
"Masa?! Tapi tadi pak Guntur masuk ruangannya kok," ujar Joko menatap Renata tak percaya.
"Iya, ya. Nggak mungkin pak Guntur ngantor kalau dia kecelakaan. Tapi berita itu masa sih hoax, dan lagi didalam berita lengkap disebutkan pula nomor platnya dan itu gue hafal betul B 1116 OK.
Semua karyawan dan karyawati yang ada di area team work berdiri serempak saling menatap satu sama lain. Tatapan mereka mengguratkan saling melemparkan pertanyaan.
"Coba tengok aja ke ruangannya," sergah Jojo penasaran.
"Ayo, ayo..." timpal mereka serempak.
“Ayo kita lihat tapi nggak usah semuanya juga...” ajak Joko.
“Ayo, penasaran gue,” timpal Renata.
“Ayo, aku ikut ah,” ujar Jojo.
Akhirnya Renata, Joko dan Jojo beranjak dari meja kerjanya menuju ruangan Guntur penuh dengan rasa penasaran yang menggunung di dada masing-masing. Karyawan-karyawan lainnya hanya memandangi punggung Renata, Jojo dan Joko mengiringi mereka berlalu.
Ketika sampai didepan pintu ruangan Guntur, ketiga karyawan itu menjadi ragu-ragu untuk mengetuk pintu.
“Lu aja Jok yang ketuk,” ujar Renata pada Joko.
“Kamu aja Jo,” timpal Joko pada Jojo.
“Kamu aja Ren, nggak berani aku,” ujar Jojo kemudian pindah berdiri dibarisan belakang.
Ketiga karyawan itu sempat saling tunjuk dan dorong-mendorong tak ada yang berani mengetuk pintu ruangan Guntur, sampai tiba-tiba suara terdengar dari dalam ruangan.
“Ada apa kalian? Ayo masuk...” ucap suara itu.
Ketiga karyawan itu melongo saling tatap satu sama lain penuh dengan keheranan.
“Bener itu suara pak Guntur,” bisik Renata.
“Iya ya,” timpal Joko.
“Ayo masuk, malah bisik-bisik disitu,” ucap suara seperti Guntur dari dalam ruangan lagi.
Renata akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu lebih dulu sebelum membuka pintu.
Tok... tok.. tok...
Kreteeeekkk...
__ADS_1
“Permisi pak,” ucap Renata membuka pintu.
“Silahkan, silahkan masuk,” jawab Guntur sedang duduk di kursi besarnya.
Renata, Jojo dan Joko terbengong-bengong memandangi sosok pemuda yang duduk santai dibalik meja kerja sambil memandang layar monitor. Kemudian ketiga karyawan itu melangkah dan berdiri didepan meja Guntur.
“Ayo, duduk, duduk. Ada apa?” tanya Guntur penuh perhatian pada karyawannya.
“A a, anu pak, itu.. a, anu bbbapak tidak apa-apa?” ucap Renata gugup memberanikan diri menatap wajah Guntur.
“Loh, memangnya kenapa Ren? Saya baik-baik saja, nih kalian lihat. Sehat kan?” jawab Guntur.
“Alhamdulillah, syukur deh pak Guntur nggak kenapa-napa. Ya udah pak hanya mau memastik kondisi bapak, kami sangat khawatir. Kami permisi pak,” ucap Renata kemudian berlalu keluar dari ruangan Guntur.
Guntur hanya membalasnya dengan anggukkan kepala sambil memandangi berlalunya ketiga karyawannya.
Beberapa saat kemudian setelah mereka kembali dari ruangan Guntur, ketiga karyawan itu langsung diberondong pertanyaan oleh teman-teman lainnya.
“Gimana, gimana Ren?”
“Bener nggak pak Guntur Jok, Jo?”
“Iya, itu pak Guntur. Tapi...” Renata menggantungkan kalimatnya.
“Ya aneh aja gitu, saya hafal banget mobil yang kecelakaan itu, bener-bener mobil yang biasa dipakai pak Aryo dulu. Dan lagi pada hari kecelakaan itu bersamaan dengan pak Guntur mengunjungi proyek di Semarang.” Ungkap Renata dengan raut wajah bingung.
“Masa sih Ren,” timpal Jojo.
“Vina sendiri yang ngasih tau kalau hari Sabtu itu dia diajak mendampingi pak Guntur meninjau proyek,” terang Renata.
“Tadi kalian lihat Vina nggak didepan ruangan pak Gintur?” tanya salah satu karyawan.
“Oh iya, ya Tuhan bener juga lu Han. Vina nggak ada disana,” ujar Renata.
“Iya nggak ada Vina di mejanya,” timpal Joko.
“Berarti Vina...” Renata tak melanjutkan kalimatnya, kemudian buru-buru menyambar hapenya yang tergeletak diatas meja kerjanya.
“Gue harus telpon Vina!” seru Renata.
Semua teman-teman kerjanya menatap Renata penuh penasaran ingin mengetahui kabar Vina. Mereka berpikir, kalau Guntur ngantor, kenapa Vina tidak masuk kantor. Seandainya Vina ada dalam kecelakaan tersebut pastinya Guntur pun masih berada bersamanya.
Tuuuut.... tuuuut... tuuuut...
__ADS_1
Wajah mereka penuh harap ketika suara telpon yang sengaja di loadspeaker itu terdengar tersambung ke nomor kontak Vina. Beberapa saat bunyi telpon Vina tidak diangkat-angkat. Wajah para karyawan yang mengerubutinya langsung kecewa. Wajah mereka kembali terlihat penuh harap telpkn Vina diangkat ketika Renata kembali mengulang menghubunginya.
Tuuuut... tuuuut... tutuuuut...
Beberapa saat setelah menunggu justru suara operator seluler yang menjawab.
“Maaf nomor telpon yang anda tuju tidak menjawab, silahkan tinggalkan pesan atau telpon beberapa saat lagi.”
Wajah-wajah para karyawan itu kembali kecewa. Satu-satunya jawaban yang akan menguak tentang situasi tersebut hanyalah kabar dari Vina. Tetapi apalah daya telpon Vina pun tidak diangkat.
"Yuk ah, waktunya pulang..." celetuk Agus.
"Yuk..." timpal beberapa karyawan.
......................
Didalam ruangan, pak Iwan mondar-mandir gelisah didepan meja kerjanya sambil menggenggam handpone. Wajahnya merah padam menyimpan kegeraman yang teramat sangat.
"Kurang ajar betul si Carok menipu saya!" gumannya geram.
Pak Iwan melihat keluar dari dinding ruangannya yang terbuat dari kaca, para karyawan di area team work satu persatu meninggalkan meja kerjanya untuk pulang. Tapi dia tidak memperdulikannya, pikirannya hanya tertuju pada Carok dan komplotannya yang diperintah untuk mengecek kembali lokasi target dieksekusi.
"Kalau melihat foto-foto di hapenya kemarin, memang benar itu mobilnya Guntur berada dibawah jurang. Tapi kenapa Guntur bisa berangkat kantor hari ini dan dalam keadaan baik-baik pula..." pikir pak Iwan kemudian membuka hapenya menelpon Carok.
"Hallo, gimana?!" tanya pak Iwan dengan nada geram.
"Saya sudah ke lokasi tapi mobilnya sudah tidak ada di bawah jurang lagi kemungkinan sudah di derek pagi tadi," sahut suara dari seberang telpon.
"Saya tidak mau tau! Pokoknya kalian bereskan sesuai kesepakatan, jika tidak kalian tau akibatnya!"
klik!
Hape ditangan pak Iwan langsung di tutup. Hatinya timbul penasaran ingin melihat Guntur lagi di ruangannya untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Kemudian pak Iwan bergegas keluar tuangannya. Suasana di luar ruangannya sudah sepi, semua karyawan sudah pulang. Pak iwan melihat jam dinding yang tergantung diatas pintu depan, jarum jam sudah menunjukkan angka 5. Dia melanjutkan langkahnya menuju lantai dua ruangan Guntur. Hatinya berdebar-debar seirin kakinya menaiki meniti anak tangga satu demi satu.
Tak sampai 5 menit, pak Iwan sudah sampai didepan pintu ruangan Guntur. Tangannya diangkat untuk mengetuk pintu tetapi urung dilakukan, wajahnya nampak bingung penuh keraguan. Namun karena didorong rasa penasaran, akhirnya dia pun memberanikan diri mengetuknya.
Tok.. tok... tok...
Beberqpa saat menunggu respon dari dalam ruangan Guntur tetapi tak ada sahutan. Pak Iwan kembali mengetuknya, namun tetap saja tidak ada sahutan dari dalam. Dia pun mencoba mendorong pintu memaksa masuk akan tapi nampaknya pintu terkunci.
"Apa dia sudah pulang? Tapi kapan dia lewatnya..." gumam pak Iwan.
......................
__ADS_1