
Sepulangnya pak Suro dan ustad Mustakim, Guntur masih belum dapat memejamkan matanya diatas tempat tidur. Dia masih merenungi penjelasan dari ustad Mustakim berkaitan dengan mahluk gaib penghuni pohon Beringin yang diketahui jenis Genderuwo itu. Dengan seksama Guntur mencoba mencerna setiap kata-kata yang diucapkan ustad Mustakim dan berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dirinya masih diliputi kegundahan karena hatinya ada keragu-raguan, entah percaya atau tidak soal asal usul mahluk Genderuwo yang disebut ustad Mustakim berasal dari masa yang sangat lampau.
Sebagai seseorang yang lahir di jaman modern rasanya sangat sulit untuk dapat percaya kalau masih ada mahluk yang pernah hidup jauh di jaman antah berantah, namun keberadaannya masih dapat ditemukan hidup di jaman ini. Analisis otak terpelajarnya terus menerus berupaya menerima fakta-fakta yang dijelaskan ustad Mustakim.
“Mungkinkah ada mahluk halus yang hidupnya puluhan ribu tahun?” Gumam Guntur garuk-garuk kepala.
Guntur begitu penasaran kemudian dia bangkit dari pembaringannya lalu duduk di meja komputernya dan menyalakannya.
Beberapa saat kemudian Guntur langsung membuka internet dan berselancar di dunia untuk mencari informasi seputar keberadaan mahluk halus jenis Genderuwo. Banyak sekali situs-situs yang menulis tentang Genderuwo. Dari semua situs-situs yang menuliskan tentang Genderuwo rata-rata isi artikel itu nyaris sama penjelasannya, bisa jadi cooy paste. Guntur membaca salah satu artikel yang menurutnya paling relefan.
Genderuwo merupakan salah satu jrnis makhluk halus yang ada di Indonesia. Mungkin di luar negeri pun ada hanya saja namanya bisa berbeda. Namun mahluk halus ini wujudnya seperti seekor kera tapi memiliki badan yang tinggi dan besar. Genderuwo konon suka tinggal di pepohonan, sepeti pohon beringin dan juga pohon-pohon besar lainnya karena wujudnya yang seperti kera raksasa. Seperti mahluk halus pada umumnya, Genderuwo juga tidak bisa dilihat oleh mata orang biasa akan tetapi pada saat-saat tertentu dia akan menampakkan dirinya.
Genderuwo pada umumnya memiliki tinggi sekitar 7 sampai 8 kaki, disekujur tubuhnya ditumbuhi rambut yang sangat lebat. Sehingga Genderuwo terlihat memiliki rambut gimbal dan gondrong. Genderuwo sendiri biasanya tinggal di tempat seperti pohon dan semak-semak yang lebat atau juga berbatu seperti bagian bawah jembatan tempo dulu. Rata-rata usia mahluk halus itu panjang hingga dunia Kiamat terkecuali ada yang memusnahkan dengan kemampuan spiritual dari manusia-manusia tertentu.
Guntur manggut-manggut setelah membaca artikel tersebut. Ia mulai percaya jika Genderuwo yang tinggal di pohon beringin dibelakang rumahnya itu bukan mahluk halus biasa, melainkan memiliki kesaktian yang tidak bisa dianggap enteng. Ustad Mustakim sendiri sampai angkat tangan tidak mau melakukan pengusiran.
Namun tiba-tiba wajah Guntur berubah muram ketika terlintas diingatannya tentang kemunculannya beberapa kali menemui dirinya. Guntur masih sangat ingat dengan pengakuan Genderuwo itu yang mengklime jika dirinya adalah bapaknya. Tetapi hati nurani Guntur berontak, dirinya sangat tidak mau menerimanya pengakuan tersebut.
"Apakah ini juga berkaitan dengan mamah? Apa mungkin mamah sebetulnya sudah mengetahuinya sejak dulu?" ucap Guntur dalam hati.
Sementara itu Karmila masih duduk termangu didepan meja riasnya. Pikirannya melayang memikirkan bagaimana ustad Mustakim dengan gamblangnya menceritakan tentang Karbala. Didalam hati, Karmila membenarkan semua ucapan ustad Mustakim itu. Adakalanya dia menginginkan mengusir Karbala karena merasa hidupnya sangat terkekang, akan tetapi disatu sisi Karmila merasa berat karena dia tahu Karbala selalu melindungi Guntur dimana pun Guntur berada dan sejujurnya hal itulah yang membuat dirinya tenang.
Wanita berusia 45 tahun yang masih terlihat cantik itu tiba-tiba menggigit bibir bawahnya, wajahnya berubah suram seketika. Karmila teringat kembali bagaimana awal mula dirinya terbuai oleh tipu daya Karbala hingga pernah selalu mengharap kemunculannya disaat Aryo sedang berada diluar kota. Kala itu Karmila sempat mengajukan permintaan, setiap kali menemui dirinya wujud Karbala harus berganti menyerupai suaminya. Dan kini dirinya harus menanggung konsekwensi yang terus dipendamnya menjadi kisah terkutuk sepanjang hidupnya.
