
Malam semakin larut dan udara dingin kota Bandung kian berasa di rasakan oleh ustad Syukur, Jin An dan Parno di ruang tamu itu.
“Bagaimana ustad?!” Tanya Jin An penuh harap.
“Kita tunggu kang Nawawi pak. Saya sudah sherlok, katanya siap,” jawab ustad Syukur.
“Nggak sebaiknya di jemput Parno aja ustad?” tawar Jin An.
“Tadinya saya juga bilang begitu nanti ada yang jemput tapi kang Nawawi menolak, biar dia datang sendiri naik motor,” ujar ustad Syukur.
“Rumahnya deket- deket sini kok pak, di persimpangan arah ke Dago itu tuh,” sambung ustad Syukur sambil menunjukkan arah.
“Terus saya harus menyiapkan apa nih ustad?” tanya Jin An.
“Nggak usah nyiapin apa- apa pak Jin An, cukup bantu doa saja,” ujar ustad Syukur.
Jin An menanyakan itu karena pengalaman sebelumnya ketika mendatangkan mbah Sakri yang meminta di siapkan kopi pahit, air putih dan kembang.
Sekitar 15 menit berlalu, tIba- tiba berkilat sebuah sorot lampu menerangi ruang tamu berasal dari lampu kendaraan sepeda motor dari luar, nampaknya sepeda motor itu memasuki halaman rumah.
“Nah, itu kayaknya kang Nawawi sudah datang,” ujar Parno.
“Bukain No,” timpal Jin An menyuruh Parno membukakan pintu untuk kang Nawawi.
Tak lama kemudian orang yang di panggil ustad Syukur bernama Nawawi itu pun muncul dibalik pintu.
“Loh No, ini rumah ente?!” kang Nawawi sedikit terkejut melihat Parno yang membuka pintu.
“Hehehehe... bukan kang, saya kerja di sini, mangga... mangga kang asup...” ujar Parno dengan logat bahasa sunda yang kental.
“Muhun, muhun No...” timpal kang Nawawi, kemudian ia pun melangkah menuju ruang tamu.
“Assalamualaikum...” ucap kang Nawawi tersenyum ramah begitu muncul di ruang tamu.
“Wa’ alaikum salam,” sahut ustad Syukur kemudian menyambut uluran jabat tangan kang Nawawi.
“Silahkan, silahkan duduk pak,” sambut Jin An sambil menyalami kang Nawawi.
__ADS_1
Pria yang di panggil kang Nawawi itu usianya sekitar 40 tahunan. Namanya cukup di kenal dan diaegani di dalam lingungan sekitarnya sebagai seorang praktisi supranatural.
Setelah Kang Nawawi duduk di kursi bersebelahan dengan ustad Syukur, Jin An pun langsung mengenalkan dirinya sekaligus menyampaikan permintaan bantuan kepada kang Nawawi.
“Untuk lebih jelasnya soal situasi dan kondisinya, ustad Syukur yang lebih tahu pak,” pungkas Jin An.
“Iya, jadi begini kang....” ustad Syukur menceritakan tentang Putri yang di bawa ke alam gaib.
Ustad Syukur juga menceritakan tentang sosok mahluk gaib yang di lihatnya. Ia juga mengingatkan tentang situasi yang akan di hadapi secara mendetil dengan memberikan gambaran seberapa besar kekuatan dari mahluk gaib tersebut.
Kang Nawawi mendengarkan seluruh cerita yang diungkapkan ustad Syukur dengan sangat serius. Sesekali nampak mengerutkan keningnya, kadang menyipitkan matanya selama menyimaknya.
“Jam berapa sekarang?” tanya kang Nawawi setelah ustad Syukur selesai menjelaskan.
“Jam 10 lewat 27menit pak,” sahut Jin An melihat arloji di tangannya.
“Sebentar saya periksa keadaannya dulu ya pak,” ucap kang Nawawi.
Tanpa menuggu jawaban, kang Nawawi langsung memejamkan matanya, disusul dengan gerakan mulutnya membaca amalan.
Ustad Nawawi menanggapi dengan menganggukkan kepala, sementara Jin An dan Parno memperhatikan kang Nawawi melakukan terawangannya.
Sekitar 5 menitan berlalu, kemudian terdengar kang Nawawi mengucapkan “alhamdulillah” sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Gimana pak?!” Jin An langsung bertanya cemas namun penuh harap.
