TITISAN

TITISAN
DEPRESI


__ADS_3

1 bulan kemudian,


Keluarga kecil Jin An yang awalnya sangat bergembira menempati rumah baru dan hanya satu minggu hidup penuh kebahagian. Namun satu minggu setelahnya kebahagiaan keluarga Jin An hilang berubah terbalik 180 drajat penuh teka- teki yang sangat membingungkan Jin An.


Mamih Osa, begitu panggilan istri Jin An hari demi hari kesehatannya semakin menurun. Tepatnya semenjak kejadian dirinya tak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Kini tubuhnya pun kian hari kian mengurus, nampak pula dari cekungan di matanya yang jelas terlihat.


Jin An sendiri sangat kebingungan dengan kondisi kesehatan istrinya. Pada mulanya Jin An merasakan perubahan sikap istrinya terhadapnya itu setelah mengalami kejadian pinsan itu.


Setiap kali Jin An menanyakan rasa penasarannya pada mamih Osa ingin mengetahui penyebab ia pinsan, istrinya itu seketika marah- marah tanpa alasan jelas.


Jin An memutuskan untuk memeriksakan istrinya dengan membawanya ke rumah sakit. Akan tetapi saat itu dokter sendiri bingung dan menyatakan tidak di temukan adanya gejala suatu penyakit apapun dari hasil diagnosanya.


Sepanjang waktu hari- hari mamah Osa dihabiskan hanya dengan duduk di pintu samping rumah yang berhubungan dengan dapur. Tatapan matanya kosong, entah apa yang sedang di pikirkannya.


Siang itu sekitar pukul 3 sore, mamih Osa masih duduk di tèngah pintu samping menghadap halaman. Dia sudah seharian tidak juga beranjak dari tempat itu.


Sementara Jin An masih berada di kantornya bersama Putri. Sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, kalau pagi Jin An mengantarkan putri kè sekolah sekalian berangkat ke kantor.


Pada saat waktunya Putri pulang sekolah, Jin An menyuruh supirnya yang menjemputnya namun tidak diantarkan pulang ke rumah melainkan ke kantor. Alasannya Jin An mengkhawatirkan Putri jika berada di rumah karena kondisi istrinya yang tidak stabil kejiwaannya.


Hampir setiap hari Jin An dan Putri menghabiskan waktunya di kantor. Dan ketika menjelang sore barulah keduanya pulang ke rumah.


Dan nyaris setiap hari pula ketika pulang dari kantor, Jin An mendapati istrinya sedang duduk terbengong di tengah pintu samping.


“Sore mih...” ucap Jin An kemudian mengecup kening istrinya.


Mamih Osa tak bereaksi apa- apa, jangankan sekedar tersenyum bahkan menoleh pun tidak. Namun Jin An tetap memperlakukan istrinya seolah- olah kondisi istrinya baik- baik saja.


Sementara itu di balik tatapan kosong mata Mamih Osa, alam pikirannya tenggelam ke dalam suasana yang menyakitkannya. Peristiwa demi peristiwa yang menimpanya membayang terus seperti sebuah film dokumenter tanpa akhir.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu penderitaan yang sedang di tanggung mamih Osa sehingga beban batinnya menggunung yang tetap dipendamnya.


Seketika Mimik wajah Mamih Osa mengernyit dalam- dalam, kedua matanya tiba- tiba membelalak lebar. Dari sorot matanya terpancar ketakutan yang teramat sangat.


Mamih Osa sedang terhanyut di dalam alam bawah sadarnya. Tubuhnya mendadak menggigil gemetar, ia beringsut dari duduknya memepet ke sisi kanan kusen- kusen pintu.


“Jangan! Jangan! Jangaaan...!” pekik Mamih Osa dalam alam bawah sadarnya.


Di hadapannya nampak sosok mahluk tinggi besar sangat menyeramkan. Tubuhnya di tumbuhi bulu- bulu lebat berwarna hitam. Dari kedua sudut bibir mahluk itu mencuat taring putih yang berkilat saat tertimpa lampu kamar mandi.


Mamih Osa beringsut mundur sambil menutupi bagian dada dengan kedua tangannya hingga tubuhnya terpojok di dalam kamar mandi. Tubuh polos tanpa sehelai benang itu pun kian menggigil ketakutan melihat sosok itu mulai melangkah mendekat.


Sorot mata sosok itu memancar merah menyala menatap tubuh polos mamih Osa yang putih bersih. Tubuh putihnya berkilat akibat air yang sebelumnya ia guyur dari atas kepala.


Pesona keindahan yang terpancar dari tubuh mamih Osa itu membuat sosok berbulu hitam itu bertingkah liar. Lidahnya menjulur keluar dan meneteskan air liur diujung lidah itu.


