
Jalanan kota Bandung masih tetap ramai lancar meski waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 wib.
Di dalam mobil Guntur dan pak Suro sudah terlibat obrolan serius semenjak meninggalkan pos jaga kantornya. Guntur mengadukan rentetan kejadìan- kejarian dari pagi hingga kejadian mamah Karmila hendak bunuh diri serta bertemu dengan pria misteriua di rumah sakit pada pak Suro.
"Ibu mila mau bunuh diri?!" sergah pak Suro terkaget- kaget.
Wajah pak Suro terkejut bukan main, tak pernah menyangka kalau Karmila berniat mengakhiri hidupnya. Padahal selama ini yang dia tahu Guntur atau pun mamahnya tak pernah punya masalah apa pun.
"Iya pak, saya juga nggak tahu apa penyebabnya sampai mamah nekad melakukan itu," ucap Guntur.
Guntur juga menceritakan obrolannya dengan seorang pria di rumah sakit.
“Nampaknya semua kejadian itu ada hubungannya si Karbala,” ucap pak Suro dalam hati saat Guntur menceritakan tentang pria misterius di rumah sakit.
Pak Suro masih belum begitu berani mengungkapkan secara terbuka kepada Guntur tentang keterikatan keluarga Guntur dengan Karbala. Sebab dirinya pun sejauh ini hanya sebatas dugaan, belum ada hal yang dapat membuktikan kalau Karbala, Karmila dan Guntur saling berkaitan.
Bukan tanpa alasan, sebab yang pak Suro tahu Guntur sangat tidak suka kalau dirinya dikatakan sebagai titisan dari Karbala, bahkan Guntur sangat marah dan membenci harus mengakui kalau Karbala adalah bapaknya.
Satu- satunya yang menjadi keyakinan pak Suro adalah noda hitam dengan ditumbuhi bulu- bulu halus yang ada di tangan kiri Guntur itulah yang tak dapat dipungkiri sebagai salah satu ciri yang nampak dari keterikatannya dengan mahluk jenis Genderuwo.
“Dan selain mamah nekad mau bunuh diri, menurut pak Suro kenapa saya memimpikan itu?” tanya Guntur memecah suasana yang sempat hening.
Sejenak Pak Suro mengernyitkan dahinya, ia mencari- cari jawaban yang tepat agar tidak menyinggung perasaan Guntur, meski sangat sulit menemukan kalimat yang pas.
“Bapak nggak tahu pastinya Gun, tetapi secara rasionalnya mungkin Karbala itu sedang meminta bantuanmu dan mamahmu,” ungkap pak Suro.
“Mamah?! Oh ya, mamah juga sepertinya mendapatkan mimpi yang sama. Soalnya pagi itu mamah mendadak yang meminta saya untuk mengantarkan mengunjungi rumah yang dulu,” ujar Guntur.
Dahi pak Suro kian mengernyit dalam- dalam nampak kian tertekan. Bagaimana pun ia yakin kalau Karmila, Guntur dan Karbala memiliki suatu ikatan. Pak Suro meyakini ketiga orang itu memiliki hubungan erat.
Pak Suro kembali terdiam dan kian bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Guntur. Disisi lain Guntur pasti tidak akan bisa menerima jika dirinya mengatakan kalau Karbala itu bisa dikatakan sebagai bapaknya.
Dan masalahnya akan semakin melebar, pasti muncul prasangka buruk yang melibatkan mamahnya pula yang akan dituduh sebagai sumber asal mula kelahirannya.
“Pak... pak Suro...” panggil Guntur, setelah menunggu jawaban pak Suro yang tak kunjung menjawab.
__ADS_1
“Eh, iiy, ya Gun,” sahut pak Suro.
“Kok malah melamun, apa mamah juga mendapat mimpi itu ya pak,” ucap Guntur mengulangi.
“Iya, itu bisa saja seperti itu Gun. Ya mungkin tak ada lagi orang yang bisa diminta tolong oleh Karbala itu,” jawab pak Suro hati- hati.
“Lalu apakah mungkin juga ada kaitannya dengan mamah yang katanya hendak bunuh diri pak. Makanya saya ajak pak Suro ke rumah itu untuk membuktikan ucapan pria di rumah sakit,” ucap Guntur.
Tak lupa pula Guntur juga mengungkapkan kecurigaannya terhadap mamah Karmila yang menurutnya sedang menyembunyikan sesuatu.
