
Di ruang makan saat menyantap makan malam bersama Guntur dan Kunto, obrolan tentang pak Suro pun menjadi topik utama. Awalnya Guntur
melemparkan pertanyaan keheranannya dengan lenyapnya pak Suro begitu saja dari rumah sakit.
“Apa mungkin selisih jalan ya Gun?” ucap mamah Karmila setengah bertanya.
“Kalau selisih jalan rasanya nggak mungkin mah. Sebab jalan ke kamar perawatan itu satu jalur,” timpal Guntur.
“Kun, memangnya benar kalau pak Suro tidak menemui kamu?” tanya mamah Karmila pada Kunto.
“Perasaan nggak ada pak Suro deh Tan. Setelah semua pada keluar itu tidak ada lagi yang masuk kamar,” ujar Kunto.
“Hebat juga pak Suro ya,” seloroh Guntur.
“Hussst!’ sergah mamah Karmila.
“Hehehehe, nanti saya tanya langsung sama pak Suro besok mah. Saya jadi penasaran,” ucap Guntur.
Beberapa lama setelah selesai makan malam itu ketiganya langsung beranjak dari meja makan menuju ke kamarnya masing-masing.
“Eits! Ngapain kamu keriting?!” sergah Guntur melihat Kunto berjalan di belakangnya.
“Maen game,” sahut Kunto.
“O, o, o... nggak bisa, nggak bisa... kamu harus istirahat
nanti jahitanmu lepas, ususmu terburai, darahmu berceceran dan tu...” ocehan Guntur langsung terhenti di sela ucapan Kunto sambil melempar kulit pisang.
“Huh! Pelit lu!” sungut Kunto sambil setengah berlari menuju kamarnya.
“Keritiiing...! pekik Guntur memungut kulit pisang hendak di lemparkan balik tapi Kunto sudah lebih dulu menutup pintu kamarnya.
Mamah Karmila hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak dan sahabatnya itu. Ia lantas membereskan piring-piring bekas makan lalu
di bawa ke dapur. Setelah selesai pekerjaan di dapurnya, Karmila pun langsung masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Karmila duduk termangu di depan violet. Ia masih memikirkan tentang obrolan di meja makan soal kejadian menghilangnya pak Suro
di rumah sakit. Bagaimana mungkin pak Suro hilang begitu saja, kalau pun terjadi selisih jalan setidaknya pasti akan berpapasan karena jalan ke kamar
perawatan Guntur hanya satu arah.
“Apakah mungkin itu Karbala? Dia sengaja datang untuk menengok Guntur? Kata Guntur dia bertemu pak Suro sudah ada di teras depan rumah sakit, sedangkan Guntur saat itu sedang berada di halaman parkiran jadi tidak mungkin dia tidak melihat kedatangan pak Suro,” pikir Karmila.
"Apa yang membuatmu termangu, apa ada masalah?"
Karmila langsunh terlonjak dari kursi Violetnya dan hampir jatuh terdengar, ketika suara besar dan sember muncul dari arah belakangnya. Karmila reflek menoleh sambil berdiri berpegangan pada sandaran kursi violet.
__ADS_1
"Karbala!" pekik Karmila.
Sosok gempal dengan bulu lebat membalut tubuh itu terlihat berdiri di dalam kamar depan jendela. Mata merahnya memandang Karmila penuh kekhawatiran. Karmila beringsut mundur hingga tubuhnya memepet pada dinding kamar di sebelah violet. Ia merasa ketakutan melihat wujud menyeramkan di depannya. Sudah dua kali ini dirinya melihat dengan jelas wujud Karbala yang berdiri di hadapannya. Selama 22 tahun baru sekali ini Karmila melihat wujud utuh Karbala dengan begitu jelas di matanya.
Karmila hanya bisa memandangi sosok Karbala dengan bergidik ngeri. Dua taring putih terlihat mencuat di kedua sudut bibirnya yang tebal. Matanya terlihat kecil tidak proporaional dengan tubuhnya menyala merah dan wajahnya serta tubuhnya di tumbuhi bulu-bulu tebal berwarna kelabu kehitam-hitaman.
Seandainya dulu saat Karbala menggaulinya dalam bentuk wujud aslinya seperti sekarang, dirinya pasti tidak akan pernah terhanyut oleh sentuhan-sentuhannya kala itu. Setiap kali Karbala muncul dengan nafsunya untuk bersenggama, dia selalu menampakkan diri dengan merubah wujudnya menjadi Aryo. Selain itu kalau mengetahui Aryo hendak melaksanakan kewajiban nafkah batinnya, Karbala akan masuk merasuki tubuh Aryo. Dan selama itu pula Karmila tidak menyadarinya, sehingga ia selalu memuji kejantanan suaminya yang selalu dapat memuaskannya.
"Ada apa Karmila?!" suara sember Karbala seperti memenuhi ruang kamar Karmila.
