
Tak lama kemudian Karbala mulai bergerak. Perlahan- lahan tubuh gempal berbulu hitam lebat itu melangkahkan kakinya melewati posisi Ki Wayan yang masih duduk bersila.
Ki Wayan memiringkan badannya sedikit sambil menunduk manakala kaki besar Karbala lewat diatas kepalanya. Hempasan angin dapat dirasakan Ki Wayan saat kaki yang dipenuhi bulu lebat itu melintas.
Ki Wayan menahan nafasnya selagi Karbala melangkah melewatinya. Nampaknya Karbala benar- benar tidak melihat keberadaan Ki Wayan, sebab sepasang mata merahnya hanya terfokus tertuju pada sumber bau semerbak panggangan burung gagak.
Haji Abas, Pak RT Parno dan tiga orang ustad memperhatikannya dengan dada berdebar- debar penuh dengan kecemasan.
“Apakah mungkin Ki Wayan menyembunyikan diri dengan ilmu kebatinannya? Sehingga genderuwo itu sama sekali tidak meliriknya,” batin haji Abas keheranan.
Langkah kaki Karbala mulai menjauh dari pohon beringin. Selangkah... 2 langkah... 3 langkah... 4 langkah... 5 langkah...
KI Wayan menolehkan kepalanya melihat kebelakang. Dilihatnya Karbala sudah menjauh, segera ia merapalkan mantera lalu tangannya membuat gerakkan seolah- olah sedang membuat pagar melingkar di sekitar pohon beringin.
Sementara haji Abas, pak RT Parno dan ketiga ustad yang tak berkedip memperhatikan prosesi pemotongan pohon itu tiba- tiba sama- sama merasakan kejanggalan.
Mereka reflek saling berpandangan satu sama lain dengan perasaan yang sama- sama mengganjal. Sesaat kemudian haji Abas mendongak kearah atas pohon beringin, seraya berteriak;
“Astagfirullah! Tambangnya!”
“Astagfirullah!” timpal pak RT Parno.
“Astagfirullah, iya tambangnya belum diikat!” sela salah satu ustad.
Haji Abas hendak berteriak untuk mengingatkan Ki Wayan, namun buru- buru ia mendekap mulutnya sendiri.
“Ki...,” suara haji Abas tertahan manakala menyadari melihat pergerakkan sosok genderuwo yang sedang menuju ke sudut halaman depan.
Haji Abas dan yang lainnya hanya saling memandang kebingungan, apa yang harus meraka lakukan. Sementara Ki Wayan sudah menancapkan gergaji mesinnya hingga sudah masuk seperempat kedalam batang pohon.
Haji Abas dan yang lainnya hanya bisa pasrah melihat yang dilakukan Ki Watan dari kejauhan. Namun sesaat berikutnya mereka bernqfas lega, peringatan yang tertahan itu seolah- olah didengar oleh Ki Wayan.
Mereka melihat setelah Ki Wayan selesai melakukan pemagaran itu Ki Wayan segera meraih gergaji mesin yang tergeletak di sebelahnya.
Namun nampak wajah Ki Wayan tersentak seketika, ia melihat di sèbelah gergaji mesin tersebut gulungan tambang untuk mengikat pohon masih teronggok.
"Astaga!" wajah Ki Wayan berkerut dalam- dalam.
__ADS_1
Ki Wayan lupa menyuruh Udin mengikatkan tambang itu ke batang pohon beringin untuk mencegah agar tidak tumbang menimpa rumah tetangga di sebelah.
Terlihat jelas di wajah Ki Wayan nampak kebingungan, ia buru- buru kembali menoleh kebelakang untuk melihat posisi Karbala.
Sementara itu beberapa saat yang lalu Udin yang sedari tadi sedang memanggang daging burung Gagak, mulai gemetaran. Dia merasakan dadanya berdebar- debar kian kencang, bulu kuduk di sekujur badannya meremang.
Rasa takut seketika langsung menyelimuti perasaannya. Udin ingin cepat- cepat menyelesaikan tugasnya menata daging gagak diatas nyala lilin merah.
Dua bilah kayu bercabang ia tancapkan di kedua sisi lilin merah, lalu kedua ujung kayu yang menusuk daging gagak itu ia letakkan dikedua celah kayu bercabang. Sehingga posisi daging gagak itu tepat berada diatas nyala api lilin merah.
Merasakan ada hawa lain dibelakangnya, Udin spontan menoleh kebelakang. Seketika matanya terbelalak lebar, Udin melihat sosok mahluk berbulu hitam lebat sedang melangkah menuju kearahnya.
Udin pun buru- buru berlari dari tempat pemanggangan yang baru selesai dibuatnya. Ia langsung berlari kearah gerbang depan rumah. Lalu terus berlari memutar dari sisi samping kanan halaman menuju belakang rumah.
