
Guntur sedikit terkejut ketika gerbang rumahnya terbuka lebar dan bertanya-tanya dalam hati melihat sebuah mobil sedan terparkir di halaman rumah. Kemudian ia memarkirkan mobilnya disebelah mobil sedan lalu segera bergegas masuk karena didorong rasa penasaran untuk melihat tamu yang datang.
"Assalamualaikum..." ucap Guntur begitu membuka pintu.
"Waalaikum salam," sahut mamah Karmila.
Guntur melihay mamah Karmila duduk di ruang tamu dan diseberang meja duduk seorang pria setengah baya berusia 50 tahunan.
"Gun, sini sebentar. Pak Asrul ini kenalin anak saya Guntur," sambung mamah Karmila.
Pria yang bernama Asrul itu berdiri mengulurkan tangannya, "Asrul..." ucapnya.
Guntur menyambutnya sambil tersenyum tipis dan membalas mengenalkan dirinya. Kemudian duduk disebelah mamahnya sembari melonggarkan dasi yang berasa mencekek lehernya semenjak pagi.
"Oh, jadi Guntur ini yang menggantikan pak Aryo bu," ucap pak Asrul memandang kagum.
"Iya pak Asrul, ya mau tidak mau Guntur harus menjalaninya pak karena Guntur satu-satunya pewarisnya dan semua ini atas permintaan papahnya dalam surat wasiatnya," ucap mamah Karmila.
"Ya ya, saya sudah mendengar namanya bu dan menjadi topik utama obrolan setiap kali kami bertemu dengan rekan-rekan bisnis. Reputasinya sangat disegani, saya tidak menyangka Guntur masih semuda ini," kata pak Asrul geleng-geleng kepala terkagum-kagum.
"Jangan berlebihan Om, saya masih butuh belajar banyak dari orang-orang berpengalaman seperti Om," ucap Guntur merendah.
"Mmm... Sebentar, saya teringat. Maaf sebelumnya kalau saya salah ya Om, apakah Om namanya Asrul Dewa Brata?" Tanya Guntur ragu-ragu.
Wajah Pak Asrul seketika terkesiap kaget, lalu sedetik berikutnya dia tersenyum kalem, kemudian berkata; "Benar nak Guntur, hehehe..." Pak Asrul tertawa kecil.
"Mah, pak Asrul ini pengusaha baja terbesar. Beliau ini pemilik PT. PERAK SAKTI PERSADA, Perusahaan besar. Nggak ada kontraktor yang tidak mengenal namanya, saya nggak menyangka bisa ketemu langsung dengan Om," ucap Guntur exited.
Mamah Karmila hanya tersenyum simpul mènanggapi ungkapan Guntur. Dirinya memang sudah mengenal Asrul sejak lama setelah dikenalkan Aryo dalam sebuah acara pertemuan para pengusaha.
__ADS_1
"Mamahmu sudah tahu Gun, kami sudah kenal lama saat ada pertemuan para pengusahan bersama papahmu dulu," ucap pak Asrul.
"O iya, saya datang kesini menyampaikan turut berbela sungkawa. Mohon maaf saya baru datang sekarang, setelah mendapatkan kabar tadi pagi dari rekan-rekan. Jadi dari Jakarta saya langsung kesini. Pak Aryo itu rekan bisnis yang paling disegani, beliau sangat baik kepada siapapun bahkan termasuk kepada para kompetitornya sekalipun," ucap pak Asrul.
"Terima kasih banyak ya Om," ucap Guntur.
"Ngomong-ngomong kapan lagi nih, ELANG TRABAS memberikan MoU-nya untuk saya, hehehe..." kata pak Asrul.
"Wah kebetulan nih Om, semoga dalam waktu dekat ini. Saya tinggal menandatangani kontrak kerja samanya saja dengan pengusaha Jepang, mudah-mudahan minggu depan pertemuannya lancar dan tidak ada hambatan, apapun" ucap Guntur.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Dikalangan rekan-rekan Om, menurut mereka kamu sama persis dengan papahmu, teliti dan tidak sembarangan tekan kontrak saja bahkan setiap detilnya selalu diperhatikan termasuk memikirkan dampak apabila akan mengambil kontrak. Om harap kamu dapat meniru langkah papahmu," kata pak Asrul.
"Iya, pak. Terima kasih sudah mengingatkan, kalau begitu saya permisi dulu pak," ucap Guntur kemudian hendak bangkit dari kursi tetapi dicegah pak Asrul.
"Sebentar Gun, sekalian Om mengundang kamu dan ibu Mila pada acara syukuran atas kelulusan putri Om. Om tunggu di rumah ya, Om kepingin kamu berkenalan dengan putri Om, namanya Hafizah," ucap pak Asrul kemudian menoleh kearah mamah Karmila.