Karmila masih termangu ketakutan menutup wajahnya rapat-rapat. Dia tak sanggup mengucapkan kata-kata, perasaannya begitu jijik seketika teringat pengakuan Karbala kalau selama ini dia sudah menggauilinya. Bahkan sudah terang-terangan kalau Guntur itu merupakan titisannya. Ada perasaan tak rela menguasai hati Karmila, namun perasaan itu perlahan-lahan tertutup oleh peristiwa-peristiwa yang menimoa Guntur dan Karbala selalu muncul untuk melindunginya.
"Jangan risau Karmila, aku sudah mendengar obrolan kalian sewaktu makan. Aku memang yang melakukan semuanya untuk Guntur," ucap Karbala datar.
Sontak Karmila terkesiap mendengar penuturan Karbala. Ia memberanikan diri membuka telapak tangan dari wajahnya dan menatap Karbala. Entah perasaan apa yang dirasakan Karmila, rasanya campur aduk antara benci, takut, senang, jijik semuanya bergejolak didalam pikirannya.
................
Tulilit... tulilit... tuliliiittt...
Guntur langsung meraih hapenya di atas meja belajar. Senyumnya langsung merekah ketika melihat nama si penelpon muncul di layar hape. Diawali dengan teriakan “Yes!” Guntur pun menerima panggilan telpon tersebut.
“Hallo, assalamualaikum...” ucap Guntur dengan suara dihaluskan dengan sehalus mungkin.
“Wa’alaikum salam, gimana kabarnya mas? sudah baikkan?’ tanya suara dari si penelpon.
“Iya, mas. aku kok kepikiran terus sama cowok itu ya?” sahut Hafizah di seberang telpon.
Raut Guntur langsung berubah seperti tak suka dengan jawaban Hafizah. Dahinya mengerut dalam-dalam, sambil meremas keras diatas meja tanpa ia sadari.
“Duh beruntung banget cowok itu ya,” sindir Guntur berusaha menekan rasa cemburunya.
“Tapi mas, Neng nggak tau cowok itu suka apa nggak sama Neng. Soalnya belum pernah bilang apa-apa sama Neng,” suara manja Hafizahbmembuat Guntur tersenyum sumringah. Guntur berubah senyum-senyum sendiri.
“Pasti cowok itu aku nih,” batin Guntur sumringah hinggabtanpa sadar satu menitan mengabaikan telpon padahal sedang di tunggu-tunggu Hafizah di seberang telpon sana.
“Hallo... mas..” sahut suara Hafizah di telinga Guntur.
“Eh, iya Neng hallo, hallo...” sergah Guntur gelagapan.
“Kok Neng di cuekin sih, hayo jangan-jangan lagi terima telpon cewek ya...?” ucap Hafizah dengan nada cemburu.
“Idih, kok menuduh gitu sih. Harusnya yang cemburu itu aku, soalnya neng tadi bilang lagi mikirin cowok, uhhh!” timpal Guntur pura-pura sewot.
“Iya emang bener lagi mikiri cowok itu,” ujar Hafizah.
“Tuh, kan? Siapa sih,” sungut Guntur terbawa perasaan
__ADS_1
cemburu sendiri.
“Mmm, cowok itu guaaanteng banget pokoknya,” ucap Hafizah menggoda.
“Siapa?’ ucap Guntur pura-pura cuek.
“hikhikhik... hayooo, cemburu yaaaa....” goda Hafizah.
Kalau saja Hafizah tau ekspresi Guntur saat ini, mungkin ia akan semakin terbahak-bahak melihat wajah Guntur memerah seperti rajungan rebus.
“Nggak!” sungut Guntur.
“Cemburu!” goda Hafizah.
“Nggak!” sungut Guntur.
“Ngaku aja, cemburu!” Goda hafizah makin menjadi-jadi.
“Iya!” sahut Guntur reflek.
“Eh, enggak!”
“Hahahahaha.... tuh iya kan cemburu,” ucap suara Hafizah tergelak di seberang telpon.
Wajah Guntur semakin merah padam menahan rasa yang bergolak campur aduk di dalam hatinya. Antara rasa suka dan cinta yang sudah tumbuh di dalam hatinya membuat ego kecemburuannya muncul begitu saja.
"Iya, iya maaf, maaf sudah membuat mas cemburu gitu, hehehehe..." ucap Hafizah setelah beberapa saat lamanya tak mendengar Guntur menyahut.
"Jadi siapa cowok itu Neng?" tanya Guntur polos.
"Ya mas Guntur dong, hehehehe..." sahut Hafizah dengan nada sumringah.
"Benaran Nemg?!" tanya Guntur tak percaya.
"Iya lah," sahut Hafizah.
"Alhamdulillaaaaaaaah, terima kasih Tuhan, engkau telah mengirim bidadari untukku," ucap Guntur terlonjak girang.
"Uuuuhhh, keluar rayuannya tuh pake bilang bidadari segala," sahut Hafizah.
"Eh, eh, Neng denger?" tanya Guntur kaget.
"Ya dengerlah, mas ngucapinnya santer gitu." sungut Hafizah.
"O iya mas, lusa aku mau ke Bandung, nanti aku ke kantormu ya mas," lanjut Hafizah.
"Siap tian putri, aku akan menyambutnya dengan senang hati, hehehehe...." ucap Guntur.
__ADS_1
................