Sememtara itu Ki Wayan melihat Karbala masih melangkah menuju tempat Udin memanggang daging Gagak. Ki Wayan hendak memperingatkan Udin untuk pergi dari tempatnya, akan tetapi belum juga ia berteriak, Udin terlihat sudah berlari meninggalkan posisinya.
Ki Wayan pun menghela nafas lega sejenak, lalu kembali terfokus pada tambang yang belum diikatkan pada pohon beringin. Dia tampak berpikir keras, hal itu terlihat dari kerutan di keningnya.
Ki Wayan sedang berpikir keras apakah akan memotongnya langsung tanpa mengikatkan tambang atau harus mengikatkan tambang lebih dahulu.
Dia harus mengambil keputusan dengan cepat sebelum Karbala menyadarinya.
Ki Wayan lalu cepat- cepat meraih gergaji mesin dan segera menghidupkannya dan menghidupkannya.
Satu kali tarikan mesin gergaji tak hidup, Ia kembali menghentakkan tali engkel dengan keras. Tetapi mesin gergaji tak juga hidup, ia kembali mengulanginya lagi. Dan kali ini mesin nampak menyala.
Di kejauhan, haji Abas melihat Ki Wayan berdiri memegang mesin gergaji di tangannya. Tubuh dan tangan Ki Wayan terlihat bergetar- getar menandakkan mesinnya telah di hidupkan.
Namun yang membuat haji Abas dan yang lainnya terheran- heran adalah mereka tidak mendengar raungan gergaji mesin sama sekali. Seharusnya raungan mesin gergaji itu akan terdengar membisingkan sekitarnya.
Ki Wayan pun maju selangkah mengambil jarak posisi untuk memulai memotong pangkal batang pohon beringin.
Mata gergaji mesin yang berputar kencang perlahan- lahan diarahkan pada batang pohon beringin sekitar 50 cm diatas akarnya.
Crassss!
Tak lama kemudian mulai nampak serpihan- serpihan kayu berhamburan ketika mata gergaji mesin menembus batang pohon itu.
__ADS_1
Haji Abas dan yang lainnya sangat keheranan bercampur cemas, sebab Ki Wayan nampaknya mengabaikan tambang yang belum di kaitkan dengan pohon beringin.
Hal itulah yang membuat haji Abas sangat mengkhawatirkan robohnya pohon tersebut akan menimpa rumah tetangga disebelahnya. Tetapi haji Abas haji hanya bisa terpaku ditempatnya, ia terus saja memperhatikan Ki Wayan yang sudah mulai memotong batang pohon beringin.
Beberapa saat kemudian Udin muncul tergopoh- gopoh bergabung bersama haji Abas dan yang lainnya dengan nafas ngos-ngosan.
“Gimana mang Udin?!” Tanya haji Abas penasaran melihat kedatangan Udin.
“Hiiiii...! Serem pak haji!” Sahut Udin sambil mengangkat bahunya bergidik.
“Kamu melihatnya juga Din?!” sela pak RT Parno.
“I, iya No. Mahluk itu seluruh babannya dipenuhi bulu hitam lebat. Wajahnya nyeremin banget, matanya menyala merah dan lidahnya menjulur- julur meneteskan air liur, hiiiiii....” ujar Udin.
“Itu genderuwo Din, kita disini juga melihatnya dengan jelas. Terus gimana gemseruwo itu sekarang?” tanya pak RT Parno.
“Nggak tahu No, saya langsung lari takut. Coba aja kamu intip dari pojok situ,” kata Udin.
Pak RT Parno tertegun namun juga penasaran dengan saran Udin ingin mengintip apa yang dilakukan Karbala saat ini.
“Mang Udin, itu tambangnya belum diikat ke pohon,” sela haji Abas membuat Pak RT Parno menghentikan langkahnya.
“Astagfirullah! Iya ya pak haji, waduh Ki Wayan lupa kayaknya,” jawab Udin segera mengalihkan pandangannya kearah Ki Wayan.
“Tapi sepertinya Ki Wayan berusaha membuat tebangan agar robohnya ke halaman samping itu,” ujar haji Abas.
“Pak RT mau kemana?!” sergah haji Abas melihat pak RT Parno beranjak dari tempatnya.
“Melihat genderuwo itu pak haji,” sahut Pak RT Parno tak menghentikan langkahnya.
Tak lama kemudian pak RT Parno merapatkan tubuhnya ke tembok rumah, lalu perlahan- lahan ia melongokkan kepalanya melihat kearah sudut halaman tempat Udin memanggang daging burung Gagak sebelumnya.
Dari sudut tembok, mula- mula pak RT Parno melihat sosok mahluk berbulu hitam lebat sedang berjongkok memunggungi. Pak RT Parno melihat sosok genderuwo sekilas memiringkan kepalanya melihat benda di tangan kirinya.
Hidungnya dia dekatkan ke benda yang tak lain seonggok daging gagak yang di pegangnya itu sambil mengendus- endus.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG...