
Udara kian terasa dingin menyelimuti kota Bandung, namun dibeberapa jalanan masih tampak ramai oleh berbagai macam kendaraan, terutama
angkot- angkot yang masih hilir mudik mengejar setoran. Tapi tidak di jalan
yang ada di depan rumah Guntur yang berada di daerah Dago atas, keadaannya sudah mulai sepi dari hilir mudik kendaraan dan para pejalan kaki.
Di dalam rumah yang cukup besar tersebut Karmila sedang gelisah
diatas pembaringannya. Pikirannya menjelajah melayang kemana- mana memikirkan segala kemungkinan- kemungkinan yang akan terjadi apabila Kunto menceritakan peristiwa dirinya dengan Karbala kepada Guntur. Semua yang dipikirkan Karmila reaksi dari rasi rasa ketakutannya yang teramat sangat besar, sehingga menimbulkan beragam pikiran negatif yang memunculkan rencana- rencana jahat terhadap Kunto.
“Ya Kunto harus disingkirkan! Dia bisa menjadi sumber masalah di kemudian hari, tapi bagaimana caranya agar Guntur tidak curiga?” gumam Karmila pelan.
Karmila semakin gelisah saat terlintas di pikirannya untuk menyingkirkan Kunto. Dia merubah posisi berbaringnya miring ke kanan, namun
rencana jahat itu seakan sudah melekat dan terus menggoda pikirannya. Karmila kembali merubah posisinya berganti miring ke kiri, ia semakin gelisah dan kian tak bisa memejamkan matanya untuk tidur.
“Ya Kunto harus disingkirkan! Dia bisa menjadi sumber masalah di kemudian hari!” kalimat busuk itu terus- menerus menggoda Karmila untuk meneruskan memikirkan rencananya lebih lanjut.
Wajah cantik Karmila kini nampak menyeramkan, bibir tipisnya
menyunggingkan senyum jahat. Pikiran jahat itu telah menguasai pikiran dan
hatinya terdorong oleh rasa ketakutan- ketakutan yang timbul didalam dirinya.
“Karbala! Ya Karbala, saya harus meminta bantuan Karbala!” seru Karmila langsung terlonjak dari berbaringnya.
Karmila duduk dibibir tempat tidurnya yang empuk membelakangi jendela, kedua kakinya yang jenjang putih mulus diayun- ayunkan kedepan dan kebelakang bergantian menyentuh tempat tidur sehingga menimbulkan
suara yang berirama menggidikkan.
Dug..! Dug..! Dug..! Dug..! Dug..! Dug..!
Suara beradunya tumit dengan springbed terdengar seperti suara
detak jantung. Suaranya memecah keheningan di dalam kamar Karmila. Kemudian Karmila mengucapkan nama ‘Karbala’ berulang- ulang sambil memejamkan kedua matanya yang
indah. Seiring nama itu disebut suara dari benturan kaki pada springbed pun
terdengar mengiringinya sehingga terdengar seperti sebuah ketukan irama yang selaras.
Entah sudah berapa puluh Karmila memanggil- manggil nama ‘Karbala’
sampai pada ucapan yang terakhir, tiba- tiba hembusan angin menerpa tubuh Karmila dari arah jendela dibelakangnya.
Wuuuusssshhhhh…..
__ADS_1
“HAHAHAHAHA… Ada apa permaisuriku?! Apa yang membuatmu
gelisah seperti itu?!” sebuah suara besar dan sember tiba- tiba terdengar
membahana didalam kamar.
Karmila buru- buru turun dari springbed lalu membalikkan
badannya melihat kearah sumber suara. Sosok bayangan hitam terlihat jelas oleh bias sorot cahaya lampu taman yang masuk dari jendela di belakang sosok tersebut.
“Karbala…” ucap Karmila sumringah, lalu segera melangkah ketempat stop kontak berniat menyalakan lampu kamarnya.
“Jangan dinyalakan Permaisuriku!” cegah Karbala melihat Karmila hendak menyalakan lampu.
Tangan putih mulus Karmila seketika tertahan tak jadi menekan tombol stop kontak, Karmila berjalan kehadapan Karbala yang berdiri didekat jendela sedang memandangnya.
“Karbala, bisakah kamu melenyapkan anak itu?” tanya Karmila dengan nada merayu manja.
“Melenyapkan anak itu?! Kenapa permaisuriku?!” tanya Karbala
dengan nada heran.
“Sa, saya takut anak itu akan menceritakannya pada Guntur,”
jawab Karmila terbata- bata.
“Anak itu akan menjadi ancaman dikemudian hari Karbala!” seru Karmila melihat Karbala tampak ragu- ragu.
“Tapi permaisuriku, sepertinya Guntur sudah mengetahui kalau kondisi anak itu karena ulahku. Aku baru saja telah memberikan peringatan pada pak tua itu, dan kemungkinan pak tua itu akan menceritakannya pada Guntur!”
sergah Karbala nampak ketakutan.
“Saya tidak peduli Karbala! Bagaimana pun caranya, anak itu harus disingkirkan!” dengus Karmila kesal. Akal sehatnya sudah benar- benar
tertutup oleh rasa ketakutan- ketakutan yang terus membayangi pikirannya.
“Lalu bagaimana jika Guntur menjadi murka karena kehilangan sahabat dekatnya yang sudah dia anggap saudara sendiri Permaisuriku!?” sergah
Karbala.
Karmila seketika terdiam, ucapan Karbala langsung menyentuh hatinya. Nalarnya kembali berpikir normal, yang diucapkan Karbala memang ada
benarnya. Guntur pasti murka dan langsung menuduh Karbala sebagai biang keladi atas kematian Kunto.
“Permaisuri tenang saja, aku sudah memikirkan ini sebelumnya,” kata Karbala melihat Karmila tampak diam menjadi ragu dan bingung.
__ADS_1
“Maksudmu?!” tanya Karmila penasaran.
“Aku akan terus menahan sukma anak itu selamanya, sampai waktu ajalnya tiba! HAHAHAHA…” kata Karbala senang dengan rencananya.
“Berarti anak itu keadaannya akan selalu seperti itukah?!” tanya Karmila memastikan dugaannya.
“Benar permaisuriku! HAHAHAHA… HAHAHAHA…” Karbala tergelak
merasa dirinya sudah diatas angin dengan rencananya tersebut.
“Bagaimana dengan Guntur Karbala? Bagaimana kalau dia yang
mendatangimu langsung?!” tanya Karmila tiba- tiba.
Seketika gelak tawa Karbala terhenti, wajah Karbala yang terlihat samar- samar dalam keremangan cahaya kamar mengerutkan dahinya yang
lebar dalam- dalam. Matanya yang kecil menyipit semakin tertutup oleh bulu- bulu halus di wajahnya. Cairan dari mulutnya saat itu juga menetes- netes saat Karbala sangat kebingungan menjawab pertanyaan Karmila. Sungguh menjijikkan!
“Aku tidak mungkin melukai putraku apalagi menyingkirkannya!” gumam Karbala dengan nada penuh penekanan.
“Kalau kamu sampai membunuh Guntur, saya juga akan memusnahkanmu!” ancam Karmila seketika tersulut amarahnya mendengar gumaman Karbala.
“Ma, maksudku bukan seperti I, itu permaisuriku!” sergah Karbala buru- buru menyangkal, padahal hanya gumaman dalam kebingungannya
belaka. Tidak ada sedikit pun terlintas untuk membunuh putranya sendiri.
“Sudah, sudah Karbala! Saya tetap ingin anak itu disingkirkan Karbala!” dengus Karmila, pikirannya kembali menjadi gelap akibat amarah yang kembali muncul menguasai pikirannya.
“Ba, baiklah permaisuriku. Tapi aku minta upahnya dulu sekarang, HEHEHEHE…” kata Karbala sambil menjilati bibir bawahnya membuat
tetesan- tetesan air lir dari mulutnya kian banyak yang meleleh dari mulutnya.
Mendengar permintaan Karbala, Karmila hanya diam saja. Malah
ia memjamkan kedua matanya yang lentik. Karbala yang melihat Karmila memberikan angin langsung merangsak menubruk tubuh Karmila yang mengenakan baju lingering
yang teramat tipis dan transparan. Lekuk- lekuk tubuh sintal Karmila kian
terlihat menggiurkan terpapar oleh bias cahaya lampu taman yang menerobos lewat jendela.
Tubuh Karmila terdorong kebelakang dan jatuh diatas springbed yang empuk hingga membuat kedua tubuh yang tumpang tindih itu mumbul beberapa kali. Suara Karmila langsung terdengar mengerang oleh usapan- usapan
lidah Karbala yang menjelajahi lehernya yang jenjang putih. Suara erangan dan
rintihan Karmila membuncah memecah keheningan didalam kamar.
__ADS_1
Satu demi satu pakaian yang melekat pada tubuh Karmila di robek dengan paksa oleh tangan besar dan kasar Karbala. Tangan yang dipenuhi bulu- bulu halus Karbala memberikan sensasi tersendiri bagi Karmila, yang
membuatnya kian terhanyut dalam gejolak nafsunya sendiri.* BERSAMBUNG