
"PERGI DARI SINI! PERGI DARI SINI! PERGI DARI SINI!"
Haji Abas kontan tersentak bangun dari tidurnya. Ia celingukkan melihat sekelilingnya seperti mencari-cari sumber suara itu. Namun beberapa saat kemudian Haji Abas barulah tersadar kalau suara itu berada di dalam mimpinya saat mendapati dirinya berada di bawah pohon beringin.
"Astagfirullahal'azim!" ucap Haji Abas, mengingat suara tanpa rupa yang diucapkan didalam mimpi itu.
Haji Abas melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 15.10 wib. Dan tak lama kemudian terdengar suara azan Ashar berkumandang di kejauhan saling bersahutan dari pengeras suara masjid dan mushola. Haji Abas mengedarkan pandangan disekitarnya, nampak para pekerja bangunan masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Haji Abas segera bangkit dari celah akar pohon beringin tempatnya terlelap dan berjalan menuju rumah.
Nampaknya Haji Abas tak begitu memikirkan suara dalam mimpi itu, ia menganggapnya hanyalah mimpi di siang bolong. Bahkan kejadian pertengkaran kecil pekerjanya yang kehilangan rokok dan habisnya minuman kopi secara misterius tidak dianggapnya serius.
Sambil berjalan menuju rumah utama, Haji Abas memperhatikan para pekerja yang masih nampak sibuk sedang mengukur-ukur untuk pembangunab masjid di halaman belakang yang bersebelahan dengan pohon beringin. Rencananya bangunan semi masjid itu selain di fungsikan untuk sholat berjamaah, juga untuk kegiatan belajar dan mengajar santri-santri Tahfiz.
Semua santrinya merupakan anak-anak berusia 7 hingga 15 tahun yang terdiri dari anak-anak tetlantar, anak yatim atau pun anak yatim piatu. Dengan di bantu 20 ustad sebagai tenaga pengajar, Haji Abas selaku pimpinan yayasan rumah Tahfiz meng-gratiskan dan menjamin semua kebutuhan santri-santrinya. Sebagian besar hasil usahanya sebagai pemilik pabrik garmen ia pergunakan untuk memenuhi kebutuhan yayasannya yang sudah berjalan sekitar 5 tahunan.
Hari pertama berbenah dan membuat petak-petak ukuran bangunan dengan menggunakan benang untuk membangun masjid dan beberapa ruangan itu dilewati tanpa ada peristiwa yang aneh-aneh. Satu-satunya kejadian aneh hanyalah dialami para pekerja yang membangun masjid di halaman belakang, dimana rokok dan dua gelas kopi mendadak habis tanpa ada yang tahu siapa yang meminumnya.
......................
Hari kedua di rumah Tahfiz,
Pagi itu sekitar jam 7, 05 wib, Haji Abas melakukan peletakkan batu pertama untuk pembangunan masjid Tahfiz. Namun sebelum peletakkan batu pertama itu terlebih dahulu dilakukan prosesi azan empat penjuru mata angin.
Empat orang ustad berdiri di masing-masing sudut area pembangunan masjid menghadap arah Selatan, Utara, Timur dan Barat. Kemudian secara bergantian empat orang ustad melantunkan azan dari posisinya masing-masing. Sesaat kemudian orang pertama pertama yang menghadap ke arah barat mulai mengumandangkan azan;
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar... (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah... (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah... (2x)"
Baru sampai pada kalimah azan ke tiga, tiba-tiba terdengar suara desiran angin bertiup kencang dari pohon beringin. Pohon itu terlihat bergoyang-goyang mula-mula pelan namun semakin lama pohon beringin bergerak liar mengeluarkan tiupan angin yang semakin kencang menggerakkan dedaunan kesana kemari membuat daun-daunnya berterbangan kesegala arah.
Haji Abas dan para pekerja kuli bangunan terperangah terkejut bukan main. Seketika empat ustad yang tadi mengumandangkan azan pun terhenti sambil terus berupaya bertahan dari tempatnya berdiri oleh hempasan kuat angin yang menerjang mereka.
