TITISAN

TITISAN
DUGAAN


__ADS_3

Di belakang kemudi, wajah Guntur masih terlihat tegang bercampur, meski sudah beberpa kilo meter meninggalkan rumah tahfiz. Di dalam pikirannya dijejali dengan beraneka ragam dugaan- dugaan negatif tentang apa yang terjadi di rumah tahfiz itu.


“Gun, apa yang terjadi di rumah itu ya?!” Mamah Karmila tak bisa menahan rasa penasarannya.


“Aku nggak tahu mah, tapi....” Guntur tak melanjutkan ucapannya.


“Tapi apa Gun?!” Sergah mamah Karmila kian penasaran dengan kalimat yang menggantung itu.


“Ah, nggak. Nggak apa- apa mah,” ujar Guntur menyimpan tanda tanya dihatinya.


Guntur langsung terdiam, matanya menatap lurus jalanan di depannya yang mulai memadat oleh lalu lalang angkot dan mobil- mobil pribadi.


“Aneh juga kalau dipikir- pikir, sebelumnya kenapa mamah tiba- tiba ngajak ke rumah dulunya? Apakah hanya sebuah kebetulan saja? Atau memang mamah sebenarnya tahu seperti yang ada di dalam mimpiku?!” Batin Guntur.


Ucapan Guntur yang menggantung itu membuat perasaan mamah Karmila tak enak hati. Di dalam pikirannya timbul berbagai prasangka buruk yang langsung menghantui perasaannya.


Memori masa lalu yang terkutuk itu seketika mendadak muncul didalam ingatannya. Drama romansa yang diciptakan Karbala membuat dirinya terbuai dalam kenikmatan sesaat.


Hingga pada saat dirinya hamil, Karmila berkeyakinan kalau janin dalam perutnya itu merupakan buah cinta terkutuk dari Karbala.


Sampai saat ini, Karmila beranggapan kalau Guntur adalah titisan Karbala. Keyakinan itu diperkuat dengan bermacam- macam kejadian yang menimpa Guntur. Guntur selalu berhasil selamat atau lolos dari maut yang dia yakin itu semua berkat campur tangan dari Karbala yang selalu melindunginya.


Akan tetapi dalam kondisi yang sadar seperti saat ini, seketika timbul perasaan begitu jijik yang langsung menghinggapi hatinya. Persaan jijik itu timbul ketika Karmila dipaksa mengingat kembali saat- saat Karbala membuatnya melayang- layang dengan perasaan nikmat yang tiada tara.


“Aaaakkkh...!!!!” Karmila tanpa sadar menjerit tiba- tiba karena terbawa ingatannya kembali pada peristiwa terkutuk itu.


Ciiiiiiiiiitttt...!!!


Guntur menginjak pedal rem dengan reflek saking kagetnya oleh teriakkan mamahnya yang tiba- tiba.


“Kenapa mah?!” pekik Guntur khawatir.


Pertanyaan Guntur dan suara derit ban mobil yang di rem mendadak oleh Guntur membuat Karmila tersadar seketika. Ia kaget bukan main dan menyadari situasi dan kondisinya berada sekarang.

__ADS_1


Mamah Karmila tak bisa berkata- kata apa- apa untuk menjawab pertanyaan putranya. Ia menutup mukanya rapat- rapat dengan kedua telapak tangannya.


"Ya Tuhan, ampuni hamba..." ucapnya dalam hati.


Jauh di dasar lubuk hati Karmila, tersirat penyesalan yang teramat sangat mengingat peristiwa terkutuk yang kembali muncul dalam ingatannya itu.


"Apa jadinya jika Guntur tahu?!" lenguh Karmila dalam hati.


Guntur kembali melajukan mobilnya setelah sempat mengerem mendadak. Beruntungnya saat itu dibelakang mobil Guntur tidak ada kendaraan lain yang jaraknya dekat sehingga tak terjadi tabrak menabrak.


Guntur menyetir mobilnya dengan perasaan campur aduk tak menentu, tegang, cemas ditambah lagi dengan rasa heran terhadap tingkah mamahnya.


......................


Sementara itu di rumah tahfiz,


Semua orang yang berada di dalam lingkungan rumah tahfiz dapat merasakan getaran dan mendengar suara dentuman itu. Termasuk ustad dan ustadzah serta anak- anak santri rumah tahfiz yang sedang belajar di dalam dua ruangan yang bersebelahan.


Anak- anak yang ketakutan langsung mencari posisi saling tiarap diatas lantai ruangan mengikuti tindakkan ustad dan ustadzah pembimbingnya. Mungkin jika di ruangan belajar itu memakai bangku dan meja pastilah anak- anak itu akan masuk di bawah kolongnya.


Mereka semua mengira suara dentuman dan getaran itu adalah kejadian gempa bumi.


Lain halnya dengan situasi yang berada di luar pagar lingkungan rumah tahfiz itu terlihat aktifitas orang- orang sepertinya tak merasa terganggu. Lalu lalang para pejalan kaki, angkot yang ngetem nunggu penumpang hingga beberapa pedagang kaki lima, mereka semua nampaknya tidak merasakan getaran dan suara dentuman.


Seorang penjual gorengan saja yang biasa mangkal dibawah pohon angsana tepat di sudut depan pagar rumah tahfiz itu nampak terlihat biasa- biasa saja. Seperti tidak mendengar atau merasakan getaran apapun padahal posisi kejadiannya berada persis dibelakangnya.


Sesaat setelah suara dentuman yang menggetarkan sekitarnya hingga menghamburkan debu- debu berterbangan menyelimuti di tempat Ki Wayan akibat di hantam telapak tangan Karbala sebelumnya, perlahan- lahan debu itu mulai pudar.


Sebuah gambar telapak tangan selebar setengah meteran terlihat jelas diatas tanah halaman samping rumah tahfiz. Rerumputan yang semula tampak hijau, kini tampak gosong berwarna hitam sangat kontras membetuk telapak tangan.


Dapat dibayangkan, Ki Wayan yang terkena hantaman telapak tangan dengan kekuatan besar menghunjam keras dari atas kepalanya, sudah dipastikan tubuh ringkihnya akan remuk bahkan hancur.


Akan tetapi setelah debu- debu yang menyelimuti tempat itu sudah hilang, sosok tubuh Ki Wayan tidak nampak keberadaannya di bekas telapak tangan hantaman Karbala itu.

__ADS_1


Sosok tubuh tinggi besar Karbala kembali berdiri tegak setelah tubuhnya sedikit berjongkok setelah melakukan hantaman. Dengusan nafasnya terdengar kasar tak beraturan, sepasang matanya kian nyalang menyala merah menatap lurus di depannya.


“GGGGRRRRRRRRKKKKKKHHHHHGGG....!!!”


Karbala menggeram masih menyiratkan kemarahan luar biasa menatap sosok yang tergeletak di bawah pohon beringin tak jauh dari peralatan menebang pohon yang tergeletak di sebelahnya.


Deg!


Kaki Karbala menjejakkan kakinya diatas tanah. Suara hentakkan kaki Karbala sekali lagi membuat tempat sekitarnya bergetar. Lalu sosok Karbala melesat keatas dan lenyap dari pandangan mata.


Haji Abas, Pak RT Parno, Udin serta tiga orang ustad pembimbing terperangah sesaat setelah bangun dari terjerembabnya.


“Ki Wayan!” Teriak Udin.


“Astagfirullah!” Timpal pak RT Parno.


“Innalillahi wainnailaihi rojiun...” susul haji Abas dan 3 orang ustad serempak.


Didahului Udin, tanpa ada yang mengkomando mereka berhamburan menuju ke tempat Ki Wayan tergeletak tak bergerak.


Setelah sampai di tempat Ki Wayan, wajah mereka semua memucat melihat darah keluar meleleh memenuhi mulutnya. Tak ada erangan, tak ada gerakkan apapun dari tubuh Ki Wayan.


Haji Abas segera meraih tangan Ki Wayan yang tergoleh disamping tubuhnya yang terlentang. Ia segera memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan.


Semuanya terdiam memperhatikan haji Abas sekaligus menunggu hasil pemeriksaannya dengan harap- harap cemas.


Haji Abas menempelkan jari- jarinya berharap menemukan denyutan nadi itu. Sesaat wajahnya terkesiap tetapi sesaat berikutnya kembali sumringah, namun dengan dahi berkerut dalam- dalam.


“Gimana pak haji?!” tanya Udin cemas.


“Masih hidup?!” timpal pak RT Parno.


Haji Abas tak menjawab pertanyaan- pertanyaan itu, ia terus saja berkonsentrasi mencari tanda- tanda kehidupan di tubuh Ki Wayan.

__ADS_1


Tangan haji Abas berpindah ditempelkan diatas dada Ki Wayan. Haji Abas penasaran lalu merobek baju Ki Wayan yang basah akibat keringat.


......................


__ADS_2