“Jangaaan...! Jangaaannn...! Jangaaaan...!” teriak Mamih Osa histeris.


Mamih Osa segera melindungi bagian dadanya, kepalanya di tundukkan dalam- dalam. Ia tak sanggup lagi melihat wajah yang menyeramkan di hadapannya itu kian dekat jaraknya.


Hembusan nafas menderu keluar dari hidung sosok berbulu lebat itu. Hembusannya begitu terasa menerpa menyapu wajah mamah Osa yang cantik dan putih.


Ketakutan mamah Osa sudah memuncak, tubuhnya bergerak- gerak liar berusaha berontak dari cengkraman sosok menyeramkan itu. Dan sedetik berikutnya pandangan matanya gelap seketika, mamah Osa jatuh menggelosoh diatas lantai kamar mandi dalam rengkuhan sosok berbulu lebat.


......................


Pak RT bernama Parno itu terdiam sejenak, tatapan matanya menerawang melihat langit- langit ruang tamu. Sorot matanya berkilat menyimpan keprihatinan yang sangat dalam, sekaligus juga nampak keraguan untuk melanjutkan ceritanya.


Sementara haji Abas menghela nafas dalam- dalam, otaknya berputar sibuk menduga- duga penyebab kondisi Mamih Osa. Haji Abas hanya diam menanti kelanjutan cerita masa lalu dari RT Parno.

__ADS_1


"Pada suatu malam saya kembali bertugas jaga malam, pak Jin An mengajak ngobrol. Dia menceritakan kondisi istrinya, nampaknya ia sangat tertekan, bingung dan mulai putus asa," tutur pak RT Parno memecah keheningan beberapa saat lalu.


"Kemudian saya katakan kalau kondisi mamih Osa itu kemungkinan bukan akibat penyakit medis. Melainkan akibat pengaruh hal gaib," sambung pak RT Parno.


Pada saat itu mulanya Jin An monalak pendapat Parno, ia sangat tidak mempercayai terhadap hal- hal yang berbau mistik. Akan tetapi Parno yang merasa kasihan melihat kondisi majikannya dengan sabar meyakinkan Jin An. Parno menjelaskan dengan pelan- pelan dengan memberikan fakta yang ada pada Mamih Osa.


Sedikit demi sedikit logika Jin An akhirnya mulai dapat menerima apa yang di katakan Parno. Pikiran realistisnya membenarkan, ia membandingkan dari diagnosa medis yang tidak menemukan indikasi suatu penyakit apapun dengan mendapati kenyataan pada kondisi istrinya.


Kondisi istrinya jelas- jelas terlihat seperti orang yang sedang sakit, hal itu jelas terlihat dari penurunan fisik pada istrinya yang semakin kurus.


Pak RT Parno pun melanjutkan menceritakan kembali, ia mengatakan pada akhirnya Jin An memintanya untuk mencarikan orang pintar.


"Singkat cerita, malam berikutnya saya datang membawa orang pintar yang saya jemput dari rumahnya..." tutur Pak RT Parno melanjutkan ceritanya.


......................


Orang pintar yang dikatakan Parno itu berpenampilan seperti umumnya seorang Dukun. Orang pintar itu berusia sekitar 50- an tahun, jenggotnya tebal tak terlalu panjang berwarna putih bercampur hitam.


Jin An menyambut kedatangan orang pintar itu yang diperkenalkan Parno dengan namanya Mbah Sarkri. Jin An mempersilahkan mbah Sakri untuk melihat Mamih Osa di dalam kamar.


Kreteeeeekkkk...


Setelah pintu kamar di buka, nampak diatas kasur tergolek mamih Osa yang mengenakan gaun tidur berkain tipis transparan.


Mbah Sakri maupun Parno seketika meneguk air ludahnya melihat seorang wanita berusia 30 tahunan yang tergolek itu. Sebagai lelaki normal, melihat tubuh kuning langsat yang hanya dibalut pakaian tipis erotis, membuat kelelakiannya sedikit terusik.


Meskipun mamih Osa terlihat sakit dan tubuh kurus, namun kecantikan dan kemolekannya masih terlihat jelas.


Mamih Osa tidak bereaksi apa- apa ketika pintu kamarnya ada yang buka. Ia tak bergeming, wajahnya menatap langit- langit kamar dengan sorot tatapan mata kosong.

__ADS_1


“Silahkan pak,” ucap Jin An mempersilahkan mbah Sakri untuk melihat keadaan istrinya dari dekat yang diikuti Parno di belakangnya.


......................


__ADS_2