"Waduh Om, saya nggak percaya diri kalau urusan dengan masalah perempuan, makanya jadi jomblo terus, hehehe..." jawab Guntur menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Insya Allah Om, terima kasih undangannya nih Om. Kalau begitu saya permisi, Om, Mah..." sambung Guntur.
Mamah Karmila tersenyum-senyum saja mendengar Guntur mengatakan itu. Didalam hatinya berkata, pantas saja selama ini putranya tidak pernah mengenalkan seorang gadis.
Mamah Karmila dan pak Asrul kembali melanjutkan bincang-bincangnya. Beberapa saat kemudian setelah ngobrol kesana kemari, topik obrolan berganti mengarah ke hal pribadi. Wajah mamah Karmila langsung berkerut jengah ketika disinggung untuk menikah lagi.
"Apakah bu Mila tidak ingin mencari pengganti lagi?" tanya pak Asrul menatap Karmila.
Baru saja Karmila membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan itu tiba-tiba tertahan sekaligus terkejut bukan main oleh menyalaknya suara alarm mobil di luar.
"Astagfirullah!" seru Karmila memegang dadanya karena kaget.
__ADS_1
Pak Asrul langsung berdiri melihat keluar, dia mengira mobilnya ada yang membobol. Tetapj setelah dilihat mobilnya masih berada ditempatnya semula, ia pun mengeluarkan kunci mobilnya dari saku lalu mematikan alarm melalui tombol di kunci kontaknya.
Tak lama setelah alarm mati, Guntur berlari dari dalam rumah membuka pintu dan langsung memeriksa keadaan diluar. Sejenak Guntur celingukkan melihat halaman tumah tetapi nampaknya tak ada yang berubah. Dua mobil yang ada dihalaman masih nampak diposisinya. Guntur pun penasaran tidak mungkin alarm itu berbunyi jika tidak ada yang menyentuhnya, ia pun berjalan memeriksa mobilnya lebih dulu. Ia berjalan memutari mobilnya lalu melongokkan kepalanya kebawah kolong mobil tapi tidak ditemukan apapun hanya hamparan rumput.
Kemudian pandangannya beralih melihat mobil sedan Mercy hitam milik pak Asrul. Guntur pun kembali mengelilingi mobil sedan itu sama seperti memeriksa mobilnya. Disisi samping nampak tak ada yang rusak, beralih melangkah ke belakang juga tidak ada yang rusak. Lalu kesisi lainnya kondisinya pun masih baik-baik saja tidak ada bekas tangan-tangan jahil. Guntur meneruskan langkahnya kedepan mobil, matanya terbelalak melihat keatas kap depan mobil sedan milik pak Asrul.
"Om.. Om!" Seru Guntur.
Tak lama kemudian pak Asrul nongol dengan wajah cemas disusul mamah Karmila, "Ada apa Gun?!" tanya pak Asrul.
"Lihat ini Om!" seru Guntur melambaikan tangannya begitu pak Asrul berdiri di teras.
Pak Asrul bergegas menuruni tangga teras dengan wajah cemas menghampiri Guntur yang berdiri didepan mobilnya. Matanya terbelalak melihat kap mobilnya sudah penyok lumayan dalam.
"Astaga!" pekik pak Asrul memelototi nasib mobilnya.
Mobil sedan Mercy-nya terlihat penyok cukup lebar, terdapat dua cekungan seperti bekas injakkan kaki. Pak Asrul dan Guntur sama-sama mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Seperti bekas tapak kaki," gumam Guntur, kemudian kepalanya mendongak keatas diikuti oleh pak Asrul.
Dilihatnya keatas tapi tidak ada apapun disana. Guntur dan pak Asrul hanya melihat kegelapan langit dengan titik-titik cahaya dari bintang-bintang dengan wajah sangat keheranan. Pemikiran Guntur dan Pak Asrul nampaknya sama-sama menduga-duga jika mobil itu diloncati seseorang dari atas.
Berbeda dengan mamah Karmila, dia tidak mengikuti apa yang dipikirkan oleh Guntur dan pak Asrul. Mamah Karmila justru mengedarkan pandangannya kesetiap sudut-sudut gelap sepanjang pagar rumah. Pandangannya menyapu dari pintu gerbang terus menelusuri tepian pagar samping, hingga pandangannya terpaku pada sebuah pohon palm yang berdiri menjuntai di pagar samping rumah.
"Karbala!" pekik Karmila dalam hati.
Dibawah pohon Palm terlihat oleh Karmila sesosok mahluk hitam legam samar-samar diantara kegelapan bayang-bayang pohon Palm dari sorotan lampu taman. Yang membuat Karmila merasa yakin kalau Karbala sedang menatapanya. Hal itu terlihat jelas ada dua kilatan cahaya merah menyala menghadap dirinya.
......................
__ADS_1