Kencangnya hembusan angin begitu terasa hingga membuat tubuh mereka goyah dan terdorong. Hembusan angin itu seakan-akan berputar-putar membentuk spiral ditengah area yang akan dibangun masjid hingga memutuskan benang-benang yang dijadikan ukuran dan pembatas pondasi pembangunan masjid.
__ADS_1
Merasakan angin yang tak wajar, Haji Abas langsung duduk bersila diatas rumput dengan susah payah sembari menjaga keseimbangan tubuhnya akibat hempasan angin. Segera ia memejamkan matanya, tasbih ditangan kanan mulai di titinya bersamaan mulut mengucapkan zikiran;
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
Seperti ada dua kekuatan besar yang saling berbenturan terjadi ditengah-tengah area lokasi pembangunan masjid menimbulkan daya kejut hingga mendorong empat orang ustad muazin serta para kuli bangunan terlempar dari posisinya.
Empat ustad yang melntunkan azan jatuh terjerembab diposisinya masing-masing, sedangkan 10-an orang kuli bangunan yang semula duduk mengitari area itu turut berpelantingan sejauh 3 meteran dari tempatnya.
Suara Haji Abas terdengar bergetar menyerukkan zikirnya penuh dengan tekanan, namun terus berusaha tidak terputus walau pun tubuhnya bergeser kebelakang terdorong oleh kekuatan gaib yang menerjangnya.
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
“Subhanallah walhamdulillah wala’ilaha illallah...”
Bersamaan tasbih itu dilempar dan melayang ke tengah-tengah area pembangunan masjid, tiba-tiba terdengar suara dentuman disertai getaran cukup keras yang sangat mengejutkan.
Booommm!!!
Semua yang ada di sekitar tempat itu merasakan dadanya sesak dan berdebar-debar kencang. Sesaat kemudian setelah suara dentuman itu lenyap, pusaran angin dan hembusannya mendadak hilang seketika.
“Ustad, lanjutkan azannya!” seru Haji Abas pada keempat ustad yang ditugaskan sebagai muazin.
“Hayya 'alashshalaah...(2x)
Hayya 'alalfalaah... (2x)
__ADS_1
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar... (1x)
Laa ilaaha illallaah... (1x)”
Setelah empat penjuru mata angin selesai di azani lalu dilanjutkan dengan mengumandangkan iqomah secara bersamaan.
......................
Di rumah Baru Guntur...
Pagi itu di waktu yang sama, Karmila sedang melakukan aktifitas kebiasaanya seperti saat tinggal di rumah lama, yakni menyirami tanaman-tanaman bunga yang baru di tanamnya kemarin. Karmila begitu menikmati udara pagi yang sejuk sambil memegang selang yang memancurkan air diarahkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya.
Suara lingkungan rumah yang jauh dari kebisingan lalu lintas membuat Karmila begitu kusyuk menikmati suasana pagi itu. Tiba-tiba Karmila menghentikan aktifitasnya, ia merasakan dadanya bedebar-debar, jantungnya serasa berdegub kencang.
Karmila memutar-mutar kepalanya melihat di sekelilingnya, matanya melirik kesana kemari tetapi ia tidak menemukan apapun disekitarnya. Debaran di dadanya berasa kian santer, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Guntur?!" pekik Karmila kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
Tok... tok... tok...
"Guuuun...! Guntuuur...!"
Jekrekkk! pintu kamar pun dibuka dari dalam.
"Mamah? Ada apa sih mah?!" tanya Guntur malas-malasan dengan mata masih mengantuk.
Mamah Karmila yang melihat Guntur dalam keadaan baik-baik saja tertegun di tempatnya berdiri. Ia tak bisa berkata-kata untuk memberikan alasan pada Guntur.
"Mamah kenapa?!" tanya Guntur mengulangi penuh keheranan melihat mamahnya bengong saja.
"Eh, anu.. Mm, nggak jadi deh. Lanjutin tidurnya Gun, hehehehe.." sahut mamah Karmila sedikit canggung, kemudian ia pun balik badan berlalu dari pintu kamar Guntur.
Guntur kian keheranan melihat tingkah mamahnya seperti orang kebingungan dan menjadi kikuk. Namun tidak berusaha mencari tahu, ia lebih memilih melanjutkan tidurnya mumpung di akhir pekan.
......................
__ADS_1