Setelah Aryo meninggal itu Karbala tidak bisa lagi merubah wujudnya menyerupai Aryo dan hal itulah yang menjadi kelemahannya yang sudah sejak dahulu berlaku terhadap bangsa Genderuwo. Pantas saja jika Karmila sangat marah dan ketakutan manakala melihat wujud asli Karbala yang kembali memintanya melakukan hubungan badan.
Karmila awalnya merasa khawatir persetubuhannya dengan Karbala akan membuatnya hamil. Namun kemudian Karmila kembali tenang setelah mendapat penjelasan dari Karbala. Pada saat itu Karbala mengetahui kalau Karmila sedang gundah dan merasa khawatir soal itu, lalu Karbala mengatakan satu hal yang membuatnya tenang.
__ADS_1
......................
Sabtu pagi Guntur sudah berkemas bersiap-siap dengan ransel yang disampirkan di pundaknya. Guntur berdiri di teras melihat ke halaman dimana mobilnya sedang dipanaskan mesinnya sembari di lap oleh Kunto.
"Kun, sudah siap?" seru Guntur.
"Sudah siap boss!" sahut Kunto.
"Maaah..." Guntur memanggil mamah Karmila.
Tak lama kemudian mamah Karmila muncul dari dalam rumah dengan masih mengenakan daster yang lumayan minim.
"Mau berangkat sekarang Gun? Nggak nunggu masakan matang dulu biar sarapan disini?" tanya mamah Karmila.
"Nanti kesiangan mah, biar cari sarapan di jalan aja. Ya udah Guntur pamit ya mah," ucap Guntur kemudian mencium tangan mamah Karmila dan memeluknya.
"Siap tante... saya permisi tante," sahut Kunto melambaikan tangannya diikuti oleh Guntur.
Mobil Pajero sport warna putih yang dinaiki Guntur dan disetiri Kunto pun melaju meninggalkan mamah Karmila di rumah sendirian. Hari ini Guntur memenuhi jadwal yang sudah diatur sekertarisnya, Vina seminggu lalu untuk pergi keluar kota meninjau salah satu proyek pembangunan hotel di daerah Semarang Jawa Tengah sekaligus mengadakan pertemuan dengan beberapa investor
"Bos, dimana jemput Vinanya?" Tanya Kunto ditengah perjalanan.
"Oh iya, sebentar liat hape dulu soalnya kemarin Vina sudah sharelok," sahut Guntur kemudian membuka hapenya.
"Pelan-pelan Kun, sudah dekat sepuluh menit lagi. Lurus aja di jalan ini ya, rumahnya dipinggir jalan kok," kata Guntur sambil melihat google maps.
Tak berapa lama kemudian dikejauhan terlihat seorang gadis memakai jeans dan tshirt dan didekat kakinya ada sebuah koper kecil.
__ADS_1
"Gun, itu Vina bukan?" tanya Kunto.
"Iya betul Kun," ujar Guntur.
Kunto pun memelankan laju mobilnya lalu menepi didepan Vina berdiri. Wajah Vina langsung sumringah melihat Guntur menurunkan kaca jendela mobilnya lalu mengajaknya naik. Kunto melongo memandangi Vina hingga Vina sudah masuk mobil pun Kunto masih saja tertegun.
"Woi, jalan... kesambet lu ya," sungut Guntur.
"Eh, sssu...sudah masuk," ujar Kunto tergagap.
"Vina juga nggak bakal naksir sama orang berambut keriting, ya Vin ya.." seloroh Guntur yang tahu sedari tadi Kunto memandangi Vina.
"Siapa pak? Anaknya pak Juki?" Tanya Vina tersenyum.
"Pak Juki kan masih cuti Vin, o iya perlu kenalan nggak nih?" sindir Guntur melirik Kunto.
"Ya elah boss, boss. pelit amat. Vin kenalin saya Kunto, sodaranya Guntur, hehehe..." sergah Kunto tanpa menghiraukan sindiran Guntur.
"Anjrittt, saya nggak punya sodara keriting kali," celetuk Guntur.
"Diem sebentar napa," timpal Kunto.
Vina hanya senyum-senyum saja melihat kekonyolan boss nya dan Kunto.
Sementara itu dibelakang mobil yang dinaiki Guntur, Vina dan Kunto, nampak sebuah mobil sedan hitam terus membunyuti. Mobil sedan hitam itu sudah sedari tadi mengikuti semenjak keluar dari rumah Guntur tanpa mereka sadar.
......................
__ADS_1