Ia ingin sekali menyelidikinya untuk mengungkap misteri yang disimpan oleh mamahnya. Dan meminta pak Suro untuk membantunya.
Tak terasa perjalanan menuju rumah Guntur sudah sampai di depan gerbang pagar rumah. Guntur menghentikan mobilnya tepat didepan pintu gerbang.
Cahaya lampu mobil seketika menerangi halaman rumah Guntur yang gelap gulita. Lampu- lampu di rumahnya belum dinyalakan karena rumah dalam keadaan kosong ditinggal sejak siang tadi.
Guntur sengaja tidak mematikan lampu mobilnya saat sampai didepan gerbang pagar rumah. Pak Suro bergegas turun untuk membukakannya.
Sorot dari lampu mobil seketika menerangi sebagian depan rumah dan halamannya. Guntur pun melajukan mobilnya masuk hingga berhenti di halaman depan rumah.
“Pak, ini kunci rumahnya, punten sekalian bukain ya pak,” ucap Guntur saat masuk melewati gerbang.
Sorot lampu dari mobil Guntur sangat membantu menerangi pandangan pak Suro melangkah hingga membuka kunci pintu rumah.
Setelah membuka kunci pintu, Pak Suro berdiri didepan pintu menunggu Guntur.
Guntur turun dari mobilnya tanpa mematikan lampu mobil sebagai penerangan.
“Ayo pak masuk,” ajak Guntur.
Guntur berjalan didepan diikuti pak Suro memasuki rumah. Penerangan dari lampu mobil memudahkan Guntur dan pak Suro melangkah masuk.
Guntur langsung meraih stop kontak yang ada di tembok ruang tamu. Seketika lampu- lampu pun menyala menerangi seluruh rumah dan halaman rumah.
Guntur kembali ke mobilnya untuk mematikan lampu mobil. Sementara pak Suro duduk di kursi ruang tamu menunggu Guntur kembali.
__ADS_1
“Mari pak kita periksa kamarnya mamah,” ucap Guntur begitu kembali.
Pak Suro bangkit dari kursi tamu lalu mengekor dibelakang Guntur menuju kamar Karmila yang ada dibalik sekat dinding ruang tamu.
“Kamu mendobraknya Gun?!” Tanya pak Suro saat melihat pintu kamar yang tampak rusak.
“Iya pak, saya langsung mendobrak begitu mendengar suara ribut- ribut dari dalam kamar mamah,” ungkap Guntur.
Pak Suro hanya terpana mendengar penuturan Guntur. Setelah masuk kedalam kamar, pak Suro mengedarkan pandangannya kesegala sudut kamar.
Sementara Guntur langsung memeriksa balik daun pintu seperti yang di ucapkan pria di rumah sakit.
“Pak Suro, lihat!” seru Guntur sambil menunjuk sebuah benda yang menancap di balik daun pintu kamar.
“Ternyata benar yang dikatakan pria itu pak,” gumam Guntur.
“Sepertinya orang itu telah menyelamatkan mamahmu Gun,” ucap pak Suro.
“Betul pak, orang itu juga bilang begitu,” timpal Guntur.
Pak Suro menoleh ke meja rias, melihat kondisi laci di meja rias dalam keadaan terbuka serta posisi kursi di dekat kaca rias yang juga tidak berada pada posisinya. Ia menduga kejadiannya di depan meja rias itu.
Dugaan pak Suro begitu tepat hanya melihat dari kondisi barang- barang yang ada di kamar itu. Lalu pak Suro melihat posisi gunting yang menancap di pintu kamar.
Pak Suro kemudian mencabut gunting dari daun pintu itu. Lalu pak Suro menggenggam gunting itu erat- erat di tangan kanannya sambil memejamkan matanya perlahan.
Guntur hanya memperhatikan apa yang dilakukan pak Suro. Dan seketika kepala pak Suro nampak bergetar- getar setelah mulutnya selesai mengucapkan bacaan khusus.
Didalam alam bawah sadar pak Suro, ia menyaksikan rangaian peristiwa yang terpampang dengan jelas semua kejadian yang ada di dalam kamar tidur Karmila.
Beberapa menit pak Suro berada di alam bawah sadarnya hingga beberapa saat kemudian getaran di kepala pak Suro perlahan- lahan hilang.
Wajah pak Suro seketika memucat, ia membuka matanya perlahan dan tak henti- hentinya mengucap istigfar dalam gumamannya.
Guntur sangat penasaran melihat pak Suro seperti mengetahui sesuatu....
__ADS_1
......................
BERSAMBUNG...