TITISAN

TITISAN
MENCARI JEJAK 3


__ADS_3

Malam ini malam kedua rumah Guntur menggelar tahlilan mendoakan Aryo, papahnya. Selepas waktu Isya warga sekitar rumah Guntur mulai berdatangan, nampak pula beberapa karyawan almarhum turut menghadiri. Karyawan laki-laki duduk berbaur dengan warga setempat sedangkan lima orang karyawati menemani mamah Karmila di dapur menyiapkan sembari menyiapkan besek yang akan dibagikan setelah acara selesai.


Guntur dan Kunto berdiri di teras menyambut tamu-tamu yang datang. Samar-samar dibalik pintu gerbang nampak sebuah angkot berhenti, disusul dua orang turun dari angkot. Satu orang pria setengah baya dan seorang lagi anak laki-laki berusia belasan tahun. Sejenak keduanya celingukkan lalu ragu-ragu mendekat ke gerbang. Guntur yang melihat kedua orang itu langsung berlari kecil menuju gerbang yang jaraknya 20 meteran.


"Pak Suro, Adi...!" Seru Guntur melambaikan tangannya sambil berlari kecil.


Kedua orang yang tak lain Pak Suro dan Adi anak angkatnya lantas tersenyum lebar melihat Guntur datang menyongsong. Guntur sampai dihadapan pak Suro dan Adi lalu menyalami kedua orang itu dan mengajaknya masuk. Ketiga orang itu berjalan beriringan menuju kedalam rumah yang langsung disambut oleh uluran tangan Kunto untuk menyalaminya.


"Pak Suro, Di.." ucap Kunto kemudian mempersilahkan keduanya masuk.


Pak Suro dan Adi memilih posisi duduk didekat pintu karena dilihatnya didalam sudah cukup rapat tak ada celah buat duduknya. Selang beberapa lama kemudian Guntur mempersilahkan Ustad yang memimpin tahlil untuk memulainya karena sudah tidak ada lagi orang yang datang. Kemudian Guntur dan Kunto pun turut duduk didekat pintu beriringan dengan Adi dan Pak Suro.


......................


Sekitar 30 menitan lebih acara tahlilan selesai, satu persatu yang menghadiri tahlilan 2 hari meninggalnya Aryo berpamitan keluar rumah Guntur. Pak Suro dan Adi yang duduk didekat pintu ikut berdiri bersama Guntur dan Kunto untuk menyalami tamu-tamu yang keluar menenteng besek.


Guntur dan Kunto tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang hendak pulang sembari menyalaminya. Hingga semua tamu-tamu yang kebanyakan tetangga sekitar yang mengikuti tahlilan pulang, didalam masih ada empat orang yang masih duduk. Keempat orang itu merupakan karyawan-karyawan papahnya. Pak Suro dan Adi yang sudah berdiri diteras bersama Guntur pun pamitan, akan tetapi keduanya dicegah oleh Guntur untuk tidak pulang dahulu.


"Pak Suro, Adi kalau tidak keberatan, jangan pulang dulu ya. Kita ngobrol-ngobrol dulu pak," ucap Guntur kemudian mengajak pak Suro dan Adi untuk masuk kembali.


"Wualah, nanti pulangnya kemaleman Gun, nggak ada angkot" sergah pak Suro mengalihkan pandangannya menatap jalan.


"Kalau nggak ada angkot ya nginep aja pak, ya Di ya...?" kata Guntur menoleh kearah Adi.


"Saya mah terserah bapak aja A, hehehe.." timpal Adi menoleh kearah pak Suro disebelahnya.


"Apa nggak menggangu Gun? Barangkali kamu mau istirahat," ucap pak Suro.


"Nggak pak, sama sekali nggak ganggu justru saya sangat senang sekali kalau bapak mau nginap disini," ujar Guntur menatap penuh harap pada pak Suro.


