
Mereka semua berusaha tenang, pandanganya kembali tertuju pada ustad Jalal. Dengan perasaan masih diliputi ketegangan, para ustad dan ustazah pun kembali menyimak penuturan ustad Jalal.
Hingga sampai pada bagian akhir ceritanya dimana ustad Jalal benar- benar shok dalam situasi puncak ketakutannya. Dengan suara bergetar ustad Jalal menuturkan pesan yang diucapkan oleh sosok mahluk menyeramkan itu.
Deg!
Sontak saja suasana tegang yang sedari tadi sudah menghantui perasaan semua ustad dan ustazah sebelumnya, seketika kian membuat mereka bergidik ngeri.
Mereka kembali saling pandang satu sama lain, entah apa yang ada di pikiran mereka. Kemudian tanpa dikomando, para ustad dan ustazah secara bersamaan menoleh pada haji Abas.
Tatapan mereka seakan- akan meminta pendapat haji Abas. Ditatap begitu Haji Abas hanya menghela nafas panjang kemudian berkata; “Karena itulah saya mengumpulkan ustad dan ustazah disini.”
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG...