TITISAN

TITISAN
MISTERI GUNTUR


__ADS_3

Bandung,


“Selamat pagi pak...” ucap seorang Satpam dengan wajah keheranan.


“Pagi...” sahut Guntur datar sambil terus berjalan menuju ke kantor.


“Maaf pak, mobilnya parkir dimana?” Tanya Satpam heran melihat Guntur jalan kaki memasuki gerbang kantor.


“Mobilnya lagi di bengkel pak,” ujar Guntur berhenti menoleh sebentar lalu melanjutkan langkah.


Satpam bernama Agus itu hanya melongo saja memandangi punggung Guntur yang melenggang berjalan memasuki kantor.


“Kenapa dengan pak Guntur ya, nggak biasanya sikapnya kaku begitu, apa lagi ada masalah...” pikir Satpam Agus.


Mentari pagi kota Bandung hangat menyinari parkiran kantor PT. ELANG TRABAS yang sudah dipenuhi kendaraan karyawan-karyawatinya. Cuaca khasnya terasa sejuk menyapa ramah setiap orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukkannya masing-masing.


Didalam ruangan kerja, pak Iwan sedang duduk termangu di kursinya memandang area kerja team work yang terlihat melalui dinding yang terbuat dari kaca. Para karyawan dan karyawati nampak sudah menekuni tugasnya di mejanya masing-masing.


Tiba-tiba dadanya sontak berdebar keras ketika pandangannya melihat sosok Guntur berjalan melewati ruangannya. Wajah pak Iwan langsung berubah seketika, rautnya terkesiap penuh ketakutan dan hatinya tiba-tiba dirundung gelisah yang tak terkira. Pikirannya kian resah dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran dan rasa was-was menghantuinya.


“Carok! Carok! Kurang ajar betul preman kampung itu!” ucapnya geram dalam hati.


Wajah pak Iwan merah padam mengingat komplotan Carok yang tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Telponnnya pun tidak bisa dihubungi, beberapa kali di telpon selalu saja terdengar nada sambungnya tidak aktif.


“Apakah mereka kabur?! Apakah mereka menipu saya?!” giginya gemeretak menahan amarah yang bergolak didalam hatinya.


Wajah pak Iwan sangat muram diam membesi terbawa oleh perasaan prasangka buruk yang ada didalam pikirannya. Carok dan komplotannya telah menipunya, begitu pikirnya.


“Hmmm, saya benar-benar telah ditipu mentah-mentah oleh Carok dan komplotannya. Dua ratus juta melayang dibawa kabur mereka, kurang ajar!” Kata pak Iwan dalam hati.


Tok.. tok... tok...


“Masuk...” sahut pak Iwan.


Renata muncul membuka pintu ruangan pak Iwan namun hanya berdiri saja ditengah pintu, kemudian berkata; “Permisi pak, bapak disuruh ke ruangan pak Guntur.”


Deg!


Jantung pak Iwan serasa berhenti berdetak mendadak, tetapi dadanya berdebar-debar hebat hingga membuatnya termangu mematung.


“Pak... pak Iwan kenapa?” Tanya Renata keheranan melihat ekspresi pak Iwan.


“Oh, eh, nggak, nggak apa-apa. I, iy, iya terima kasih.” sahut pak Iwan tergagap.


Renata pun berlalu dari pintu ruangan pak Iwan, namun Pak Iwan masih termangu ditempat duduknya. Dirinya benar-benar merasakan ketakutan yang menghantui perasaannya. Sebelum beranjak dari kursi, pak Iwan menarik nafasnya dalam-dalam berusaha menekan perasaan takutnya sendiri agar tidak nampak di mata para karyawan saat keluar terutama saat menghadap Guntur.

__ADS_1


Sementara di lantai dua didalam ruangan, Guntur sedang duduk melihat lembaran berkas diatas mejanya dengan ekapresi datar.


Tok... tok... tok...


“Masuk...” sahut Guntur tanpa menoleh ke pintu.


“Permisi pak,” ucap pak Iwan begitu membuka pintu.


“Silahkan duduk,” sahut Guntur dingin.


Pak Iwan menggeser kursi diseberang meja kerja Guntur dengan perasaan tak menentu. Hatinya campur aduk dipenuhi rasa takut dan cemas yang teramat sangat berkecamuk menghantui pikirannya. Lututnya gemetar duduk diatas kursi menanti Guntur berbicara. Ia melirik sekilas wajah Guntur dihadapannya yang masih menatap lembaran kertas diatas meja. Entah mengapa jantungnya berdegub kencang saat melihat wajah Guntur yang nampak dingin tanpa ekpresi sama sekali.


“Pak Iwan, kita akan kedatangan tamu penting,” kata Guntur datar.


“Maaf tamu siapa pak?” tanya pak Iwan sedikit keheranan.


“Nanti pak Iwan juga tau, biar pak Iwan disini saja. Sebentar lagi sampai kesini, mereka sudah ada di parkiran,” ucap Guntur masih dengan ekspresi dingin.


Dada pak Iwan kian berdebar-debar, dirinya mendadak merasakan gugup yang luar biasa. Biarpun sudah terbiasa menerima tamu-tamu penting dari para pengusaha besar hingga para pejabat tinggi, akan tetapi tamu yang dikatakan Guntur kali ini rasanya lain.


Tok... tok... tok...


Suara ketukkan di pintu sangat mengejutkan pak Iwan. Perasaan takut begitu besar menghantu dirinya.


“Silahkan masuk...” sahut Guntur.


Pintu di dorong dari luar dan wajah Renata muncul ditengah pintu dengan wajah sedikit menegang. Pak Iwan kontan menengok kearah pintu dan melihat Renata bernafas lega.


“Huhhff..” pak Iwan menghempaskan nafasnya kuat-kuat.


Renata melangkah dan berhenti disamping meja Guntur lalu berkata, “Maaf pak ada tamu yang ingin bertemu pak Iwan.” Kemudian Renata menoleh kearah pak Iwan.


Pak Iwan spontan tersentak, dadanya kembali berdebar-debar, kali ini lebih kencang. Firasatnya merasakan hal buruk, ia menatap Renata penuh dengan tanda tanya besar.


“Ssi, siapa Ren?!” tanya pak Iwan gugup.


Sebelum Renata menjawab, Guntur langsung menyela; “Suruh masuk aja Ren, biar disini saja.”


“Baik pak,” ucap Renata kemudian berlalu keluar ruangan.


Mata pak Iwan terus menatap kepergian Renata hingga hilang dibalik pintu ruangan Guntur. Matanya masih terus melihat kearah pintu meskipun Renata sudah tidak terlihat lagi. Tak lama kemudian pintu ruangan Guntur kembali ada yang mengetuk dari luar.


Tok... tok... tok...


Suara ketukkan di pintu laksana suara bom bagi pak Iwan. Ia terlonjak kaget dengan dada semakin berdebar-debar keras. Matanya tak berkedip menatap kearah pintu.

__ADS_1


“Masuk...” sahut Guntur dingin.


Kretttteeekkk...


Daun pintu terbuka, tampak dua orang muncul ditengah pintu lalu diikuti dua orang lagi berjalan dibelakangnya.


Degup jantung pak Iwan kian kencang melihat empat orang yang memakai jaket kulit melangkah masuk.


“Pak Iwan?!” tanya salah satu pria berbadan tegap itu.


“Be, be, benar pak,” jawab pak Iwan gugup.


Selesai pak Iwan menjawab, dua orang yang berdiri dibelakang orang yang bertanya langsung bergerak mencengkeram kedua lengan pak Iwan. Pak Iwan berontak, ia meronta-ronta berusaha melepaskan cekalan dua orang tersebut.


“Apa-apaan ini? Lepaskan saya!” teriak pak Iwan berdiri berontak.


“Diam! nanti bicara di kantor!” sentak salah satu dari empat pria tersebut.


Wajah Pak Iwan berubah ketakutan namun ia terus berontak seolah-seolah tidak merasa bersalah.


“Apa salah saya?! Apa salah saya?! Teriak pak Iwan.


Dua orang petugas langsung meringkus kedua tangan pak Iwan dan mengunci kedua tangannya di punggung membuat pak Iwan tak bisa berkutik lagi.


“Tolong, tolong, pak Guntur tolong saya...” teriak pak Iwan.


Empat orang berpakaian preman itu saling memandang satu sama lain.


"Bawa dia ke kantor!" seru salah satu pria.


"Pak Guntur, tolong. Pak Gu..." teriakkan pak Iwan terhenti dengan mulut ternganga melihat tempat duduk Guntur.


Wajah pak Iwan seketika terperangah, ia tidak melihat Guntur di tempat duduknya saat dirinya menoleh untuk minta pembelaan dari Guntur. Pak Iwan celingukkan kesana kemari mencari-cari Guntur sambil memanggil-manggil namanya, namun Guntur tidak terlihat ada di ruangan itu.


"Pak Guntur! pak Guntur!" teriak pak Iwan kian histeris.


Empat orang yang tak lain adalah petugas polisi berpakaian preman itu kontan saling berpandangan satu sama lain mendengar pak Iwan menyebut-nyebut nama Guntur sambil celingukkan kesana-kemari. Sebab di ruangan itu mereka hanya melihat ada pak Iwan seorang diri dan tidak ada orang lain lagi selain pak Iwan yang sedang duduk sendirian.


"Sudah biasa! Rata-rata tersangka akan berakting setiap kali hendak di tangkap!" hardik salah seorang petugas.


"Sudah hentikan akting pura-pura gila anda!" sentak petugas lainnya.


"Cepat bawa!"


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2