Kunto sudah lebih dulu masuk untuk menggulung karpet dan kanbal yang dijadikan alas duduk acara tahlilan tadi disalah satu sisinya. Guntur kemudian mengajak pak Suro dan Adi untuk duduk di ruang tamu yang sudah dirapihkan lagi ke posisinya oleh Kunto.


"Duduk, duduk pak, Di..." ucap Guntur mempersilahkan Pak Suro dan Adi.


"Sebentar saya ambil air minum dulu ya, Adi mau minum apa?" tanya Guntur.


"Teh manis aja A," sahut Adi.

__ADS_1


"Kalau bapak?"


"Teh tubruk deh, hehehe..." jawab pak Suro malu-malu.


Bersamaan Guntur berlalu dari ruang tamu, empat orang karyawan sudah berdiri hendak berpamitan menyusul tiga orang gadis karyawati keluar dari ruang tengah beriringan dengan mamah Karmila.


"Mas Guntur, kami mau pamit, o iya pak Juki titip salam katanya malam ini nggak bisa menghadiri lagi nganter istrinya ke rumah sakit..." ucap salah satu karyawan mewakili teman-temannya kemudian menyalaminya satu persatu.


"Oh istri pak Juki sakit, di rawat?" sergah Guntur terkjut.


"Kurang tau juga mas," ujar salah satu karyawan.


"Iya deh nanti saya telpon pak Juki," kata Guntur.


"Ya udah kami pamit ya mas," ucap seorang karyawan lainnya.


"Ini masih sore, ngopi-ngopi dulu..." kata Guntur menyambut jabat tangan karyawan.


"Kita juga mau pamit mas Gun, ibu..." ucap salah satu gadis karyawati ketika Guntur menyalami keempat karyawan.


Guntur mengurungkan niatnya mengambilkan minuman untuk pak Suro dan Adi, ia turut mengantarkan karyawan dan karyawati papahnya dahulu hingga ke teras depan bersama mamah Karmila.


"Mah itu ada teman kenalan Guntur sama anaknya di ruang tamu, ayo mah Guntur kenalin," ujar Guntur setelah mobil karyawan itu berlalu dari halaman rumah, Guntur dan mamahnya kembali masuk.


"Makasih sudah mau menghadiri tahlilan papahnya Guntur ya pak, De..." ucap mamah Karmila tersenyum santun dan manis tentunya.


"Pak Suro, Adi kenalin ini mamah saya namanya mamah Karmila. Mah, ini pak Suro dan Adi, anaknya..." sela Guntur mengenalkan mamahnya.


"Muhun bu, kami turut berbela sungkawa ya bu... Maaf saya baru bisa datang karena saya baru tahu tadi siang , kebetulan tadi siang Guntur main ke tempat jualan saya dan bercerita," ucap pak Suru menangkupkan kedua tangannya didada.


"Sekali lagi makasih ya pak. Silahkan diterusin saya tinggal dulu. Gun diajak makan pak Suro dan anaknya.." ucap mamah Karmila kemudian melangkah berlalu menuju ke belakang.


"Iya mah, sebentar pak ya.." ucap Guntur kemudian mengikut mamahnya melangkah ke belakang.


Mamah Karmila membantu Kunto bersih bersih di dapur karena bi Sum malam ini tidak bisa datang kondisinya masih kurang sehat setelah mengalami syok melihat penampakan mahluk gaib kemarin malam. Kunto nampak sedang mencuci gelas-gelas habis dipakai para tamu yang menghadiri tahlilan.


"Kun, biar tante aja yang nyuci, kamu makan dulu sama Guntur makan sama pak Suro dan anaknya di depan..." ucap mamah Karmila begitu sampai di dapur.

__ADS_1


"Nanti tante, tanggung dikit lagi kok," sahut Kunto menoleh kearah datangnya mamah Karmila yang tersenyum kearahnya.