“Insya allah akan saya coba dibantu dengan ustad Syukur juga. Mm, bisa di antar ke tempat pohon beringin itu pak?” Kata kang Nawawi.
“Bisa, bisa pak. Mari, lewat sini,” ujar Jin An menunjukkan jalan melalui pintu samping yang berhubungan dengan ruang dapur.
“Tapi pak, sandalnya ada di depan,” sergah ustad Syukur.
“Oh, ya sudah dari depan juga nggak apa- apa ustad. Ayo, mari... mati,” ujar Jin An.
Keempat orang itu kemudian beranjak keluar mengikuti Jin An yang melangkah di depan disusul Parno, ustad Syukur dan kang Nawawi.
Hembusan udara malam kota Bandung sangat dingin langsung menusuk hingga ke tulang- tulang mereka begitu berjalan ke halaman rumah.
__ADS_1
Suara- suara knalpot, klakson dan mesin kendaraan yang lalu lalang di jalan raya depan rumah Jin An masih ramai terdengar. Jin An sangat bersemangat memimpin langkahnya menuju pohon Beringin di sudut belakang melalui halaman samping kiri.
Sementara itu di dalam dada ustad Syukur mulai merasakan debaran- debaran. Mula- mula debarannya halus, namun semakin dekat langkahnya ke tempat pohon beringin debarannya kian besar.
Kang Nawawi pun merasakan hal yang sama. Insting spiritualnya langsung dapat merasakan ada sebuah kekuatan gaib di depannya.
Setelah beberapa langkah mereka berjalan, tiba- tiba kang Nawawi berseru; “Stop, stop! Cukup disini saja,” kata kang Nawawi menghentikan langkah mereka serempak.
Kang Nawawi dan yang lainnya sesaat menoleh pada kang Nawawi menunggu apa yang hendak dilakukannya. Lalu mereka semua menatap kearah pohon beringin berjarak 10 langkah di depan mereka.
“Pak Jin An dan Parno, menunggu di sana aja ya. Mungkin ini akan sangat berbahaya, apabila terjadi pertempuran. Tapi saya coba bernegosiasi secara baik- baik dulu,” Kata kang Nawawi.
“Saya dan ustad Syukur akan melakukan interaksi lebih dulu dengan penghuni pohon itu,” sambungnya.
Jin An dan Parno langsung merasa bergidik mendengar penjelasan kang Nawawi. Kini jantung Jin An dan Parno mendadak berdegub kencang, keduanya buru- buru menjauh menuju kursi yang berada di belakang rumah.
Setelah Jin An dan Parno menjauh, kang Nawawi langsung bersiap- siap untuk menjalankan rencanya. Di dalam hatinya sangat berharap dengan melakukan komunikasi secara baik- baik, mahluk yang mendiami pohon beringin yang bernama Karbala itu mau mengembalikan putri Jin An.
“Ustad, saya coba masuk menemui genderuwo itu dulu. Ustad bersiap- siap saja barangkali terjadi pertarungan, langsung bisa membantu saya,” ucap kang Nawawi.
“Muhun kang,” sahut ustad Syukur.
Kemudian Kang Nawawi melihat keadaan di sekelilingnya sejenak lalu duduk diatas rumput diikuti Ustad Syukur.
Kang Nawawi dan ustad Syukur duduk bersila menghadap pohon beringin yang berdiri dengan rindang membentuk siluet hitam menjulang keatas gelapnya langit malam.
Kang Nawawi memejamkan matanya perlahan sambil mengatur nafas. Sesaat kemudian terdengar suara kang Nawawi pelan dan samar membaca amalan spiritual.
Sementara ustad Syukur diam -diam juga membaca doa- doa untuk memproteksi diri serta menyiapkan sebuah amalan penyerang untuk menghantam bilamana terjadi pertarungan.
......................
Alam Gaib,
Kang Nawawi menatap lekat- lekat sebuah rumah berbentuk kastil kuno di hadapannya. Cuaca di langit sedikit terang seperti senja pergantian sore ke malam.
Suasananya begitu sunyi dan senyap, bahkan terasa lembab tak ada hembusan angin sedikitpun. Kang Nawawi berjalan menuju pintu masuk kastil kuno tersebut.
__ADS_1
......................