Di ruang tengah masih ada beberapa besek yang tersisa, mamah Karmila sengaja memesannya lebih dikhawatirkan yang datang menghadiri tahlil bertambah. Soalnya menimbang-nimbang pada malam pertama tahlil besek yang disediakan jumlahnya pas-pasan hanya tersisa 5 besek, yang dua besek dibawakan untuk bi Sum sedang yang 3 besek untuk di makan Guntur, Kunto dan mamah Karmila. Guntur kemudian mengambil empat kantong kresek berisi besek lalu dijinjingnya dibawa ke ruang tamu.


"Naaah, kita makan bareng ya pak Suro, Adi..." ucap Guntur kemudian membagikan satu-satu besek ditangannya.


"Kunto mana Gun, sekalian makan bareng atuh..." kata pak Suro celingukkan.


"Kuuuun... ayo makan dulu," panggil Guntur sedikit mengeraskan suaranya.


"Iyaaa..." sahut Kunto dari dapur.


Selang tak lama kemudian Kunto datang lalu mengambil besek diatas meja dan duduk disebelah Guntur. Pak Suro dan Adi duduk menghadap jendela yang menampakkan suasana malam jalan raya diluar. Keempat orang itu duduk berhadapan membuka besek dihadapannya masing-masing.


Adi terlihat meneguk air liurnya hingga tenggorokkannya nampak bergerak naik turun melihat isi besek yang menggiurkan. Besek pesanan chatring berisi nasi, goreng ikan kembung dan paha bawah ayam yang di bistik, ada dua macam sambal tomat dan sambal ijo, capcay, tahu, tempe serta lalapan.


"Wah, pak enak sekali ini..." seru Adi menoleh ke pak Suro sambil mengunyah nasi dan lauk dimulutnya.


"Husssttt, jangan malu-maluin atuh Di," sergah pak Suro.


Guntur dan Kunto tersenyum-senyum melihat ekspresi Adi, seraya berkata; "Jangan sungkan-sungkan pak, biasa aja anggap aja di rumah sendiri, ya Di yaa.."


"Ini ueeenak banget A, baru kali ini makan beginian ya pak ya?" timpal Adi spontan membuat semuanya tertawa oleh tingkah Adi.


Bagi Guntur dan Kunto sudah tidak asing dengan makanan seperti itu, namun tidak bagi pak Suro dan Adi. Mereka makan daging ayam saja bisa dihitung dengan jari tiap bulannya dan itupun kalau pendapatan hari itu lagi banyak. Bagi pak Suro dan Adi sudah paling mewah baginya. Keduanya lebih sering makan dengan lauk tahu tempe dan sayur yang dibeli dari warung, sesekali dengan ikan goreng yang dibagi dua. Adi dan pak Suro terlihat sangat menikmati makanan tersebut dan memakannya dengan lahap.


Berselang lama keempatnya menikmati makan malam tanpa ada obrolan, pada saat pak Suro hendak memesukan suapan terakhir dimulutnya, tiba-tiba ia tersedak-sedak. Spontan semuanya menoleh kearah pak Suro.


"Uhukk.. uhukkk.. uhukkk.." wajah pak Suro menunjukkan keterkejutan yang teramat sangat sembari matanya menatap tajam keluar jendela.


"Minum, minum pak... Jangan buru-buru atuh pak," ucap Guntur spontan dibarengi tertawa kecil.


Guntur tidak mengetahui kenapa Pak Suro sampai tersedak, dia menganggap mungkin karena pak Suro makan dengan tergesa-gesa. Padahal pak Suro tersedak karena kaget pada saat ia memandang keluar jendela secara tidak sengaja melihat ada sepasang mata merah sedang menatapnya tajam. Apa yang dilihatnya dia pendam saja didalam hati, kemudian cepat-cepat menyelesaikan makannya.


......................


🔴JEMPOLNYA MANA NIH❓

__ADS_1


__ADS_2